Tidak ada suami yang bisa memilih antara sang Ibu dengan Istrinya, begitupun dengan Yusuf. Lalu, apa yang bisa Yusuf lakukan? Jika, sang Ibu mengaggap istrinya tidak seperti anak sendiri? Dan mampukah Febri Ayundi mempertahankan pernikahannya dengan sang suami? Dimana selalu ada Ibu Marsella sang mertua yang ikut campur dalam hubungan rumah tangga mereka. Saksikanlah, kisah penuh menguras emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febrianis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Anak Maling Kundang
Maling teriak maling, Ibu Sella yang ketahuan tengah indehoy dengan brondong simpanannya. Malah marah-marah kepada Yusuf dan memutar balikkan fakta, dengan menuduh. Bahwa anaknya itu durhaka kepadanya.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula itulah peribahasa yang cocok menggambarkan keadaan Yusuf hari ini. Masalah rumah tangganya belum selesai malah ditambah dengan perselingkuhan ibunya dengan tetangga.
Baru Yusuf sadari jika akar dari permasalahan yang dialaminya ialah ibunya sendiri. Febri tidak akan pulang kerumah Pak Brama jika bukan karena Bu Sella yang menuntut dan memperlakukan Febri bak babu di rumah sendiri. Dan bodohnya ia malah mendukung perbuatan Bu Sella kepada istrinya, hanya takut dengan kata-kata durhaka yang keluar dari mulut ibunya.
"Nak, maafkan ibu. Ibu janji gak akan melakukan kesalahan ini lagi." Bu Sella mencoba minta maaf kepada anaknya.
Dengan wajah dingin Yusuf lalu bangkit masuk kedalam rumah. Dia sudah tidak peduli lagi dengan Bu Sella, rasa hormat dan bakti kepada ibunya seolah menguap setelah kejadian tadi. Seolah belum percaya Bu Sella yang selama ini ia hormati bisa berbuat hal keji seperti tadi.
"Kamu mau kan maafin ibu Suf.?" Bu Sella menyusul anaknya dan berusaha mendapatkan maaf Yusuf.
"Mudah sekali minta maaf. Tidak ada jaminan ibu tidak melakukan lagi, jika tidak ketahuan oleh ku pasti ibu tetap main gila dengan Marwan." Ucap Yusuf tegas.
"Ibu kan cuma khilaf, Suf." Dengan enteng Bu Sella berkata.
"Cuma apa aku ga salah dengar!?. Berzina dengan suami orang ibu anggap 'cuma'!!!."
"Coba bayangkan kalau istrinya Marwan tau dan meminta cerai. Ibu gak hanya memisahkan pasangan suami istri, tapi ibu bisa saja membuat seorang anak kehilangan figur sosok ayah. Ibu sudah diluar batas. Kali ini aku gak bisa mentolerir kesalahan Ibu." Nada bicara Yusuf beberapa oktaf saat sang ibu menyepelekan dosanya.
"Kamu kok main bentak ibu seenaknya. Ibu kan sudah minta maaf. Udah donk Yusuf gak perlu diperpanjang malu didengar tetangga." Bu Sella berkata sambil membujuk Yusuf agar mengakhiri membahas tentang masalah tadi.
"Oh rupanya ibu masih punya malu. Kukira urat malu ibu putus, sebab menjalin hubungan dengan lelaki yang jauh lebih muda. Bahkan lebih muda dariku, suami orang lagi." Lagi dan lagi Yusuf membentak Bu Sella amarah tak terbendung meledak-ledak. Tidak ada lagi Yusuf yang lemah lembut dan penyayang.
"Kamu jangan gini, Yusuf. Mau ditaruh dimana muka ibu jika warga disini tau. Udah ya, Nak. Kasihani ibumu ini."
Derai air mata menganak di pipi BuSella dia belum siap dicap pelakor. Apa lagi jika grub arisannya pada tau, bisa-bisa dia didepak dan dibully habis-habisan.
"Seharusnya ibu pikirkan itu sebelum bertindak ceroboh yang merugikan diri sendiri." Ucap Yusuf mulai menurunkan nada bicaranya.
"Baik, Nak. Lain kali Ibu gak akan kayak gitu lagi. Tapi tolong rahasiakan masalah ini yaa." Masih dengan nada memohon Bu Sella berucap agar anaknya mau bekerja sama untuk tidak membocorkan ke publik.
"Tenang saja. Aku tidak mungkin tega membuat malu ibuku sendiri. Tinggalkan aku sendiri. Aku perlu waktu untuk berfikir, semuanya terasa mendadak bagiku." Dengan nada dingin Yusuf menjawab Bu Sella. Yusuf lalu masuk kamar dan menutup pintu dengan keras.
Baammmmm..
Dia sangat kecewa, hatinya hancur. Disaat seperti ini Febri biasanya akan menenangkannya sampai ia tenang. Tapi sekarang dia sendirian tidak ada yang menemani.
"Apakah ini karma yang kudapatkan akibat dzolim kepada Febri. Ya tuhan betapa berdosanya aku selama ini sudah membuat istriku menderita."
Yusuf menjambak rambutnya sendiri ia menyesal telah melupakan kewajibannya terhadap Febri dan membiarkan Febri menanggung semua derita, bahkan dia sering memojokkan Febri yang dianggap tidak becus.
Yusuf mencoba untuk tertidur tubuh dan jiwanya lelah menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi. Tak lama terdengar dengkuran dari mulut Yusuf menandakan ia telah berada di alam mimpi.
Sementara itu Bu Sella yang berada di kamarnya belum terlelap. Dia masih sibuk berbalas pesan dengan Marwan. Tobat sambel mungkin itu adalah kata yang pas untuk Bu Sella. Bukannya berhenti dan bertobat malah makin menjadi.
[Sayang lagi ngapain.?] Dengan lincah wanita berumur itu mengetik.
[Jangan ganggu aku lagi. Sudah cukup kita akhiri saja hubungan kita. Aku kapok untung tadi cuma diancam anakmu bukan dihajar.] Kali ini Marwan menolak mentah-mentah ajakan Bu Sella.
[Kamu tenang aja Yusuf udah maafin kita berdua jadi kita bisa lanjut sayang.] Bu Sela meyakinankan Marwan bahwa semua aman terkendali.
[Ogah daripada nanti keciduk lagi.] Marwan masih tetap menolak.
[Yakin gak mau ini?.] Sambil selfie memamerkan segepok uang berwarna merah.
[Okeh OTW aku lewat samping nanti buka jendela kamarmu.] Goyah juga iman Marwan melihat lembaran uang yang melambai-lambai.
[Nah gitu donk, ku tunggu ya say.] Bu Sella membuka jendela, lalu membantu Marwan untuk masuk.
"Aman gak?." Marwan bertanya memastikan keadaan.
"Tenang aja Yusuf udah tidur kita lanjutkan yang tadi yaa. Aku udah gak tahan nih." Jawab Bu Sella genit.
"Asiyaap. Tapi kali ini kita main cantik yaa alias pelan-pelan asal selamat xixixi" Mereka pun kembali memadu kasih.
Yusuf terbangun dari tidurnya sebab ingin membuang hajat. Dilihatnya jam baru menujukkan pukul dua pagi. Dia pun berjalan dengan gontai keluar kamar menuju toilet. Saat melewati kamar ibunya sayup-sayup terdengar kembali suara persis seperti digudang tadi.
"Apakah ibu dan Marwan melakukannya lagi.?" Yusuf bertanya-tanya di dalam hati.
Dengan mengendap-endap berjalan ke pintu kamar ibunya dan mengintip dari lupang kunci pintu. Dan benar saja dugaan nya.
"Astagfirullah ibu, gak ada kapok-kapoknya. Kali ini gak ada ampun untuk kalian berdua." Yusuf bergumam dalam hati. Tangan nya mengepal. Lalu muncul ide untuk melaporkan pasangan tersebut ke RT setempat.
Yusuf mengambil hp di kantong dan merekam adegan tersebut untuk dijadikan bukti lalu dikirimkan ke nomor Bapak RT setempat. Hilang sudah niat ingin buat hajat. Tapi dia tetap ke wc dengan niat lain yaitu menghubungi Pak RT untuk menggerebek ibunya dan Marwan.
"Dobrak saja pintunya, musnahkan pasangan mesum yang mencoreng nama baik komplek kita."
Tiba-tiba gerombolan warga masuk, kebeteluan pintu depan rumah sudah dibuka oleh Yusuf sebelumnya jadi mereka bisa masuk dengan mudah.
Para warga mendobrak paksa pintu kamar Bu Sella kali ini mereka ketangkap basah oleh warga dan tidak ada kesempatan melarikan diri. Marwan dihajar dan Bu Sella disiram warga dengan air yang ada dikamar mandi.
Marwan hanya bisa pasrah saat ini bayangan istrinya terlintas. Menyesal pun tiada arti
seharusnya ia menolak ajakan Bu Sella tadi.
"Ampun dingin. Yusuf tolong ibu, Nak." Bu Sella berteriak.
"Maafkan aku, Bu. mungkin ini terbaik supaya ibu bisa kembali kejalan yang lurus." Yusuf hanya menyaksikan saja karena semua adalah rencananya, ia ingin membuat mereka jera. Terutama ibunya
"Dasaaar anak durhaka kamu Yusuf." Bu Sella memaki Yusuf karna telah melaporkan nya hingga para warga mengetahui kebusukannya.
Cacian dan makian keluar dari mulut warga yang kesal. Lalu mereka di arak keliling kampung subuh buta dalam keadaan telanjang agar menjadi pelajaran buat yang lain.
Bersambung
sabar yak, Febri😌