Natasha delapan belas tahun yang mengalami time travel. Gadis yatim-piatu itu jatuh dari ketinggian dan terhempas ke tubuh seorang putri raja yang diperundung. mampukan Natasha menjalani hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAMBIL ALIHAN KEKUASAAN
Natasha menatap mahkluk dua kepala anjing itu. Jika yang satu ramah, maka yang satunya menyalak ingin merobek gendang telinga siapapun yang ada di sana.
Sir Jonas dan Vorlome masuk. Semua yang ada berubah total. Tentu saja yang dilihat hanyalah ilusi. Termasuk anjing berkepala dua tadi.
"Kau tak asik Jonas!' decih pria dengan rambut pelontos kesal.
"Lord Glore Medusa!'
"Mau apa kalian?!" tanya pria dengan tubuh sangat kurus itu.
Bajunya serba hitam dengan bahan santin yah mengkilat. Natasha berpikir jika lalat akan terpeleset jika hinggap di pakaian itu.
"Aku mau mengambil para bangsawan yang disekap di sini!" Abraham menjawabnya.
"Siapa kau?"
"Abraham Bernard Loudan!" jawab Abraham dengan dagu terangkat.
"Cis ... lima bangsawan itu menyusahkan aku. Ambil lah!" jawab Glore malas.
Lima pria dengan kekuatan sihir di atas rata-rata. Tentu tak ada yang senang jika harus berurusan dengan mereka, walau Glore memiliki ilmu sihir tinggi.
Lima pria membungkuk hormat pada Abraham.
"Terima kasih Yang Mulia!'
"Cepat pergilah!" usir Glore kesal.
Sedikit heran kenapa sangat mudah Glore menyerahkan tawanannya begitu saja. Natasha ada di sana, semua tak ada yang memperhatikan jika tubuh wanita itu mengeluarkan asap perak. Glore yang melihatnya sangat gelisah.
"Jangan usik di sini! Aku tak mau kau mengacau dunia Mage!" pintanya berbisik.
Semua keluar dari ruangan dengan selamat. Glore tau jika patung kutukannya telah musnah dan merdeka.
"Ck ... dia kuat sekali. Rupanya dewi bulan merah masuk ke tubuh wanita itu!' decaknya kesal, Glore tak mau menyebut nama wanita paling cantik di sana.
Ribuan prajurit bergerak. Kali ini istana biru milik kerajaan Loudan jadi sasaran mereka.
Banyak pasukan palsu dimusnahkan. Bunyi pedang dan adu sihir terjadi. Lugly marah besar karena semua kunci sihirnya dapat dipatahkan.
Wanita buruk rupa itu mengarahkan banyak raksasa untuk membunuh prajurit milik Natasha.
"Finish it!" teriak Natasha.
Sebuah sinar perak keluar dari kedua telapak kanannya. Semua menutup mata Sinar itu makin lama makin membesar dan menutupi seluruh kerajaan.
"Aaa!" teriak raksasa-raksasa musnah jadi debu ketika terpapar sinar perak itu.
Blum! Sinar pecah laksana bom. Istana biru yang tadinya suram kini berubah jadi seperti sedia kala.
"Kalian kurang ajar!" teriak Lugly marah.
Wanita itu menyibakkan jubah hitamnya. Ribuan kelelawar menyerang seluruh pasukan Abraham.
"Normale Osphero!' teriak Jonas.
"Lugly menyerah lah!" perintah Hazard.
'No way!"
"Giganitus protunoum!" teriaknya.
Raksasa muncul dari balik jubah Lugly. Abraham melompat dan langsung menusuk mata raksasa itu hingga terdengar lengkingan kesakitan.
Lugly tersungkur, wanita itu mengusap darah yang keluar dari mulutnya. Ia menatap sinis Abraham.
"Kau harus mati!" teriak wanita itu.
"Hitousus!' teriak Natasha sambil mengayunkan tongkatnya.
Tubuh Lugly terangkat. Wanita itu menghentakkan kakinya di udara. Tangannya mencekik lehernya sendiri.
"Aaakkkhhh!"
"Bawa dia padaku My Queen!" semua menoleh.
Rupanya Lord Glore Medusa mengikuti mereka. Lugly berteriak ketakutan.
"Bunuh aku ... bunuh aku!"
"Bawa dia padaku ... aku juga suka susah mendengar begitu banyak kejahatannya," ujarnya menyeringai.
"Aku tidak mau ... aku tidak mau!" teriak Lugly.
Wanita itu menyusut jadi liliput. Lord Glore Medusa memasukkannya dalam botol kaca.
"Keluarkan aku!" teriak Lugly sambil memukul-mukul kaca.
Seluruh kekuatan sihir Lugly disegel oleh Lord.
"Aku pergi!' hanya sekelebat saja, tubuh Glore menghilang bersama asap biru tipis.
Abraham gegas mencari keberadaan ayahnya. Emanuel sedang terbaring tak berdaya.
"Ayah ...."
Abraham sedih, ia tak menyangka jika ayahnya tidak menginginkan turun tahta.
"Prince aku menemukan plakat yang mengukuhkan Prince menjadi raja kami!" seru Duke William menyerahkan plakat.
Emanuel tak bisa berbuat banyak, ia harus merelakan kekuasaannya diambil alih.
'Tidak apa-apa, aku bisa merebutnya lagi nanti!' tekadnya dalam hati.
Emanuel mendapat penanganan dari para medis. Para bangsawan yang terkena sihir telah dipulihkan.
"Terima kasih yang mulia!" mereka bersimpuh di depan Abraham.
Rakyat juga begitu bahagia kerajaan mereka telah kembali normal. Mereka juga dapat hidup tenang.
"Kita akan mengadakan penobatan dan raja harus diberikan pada Prince Abraham Bernhard Loudan!" ujar Duke Bowie.
"Kami akan membantu!" seru Hazard mengerahkan ilmu sihirnya.
Beberapa bangsawan ikut serta. Hanya dalam waktu sekejap, semua ornamen indah menghiasi seluruh bangunan istana.
Abraham begitu gagah dengan pakaian kebesarannya. Sebagai istri, Natasha ada di sisinya. Beberapa maid membungkuk hormat.
Pakaian mereka yang minim tentu menjadi pusat perhatian bangsawan dari kerajaan Hampers.
"Duke ... aku mendapati mereka berciuman di lorong bahkan hampir bercinta di sana!' adu Marquez Federik dengan muka memerah.
Dua maid setengah telanjang didorong sedemikian rupa hingga terperosok di lantai yang dingin.
Keduanya menangis, Natasha menatap horor suaminya. Abraham, tentu sangat malu. Ia segera membuat maklumat untuk menghentikan kegiatan mesum di kerajaannya.
"Aku akan menghukum cambuk dua ribu kali cambukan!' ujarnya memberi ultimatum.
Semua terdiam, habit yang sudah berakar harus segera diubah secepatnya untuk kebaikan kerajaan itu sendiri.
Penobatan berlangsung hikmat. Duke Bowie yang menjadi perdana menteri memimpin penobatan tersebut.
Abraham berjalan dengan gagah di atas karpet merah. Ia memakai selempang kebesaran kerajaan. Seluruh simbol ada di sana dan semua harus menekuk kaki mereka termasuk Natasha.
Duke Bowie mengambil mahkota merah dengan berlian langka yang terbesar.
"His Royal higness Prince Abraham Bernhard Loudan, aku menyerahkan pucuk kepemimpinan padamu sebagai raja kami!" seru Bowie.
Mahkota diletakkan di kepala Abraham.
"Sekarang gelarmu adalah King Abraham Bernard Loudan IV!" lanjutnya.
"Hidup dan panjang umur Yang Mulia raja!" teriak para bangsawan.
Abraham berdiri dengan gagah, ia turun dari altar dan mengamit tangan istrinya.
"Aku mengajukan plakat jika hanya My Queen Natasha sebagai satu-satunya wanita di kerajaan ini. Dialah istri dan juga ratu dari kerajaan Loudan!'
"Hidup Ratu Loudan!' teriak semua bangsawan.
"Suamiku," panggil Natasha lembut.
Abraham senang mendengar panggilan sang istri. Pria itu tersenyum lebar.
Keduanya berada di dalam kamar mereka. Natasha melihat kamar mewah itu.
"Jangan kebanyakan melihat sayang!' ujar Abraham parau.
Keduanya kini berada dalam gejolak asmara di atas ranjang mereka..
Bersambung.
. next?