NovelToon NovelToon
Sekretaris Kesayangan Tuan Gamma

Sekretaris Kesayangan Tuan Gamma

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Kehidupan di Kantor / Lari Saat Hamil / Selingkuh / Tamat
Popularitas:438.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Virzha

Warning!! Novel ini tidak ada pengajaran apapun, hanya murni pemikiran author. Yang nggak suka boleh skip!!

*****
Karena kecerobohanya, Luna kehilangan keperawanan di tangan bos nya sendiri yang bernama Gamma Emiliano Johnson.

Pria mapan yang digandrungi banyak kaum hawa itu mencoba bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Luna, tapi wanita itu justru menolak mentah-mentah karena Gamma sudah memiliki istri.

"Kau tidak perlu tanggung jawab, itu hanya bagian tubuh yang tidak penting bagiku." ~ Aluna Olivia.

"Kalau begitu, kita lanjutkan saja apa yang sudah terjadi." ~ Gamma Emiliano.

Bukannya menghentikan kesalahan, mereka justru meneruskan hubungan terlarang itu. Dan dari situlah Skandal Cinta mereka dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepintas Kisah Masa Lalu.

Luna membawa Gamma pulang kerumahnya, pria itu masih terlihat linglung dan memejamkan matanya rapat-rapat. Luna tidak berani bertanya apapun karena takut akan membuat Gamma sakit lagi. Ia ingat Gamma tiba-tiba kesakitan setelah ia mengatakan masa lalunya.

"Sudah sampai Tuan, saya akan membantu Anda turun," ucap Luna memilih turun dari mobil terlebih dulu, ia lalu membuka pintu satunya dan membantu Gamma turun.

Gamma benar-benar masih kesakitan, ia menahannya dengan diam saja dan menurut saat Luna menuntunnya ke rumah. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, akhirnya Clarissa keluar.

"Astaga Gamma? Kenapa dengan dia?" seru Clarissa terkejut tentunya melihat suaminya pulang dipapah oleh Luna.

"Tadi Tuan Gamma kesakitan Nyonya, beliau mengeluh kepalanya sakit, jadi-"

"Kenapa Gamma bisa kesakitan? Kau apakan dia?" Clarissa langsung menyela sebelum Luna menyelesaikan ucapannya. "Sini, biarkan aku membawa suamiku masuk." Clarissa juga mengambil alih Gamma dari tangan Luna.

Luna mengigit bibirnya, ia tidak melakukan apapun, toh Clarissa memang lebih berhak ketimbang dirinya.

"Sudah, kau sudah bisa pulang," ucap Clarissa tanpa tahu terima kasih, ia mengusir Luna begitu saja dan langsung menutup pintu rumahnya dengan cukup keras.

Luna sampai terkejut dan mengelus dadanya, wajahnya masih terlihat cemas karena memikirkan Gamma. Seketika saja ingatannya melayang beberapa tahun yang lalu.

"Luna, besok hari kelulusanku. Aku akan pindah ke Kalimantan setelah itu, kau mau 'kan kita bertemu lagi besok disini?" Terlihat diingatan Luna ketika Gamma yang kala itu duduk di bangku kelas 3 SMA berpamitan padanya.

"Kakak benar-benar akan pindah? Katanya Kak Gamma mau menungguku besar, aku juga sebentar lagi akan lulus sekolah," sahut Luna yang masih berumur 3 tahun dibawah Gamma, ia belum terlalu dewasa karena saat itu dia masih kelas 3 SMP.

"Pasti aku menunggumu Luna, nanti setelah aku lulus kuliah, aku janji akan datang kembali kesini, ingat janjiku baik-baik ya," ujar Gamma mencium pipi bulat Luna yang begitu menggemaskan dimatanya.

"Baiklah Kak, aku akan menunggu Kakak disini." Luna mengangguk-angguk seraya mengulas senyumannya yang sangat manis.

"Anak pintar, sekarang aku harus pulang dulu. Kau juga pulang, sampai ketemu besok, aku akan memberimu hadiah spesial," kata Gamma mengacak-acak rambut Luna sebelum pria itu beranjak pergi meninggalkan Luna dibawah pohon taman komplek perumahan mereka.

Luna menghela nafas panjang saat ingatan itu muncul kembali, ia masih sangat ingat dengan jelas bagaimana dia menunggu Gamma setelah hari itu. Namun, nyatanya itu hari terakhir kali Luna melihat Gamma, setelah beberapa tahun kemudian saat mereka kembali bertemu, Gamma tidak mengingatnya sama sekali.

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa hari itu kau juga tidak datang? Apa benar kau tidak mengingatku sama sekali?" Luna bergumam lirih, hatinya kembali sesak jika mengingat perpisahan waktu itu.

"Sudahlah, mungkin benar kalau Gamma tidak mengingatku. Sekarang dia juga sudah memiliki istri, aku harus belajar melupakan kenangan masa lalu itu," ucap Luna lagi-lagi menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan, ia menatap rumah Gamma sekali lagi sebelum ia beranjak pergi dari sana.

*****

"Kau tiduran dulu, kenapa tadi bisa kayak gini?"

Clarissa membantu Gamma untuk tidur di kasur, pria itu masih memejamkan matanya rapat-rapat seraya memijit kepalanya dengan lembut.

"Aku tidak tahu, aku seperti mengingat hal aneh, tapi saat aku mengingatnya kepala sangat sakit," jawab Gamma dengan wajah bingungnya.

Clarissa terlihat terkejut, tapi ia segera merubah ekspresi wajahnya. "Mungkin kau hanya kelelahan, belakangan ini aku perhatikan kau juga tidak pernah meminum obatmu. Kau lupa kata Dokter, jangan terlalu banyak pikiran Gamma," ujar Clarissa begitu cemas.

"Ah iya, kenapa aku masih harus minum obat itu? Bukankah katamu aku sudah sembuh?" sahut Gamma mengerutkan dahinya lebih dalam.

"Ya mungkin saja penyakitmu kambuh lagi karena kau banyak pikirkan. Sebentar, aku akan mengambilkan makanan untukmu, setelah itu minum obatnya," kata Clarissa beranjak tadi tempatnya.

Gamma memandang Clarissa sampai wanita itu lenyap dari pandangannya. Ia benar-benar lupa tentang obat yang biasanya Clarissa berikan, dulu ia sering mengkonsumsinya karena ia pernah divonis gejala kanker otak ringan. Dengan obat itu ia bisa mengurangi rasa sakit dikepalanya, tapi belakangan ini ia benar-benar lupa meminumnya.

"Apakah benar penyakitku kambuh?" Gamma berpikir sejenak, heran tentunya kenapa tiba-tiba ia sakit kepala begitu hebat.

"Gamma, ayo makan dulu. Aku akan menyiapkan obatnya sekarang. Kau tidak usah mandi karena ini sudah malam." Clarissa kembali dengan membawa nampan yang berisi makan malam, ia lalu mengambil duduk disamping Gamma yang masih kebingungan itu.

"Sudah jangan memaksa dirimu Gamma, kau lupa apa kata dokter? Semakin kau membebani pikiranmu, kepalamu akan semakin sakit. Ayo sekarang makan, aku suapi ya?" ujar Clarissa.

"Tidak usah, aku tidak berselera makan. Berikan saja obatku, aku akan istirahat saja," tolak Gamma menggeleng pelan, ia sama sekali tidak ingin makan apapun setelah ini.

"Baiklah, ini obatnya." Clarissa tidak lagi memaksa, ia menyerahkan obat yang sudah ia siapkan untuk Gamma.

"Kenapa bentuknya berbeda?" Tanya Gamma memerhatikan sebuah pil kecil yang diberikan oleh Clarissa.

"Benarkah? Ini obat yang biasanya kau minum, mungkin kau hanya lupa Gamma, coba ingat-ingat lagi," kata Clarissa lagi-lagi menunjukkan ekspresi yang tidak biasa, ia seperti gugup sendiri entah karena apa.

Gamma terdiam, ia menatap Clarissa sejenak sebelum mengangguk pelan. "Mungkin aku memang melupakannya, berikan airnya," ujar Gamma.

Terdengar hembusan nafas lega dari mulut Clarissa, ia segera memberikan air minum yang diminta Gamma dan pria itu langsung menegaknya bersama obat yang diberikannya tadi.

"Sudah, sekarang kau istirahatlah," ucap Clarissa tersenyum tipis.

Gamma tidak menyahut, ia langsung saja merebahkan dirinya ke kasur lalu memejamkan matanya, ia tidak memikirkan apapun karena kepalanya saat ini masih sangat sakit dan memutuskan untuk langsung tidur.

Setelah memastikan Gamma sudah tidur, Clarissa beranjak pergi, ia mengambil ponselnya lalu membawanya pergi keruangan lain. Clarissa segera memencet nomor Darren untuk mengabari pria itu tentang kondisi Gamma.

"Halo Sayang? Ada apa kau menghubungiku? Apa kau sudah merindukan milikku yang kemarin kau puja?" Darren menyahut sambungan telepon Clarissa seraya terkekeh-kekeh senang.

"Diam! Saat ini bukan waktunya untuk bercanda Darren. Kita harus secepatnya bertindak," bentak Clarissa dengan suara tertahan.

"Kenapa terburu-buru? Kau bilang ingin punya anak sebagai kenang-kenangan dari suamimu yang kau cintai itu?" Darren masih tertawa saja menanggapi Clarissa.

"Ya, tapi masalahnya sekarang Gamma mulai mengingat masa lalunya. Kau tahu, jika dia ingat semuanya, dia pasti akan semakin mencampakkan aku dan kembali kepada wanita itu," tukas Clarissa menahan kekesalannya karena Darren sama sekali tidak serius menanggapinya.

"Benarkah? Apa kau tidak memberikan dia obat yang aku berikan padamu waktu itu?" Darren yang semula bercanda langsung berubah serius.

"Sudah, tapi belakangan ini Gamma memang jarang meminumnya, dia pasti juga semakin curiga kalau aku terus memaksanya, sekarang katakan saja, apa rencanamu selanjutnya? Kita selesaikan sekarang juga." Clarissa langsung berbicara pada intinya saja, sudah dua tahun ia menahan kesabarannya, sekarang ia rasa sudah waktunya ia menuntaskan segalanya.

Happy Reading.

TBC.

1
Anonim
Udah macam sinetron aja. Ga helas ceritanya. Cabut ah
Anonim
Ceo kok bodoh
Dini Mulyati
Luar biasa
Nadilla Al Zahira
gamma masa seorang ceo ngga punya asisten sih
Nocih Kurniasih
Luar biasa
Ig: @putriaayu_98: makasih banyak ya kakkk
total 1 replies
Yūmma Maeķa
Ceritanya kayak flm india thor🤣🤣
Nur Adam
smgt untk krya mu thor
Ig: @putriaayu_98: makasihhh kakak 😍
total 1 replies
Iffat Fatimah
Luar biasa
Ig: @putriaayu_98: makasihhh kakak 😍😍😍
total 1 replies
Nadhir Ove
menarikk
Ig: @putriaayu_98: terima kasih banyak kak 🥰
total 1 replies
Afternoon Honey
bagus ide ceritanya⭐👍
Ig: @putriaayu_98: mamaciw 😍
total 1 replies
Afternoon Honey
Luna jangan bodoh dan naif dong
Afternoon Honey
pengen nabok gamma 😡
Afternoon Honey
gamma doyan ups 🤭
eh awal bab so 🔥🔥🔥
Ig: @putriaayu_98: Wkwkwk awas ternoda
total 1 replies
Afternoon Honey
mulai membaca
Sunny Kwok
Luar biasa
Ig: @putriaayu_98: terima kasih banyak 🥰
total 1 replies
ike nuryanti
baru mulai baca
Ig: @putriaayu_98: 😍😍😍😍😍😍
total 1 replies
Mmh Astri
👍👍👍👍👍💪🙏🥰🥰🥰🥰🥰
Riskajuniasari Rohimi
kok isi nya orang tolol semua hahaa
Hartaty
astaga orang tua apa itu
Hartaty
waduh anak buah di clariissa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!