Sebelum lanjut membaca di sarankan membaca (Terjebak pernikahan dingin) kali ini menceritakan pasal pernikahan kedua yang mangakibatkan banyaknya prahara dalam rumah tangga Raditya bersama kedua istri. Memiliki dua wanita sekaligus tidak lantas membuat Raditya bahagia, justru akan membuatnya terjerat benang mereh. Dan bagaimana proses yang harus di lewati Liona selaku istri pertama? lalu sikap apa yang akan Zahra perlihatkan sebagai istri kedua Raditya? ikuti terus kelanjutkan kisah mereka, jangan sampai lupa like and tanda hatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nur Hastaman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkarnya Kebusukan Zahra
Kejadian tadi membuat Zahra marah besar sampai meminta Raditya meninggalkan Liona di parkiran mobil. Dia bersikap sangat egois dengan bersikap berlebihan atas perlakuan Raditya kepada Liona, bahkan dengan tega ia mengancam kalau sampai Liona ikut naik mobil dia mengancam mau menabrakan diri di jalan raya. Sikap Zahra menyota banyak perhatian dari orang sekitar, sampai Raditya merasa sangat malu. Hingga pada akhirnya Raditya menuruti permintaan Zahta, ia meminta Liona mencari taksi online lalu dia pergi meninggalkannya begitu saja. Sepanjang perjalanan pulang Raditya berbedat hebat dengan Zahra, sampai akhirnya Raditya memukul stir kemudi saking tidak kuat menahan emosi. Melihat Raditya semarah itu membuat Zahra terdiam, ternyata kalau sedang marah emosinya bisa melebihi seekor singa. Tak berapa lama setelah keduanya saling terdiam, Zahra kembali menanyakan pasal mobilnya. Lalu Raditya dengan segala emosi berkata jujur bahwasannya mobil itu telah hilang. Jelas saja Zahra semakin marah dan meminta Raditya secepat mungkin mengganti mobilnya itu, tapi Raditya meminta waktu seminggu untuk bisa mengajukan pinjaman di kantor tempat Raditya bekerja.
"Mobil itu hilang karena di pikiran aku cuma bagaimana menyelamatkan kamu secepat mungkin, sampai aku tidak terpikir dengan mobil itu sama sekali. Taukah kamu betapa paniknya aku ketika melihat kamu jatuh pingsan dengan bersimpah darah? Saat itu otak seolah beehenti bekerja, yang ada hanya bagaimana cara menyelamtkan kamu hanya itu saja masalah mobil tidak usah khawatir aku akan membelikan gantinya untukmu" Ucap Raditya dengan nada tinggi. Seiring dengan waktu berjalan sikap seseorang bisa berubah, tinggal bagaimana cara menelihara seseorang menjaga hati pasangan agar rasa tidak cepat berlalu.
"Pokoknya aku tidak mau tau, mas harus ganti mobil itu sama persis karena mobil itu mahar pernikahan kita, kalau sampai tidak di ganti maka ceraikan saja aku" Sambil memalingkan wajah dan melipat kedua tangan.
"Oke,oke, aku akan mengganti mobil kamu yang hilang itu. Tapi aku cuma minta kamu bersabar sampai uang pinjaman itu cair...." bentak Raditya sembari kembali fokus pada jalanan.
Raditya sangatlah pusing sampai memijat kepala saking tak kuasan menahan emosi. Baru pertama kali ia merasa sangat emosi sampai barah seakan mendidih di buatnya.
Sesampainya di rumah mereka saling diam tanpa kata sampai malam tiba. Hingga malam tiba mereka tak saling sapa satu sama lain, dan hanya diam seribu bahasa. Zahra semakin menjadi lalu membelakangi Raditya (Sebelum mas Raditya meminta maaf maka aku tidak akan bicara padanya) Dasarnya Zahra memiliki sikap keras kepala.
Malam hari tepatnya tengah malam, Raditya kembali menyelinap ke dalam kamar Liona dengan membawa sesuatu di tangannya. Sebelumnya dia sudah mengirim pesan jika malam ini Raditya akan datang ke kamar Liona. Raditya nampak melebarkan senyum saat melihat Liona masih terjaga sambil membaca sebuah buku "Kamu belum tidur?" Langkah kaki perlahan mendekati Liona dengan Kedua tangan telihat seperti menyembunyikan sesuatu.
Liona meletakkan buku novel lalu bangkit dari ranjang "Bagaimana aku bisa tidur kalau mas Raditya saja belum datang...." Lirihnya sembari melempar senyum "Em.....mas bawa apa itu?" Melirik ke samping hendak melihat benda apa di tangan suaminya tersebut. Namun, Raditya menyembunyikan hadiah itu "Tutup mata dulu..." Pinta Raditya.
Memejamkan mata perlahan "Memang apa yang mas Raditya bawa untukku?"
"Tutup mata saja dulu dan bayangkan sesuatu yang sangat kamu inginkan" Jawab Raditya dengan menatap wajah manis sang istri.
Liona membayangkan tas yang dia lihat di pusat perbalanjaan tadi.
"Sekarang buka matamu"
Perlahan Liona membuka mata dan betapa terkejutnya dia saat melihat tas yang sangat di minati berada tepat di depan mata. Terlihat ia sangat tidak percaya suaminya bisa memberikan kejutan itu untuknya "Bagaimana mas bisa tau kalau tas ini....."
Raditya menyentuh wajah sang istri dengan tatapan haru "Baru pertama kalinya dalamdit hidupku melihat kamu sebahagia ini, sayang. Lagi pula harga satu tas ini tidak semahal tas yang di beli Zahra tadi. Maka dari itu aku juga masih punya kejutan untukmu" Mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Sebuah perhiasan emas membuat Liona hampir menangis, baru kali ini mendapatkan kejutan dari suaminya.
Sebenarnya tadi sewaktu masih di pusat perbelanjaan, sengaja ia menyelinap demi membelikan tas yang Liona sukai dengan bantuan orang lain sehingga Zahra maupun Liona tidak curiga kalau dia membeli sesuatu. Sebelum mereka kembali Raditya sudah menaruhnya baik baik di bagasi mobil.
"Ya Tuhan bagus sekali, mas. Tapi pasti harganya sangat mahal sekali...." Melihat dari bentuknya sajajelas perhiasan itu tidaklah murah.
Raditya memakaikan kalung tersebut sambil berkata "Harga bukan menjadi masalah bagiku selama kamu menyukainya"
Sekarang Liona baru merasakan bagaimana sifat asli Raditya yang sebenarnya. Kenapa tidak dari dulu mereka bisa seperti sekarang, mungkin kalau dulu mereka saling cinta kejadiannya tidak akan seperti ini. Mereka bisa hidup tanpa beban dan pihak ketiga. Tidak ada sembunyi sembunyi lagi, bisa bebas ngapain saja tanpa takut ketahuan siapapun.
"Kamu terlihat cantik memakai kalung itu" Menatap wajah sang istri yang mulai memerah karena malu dan merasa terharu.
Menyentuh kalung sembari satu tangan memegang tas pembetian sang suami "Terima kasih banyak mas...." Senyum melebar di iringi derai air mata.
"Kenapa menangis sayang?" menyeka air mata lalu menatap dalam mata sang istri. Saat inj tidak ada kalimat keluar dari mulut mereka sehingga perlahan Raditya mendorong tubuh Kiona sampai terpentok ranjang. Liona bingung harus berbuat apa jika dia menolak dengan alasan lain pasti Raditya akan curiga, tapi bagaimana jika Raditya menyadari oerutnya semakin membesar. Akhirnya Liona meminta Raditya mematikan lampu sebelum mereka mengahbiskan malam berdua. Usia kandungan baru mamasuki trinester pertama jadi belum begitu terlihat jelas.
Setelah beberapa menit kemudian ritual malam mereka sudah selesai dan Raditya dengan erat memeluk tubuh Liona "Maafkan atas perlakuanku selama ini teehadapmu, sayang" Mencium kening lalu meljhat jam dinding "Sudah jam dua pagi mas harus kembali ke kamar takutnya Zahra bangun nanti dia marah kalau tau mas di sini"
Liona yang berhati besar memahami keadaan Raditya dan mengijinkannya kembali dalam kamar istri keduanya.
Keesokan pagi, Raditya mendengar suara Zahra tengah ngobrol dengan seseorang. Awalnya Raditya sudah berangkat kerja tapi ponselnya tertinggal dan dia kembali ke rumah dengan memarkirkan mobil di tepi jalan, jadi zahra tidak tau kalau Raditya kembali pulang.
"Zahra puas banget buk sudah bikin Liona jadi banyak di benci semua orang, dan ibu tau tidak waktu Zahra keguguran sebenarnya itu niatnya Zahra mau celakain Liona eh nggak taunya malah Zahra sendiri yang celaka, tapi untungnya mas Raditya percaya sama aku. Terus dia pasti semakin membenci Liona dan setelah itu mas Radit akan menceraikan dia buk, nanti kalau aku sudah menjadi nyonya di rumah ini aku bakal kasih ibu imbalan deh" Ucap Zahra kepada seseorang yang membantunya mempengaruhi warga sekitar.
Semua ucapan Zahra dengan wanita paruh baya itu membuat Raditya sadar jika selama ini dia sudah di kelabuhi oleh istrinya "Oh jadi begitu sikap kamu selama ini? Aku tidak menyangka kamu setega itu sama wanita sebaik dia" seketika pintu terbuka lebar lalu terlihat Rditya berdiri tegap dengan kedua mata membulat sempurna
Seketika saja Zahra terkejut melihat Radity sudah berdiri di sana dengan kedua tangan mengepal. Zahra segera menghampirinya "Mas..." Hendak menyentuh tangan Raditya tapi dengan kasar Raditya menepisnya.
"Jadi kamu yang selama ini menyebar cerita palsu kepada tetangga tentang keburukan Liona?Dan kamu juga yang sudah menaruh cairan pembersih lantai itu di depan kamar Liona , tapi malah berbalik sama kamu sendiri terus kamu menuduhnya melakukan semua itu? Hanya demi keegoisan kamu sampai mencelakai nyawa tak berdosa? Sikap kamu tidak lebih buruk dari seekor binatang" Tatapan Raditya melotot dengan kedua tangan mengepal erat "Keterlaluan sekali...." perlahan ia memajukan langkah sedangkan zahra memundurkan langkah "Mas aku bisa jelaskan semua sama kamu, aku tidak bermaksud...."
Seorang wanita paruh baya tadi melihat keduanya langsung melarikan diri (Lebih baik gue pergi dari pada kena getahnya) Secepat angin beliau pergi dari rumah itu.
sekarang wanita tangguh2 sentil buang😏