"Single itu pilihan"
Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?
Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.
Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bros Singa
Malam itu, Vanya tidak bisa tidur. Kalimat "Mulai detik ini, tidak akan ada orang lain yang boleh menyentuh wanitaku" berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia menatap langit-langit kamar kosnya, mencoba mencari logika di balik sikap Leo.
"Gila. Itu gila," gumam Vanya sambil menutupi wajahnya dengan bantal. "Dia itu bos tiran yang hobi memaki laporan proyek semua anggota timnya. Mana mungkin dia... ah, tidak mungkin!"
Vanya mencoba menyangkal. Baginya, Leo hanyalah pria dominan yang terbiasa mendapatkan apa yang dia mau. Mungkin ini hanya trik psikologis baru untuk memastikan Lavanya cocok berada di tim anggaran? Ya, pasti begitu. Namun, kecupan di punggung tangannya terasa masih membekas, hangat dan nyata.
"Singa gila Arghhhhhhh"
"Lavanya tidur! Kuping ibu sakit dengar kamu teriak dari kamar"
🦁🦁🦁
Keesokan harinya di kantor Limocom, Vanya masuk dengan langkah ragu. Ia berharap kejadian semalam hanyalah halusinasinya karena terlalu lelah bekerja. Namun, realita menghantamnya tepat saat ia duduk di kubikelnya.
Di atas mejanya, sebuah kotak beludru kecil tergeletak di samping segelas Matcha hangat. Ada catatan kecil di sana:
" Matcha tanpa gula tambahan, karena otakmu sudah cukup manis untuk menyusun strategi semalam. Pakai ini, saya ingin melihatnya saat rapat pukul sepuluh.”
Vanya membuka kotak itu. Sebuah bros kecil berbentuk kepala singa dari emas putih dengan mata berlian mungil. Sangat elegan, sangat mahal, dan sangat... Leo.
"Vanya, itu dari siapa?"
Vanya tersentak. Laila, seniornya yang dikenal memiliki insting setajam silet, sudah berdiri di sampingnya sambil menyesap teh. Matanya menyipit menatap bros dan Matcha tersebut.
"Eh, ini... anu, Mbak. Dari klien Jerman kemarin mungkin?" Vanya berbohong, suaranya gemetar.
Laila tertawa kecil, nada suaranya penuh selidik. "Klien Jerman tidak akan tahu kamu suka minuman rasa rumput dengan ekstra susu Nya. Dan setahuku, Pak Leo tadi pagi masuk dengan suasana hati yang sangat cerah—bahkan dia tidak memarahi OB yang salah menaruh koran. Ada apa ini? Bos kita yang 'singa' itu tiba-tiba jadi kucing rumahan hari ini?"
Vanya hanya bisa menunduk, pura-pura sibuk dengan laptopnya. Namun, Laila benar. Leo benar-benar berubah. Sepanjang pagi, setiap kali Leo melewati divisi mereka, langkah kakinya melambat saat berada di dekat meja Vanya.
Tidak ada teriakan, tidak ada berkas yang dilempar. Hanya tatapan intens yang membuat Vanya salah tingkah.
🦁🦁🦁
Perubahan sikap Leo tidak hanya disadari oleh Laila. Di depan kubukel Lavanya, Yudi, rival abadi Lavanya, menatap pemandangan itu dengan rahang mengeras.
Selama ini, Yudi selalu bersaing dengan Lavanya. Baginya, cara terbaik untuk mendekati perempuan kelewat mandiri itu adalah dengan menjadi lawan yang sepadan—mendebat argumennya, menjatuhkan teorinya saat rapat, dan menjadi orang yang paling sering berinteraksi dengan Lavanya meski dalam bentuk pertengkaran. Ia pikir, dengan menjadi "musuh", ia akan selalu ada di radar Lavanya. Namun sekarang, ia melihat posisinya terancam oleh sang predator puncak.
Saat jam makan siang, Yudi sengaja menghampiri meja Vanya, membanting beberapa map dengan kasar untuk menarik perhatian.
"Bros baru? Wah, sepertinya proyek Lombok benar-benar menguntungkan 'pribadi' ya?" sindir Yudi dengan nada sinis yang dibuat-buat.
Lavanya mendongak, mendengus kesal. "Apa maksud lo, Yud? Ini hanya hadiah apresiasi atas keberhasilan ku memenangkan project itu"
"Apresiasi atau suap?" Yudi melirik ke arah ruangan kaca Leo dan Bros bermotif raja hutang itu di atas menja Lavanya. "Jangan senang dulu. Pak Leo itu cuma suka tantangan. Kalau dia sudah bosan dengan mainan barunya, kamu bakal dibuang ke divisi arsip seperti yang lainnya. Jangan merasa spesial hanya karena dia memberimu sedikit perhatian"
Lavanya terdiam. Kata-kata Yudi pedas, tapi itu yang selama ini ia takutkan. Namun, sebelum Lavanya sempat membalas, pintu ruangan CEO terbuka.
Leo berdiri di sana, tangannya masuk ke saku celana kainnya yang tampak sangat mahal. Ia menatap Yudi dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun.
"Yudi," panggil Leo, suaranya tenang tapi mengandung ancaman. "Saya rasa tugas analisis risiko di proyek Sulawesi lebih cocok untukmu. Siapkan berkasmu, saya ingin kamu berangkat meninjau lokasi besok pagi. Setidaknya selama satu bulan."
Yudi membelalak. "Tapi Pak, saya sedang working on draft proposal proyek Bogor bersama Pak Elang, Pak"
"Elang tidak butuh bantuanmu," potong Leo mutlak. Matanya beralih ke Lavanya, dan seketika kilatan tajam itu melunak. "Lavanya, ikut saya ke ruangan. Ada detail proyek Lombok yang harus kita diskusikan."
Vanya menelan ludah. Ia melirik Laila yang memberikan kode "semoga beruntung" dan Yudi yang wajahnya sudah merah padam karena menahan geram.
Langkah kaki Vanya terasa berat saat memasuki ruangan Leo. Begitu pintu tertutup, Leo tidak langsung duduk di kursinya. Ia justru bersandar di pinggir meja, menatap Vanya yang berdiri kaku di depan pintu.
"Kamu tidak memakai brosnya," ujar Leo, suaranya kini rendah dan serak.
"Pak, ini terlalu berlebihan. Teman-teman kantor mulai curiga, dan Yudi—"
"Jangan selalu memikirkan tanggapan orang lain" sela Leo. Ia melangkah mendekat, mengurung Vanya di antara tubuhnya dan pintu yang tertutup. "Saya sudah bilang, Vanya. Saya tidak suka bermain-main. Jika saya harus mengusir semua pria di kantor ini agar kamu hanya melihat saya, akan saya lakukan."
Vanya mendongak, menatap mata hitam itu. "Sepertinya bapak sakit. Atau kerasukan jin laut di Lombok deh"
Leo tersenyum tipis, kali ini bukan senyum predator, melainkan senyum yang tampak tulus namun berbahaya. "Seharusnya sejak dulu saya menggunakan cara ini untuk menjerat kamu"
Tangan Leo terangkat, jemarinya menyentuh kerah kemeja Vanya, seolah menunggu wanita itu membiarkannya menyematkan bros singa itu di sana.
Perang batin Vanya semakin hebat: lari dari jeratan ini, atau justru menyerah pada pesona sang singa yang kini sedang menggodanya?
🦁🦁🦁
love you author....
ditunggu kelanjutannya ya author yg cantik dan baik hati.jgn kelman ya?
semangat...
semangat...
semangat....