Tidak di restui oleh sang ibu mertua membuat Nayla harus mengalami banyak tekanan selama tinggal di rumah suaminya yang bernama Robert. Tekanan batin yang di rasakan oleh Nayla semakin berat lantaran sang ibu mertua pandai menyembunyikan keburukannya di hadapan putranya Robert, sehingga sering terjadi salah paham antara Robert dan Nayla mengenai ibunya.
Derita apa sajakah yang di alami oleh Nayla selama tinggal bersama keluarga mertua yang tidak menyukai kehadirannya? Simak kisahnya di sini😘
Follow ig @t_l_handayani 😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T. L. Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta ampun
Siang itu Nayla benar benar pergi dari rumahnya dengan membawa Glen. Dia tetap melaju meski dia tahu Robert mengejarnya. Namun, kejadian naas menimpa Robert ketika hendak menyebrang jalan untuk mengejar Nayla.
"Awas Robert.... " teriak Nyonya Indri, Angel dan juga Vera secara bersamaan ketika melihat Robert melintas di depan truk yang melaju dengan kencang. Dan di detik selanjutnya tubuh Robert sudah terpental beberapa meter tak sadarkan diri dengan mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya.
Nayla menghentikan langkah dan membalikkan badannya ketika mendengar teriakan histeris di sekitar jalan. Dan berapa terkejutnya dia ketika dia dapati tubuh suaminya sudah berlumur darah tak berdaya di tepian jalan.
"Mas... " teriak Nayla dengan lutut yang mendadak menjadi lemas, tetapi dia tetap berusaha untuk mendekat.
Namun, ketika sudah berada di sisi suaminya, dengan cepat Nyonya Indri mendorong Nayla hingga jatuh ke jalanan. Bahkan Nyonya Indri bahkan tidak peduli pada cucunya yang tengah di gendong oleh Nayla. Glen pun menangis karena mendapat dorongan yang kuat hingga terjatuh, tapi hal itu tidak mengundang rasa ibanya. Nyonya Indri justru semakin mengutuk Nayla.
"Dasar perempuan pembawa sial! Jika sampai terjadi apa apa dengan putraku, nyawamu dan nyawa seluruh keluargamu akan menjadi gantinya. Termasuk juga nyawa bayi haram ini. Camkan itu!"
Usai memaki maki Nayla, Nyonya Indri membawa Robert ke Rumah Sakit menggunakan mobil pribadi tanpa menunggu ambulance. Selama di perjalanan menuju ke Rumah Sakit, Nyonya Indri tak henti hentinya menangis. Begitu pula dengan Vera dan Angel.
Dan setelah tiba di Rumah Sakit, Robert lekas mendapat pertolongan dari Dokter. Namun, hingga beberapa jam kemudian, Robert tak kunjung sadarkan diri. Dia mengalami koma dan belum dapat di perkirakan dia akan sadar. Kondisi seperti itu tentu saja mengundang kemarahan Nyonya Indri yang akan dia lampiaskan kepada Nayla.
"Bawa kembali perempuan itu ke rumah, Mama akan memberikan penderitaan kepada dia seperti yang tengah di rasakan oleh Robert!" titah Nyonya Indri kepada anak perempuannya. Tanpa menunggu lama, Vera pun lekas mendatangi rumah Nayla seperti yang sudah diperintahkan oleh Mamanya. Dan benar saja, saat itu Nayla berada di rumah itu.
Dengan begitu kasar Vera menarik tangan Nayla untuk ikut dengannya, meski bapak dan ibu Nayla menghalangi, tapi sayang mereka tidak cukup kuasa untuk melarang. Apalagi Vera mengancam akan memenjarakan Nayla jika tidak menurut, karena Nayla sudah hampir menghilangkan nyawa Robert.
Vera pun akhirnya berhasil membawa Nayla kembali ke rumah Robert, sementara Glen di titipkan kepada kepada orang tua Nayla.
Setelah tiba di rumah suaminya, ternyata Nyonya Indri sudah menunggu di rumah. Tanpa banyak bicara, Nyonya Indri meraih rambut Nayla lalu menjambaknya,
"Heh, kamu harus bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Robert dan membuat dia koma. Kamu harus aku buat koma juga seperti Robert, kalau perlu aku siksa sampai kamu meminta kematianmu..!" maki Nyonya Indri sembari melepas dengan kasar rambut Nayla dan mendorongnya hingga membentur tembok.
"Ampun, Ma. Aku tidak berniat untuk mencelakakan suamiku.." pinta Nayla sambil menangis dan memegang dahinya yang memar.
"Apa? Mudah sekali kamu bilang ampun? Kamu harus bayar mahal semuanya." bentak Nyonya Indri sambil kembali mendorong tubuh Nayla.
Nyonya Indri seperti orang yang kesurupan sore itu. Dia tidak henti menyiksa Nayla meski Nayla sudah berkali kali meminta ampun. Bahkan Vera sempat merasa tidak tega melihat Nayla.
"Ma, sudah Ma." tegur Vera.
"Apa? Kamu belain dia? Kamu mau Mama hajar juga?" melihat Mamanya yang kesetanan, Vera tidak berani berkutik, apalagi Angel. Mereka berdua hanya menjadi penonton pasif pada penganiayaan tersebut.