Cerita ini sangat panjang dan menakutkan bagiku. Jika ditanya apa penyesalan terbesarku, maka aku akan menjawab tanpa ragu. Aku menyesal meninggalkan Negeri Bintang untuk belajar ilmu kebatinan.
Buruknya, giliran itu semakin mendekat padaku. Aku tak bisa menghindar darinya, karena dia selalu bersamaku. Begitu juga kalian. Dia selalu mengikuti kalian.
Jika cerita ini sampai pada kalian, berarti giliranku telah sampai. Setidaknya, aku bisa memberitahu kepada orang-orang Negeri Bintang, ada seseorang bernama Algol Perseus.
Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI KEDUA PULUH DUA: PEMENANG SEBELUMNYA
"Bagaimana jika, jejak di sini adalah hasil dari perbuatanku, yang dimaksud oleh sang gadis berarti adalah dosa?" tanya Algol tanpa sadar.
Sadir menghela napasnya, "Aku sering bertanya tentang ini, tetapi mengapa kalian sering menghubungkan ini semua dengan cerita TALI?"
"Entah ini berhubungan atau tidak, saat pertama kali kita datang ke rumah Mizar, aku bermimpi. Aku melihat gadis kecil itu dalam mimpiku."
Alpahard menggaruk kepalanya, "Kau tidak punya kemampuan yang seperti itu kan?"
"Aku yakin tidak. Namun ruangan itu, entah mengapa aku sangat mengenalinya. Kemudian, aku seperti melihat bagaimana Carina mati."
Sadir sekali lagi menghela napas, "Mungkin itu hanya karena pengalaman buruk yang kita alami."
"Namun pembunuh bertali, yang berniat membebaskan kita dari penderitaan pasti menyukai cerita TALI," lanjut Sadir lagi.
Alni segera menatap takut-takut pada Alphard. Suara decakan khas Alphard terdengar lagi.
"Kalian ingin menuduhku lagi? Kalian sudah lihat sendiri, aku juga jadi korban," jelas Alphard jengkel.
"Bukankah aneh jika kau bisa selamat begitu saja? Kau mengikat kaki dan tanganmu, lalu membuat semacam jerat agar kau bisa tergantung begitu saja," ucap Alni dengan pandangan menuduh.
Algol menggaruk kepalanya yang mulai sakit. Ia tak mau curiga dengan Alphard, tetapi pria ini sangat mencurigakan.
Sadir menggoreskan pedangnya ke batu, "Aku tak ingin mengatakan ini karena tak mau menimbulkan kecurigaan baru. Tetapi, Alphard, malam itu aku melihatmu berdiri di samping Algol?"
Algol kali ini menatap tajam pada Alphard. Mengapa ia tak menyadari jika pria gila ini ada di dekatnya malam itu?
Tentu saja itu karena tumbuhan yang dibakar di dekat Algol malam itu. Jika Mizar tidak berbohong, tumbuhan itu pasti benar-benar masih ada di dekat Algol tertidur.
Malam itu juga Alphard, katanya, diserang.
"Aku benci sekali jika harus menjelaskan. Kalian tak akan percaya, meskipun aku berkata benar. Tidak ada bukti atau saksi yang bisa membelaku," balas Alphard lagi.
Algol siap untuk menarik pedangnya, "Katakan saja alasanmu. Mengapa kau mengawasiku ketika tertidur?"
Alphard mengangkat tangannya. Pertanda menyerah dan tak berniat untuk melawan Algol.
"Pernahkah ada yang memberitahumu bahwa kau suka berjalan ketika tertidur?" Alphard kembali melemparkan pertanyaan pada Algol.
"Apa maksudmu?" tanya Algol tak percaya.
Ia tak tahu jika Alphard membohonginya atau tidak. Namun wajah Alphard terlihat serius. Ini nyaris seperti ketika Alphard membahas cerita TALI itu.
"Ketika kau tertidur, kau akan berjalan. Kau akan bertingkah laku seperti kau sadar, tetapi kau tertidur. Alam bawah sadarmu yang bernaluri."
Algol tertawa kaku, "Memangnya ada hal seperti itu?"
"Kau tak menyadari itu karena kau tertidur. Itulah mengapa aku tak mau mengatakan ini. Seperti menyalahkan anak kecil yang tak bisa langsung berjalan, aku tak bisa menyalahkanmu yang berjalan saat tidur."
Mendadak pikiran Algol terasa sakit. Selama dua puluh lima tahun hidupnya, baru kali ini ada yang mengatakan bahwa ia tidur berjalan."
Dia tak sendiri di sana.
Algol mengingat mimpinya tentang gadis kecil dalam ruangan. Detail yang ia lihat sangat mirip dengan yang dijabarkan di cerita TALI. Apakah cerita itu begitu mempengaruhi Algol? Bahkan di dalam mimpi juga?
Baru saja ia ingin meraih kerah jubah Alphard, suara teriakan Alni terdengar keras.
Mengapa Alni sangat suka berteriak?
Saat Algol ingin menegur sifat buruk Alni, ia dikejutkan dengan percikan darah yang mengenai wajahnya.
Semua terjadi dengan cepat, dan Alni sudah tersembab di tanah dengan mata membelalak. Sebuah bekas sabitan pedang terlihat dari gaun Alni yang sudah sobek. Dari balik sobekan itu, tampak luka yang terus mengalirkan darah.
"Bolehkah aku bergabung?" pria itu tersenyum licik.
Pandangan pria itu teralih pada Alphard yang berdecih. Dia membenci Alphard, karena pria pucat itu selalu merendahkannya.
"Kau memang tak pantas untuk diselamatkan, Hamal."
Hamal yang sebelumnya tak jauh berbeda dengan mayat, kini berdiri sambil menggenggam pedang milik Sadir. Dengan wajah sombong, Hamal mengusap darah yang menempel di pedang itu.
"Sebagai ucapan terima kasih, aku akan membunuh kalian semua. Dimulai dari kau s*alan!" tunjuk Hamal pada Alphard yang masih santai di tempatnya.
***
Dengan cepat Sadir menarik Alni yang tengah kesakitan ke dalam pelukannya.
SRET
Sadir dengan cepat merobek jubahnya sendiri untuk menutupi luka Alni, tetapi darah yang mengalir dari sana tak berhenti.
Ia hanya bisa menatap wajah pucat Alni yang kesakitan. Luka itu terlalu dalam untuk ditanggung oleh Alni.
"Itu adalah bayaran atas dosa yang dilakukan oleh gadis ini. Meski aku tidak membunuhnya, Mizar yang akan membunuhnya. Jadi, apa bedanya?" tanya Hamal seperti mempertanyakan hari apa sekarang.
Alphard melirik tangan kiri Hamal yang buntung, "Jadi, kau berlagak untuk menghakimi dosa kami? Bukankah kau juga dibuang?"
Hamal mengusap bahu kirinya, "Tanganku yang hilang adalah bayaran atas dosa yang ku lakukan."
Algol menghela napasnya sambil mendekati Alni yang meraung karena kesakitan. Sama seperti Carina, wajah Alni juga sangat buruk saat menjelang kematian.
"Kau sengaja menunjuk padaku hari itu agar kami saling mencurigai. Kau bekerja sama dengan Mizar."
"Tepatnya ini hanya perjanjian. Aku membantai seluruh teman-temanku agar aku bebas dari pembuangan ini."
Alphard menepuk tangannya, "Saat kau selesai membantai mereka semua, Mizar datang dan mengumpankanmu pada serigala. Sebelum kau habis dimakan serigala, kau memohon padanya."
Hamal tidak membantah dugaan dari Alphard. Dia hanya meregangkan tubuhnya seperti orang yang baru bangun tidur. Ia menatap rendah pada Alni yang nyaris mati.
Alni meraung dengan pandangan memutih, "Mengapa kaisar tidak datang untuk menolongku? Bukankah dia sudah berjanji?"
Hamal berludah, "Kalian saling membeberkan dosa kalian sendiri, dengan harapan untuk dimaafkan. Namun tak ada kesempatan lagi untuk itu. Aku yang akan menjadi pencabut nyawa kalian."
"Kau tahu, tidak ada yang bisa menghakimi dosa orang lain."
Algol mendadak muak dengan semua ini.
Mereka berbicara tentang dosa yang dilakukan oleh orang lain, tetapi apakah mereka ingat dengan dosa mereka sendiri?
Inilah mengapa pembunuh bertali itu ingin membebaskan mereka. Algol dengan konyolnya bisa mengerti kesusahan yang melanda hati pembunuh bertali.
Dia hanyalah orang yang tak suka melihat penderitaan orang lain.
"Alni Lamorion, aku tahu kenapa kau membunuh Atria," ucap Hamal dengan senyum yang mengerikan
Sadir menggeretakkan giginya, "Jadi, kau sudah sadar selama itu?"
"Kau ingin bertindak seperti pahlawan sekarang? Kau telah terpikat pada seseorang yang seharusnya tak kau lirik. Alni Lamorion ketika menjadi selir, maka dia milik kaisar. Ketika dibuang, maka tidak boleh ada satu pun yang mengambilnya. Itu adalah hukuman yang pantas untuknya."
Sadir tertawa dalam kemarahannya sendiri. Tangannya masih menekan kuat pada luka yang diderita oleh Alni, tetapi gadis itu sudah tak bergerak lagi.
Mata Alni masih terbuka lebar karena rasa terkejutnya. Dengan lembut Sadir menutup mata Alni dengan telapak tangannya.
"Mengapa aku harus mengikuti kebijakan kekaisaran? Sejak aku keluar dari sana, aku bukan lagi Cygnus. Aku tidak terikat pada Kekaisaran Negeri Bintang lagi."
Algol menghela napasnya pelan. Ia hanya bisa melihat Alni yang sekarang tak bernyawa. Sulit dibayangkan jika gadis yang baru saja berdebat dengan mereka akan mati secepat ini. Rasanya langsung tenang.
"Atria mengatakan pada Alni Lamorion bahwa kaisar telah membuangnya. Meski Alni kembali, kaisar tak akan menerimanya kembali."
Alphard tertawa pelan, "Sejak kapan kau jadi cenayang? Bagaimana kau bisa menduga ucapan dari Atria waktu itu."
Hamal menatap Alphard bengis. Seperti ia ingin mengiris-iris pria ini menjadi serpihan kecil, dan mengumpankannya pada serigala.
"Karena posisi mereka sama."
Sadir tercengang, "Apa maksudmu, br*ngsek?"
"Atria Sica, dia adalah selir kaisar yang juga dibuang. Beberapa tahun yang lalu pembuangan terhadap selir kekaisaran juga terjadi."
Algol sangat malas untuk menyimpulkan ini semua. Namun ilmu hitam yang dibahas oleh Alphard sepertinya benar.
"Mereka terkumpul bersama, dan menyadari jika mereka harus saling membunuh. Kelompok Atria saling membantai, hingga tersisa Atria. Setelah itu, Atria kembali ke pusat kota dan mengetahui jika keluarga Sica telah mengumumkan kematiannya. Kemudian, Atria diburu oleh pembunuh bayaran. Namun entah mengapa pembunuh bayaran itu malah menampung Atria," dengan bijak Alphard menyimpulkan.
"Bukankah Atria bisa diterima kembali jika hanya satu yang bertahan?" tanya Sadir tak mengerti.
Hamal terkekeh, "Tentu saja, hanya satu. Namun yang bertahan pada saat itu bukan hanya satu."
Alphard berdecak sebal karena mendengar suara Hamal yang menyebalkan.
"Kau tidak paham ya? Orang br*ngsek ini juga selamat dalam pelatihan ini. Dia yang diterima kembali oleh keluarga Aries. Sayangnya, dia melakukan hal sampah lagi, dan dibuang lagi," ucap Alphard kesal.
Mendadak Algol mengerti mengapa ada dua orang sampah dari keluarga Aries. Pada tahun ini, harusnya hanya Alphard yang dibuang. Akan tetapi, sampah seperti Hamal, sampah yang gagal didaur ulang, harus dibuang kembali. Oleh karena itu, ada dua orang Aries di pelatihan ini.
"Aku sudah mengerti metode ini, dan aku adalah satu-satunya yang akan selamat."
Ini benar-benar buruk!
Satu-satunya jalan yang bisa membuat mereka kembali ke pusat kota ialah saling membunuh. Sama seperti para ulat, mereka harus saling membunuh hingga tersisa satu.
Itulah yang menjadi pemenang.
***
Selamat membaca :D
Tinggalkan jempol pada tempatnya. Berikan apresiasi pada cerita saya yang absurd ini. Jadikan favorit jika kalian tak mau ketinggalan setiap kali update.
Berikan vote untuk mendukung cerita ini. Biar author nya juga tambah semangat. Mari kita bertemu di chapter selanjutnya.
Jaga kesehatan dan terus semangat.
Adhios~
penggambaran setiap karakternya menunjukkan tingkat depresi yang sangat tinggi dalam kehidupan mereka sebagai bangsawan, dimana keidealisan hidup sejatinya memang sulit dicapai.
mungkin akan diadu domba nantinya agar saling membunuh satu sama lain.
Aku balik lagi..
Baca lagi, meski dengan akun baru karena akun lamaku gx bisa login
Cerita yg menarik, bikin penasaran, & seru
👍👍👍👍
😍😍😍😍😍