Setelah istrinya berselingkuh lalu pergi, Gamalio kembali ke dunia hitam yang dulu ia tinggalkan demi cinta. Ia pun harus mencari ibu sementara untuk putrinya yang berusia 3 tahun.
Harus membiayai pendidikan sang kakak di Luar Negeri, Vania harus berpikir ribuan cara untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan uang yang banyak.
Suatu ketika, ia mendapatkan sebuah penawaran kerja sebagai pengasuh seorang gadis kecil yang sedang dilanda trauma atas kepergian sang mama dari hidupnya.
Tak hanya dengan gadis kecil itu, ia juga terlibat dengan pria yang begitu protektif terhadap anak gadis kecilnya itu.
"Fokos saja merawat putriku, tidak lebih dari itu. Ingat, tidak boleh ada kesalahan!" Gama
"Ayah, bolehkah aku memanggilnya, mama?" Arin.
Bagaimana kah Vania menyikapi pasangan ayah dan anak ini? Mampukah ia memperlakukan Arin layaknya seorang ibu terhadap anaknya, diusia Vania yang baru menginjak 21 tahun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermalamlah dengan papa
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Gama dan putrinya baru kembali ke villa setelah menikmati waktu berdua sejak sore. Keduanya pun tidak lagi membutuhkan makan malam sebab sudah makan di luar.
"Mami Va!" Arin tak sabar untuk berpindah ke gendongan pengasuhnya itu.
Bi Nina dan dua pelayan lain saling pandang, diam-diam mengagumi kedekatan Vania dan dua majikan mereka ini. Bahkan ketiganya berharap, andai saja berjodoh, mereka akan menjadi keluarga kecil yang manis.
"Uhhh! Anak cantik mami Va ini. Apa Arin happy jalan-jalan bersama papa?"
Arin mengangguk "Hooh. Tapi Mami, Arin sangat merindukan Mami." menenggelamkan wajahnya ke leher Vania.
Gama mengikuti keduanya menaiki tangga menuju kamar Arin. Sambil membawa Jaket dan bando kelinci milik Arin ditangannya.
Setelah meletakkan barang milik Arin ke atas sofa kecil di kamar Arin, "Vania, temui aku di ruanganku setelah ini. Kita harus membahas beberapa hal."
"Baik, Pak," jawab Vania. Itu artinya, ia akan menemui Gama setelah menidurkan Arin lebih dulu.
Arin yang mendengar kata 'ruanganku', berlonjak senang. Pasalnya, ia sudah mengingatkan papanya beberapa kali tentang meniru papanya Jack yang memiliki ruang pribadi dan hanya mama Jack yang boleh masuk ke sana oleh papa Jack. "Ye... Mami, dengar itu? Papa akan membantumu menumbuhkan adik Arin." saking senangnya, anak itu naik ke atas kasur dan melompat-lompat diatasnya.
Sebelum kehilangan kewarasannya, Gama segera menghilang dari ruangan itu. Arin terus menciptakan situasi canggung untuknya dan Vania hari ini. Sungguh menakutkan.
"Arin, ganti dulu pakaianmu, oke?"
"Oke Mami," Vania membantu anak itu membersihkan tubuhnya dengan air hangat setelah itu memberinya piyama bersih.
"Mami, aku akan pintar seperti Elin. Pergilah temui papa." Elin? Setelah nama Jack, kali ini muncul nama Elin.
Ya ... Arin sangat peka. Ketika menyadari bahwa pengasuhnya sedikit bingung denga. Apa yang dikatakannya barusan, Arin pun menceritakan tentang Elin yang tidak lagi membutuhkan mamanya tidur di sebelahnya, karena mama Elin harus tinggal di kamar yang sama dengan papa Elin. Tidak seperti Jack yang manja, harus ditemani papa mamanya saat malam. "Jack adalah anak yang penakut." Tutur Arin, membandingkan kedua temannya itu.
"Ya, Arin memang harus pintar seperti Elin. Jangan meniru Jack, oke?"
"Oke, Mami," anak itu semula sudah berbaring dibawah selimutnya. Namun, ia tiba-tiba kembali duduk. "Mami, tinggallah semalaman dengan Papa, oke? Arin tidak akan mengganggu kalian." mulut kecilnya kembali menceritakan tentang Jack yang pernah menangis meraung sambil menendang pintu ruang rahasia ketika ayah ibunya terlalu lama di dalam. Ketika keluar, mereka mengaku telah ketiduran.
"Arin, ini sudah malam. Sebaiknya Arin tidur, oke?" Vania benar-benar tak tahan dengan Arin yang terus menceritakan tentang Jack. Bermalam denngan papa? Memikirkannya saja Vania merasa ngeri.
"Mami, apa Mami dan Papa tidak saling menyayangi?" tepat saat Vania mulai melangkah hendak keluar, suara pelan itu membuatnya tertahan. Saat berbalik, Vania menemukan Arin sedang tertunduk sedih. Vania kembali mendekati anak itu, naik ke atas pembaringan empuknya.
"Elin bilang, papa dan mamanya saling sayang. Mereka tidur bersama dan memberi kiss dan pelukan satu sama lain. Tapi kenapa papa dan Mami selalu bermusuhan?" anak itu berbalik memunggungi Vania.
"Sayang, kami tidak bermusuhan."
Vania merebahkan tubuhnya bersama Arin, memberi anak itu kehangatan seperti biasanya.
"Ya udah, pergilah ke papa. Mami harus tinggal bersama di kamar papa, seperti mama papa Elin."
Vania cukup berusaha melatih kestabilan napas dan emosinya agar tidak meledak terhadap majikan kecilnya ini. Isi kepala kecilnya begitu banyak akhir-akhir ini.
"Sangat mudah untukku jika mau bermalam dengan papamu, Arin. Cukup dengan menanggalkan pakaianku saja lalu menghampirinya, dia akan langsung tergoda." ujar Vania dalam hati. Ia tidak mungkin mengatakan kalimat berdosa itu pada Arin.
"Tidurlah. Setelah itu mami akan temui papa Arin." membelai rambut halus anak itu, yang akhirnya menutup mata.
Vania bergegas untuk menemui majikannya.
"Mungkinkah Arin tertekan oleh ketegangan yang timbul antara aku dan papanya yang beberapa kali ia saksikan?" Vania memutuskan untuk membahas hal ini dengan Gama.
Seperti biasa, Vania masuk setelah mengetuk. "Permisi, Pak." tak lupa ia menutup pintu.
"Oh, ya Vania, silakan duduk disana." Gama menunjuk sofa polos berwarna hijau lumut, mempersilakan Vania duduk disana.
Tak lama setelah Vania menaruh tubuhnya, Gama bangkit dari kursi putarnya, mengambil posisi berhadapan dengan Vania.
Langsung saja, Gama tak perlu buang waktu. "sebelumnya aku minta maaf, Vania."
Hampir saja Vania tersentak. Ia kaget tak menyangka akan mendengar permintaan maaf saat ini. "Saya juga, Pak. Maaf atas semua kesalahan saya." Vania bahkan tidak berani menatap wajah tuannya lama-lama. Kali ini ia harus menunjukkan rasa sungkannya.
"Vania, apa ... keluargamu sehat?" pertanyaan ini cukup membuat jantung Vania kembali berdegup tak sehat.
Kabar tentang anggota keluarga? "Mereka sehat, Pak." yakin Vania.
"Aku ingin tahu, apa yang membuatmu bersembunyi di mobilku malam itu?"
Oke, Gama mungkin ingin mengetahui alasannya. Mumpung ia membahasnya, Vania tidak punya pilihan selain berterus terang.
"Saya hampir saja dilecehkan oleh seorang pria tua malam itu, Pak. Jadi saya melarikan diri dan mereka mengejar saya." jujur, Vania tidak ingin menceritakan ini sejara tuntas.
"Apa? Dilecehkan?" Gama merasakan ada getaran amarah mengetuk pintu hatinya. Gadis polos seperti Vania seharusnya dilindungi, tapi apa? Seorang pria tua ingin memakannya? Benar-benar binatang.
"Em... Bapak merasa kasihan ya? Hehe... saya baik-baik saja Pak, dan itu karena pertolongan bapak secara tidak langsung." Vania tahu, majikannya ini pasti sedang merasa tersentuh. Lihatlah wajahnya yang tampak kuatir. Dibalik emosinya yang terkadang meledak-ledak, rupanya Gama memiliki hati yang besar. Lagi-lagi Vania mengakuinya dalam hati.
"Oia Pak, tentang Nona kecil,-"
"Sebut dia Arin. Kamu bukan saja sekedar pengasuh baginya, tapi dia menganggapmu sebagai ... mamanya." menyebut kata 'mamanya', tentu membuat Gama mengingat akan Maya. Wanita yang paling ia cintai sekaligus paling ia benci. Tanpa sadar Gama mengepal erat kedua tangannya.
"Iya Pak, maksud saya Arin. Em ... begini Pak, mohon maaf sebelumnya dan saya harap Bapak tidak tersinggung dan marah."
"Katakan saja, jangan ragu."
"Em ... sepertinya ... Arin merasa tertekan dengan apa yang terjadi di sekitarnya." Vania menjelaskan bagaimana Arin terlihat sedih saat menanyakan tentang permusuhan yang melibatkan papa dan pengasuh. Vania pun meminta Gama untuk tidak lagi mempertontonkan kemarahan saat berada di villa. Semua demi menjaga emosi Arin agar tetap stabil.
Gama terdiam beberapa saat. Mungkin benar yang dikatakan Vania. Gama menerima masukan itu dengan baik. Ia juga dapat melihat kelegaan lewat mata Vania. Diam-diam ia pun mengakui bahwa Vania benar-benar tepat ditempatkan disisi Arin. "Baik Vania, Kau benar. Aku memang lalai akhir-akhir ini."
"Saya juga Pak akan memperbaiki sikap, laku dan perkataan saya Pak, kita berdua memang salah belakangan ini. Bapak yang suka marah dan saya dengan tidak tahu dirinya selalu melawan bapak.
Baik, pembahasan berlanjut ke hal yang juga penting.
"Sepertinya Arin harus keluar dari sekolah itu Vania, bagaimana menurutmu?" dari nada bicaranya yang terdengar santai dan tenang tanpa tekanan sesikitpun, Gama sepertinya serius mengajak Vania bertukar pikiran tentang Arin.
Vania tak perlu bertanya alasannya. Ia cukup mengerti bahwa Gama tidak ingin Arin bertemu Jack lebih sering. Anak laki-laki itu berhasil membawa pengaruh aneh bagi putri kesayangannya itu.
Setelah berpikir sejenak, "apa harus keluar dari sekolah Pak? Menurut saya ide Bapak kurang tepat."
"Ya, tapi bisa apa kita? Dia tidak bisa berada di lingkungan seperti itu. Aku benar-benar pusing dengan temannya yang bernama Jack itu." Gama bahkan mengeluh tentang para guru. Apa yang mereka lakukan sampai anak-anak dibiarkan bergosip?
Sementara di luar ruangan tertutup itu, seorang gadis kecil sedang berdiri dengan wajah polosnya, sambil sesekali menempelkan telinganya pada daun pintu.
Dia Arin, siapa lagi? Ia penasaran apa yang sedang dilakukan oleh papa dan maminya di dalam. Kalau kata Jack, saat papa mamanya berada di dalam ruangan asing, sering terdengar teriakan aneh dari dalam. Dan itu adalah ketika papanya Jack sedang berusaha menanam benih agar adik Jack bisa tumbuh.
"Tidak terdengar apapun, apa papa tidak tahu caranya? Ah, papa benar-benar payah." Arin pergi dengan rasa kecewa, kesal membayangkan papanya, Gama, tidak sehebat papanya Jack.
apakah bakal ada yg baru
apa kabar Thor
Nyesel pastinya ninggalin anak yg begitu cantik dn menggemaskn..smg nnti kena karmanya tdk bisa hamil lg..