Zaman sekarang mau dijodoh-jodohkan, siapa yang mau?. Bram, sepupu Byakta Aryasatya berusaha menjodohkan sepupunya itu dengan sepupu istrinya. Tahu sendiri keluarga dari sebelah Bella, istri Bram banyak yang alumni pondok pesantren bahkan ada yang memiliki pondok pesantren. Sementara pemahaman Bella sendiri standar saja meskipun dia menutup aurat juga. Byakta menolak tawaran Bram.
Di hari pertama, Byakta masuk kerja karena menggantikan posisi Manajer Keuangan yang resign, dia dikejutkan oleh ruangan divisi keuangan yang ramai bak pasar. Banyak karyawan perempuan sedang sibuk memilih-milih barang.
Zeevana yang punya lapak langsung dipanggil Byakta keruangannya. Gadis itu dilarang buka lapak di dalam kantor. Zeevana sangat kesal dengan Byakta padahal dia tidak mengganggu jam kerja. Byakta saja yang datangnya kepagian. Sejak hari itu Zeevana bersikap tidak bersahabat dengan atasannya itu.
Ternyata Zeevana adalah sepupu Bella. Bella juga akan menjodohkan Zeevana dengan sepupu suaminya.
Akankah Zeevana menerima perjodohan dari sepupunya ?
Impian Zeevana yang ingin memiliki suami yang bisa menjadi imamnya dunia akhirat akankah terwujud ?
Sementara Byakta yang sudah mengetahui dengan siapa dia akan dijodohkan, jadi berpikir ulang untuk mencoba mengenal Zeevana lebih dekat dengan caranya sendiri.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Yuk lanjut baca aja 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rabiha Adzra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22 Bersandiwara
Zeevana meletakkan tas kerjanya di meja. Dia kemudian menyalakan komputer. Laporan yang diminta oleh Byakta dua hari yang lalu segera dikerjakannya. Setelah itu akan diserahkannya kepada Anita agar disampaikan kepada Byakta.
"Pagi!!. Ya ampun, Zee. Masih pagi juga sudah buka komputer. Karyawan teladan kamu," ujar Mike memasuki ruangan melihat Zeevana sudah datang duluan.
Tak lama kemudian teman-teman Zeevana yang lain menyusul masuk ke ruang divisi keuangan.
"Assalamualaikum," sapa Byakta tak lama menyusul juga masuk ke ruangan.
"Waalaikumsalam, Bapak," balas mereka serempak kecuali Zeevana.
Dia membalas dengan suara kecil, sudah dipastikan Byakta tidak akan mendengarkannya. Byakta sudah masuk ke dalam ruangannya.
"Pak By kok, makin cool makin ganteng saja, yah," ujar Vemy memuji atasannya itu.
"Aku penasaran, deh. Dengar-dengar, Pak By kuliahnya satu kampus dengan Bu Shindi, lho," ucap Mike.
"Sudah mau jadi ratu gosip kamu, Ke," sahut Onni. Mike memanyunkan bibirnya melihat Onni.
"Iya, malah katanya Pak By pernah naksir Bu Shindi. Wah, saingan kita berat nih," timpal Vemy sambil menatap teman-temannya.
"Iya, kita nggak bisa menandingi gaya Bu Shindi. Kayaknya tipe Pak By, wanita seperti Bu Shindi," ujar Mike.
Deg. Jantung Zeevana berdetak kencang mendengarkan ucapan Vemy bahwa Byakta pernah naksir Bu Shindi, wanita cantik dan modis itu.
"Cocok banget deh, cantik dan ganteng. Aku terpaksa mendukung mereka, deh," ujar Mike menyerah.
Brak!!!
Zeevana menghempaskan berkas yang ada di sampingnya. 'Masih pagi sudah membuat gosip,' umpat Zeevana kesal di dalam hatinya.
Teman-teman Zeevana semuanya kaget. "Kenapa sih kamu, Zee?," sungut Vera.
"Iya, mau bikin orang jantungan saja, nih," tambah Vemy.
Tanpa memperdulikan temannya, Zeevana berdiri lalu menyerahkan laporan yang dibuatnya kepada Anita.
"Tuh anak kenapa?," Mike geleng-geleng kepala.
💞💞💞
Di kantin perusahaan.
Zeevana ke kantin datang belakangan. Alhasil, dia tidak bisa duduk satu meja dengan teman-temannya. Hari ini Zeevana belum bertatap muka langsung dengan Byakta meskipun mereka satu kantor. Bahkan di kantin pun sosoknya tidak dia temui juga.
"Hai, boleh duduk di sini," sapa seorang wanita di depan Zeevana.
"Oh..silahkan," balas Zeevana cukup kaget melihat wanita yang menyapanya adalah Shindi, manajer yang dibicarakan teman-temannya tadi.
"Kamu karyawan Byakta, kan?. Karyawan yang suka menjual barang branded itu?," tanya Shindi tersenyum kepada Zeevana.
"Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?," tawar Zeevana ramah bagaimana pun juga Shindi seorang atasan di perusahaan tempatnya bekerja.
"Bos kamu itu dulu pernah menyukai saya, tapi saya tolak karena saya sudah dijodohkan dengan laki-laki lain. Sekarang saya sudah bercerai," cerita Shindi kepada Zeevana.
Zeevana hanya diam ternyata yang dibicarakan teman-temannya itu benar.
"Aku tidak menyangka, sekarang dia tambah ganteng saja dan tentu saja masih jomblo. Ini kesempatanku untuk mendekatinya. Kamu mau membantuku tidak?," ujar Shindi melihat Zeevana.
Zeevana tersentak kaget. Bagaimana mungkin dia mau membantu wanita itu untuk merebut suaminya sendiri.
"Aku ingin membelikannya sepatu. Kamu tahu nomor sepatunya berapa?. Mungkin Byakta pernah beli sepatu dengan kamu," tanya Shindi.
"Maaf Bu, saya tidak tahu. Dan untuk sementara waktu, saya belum order barang dulu," tolak Zeevana halus.
"Owh begitu. Ya sudah, kalau begitu saya akan tanya langsung saja dengan orangnya," ujar Shindi tersenyum.
Zeevana benar-benar geram melihat wanita yang terang-terangan ingin mendekati suaminya. Sementara hubungan dia dan Byakta sedang tidak baik. Ini akan menjadi peluang besar bagi Shindi untuk masuk ke dalam rumah tangganya. Apalagi Shindi tidak tahu kalau sebenarnya Byakta sudah menikah.
💞💞💞
Zeevana melemparkan tas kerjanya di atas ranjang. Hari ini dia benar-benar kesal dengan wanita yang bernama Shindi. Sudah dua hari tidak ada komunikasi dan interaksi antara dia dan Byakta.
[Zee, Abah mau kamu dan Byakta makan malam di rumah. Umi juga sudah mengabari suamimu, takut nanti dia lupa untuk mengabari mu. Jangan sampai nggak datang, ya.]
Telpon dari uminya membuat kepala Zeevana pusing. Bagaimana dia bisa pergi dengan suaminya kalau mereka saja sedang ada masalah begini.
[Iya, Mi. Insya Allah. Zee dan Mas By akan datang]
Zeevana memejamkan matanya setelah uminya memutuskan telpon.
Jam setengah enam, terdengar suara mobil Byakta memasuki pekarangan rumah.
"Lho By, mau ke mana?. Rapi sekali," tanya mamanya.
"Abah mengundang kami makan malam di rumahnya, Ma," jawab Byakta.
"Terus bagaimana masalah kalian, sudah selesai?," tanya Dwina khawatir.
"Belum tahu. Aku tinggal menunggu keputusan dari Zee, Ma," jawab Byakta.
"Kalian harus bersikap seolah-olah nggak ada masalah. Jangan sampai Abah tahu, By," pesan Dwina.
"Iya, Ma." Byakta lalu menuju ke kamar untuk menemui Zeevana.
"Kamu sudah diberitahu umi, kan?," tanya Byakta.
"Iya, Mas." Zeevana melirik Byakta yang masih berdiri di muka pintu.
Zeevana memang mengakui bahwa Byakta memang laki-laki yang sangat tampan. Pakaian apa saja yang dikenakannya akan selalu terlihat menawan.
"Untuk malam ini bersikaplah seperti layaknya pasangan yang tidak ada masalah, meskipun kamu tidak menyukaiku," ucap Byakta sedih.
Sungguh Byakta tidak mengharapkan pernikahannya akan berakhir.
Zeevana melirik sepatu Byakta. Laki-laki itu mengenakan sepatu yang dibelinya di mall. Mengingatkan Zeevana kembali, accident itulah yang dijadikan Bram sebagai alat agar dia menikah dengan Byakta.
"Aku akan selalu mengingat moment kamu menemaniku membeli sepatu ini," sindir Byakta ketika menyadari Zeevana melihat sepatu yang dia pakai.
Zeevana membuang mukanya. Dia memang tidak bisa melupakan kejadian itu.
💞💞💞
Tiba di rumah Abah Sa'id
"Assalamualaikum," ucap Zeevana masuk ke rumah abahnya diiringi Byakta di belakangnya.
"Nah, pengantin baru sudah datang," tegur Zainab.
"Apa kabar Abah dan Umi?," sapa Byakta mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Alhamdulillah, Abah dan Umi sehat walafiat," jawab Abah Sa'id sambil tersenyum.
"Sekali-sekali kita makan malam bersama. Menantu-menantu Abah kumpul semua di sini," ucap Abah tersenyum.
"Kalian semua sibuk bekerja. Kalau tidak dibuat moment seperti ini, pasti jarang bertemu. Abah ingin moment ini diadakan minimal sebulan dua kali," tambah umi Fatimah.
"Iya, Umi. Kami sebagai anak setuju saja. Ya nggak," lirik Zelva kepada kedua adiknya.
"Zee dan Byakta, kalian jangan menunda-nunda untuk mempunyai momongan," sela Abah melihat anak dan menantunya itu.
Zeevana dan Byakta saling pandang. "Iya, Abah. Belum rezeki saja. Masih usaha terus, kok," balas Byakta tersenyum.
Semua keluarga tertawa mendengarkan ucapan Byakta. Zeevana pun hanya tersenyum malu.
Suasana makan malam pun berlangsung dengan hangat seolah-olah antara Byakta dan Zeevana tidak ada masalah.