Diseret paksa oleh ayahnya untuk menggantikan kakaknya yang kabur sehari sebelum pernikahan, membuat hidup Aneska berubah 360 derajat.
Aneska yang membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya, yang sudah bercerai dengan ayahnya itu, akhirnya menerima perintah tersebut dengan berat hati.
Dan saat Danish mengetahui kalau sebenarnya yang dia nikahi bukan Aresha, melainkan Aneska, membuat ia menjadi sangat marah, dan bahkan tidak mempedulikan Aneska. Terlebih setelah fitnah yang Aresha lakukan pada adiknya sendiri.
Sementara Aneska menjalani kehidupan terburuknya setelah pergi dari Danish, dan ditinggal sang ibu untuk selamanya, tiba-tiba teman masa kecilnya datang. Pria itu juga membawa Aneska jauh dari kota tersebut, membuat Aneska meninggalkan kenangannya dengan sang suami, membawa benih cinta yang tertanam di rahimnya.
***
Original story by MYLIHU
Image from Freepik
Edited by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik paling rendah
Bagaikan disayat sembilu, hati Aneska terasa sangat sakit saat ia mendengar apa yang Danish katakan. Tak ia sangka, kalau kata-kata menyakitkan itu, akan keluar dari mulut suaminya sendiri.
Aneska terhuyung ke belakang usai ia mendengar perkataan Danish. Jadi Aresha memfitnah dirinya, mengancam kakaknya itu, untuk meninggalkan pernikahannya, dan membiarkan Danish menikahi Aneska?
Sungguh wanita yang benar-benar licik dan tak punya hati nurani. Aresha benar-benar bukan manusia. Bahkan kini rasanya, Aneska tak sudi jika harus menganggap kalau Aresha ada kakak kembarnya.
"Wanita gila itu, mengatakan hal tersebut pada Mas?" tanya Aneska dengan perasaan hancur. Bisa-bisanya Danish dengan mudah mempercayai perkataan Aresha, ketimbang istrinya sendiri.
"Kamu benar-benar tidak sopan, Anes! Aresha itu saudara kembarmu, dan lancangnya kamu mengatakan kalau dia adalah wanita gila! Kamu yang gila disini!"
Danish menatap Aneska dengan geram. Waktu selama lebih dari lima belas menit yang ia gunakan untuk berbincang dengan wanita yang bernama Aresha itu, benar-benar membuat pikiran Danish langsung berputar arah.
Kini, Danish bahkan menatap Aneska dengan perasaan benci. Dan Aneska tentu paham dengan tatapan itu, karena hatinya terasa seperti tersayat-sayat saat Danish memandangnya penuh kebencian.
"Walau bagaimanapun, saat ini yang menjadi istri kamu adalah aku, Mas! Kamu tidak boleh mengatakan hal ini padaku! Aku adalah wanita yang kamu nikahi, bukan Aresha!"
Aneska berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri. Ia berpikir, kalau saat ini Danish pasti merasa kebingungan dan juga merasa dibohongi. Terlebih sebelumnya, ia tidak tahu kalau Aneska, nyatanya memiliki saudara kembar.
Mendengar perkataan Aneska, Danish lalu tertawa sinis. Manik matanya semakin memandang Aneska remeh.
"Hanya demi harta dan hidup mewah sebagai istriku, kamu mengancam kakakmu sendiri, berpura-pura akan bunuh diri, jika tidak mengabulkan keinginanmu? Andai saja tadi aku tidak bertemu dengan Aresha, aku mungkin akan terus berada dalam bayangan hitammu, Aneska!"
Manik mata Danish memancarkan kemarahan dan juga kebencian. Ia tak menyangka, kalau Aneska, seorang yang ia anggap sebagai wanita polos dan gadis baik-baik, malah mengancam kakaknya sendiri dengan percobaan bunuh diri. Danish paling benci dengan sikap pengecut seperti itu.
Hati Aneska rasanya sudah tidak kuat lagi saat mendengar apa yang Danish katakan. Ia langsung melangkahkan kakinya pergi dari sana. Keluar dari ruangan yang membuat dadanya terasa sesak.
Aneska pergi ke kamarnya dengan Danish, ia mendudukkan dirinya di atas ranjang, dan kemudian menangis dengan tersedu-sedu. Teganya Danish menghinanya seperti itu padahal dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Danish hanya mendengarkan kebohongan dari Aresha, tanpa dia sendiri mau mendengar penjelasan Aneska, istrinya sendiri.
Saat Aneska sedang menangis dengan isak yang menyakitkan saat mendengarnya, ponselnya terdengar berdering dari dalam saku tas yang masih ada di bahunya. Dan panggilan telepon itu adalah dari papanya.
Aneska segera mengangkat panggilan telepon tersebut. Niat hati ingin mengadukan perlakuan Aresha padanya, namun Aneska malah mendengar suara teriakan penuh amarah dari papanya.
"Dasar anak kurang ajar! Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu menghancurkan semuanya, sialan?!" Aryo berteriak marah, dengan suara yang memekakkan telinga. Bahkan tangan Aneska sampai bergetar karena rasa ketakutannya saat mendengar suara tersebut.
"Dasar anak tidak tahu diuntung! Sudah bagus aku membayar biaya berobat ibumu, tapi kau malah menghancurkan semuanya! Dasar anak tidak berguna!"
Kata-kata menyakitkan itu terus terdengar oleh Aneska. Otak Aneska rasanya sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Ada apa lagi ini? Kenapa papanya marah seperti ini? Apa yang Aresha kadukan kali ini? Rupanya, kakak kembarnya itu masih belum puas menghancurkan hidupnya.
"A-aku tidak me-melakukan apa-apa, Pa," ucap Aneska dengan suara yang terbata-bata. Rasa sakit di hatinya terasa semakin menyesakkan. Aneska tidak sanggup lagi menahannya. Tak cukup hanya Danish yang membuatnya sakit hati, kini papanya juga ikut memaki dengan segala sumpah serapahnya.
Aneska mematikan sambungan telepon itu secara sepihak, rasanya ia sudah tidak sanggup lagi menahan sesak di dadanya. Aresha kali ini benar-benar berhasil menghancurkan hidup Aneska.
Belum hilang gema dari teriakan papanya hilang dari telinga Aneska, kini ponselnya kembali berdering. Dan ternyata itu dari rumah sakit tempat ibu Aneska di rawat.
"Ada apa, Dok?" tanya Aneska saat panggilan telepon ia jawab. Dia juga sudah menetralkan nada suaranya, agar tidak terlalu serak karena menangis.
Namun sapaan Aneska gak mendapat jawaban. Tapi terdengar suara helaan napas berat di seberang sana. Dan tentunya itu membuat hati Aneska semakin gundah. Firasat buruk tiba-tiba saja memenuhi isi kepalanya.
"Dok? Ada apa, Dok? Mama saya tidak apa-apa, kan?" tanya Aneska dengan suara panik dan juga ketakutan. Bahkan kepanikan itu menghapus rasa sakit yang Danish torehkan pada Aneska, untuk sementara waktu.
"Maaf, Mbak Aneska. Kami ingin memberitahukan kepada Anda, bahwa baru saja ibu Anda mengalami kondisi drop parah. Dan kami sudah mengambil tindakan pertama, namun Tuhan berkehendak lain. Ibu Anda, baru saja mengembuskan napas terakhir, dan dinyatakan meninggal dunia, tiga menit yang lalu."
Ponsel yang ada didalam genggaman Aneska langsung terlepas saat mendengar kabar tersebut. Tak disangkanya, kalau kini adalah waktunya, sang ibunda yang sangat dia cintai, meninggalkannya untuk selamanya. Tanpa Aneska disampingnya, disaat-saat terakhirnya.
Isak tangis itu semakin tak terkendali. Bahkan ingus pun tak bisa dikondisikan. Aneska berada di titik terendah dalam hidupnya. Dibenci oleh suaminya, dimaki papanya, dan kini ibunya pun turut meninggalkan dia untuk selamanya.
Kenapa ujian ini harus datang padanya. Dan kenapa datangnya tidak bertahap saja, sehingga Aneska bisa lebih kuat dalam menghadapinya.
Hari ini adalah hari terburuk dalam hidup Aneska. Jika saja dia tidak memiliki perasaan untuk Danish, maka dirinya pasti dengan mudah bisa melupakan ini, dan meninggalkan pria itu. Tapi nyatanya, hatinya sudah jatuh kepada pria itu, pria yang mengucapkan ijab kabul menyebutkan namanya.
Dan juga, kenapa Papanya harus mencari dia saat Aresha sendiri memilih kabur dari pernikahannya, dan membuatnya ada di posisi seperti sekarang ini. Kalau saja dulu papanya tidak datang, maka kejadian ini tak akan pernah terjadi.
Jika saja papanya tidak memaksanya untuk menikahi Danish, maka Aneska pasti memiliki waktu yang lebih banyak lagi untuk mengurusi ibunya di rumah sakit. Nyatanya, kini wanita yang melahirkannya itu, pergi meninggalkan Aneska untuk selamanya. Dan Aneska tak bisa berada di sana, disaat-saat terkahir ibunya tersebut.
Dan biang dari semua masalah ini adalah Aresha. Dan sampai kapanpun, Aneska tidak akan pernah memaafkan Kakaknya tersebut.
"Tuhan, kenapa Engkau begitu jahat padaku? Aku tidak sanggup, jika cobaannya seberat ini, Tuhan."
***
Berat gak, sih, ada di posisi Aneska? :((
Selamat membaca, silakan tinggalkan like dan komentar jika berkenan.