Di usianya yang ke 27 tahun, Nattan sama sekali tidak berniat untuk menikah dan membina sebuah rumah tangga seperti pria normal pada umumnya.
Sang ibu yang notabene ingin segera memiliki menantu dari putra bungsunya, beberapa kali berusaha untuk menjodohkannya dengan beberapa gadis pilihannya yang berakhir dengan penolakan Nattan.
Hingga suatu hari saat ia berniat baik untuk menolong seorang gadis yang kala itu hampir dilecehkan oleh dua orang preman, justru malah membawanya pada sebuah tanggung jawab yang besar seumur hidupnya.
Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adik-kakak
"Anggia, tunggu!" teriak Dita dengan suara yang melengking, menghampiri Anggia yang baru saja turun dari mobil Nattan.
"Yaampun Dit, masih pagi lho ini udah teriak-teriak aja." Anggia membekap mulut Dita menggunakan telapak tangannya agar gadis tersebut diam dan tidak memancing keributan disekitarnya.
"Siapa dia sebenarnya Nggi_"
"Aduh Dita, Lo ngomongnya bisa pelan-pelan aja nggak sih, ini bukan lagi di hutan lho Dit." Anggia menoleh kearah belakang mencari mobil suaminya yang rupanya sudah menghilang dari tempat tersebut.
"Gue kan butuh penjelasan Lo yang kemarin itu, terus yang barusan dia nganterin elo, pokoknya Lo harus jelasin sedetail-detailnya sama gue Nggi, jelasin ih."
"Ok, kita bahas dikantin aja ya, disini nggak aman kayaknya."
"Ok, tapi beneran ya?"
"Iya Dita, yaampun."
"Jadi gimana Nggi?" ujar Dita begitu sampai dikantin dan menarik salah satu kursi untuk ia duduki dengan tak sabaran.
"Minum dulu nih, biar kadar kekepoan Lo sedikit berkurang." Anggia menyodorkan sebotol air mineral yang sudah tersedia diatas meja.
"Ihs Nggi serius, jadi cowok ganteng itu siapanya Lo, dia cowok yang sama kan, yang waktu itu sering datang ke sekolah, terus yang narik Lo waktu kita bareng Glen di Cafe kan?"
"Suami."
"What? Anggia!" Dita terpekik, hingga membuat seisi kantin seketika menoleh kearah mereka berdua.
"Dita apaan sih, malu tahu dilihatin orang, bisa nggak sih kamu nggak teriak-teriak!"
"Ok, sorry Nggi gue cuma syok aja."
"Tapi nggak harus begitu juga kan Dita."
"Iya sorry, Nggi Lo serius sama yang Lo ucapin barusan, kalau lo_"
"Gue serius Dit, selama ini Lo yang paling tahu gue kaya gimana kan?"
"Tapi kenapa bisa Nggi, Lo benar-benar ngasih gue kejutan bertubi-tubi Nggi, pertama karena Lo putus sama si Rafka, lalu sekarang apalagi?"
"Waktu gue bilang dia sering datang kesekolah Lo jawabnya dia lagi jemput adiknya kan, tapi tahunya_ yaampun Anggia."
"Kenapa nggak jujur aja sih dari awal ke gue Nggi, gue aja yang pacaran sama mas Leo langsung bilang kan, Lo bilang gue sahabat lo_"
"Panjang Dit ceritanya, yang jelas gue sama dia terpaksa menikah karena kesalahpahaman." Jawab Anggia sembari menyandarkan kepalanya kesandaran kursi bagian belakang dengan helaan napas berat.
"Dari awal gue emang udah curiga Lo ada hubungan sama cowok itu kan, tapi Lo selalu ngelak."
"Sorry Dit gue terpaksa, tapi jangan bilang siapa-siapa ya soal ini, gue masih pengen sekolah Dit." Anggia menggenggam kedua tangan Dita, dengan raut memohon.
"Gue nggak bisa jamin."
"Dit."
"Iya Nggi iya, Lo bisa percayakan ini sama gue."
"Makasih ya Dit."
"Sama-sama Nggi." Dita memeluk Anggia, mengusap-usap lembut punggungnya berharap dapat memberikan sedikit ketenangan untuk sahabatnya tersebut.
Dita dapat memahami apa yang tengah dirasakan Anggia, karena mungkin saja Anggia jauh lebih syok dengan apa yang telah terjadi.
*
"Anggia, kebetulan sekali kita bertemu disini ya,?" ujar Dinda yang tidak sengaja bertemu dengan Anggia disebuah minimarket.
"Eh iya tante, saya beli keperluan bulanan." Anggia meringis malu menunjukkan keranjang belanjaan nya yang berisi beberapa pak pembalut wanita dengan merek yang sama.
"Oh sama Nggi, Tante juga." Dinda terkekeh geli menunjukkan keranjang miliknya, sementara Anggia yang melihatnya ikut terkekeh.
"Oh iya disebelah ada yang jualan bakso rudal dan mie ayam khas Wonogiri enak lho, tante udah nyoba beberapa kali, Anggia mau coba nggak?"
"Eumz gimana ya Tan, sepertinya saya nggak bisa karena mas Nattan sedang menunggu diluar, soalnya setelah mengantar saya pulang dia harus kembali kekantor."
"Ini baru jam dua belas lebih kan, bukannya seharusnya ini jadwal makan siangnya Nattan, jadi ajak sekalian aja Nattannya, gimana?"
"Saya coba tanya ke mas Nattan dulu ya Tan."
"Ok."
Setelah membayar belanjaannya masing-masing, keduanya keluar bersamaan dari dalam minimarket tersebut.
"Mas?" ujar Anggia dari samping pintu mobil, dimana setengah dari kaca pintu mobil tersebut terbuka, memperlihatkan dengan jelas wajah suaminya yang tengah melihat kearahnya.
"Kenapa? uangnya kurang?"
"Bukan, eumz itu_"
"Mau ngomong apa sih, lama banget! saya tinggal kamu."
"CK, Tante Dinda ngajakin makan bakso bareng, mas Nattan bisa nggak?" ucap Anggia ketus, rasa gugup dan takut yang semula menghimpitnya menguar begitu saja saat lagi-lagi Nattan mengucapkan kata-kata yang menurutnya sangat menyebalkan untuk didengar.
Gadis itu memalingkan wajahnya kearah lain, yang membuat Nattan justru malah terkekeh geli.
Dengan helaan napas pelan, Nattan keluar dari mobil membuat gadis yang ada dihadapannya menggeser tubuhnya agar sedikit menjauh.
"Malah diam, jadi makan bakso nggak?" Nattan menggenggam tangan Anggia menuntunnya untuk menghampiri Dinda yang sudah lebih dulu memasuki kios bakso.
Nattan tampak santai, dan membalas sapaan hangat dari Dinda, berbeda dengan Anggia yang mendadak salah tingkah, berkali-kali ia melirik kearah genggaman tangan Nattan yang membuat telapak tangannya terasa memanas yang menyebar hingga keseluruh tubuhnya.
"Aduh kok kalian malah kelihatan kayak adek kakak sih, Nattan udah mirip kakak laki-laki yang menjemput adek perempuan nya disekolah." ujar Dinda dengan kekehan kecil, bagaimana tidak, Anggia masih mengenakan seragam sekolahnya sementara Nattan mengenakan setelan jasnya.
*
*