Hai dukung ceritaku ya.
SETELAH MEMBACA BIASAKAN LIKE.
LIKE, KOMENTAR, FAVORIT JUGA.
Cerita ini hanya kehaluan author saja ya.
Cerita ini kelanjutan Benih Tuan Muda Kejam.
Menceritakan kisah cinta anak ketiga Abraham dan arin.
Ya Andra harus menikah dengan seorang wanita cantik bernama Syafi yang ternyata anak dari pak Andi dan Veli. Arin yang sudah suka dengan Syafi pun meminta pak Andi untuk menjodohkan keduanya. Apalagi Syafi baru saja putus dengan sang tunangan karena penghianat.
Bagaimana serunya rumah tangga keduanya, apalagi Andra ternyata musuh bebuyutan Syafi selama di kampus.
Yuk kepoin ceritanya 🙏.
Setelah membaca biasakan like ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Semua tamu sudah pulang, tinggallah Syafi, Andra, pak Andi, Abraham dan Arin yang sedang duduk di ruang tengah. Sedangkan Aurel dan Abrian sudah pulang, Aurel pulang ke mansion terlebih dahulu karena dia merasa lelah tugas sebagai dokter serta mengurus rumah sakit milik sang Papa membuatnya sedikit kelelahan.
Untuk Abrian dia harus pergi ke perusahaan karena ada janji dengan klien penting, Bimo dan Doni sedang berjaga-jaga di luar bersama bodyguard yang lainnya karena tak ingin Miko datang menganggu lagi.
"Sayang Bimo sudah menaruh koper milikmu di kamar Syafi," kata mama Arin.
"Lho kok di taruh di kamar ku sih Pa," protes Syafi menatap sang Papa, Syafi merasa tak terima kalau dia harus sekamar dengan Andra.
Sedangkan Andra melotot menatap Syafi heran.
'Nih anak lupa ingatan atau sengaja lupa, lha tadi aku baru saja nikahin dia,' batin Andra sedikit kesal.
"Memang harus di taruh di mana kalau bukan di kamar mu nak, kamu lupa kalau Andra telah resmi menjadi suami mu," jelas pak Andi mengingatkan sang anak kalau dia sudah resmi menikah dan menjadi istri dari Andra.
"He he he he he he.... " Syafi cengengesan, dia tersenyum kecut memandang ke arah Andra.
"Iya sayang, jadi kalian harus rukun ya," pinta Arin kepada Andra dan Syafi.
"Pasti ma," jawab Andra tangannya merangkul leher Syafi.
"Diam saja, tinggal mengangguk saja jangan protes nanti makin lama. Aku capek mau tidur ," bisik Andra di telinga Syafi.
"Iya iya, lepasin nih tangan. Jangan modus nanti ku gigit tangan mu," kesal Syafi memaksa Andra melepaskan tangan nya.
"Papa tunggu cucu dari kalian," kata Abraham kepada Syafi dan Andra.
"Uhukkk.... Uhukk..." Syafi terbatuk-batuk mendengar ucapan Abraham.
"Ya ampun sayang, nih minum dulu," Arin mengambil minum dengan tergesa-gesa dan menyodorkan ke Syafi yang sudah menjadi menantunya itu.
Sedangkan Andra tersenyum puas, dia menatap Syafi tak lupa menaik turunkan alisnya meledek Syafi.
Sungguh Syafi ingin rasanya membabat habis alis milik Andra biar kapok.
"Andra, Syafi dengarkan papa!! Kalian berdua sudah resmi menjadi suami istri, tidak ada manusia yang sempurna jadi papa mohon kalian harus saling melengkapi an menerima kekurangan masing-masing,"
"Dan untuk Andra, papa mohon tolong jaga Syafi, bahagiakan dia jangan pernah kamu membentak atau memukul Syafi. Jika kamu sudah tak ingin mempertahankan pernikahan kalian silahkan kembalikan Syafi dengan baik-baik karena hanya Syafi yang om miliki, mulai hari ini papa titip Syafi," pinta pak Andi kepada Andra.
Tak terasa sudut mata pak Andi berkaca-kaca. Dia sedih karena harus berpisah dengan sang anak, namun pak Andi juga bahagia karena Andra adalah lelaki yang baik.
'Sayang sekarang kamu bisa tenang, Syafi sudah menikah dengan Andra sesuai keinginan mu dulu,' batin pak Andi.
Syafi langsung memeluk pak Andi, Syafi menangis karena baru kali ini dia berpisah dengan sang Papa.
"Iya pa, Andra akan menjaga Syafi mulai sekarang," jawab Andra dengan tulus.
Setelah mengucapkan ijab tadi, Andra sudah ikhlas menjadi suami Syafi. Tinggal bagaimana cara dia meluluhkan hati gadis bar-bar di sampingnya itu.
"Hiks hiks hiks hiks hiks.... Pa kalau nanti Syafi main ke sini masih boleh ya," pertanyaan konyol itu meluncur dari mulut Syafi.
"Ha ha ha ha ha, ada-ada saja anak Papa ini. Tentu boleh dong kan ini masih rumah kalian juga, nanti kalau kalian mau tinggal di sini juga boleh," kata pak Andi.
"Eittsss... Mereka nanti tinggal di mansion kami," tolak Abraham karena dia ingin melihat anak, menantu dan cucunya nanti setiap hari. Apalagi mansion milik Abraham tersedia banyak kamar.
"Sudah jangan ribut, terserah sih mereka mau tinggal di mana," lerai Arin.
"Andra, Syafi kalian mau tinggal di mana nanti?" Tanya Arin karena dia ingin menyiapkan semuanya nanti.
Syafi menatap Andra, karena Syafi juga binggung. Di sisi lain Syafi tak ingin meninggalkan rumah ini, namun ucapan sang Papa tadi mengingatkan dia kalau sekarang Syafi sudah menikah otomatis dia akan mengikuti kemana sang suami nanti tinggal.
'Emmm.... Sebaiknya aku tinggal sendiri saja, aku kan punya apartemen yang di kasih sama om Tio dulu pas ultah yang ke 18,' guman Andra di dalam hati, dia masih memikirkan bagaimana nanti dia dan Syafi akan menjalani hidup berdua saja.
'ha ha ha ha ha ha, kalau di sana kan aku bisa menindas nih anak seenaknya,' guman Andra tersenyum licik menatap ke arah Syafi.
Syafi yang sedari tadi menatap Andra untuk meminta pendapat justru di buat curiga, bagaimana tidak karena wajah Andra begitu mencurigakan.
'Wah jangan-jangan nih orang punya rencana licik nih,' batin Syafi penuh selidik.
Bruuk....
"Aaaa...." Andra mengeram kesakitan di dalam hati.
Andra menoleh ke arah Syafi, Andra melotot menatap Syafi dengan penuh kekesalan.
"Kenapa kamu injak kaki ku," kata Andra tepat di telinga Syafi namun dengan suara kecil agar tak membuat ketiga orang tua di sana kaget.
Sedangkan Syafi cengengesan tak jelas.
"Cepat katakan, jangan senyum-senyum tak jelas," kesal Andra dengan berbisik.
"Aku tahu kamu pasti sudah punya rencana licik buat aku ya," jawab Syafi ikut berbisik agar tak di dengar oleh orang tuanya.
"Aduh manis banget sih pa anak kita, bicara saja bisik-bisik. Pasti mereka sudah tak sabar ingin berduaan," kata Arin dengan binar kebahagiaan melihat keromantisan anak dan menantunya.
'Ck aku sama dia berduaan, tak akan,' batin Syafi membayangkan dia bersama Andra bergidik ngeri.
'Kenapa tuh muka gadis bar-bar, pasti dia bayangin hal-hal aneh,' batin Andra menatap Syafi terlihat aneh.
"Pasti mereka tidak sabar untuk malam pertama ma," saut Abraham menatap Andra dengan jahil.
Sedangkan pak Andi tersenyum geli melihat reaksi keduanya yang kaget.
"Ha..." Andra dan Syafi melonggo berjamaah.
"Tuh kan pa, lihat mereka kompak banget sih," Arin tak henti-hentinya menggoda keduanya.
"Mama salah paham," protes Andra karena dia sedang tidak melakukan yang di tuduhkan sang mama.
"Sayang jangan malu-malu, mama tahu pasti kalian tak sabar kan ingin berduaan," jawab Arin menyudutkan keduanya.
'Fyuuu... Apaan sih Tante Arin, aku romantis sama tuh es lilin. Ogah bisa semakin besar tuh kepala es lilin,' sungut Arin merasa kesal di dalam hati.
"Ehemm... Kalian jangan menggoda mereka berdua terus," kata pak Andi berdehem saat melihat tingkah anak dan menantunya yang menurutnya malu itu.
"Ayo katakan, setelah ini kalian akan memutuskan tinggal di mana," tanya pak Andi menatap Andra tentunya sebagai menantunya.
"Andra dan Syafi sepertinya akan tinggal di apartemen saja, kami ingin hidup mandiri. Iyakan..." Andra menatap Syafi penuh intimidasi.
"Bagaimana sayang?" Tanya pak Andi menatap putri tercintanya.
"Iya pa," jawab Syafi terpaksa tersenyum manis untuk meyakinkan sang papa kalau dia juga setuju.
'Apa-apaan dia seenaknya saja memutuskan, kenapa tidak tinggal di sini saja,' batin Syafi, dia begitu kesal kepada Andra.
"Ya sudah kalian istirahat saja di atas, pasti kalian lelah," kata pak Andi.
"Syafi ajak Andra ke kamar kamu," titah nya kemudian.
Syafi pun berjalan menuju kamarnya di lantai atas sedangkan Andra mengekor di belakang Syafi.
"Kalian berdua istirahat di sini saja di sini, pasti kalian lelah," kata pak Andi kepada Abraham dan Arin.
Abraham dan Arin pun setuju, karena mereka masih ingin bersama dengan Syafi dan Andra.
Bersambung....
Hadeh Abraham dari dulu gak berubah, masih aja posesif sama cemburuan🤣🤣