NovelToon NovelToon
Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Status: tamat
Genre:Poligami / Angst / Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:347.5k
Nilai: 5
Nama Author: Neoreul

Ketika hidup tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Rela berkorban hanya demi sebuah kata yang disebut CINTA.

Zahra Verlita rela dimadu demi memberikan kebahagiaan untuk keluarga suaminya. Pernikahan kedua menjadi jalan satu-satunya untuk memperoleh sebuah keturunan. Rizal Narendra tega menduakan istrinya demi berbakti kepada Ibunya.

Cinta dan keadilan yang dijanjikan tidak ditepati oleh Rizal. Bahkan dia sudah lupa kebersamaannya dengan sang istri.

Sakit hati pasti! Perasaan hancur lebur dirasakan oleh Zahra.

apakah Zahra akan bertahan dalam pernikahannya itu? ataukah dia akan menyerah dan rela pergi dari sisi Rizal.

Baca kisahnya hanya disini ya!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neoreul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasehat Pak Roni

Pak Roni sudah sampai di rumah. Dia masuk ketika semua orang sedang sarapan pagi. "Assalamualaikum," ucap Pak Roni.

"Waalaikumsalam," sahut Bu Silvi.

"Papa sudah pulang, kok tidak hubungi Mama sih. Nanti kan bisa dijemput sama Rizal," sambungnya.

Pak Roni menghela nafas dan menghembuskannya kasar. Dia mencuci tangan di dapur dan langsung bergabung di meja makan. "Apa yang sedang terjadi dalam rumah ini? Rizal bisakah kamu menjelaskan semuanya pada Papa," tanya Pak Roni penasaran.

Rizal meletakkan sendoknya, dia diam seakan enggan untuk menjelaskan. "Zahra telah berselingkuh dengan Mas Reza, Pa! Bahkan sampai hamil," ucap Rizal dengan raut wajah penuh kebencian.

"Apa kamu percaya dengan semua itu?"

Rizal mengangguk. "Iya Pa, aku mempunyai bukti untuk membuktikannya," jawab Rizal.

"Papa tidak menyangka kalau kamu bisa sampai sejauh ini. Selama ini Papa diam ketika kalian menindas Zahra. Tapi kali ini sikap kalian sangat keterlaluan. Terutama kamu Ma, sejak pertama kali Zahra masuk di rumah ini. Kamu sudah menyiksanya, seharusnya Mama itu bersyukur karena Zahra adalah anak yang baik," ucap Pak Roni, dia menegur semua orang yang ada di meja makan.

Bu Silvi terkejut ketika mendapat teguran dari suaminya. Dia meletakkan sendok dengan kasar dan berkata, "jadi Papa menyalakan Mama juga. Terus selama 5 tahun keluarga ini belum mendapatkan keturunan juga, apa itu juga salah Mama? Seharusnya Papa itu mikir dong, mempunyai menantu kalau tidak berguna itu buat apa, Pa?"

"Sudah deh, Papa tidak usah ikut campur dengan masalah Rizal biar Mama ya menanganinya. Apapun yang Mama lakukan itu semuanya demi kebaikan Rizal, Pa. Demi kebahagiaan keluarga kita, kalau Papa tidak mendukung lebih baik diam," sambung Bu Silvi dengan nada ketus.

Pak hanya bisa menghela nafas panjang. Dalam masalah seperti ini dia tidak akan pernah bisa membantah istrinya. "Tapi bapak tidak percaya kalau Reza, melakukan hal seperti itu pada adik iparnya sendiri. Papa tahu betul sifat dan watak Reza itu seperti apa. Jadi kalian berhenti melibatkan Reza dalam masalah ini. Papa tidak tahu permainan apa yang sedang kalian lakukan. Satu pesan Papa tetap bersikap baiklah dalam keadaan apapun. Jangan menggunakan cara-cara kotor hanya untuk mencapai sebuah tujuan. Ingatlah selalu hukum tabur tuai dalam kehidupan ini. Hanya mengingatkan kalian terserah kalian mau mendengarkannya atau tidak."

"Oh ya, Zahra sedang dirawat di rumah sakit. Rizal, sebaiknya kamu ke sana, temani istri kamu. Untuk sekarang dia butuh dukunganmu. Apalagi sekarang dia sedang mengandung anak kamu," ucap Pak Roni dengan tegas.

"Tidak Pa. Aku tidak akan menemuinya lagi. Aku akan menceraikannya di saat bayinya lahir nanti. Kenapa Papa begitu yakin kalau anak yang dikandung Zahra itu adalah anakku. Papa seharusnya lihat video yang ada di dalam ponselku. Dalam video itu Mas Reza ingin memperkosa Zahra dan hal itu terjadi ketika aku sedang ada di luar negeri. Terus sekarang, Papa menyuruhku untuk percaya dengan dia. Sedangkan aku mempunyai semua bukti," ucap Rizal dengan sorot mata penuh kebencian.

"Rizal Mungkin kamu lebih mendengarkan ucapan Mama kamu daripada ucapan Papa. Sebaiknya kamu merenungkan dulu sikapmu itu. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari. Dalam hati Papa, Zahra lah yang terbaik. Meskipun, sekarang kamu sudah menyanding istri yang baru. Akan tetapi wanita seperti Zahra sangat langka di dunia ini," sahut Pak Roni.

"Papa sebaiknya diam, Mama tidak ingin ada keributan di meja makan ini. Apalagi keributan itu karena membicarakan seseorang yang tidak penting. Satu lagi menantu Mama adalah Viona, sedangkan wanita Itu akan Mama hapus dari daftar keluarga secepatnya." Bu Silvi selalu membantah ucapan suaminya.

Akhirnya Pak Roni menyerah dia beranjak dan naik ke lantai dua untuk menuju ke kamarnya. Viona hanya diam dia tidak berbicara sedikitpun, ketika ada ayah mertuanya. Merasa dibandingkan membuat Viona semakin membenci Zahra.

"Dasar mertua sialan, apa matanya sudah buta? beraninya membandingkan aku dengan wanita itu. Sampai mati pun dia tidak akan pernah sebanding denganku," gumam Viona dalam hati. Dia sangat tidak suka dengan ucapan ayah mertuanya.

Melihat menantunya diam, Bu Silvi berusaha untuk menghiburnya. "Viona sayang, kamu tidak usah mendengarkan ucapan Papamu. Jangan ambil hati, nanti bisa mempengaruhi kesehatan kandungan," ucap Bu Silvi.

"Rizal kamu tidak usah memperdulikan ucapan Papamu. Kamu harus percaya sama Mama, lagian semua bukti sudah jelas. Jadi tidak ada yang diragukan lagi," sambung Bu Silvi.

Rizal hanya menarik nafas sedalam-dalamnya. Dadanya terasa sesak jika mengingat video dan semua foto Zahra dengan Reza.

"Baiklah kalau begitu aku pergi ke kantor dulu. Nanti malam mungkin aku akan lembur, jadi tidak usah tunggu aku pulang," ucap Rizal, dia tampak lesu dan tidak bersemangat.

Viona berdiri dari tempatnya. Dia berjalan menghampiri Rizal untuk merapikan jas dan juga dasinya. "Baiklah aku akan langsung tidur nanti malam. Kamu hati-hati dalam bekerja ya. Semangat dong, jangan lesu seperti ini. Dilihatnya tidak enak, Sayang," ucap Viona dengan nada manja.

Rizal menurunkan tangan Viona setelah itu dia mengambil tasnya dan langsung pergi ke kantor. "Aku berangkat Ma," pamit Rizal.

"Hem, hati-hati di jalan," seru Bu Silvi.

Sesampainya di luar, Rizal langsung masuk ke dalam mobilnya. Kemudian Rizal melajukan kendaraannya itu ke jalan raya. Pikiran Rizal masih terbang kemana-mana. Meski dia telah berusaha, namun sangat sulit menghilangkan bayangan Zahra dalam benaknya.

Rizal menambah kecepatan mobilnya, dia berbelok ke arah rumah sakit. Dia penasaran dengan keadaan Zahra. Kurang lebih setengah jam, Rizal sampai di rumah sakit. Dia keluar dari mobil dan langsung masuk menuju ke resepsionis untuk menanyakan ruangan Zahra.

"Maaf Sus, ruangan pasien atas nama Zahra Verlita ada di lantai berapa ya?" tanya Rizal.

"Sebentar Pak, saya carikan!" jawab suster.

Suster itu langsung mencari dari komputernya. Setelah ketemu suster itu pun menjawab, "Ruangan atas nama Zahra Verlita berada di lantai 3 ruangan nomor 105 Pak."

"Terima kasih, Sus. Saya permisi dulu." Rizal langsung menuju ke lantai tiga dengan naik lift. Tak ada lima menit, Rizal sudah sampai. Dia mencari kamar nomor 105.

Sesampainya di depan pintu, langkah Rizal pun terhenti. Dia melihat Zahra dari kaca pintu. Rizal ingin masuk ke dalam, akan tetapi lagi-lagi dia mengingat video tersebut sehingga membuatnya ragu.

Di dalam ruangan, Zahra terlihat sangat lemah dengan beberapa memar di wajahnya. "Memar di wajahnya apa karena tamparanku kemarin?" gumam Rizal dalam hati.

Melihat itu membuat dada Rizal terasa sesak. Tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca. "Ada apa denganku? Kenapa aku merasa sakit melihat Zahra yang terlihat lemah seperti itu? Sikapku ini ... Ahh, membuatku bingung sekali."

Rizal mengusap kasar wajahnya, setelah itu dia menjauh dari ruangan Zahra. Dia tidak berani untuk masuk ke dalam.

1
Jumiah
yeeee gk setu mls lanjut baca
Jumiah
kmu ra gk slh tp kelewat bodoh ?
msh mau bertahan besama rizal...
Jumiah
viona gk akan ppernah damai ,,
dan tenram di dlm rmh mu...
Jumiah
zahra mendingan lupaka rizal ..
mendingan sma reza ...
sudah keliatan klo reza setia ...
Jumiah
klo gk bisa adil gk usah poli gami...
suami yg gk adil ,akan dilaknat allah..
dunia ahirat ,gk akan mencium bau surga ...
Jumiah
itu konyol namax mengikuti kemauan orang tua yg gk wajar ..
masih banyak berbakti cara lain msh banyak ..
fitra andriyani
males dengan zahra ki terlalu bodoh
fitra andriyani
ngono wae gaya zahra hhh gak butuh reza nyata nya masih mencari
fitra andriyani
minggat za biarkan zarah yg bucin akut
R'vina
semoga bahagia selaluuuuu.. 💕
YanS
Jadi berpikiran jahat, janinnya gugur, supaya tidak ada sama sekali tanda dar Rizal di hidup Zahra...huhuhu...
Surati
bagus
Karolina Joel
Zahrah yg bucin,kacian deh Lo🤪
YanS: Zahra tidak keguguran lagi...padahal stress-nya verat banget yaaakkkk...
total 1 replies
Karolina Joel
semoga balasan dari langit tepat sasaran ya Thor 😁
Karolina Joel
cerita full kemalangan
Popy Setyaningsih
terlalu mudah rsnya hanya kematian yg didapatkan rizal sama viona, maaf ya aku juga ga suka sifat zahra emang sifat begitu cuma 1:1000 kayanya ada di dunia ini aku kalau jadi zahra ogah banget, benci sudah pasti tapi ga sampe balas dendam hidup di dunia skali buat senang lah diri kita sendiri dulu, sayangi diri kita,kalo dlm realita khidupan entah brapa sumpah serapah kayanya di ucapin zahra ke ibu silvi, dibenci gatau sebabnya gtu
maaf terlalu mengada2 kayanya
Erni Nofiyanti: Viona Ama Rizal sehidup semati.
total 1 replies
Jade Meamoure
hadeh Zahra d jadikan manusia tahan banting nih padahal dah terlalu sakit juga...
Endang Oke
anter bunga pki taxi!! hrg bunganya betapa!! bukanya tdk katanya desainer! kok skrg jd pengantar bunga!
Yati Syahira
isinya penyiksaan dan terinjaknya harga diri perempuan
Yati Syahira
trus aja bikin bodoh zara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!