Elena, seorang wanita cantik berkulit putih dengan lesung dipipi kanan dan kirinya. Ia adalah seorang ibu dengan sepasang anak kembar, Cantika dan Brian.
Pernikahan Elena dan suaminya bukanlah pernikahan berlandaskan cinta. Mereka menikah karena desakan dari Ana, ibu dari suaminya.
Elena menahan diri selama tiga tahun dengan pernikahannya, Elena memikirkan kedua anaknya jika ia bercerai dengan suaminya.
Suatu hari, Elena murka dengan perilaku Rendra, suaminya. Ia pun mengajukan cerai kepada Rendra. Rendra yang tak mencintai Elena pun akhirnya menyetujui untuk bercerai.
Apakah perceraian Elena akan berjalan lancar? Bagaimana Elena menjalani kehidupannya sebagai single mom? Ayo, simak kisahnya! 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kena tipu
Beberapa hari kemudian, kini Elena sudah bisa kembali beraktifitas seperti biasanya. Elena sedang berada di rumahnya, dan akan bersiap untuk pergi ke tokonya.
Tiba-tiba, terdengar panggilan telepon. "Bu, kita ditipu, barang-barang yang dikirim dari toko X adalah barang rongsokan," ucap Lea dibalik panggilan telepon.
"Apa? Bagaimana bisa? Ya sudah saya akan segera kesana." Elena menutup panggilan telepon, ia bergegas menuju ke tokonya.
Sesampainya di depan toko, Elena langsung masuk kedalam tokonya. Ia langsung berjalan menuju gudang, di gudang itulah barang-barang yang baru datang tadi berada."Lea, apakah semua barang adalah rongsokan?" tanya Elena lalu membuka beberapa kardus didepannya.
Seperti diketahui, toko Elena menjual banyak jenis barang sandang, dan juga mainan anak-anak. "Aku telepon tokonya dulu." Elena mengambil ponsel disakunya, ia melakukan panggilan telepon ke toko X.
Elena sudah berusaha menghubungi, tapi jawaban dari panggilan itu adalah 'nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada diluar jangkauan.'
Elena duduk disebuah kursi yang berada didekatnya. Elena mengusap kasar wajahnya, Elena tak habis pikir, toko X telah beberapa kali mengirim barang ke tokonya, dan semua barang berkualitas sesuai harganya. "Kenapa bisa seperti ini? Aku rugi puluhan juta ini, tapi untung saja barang yang aku pesan kali ini tidak sebanyak biasanya. Kenapa mereka bisa melakukan ini?" gumam Elena frustrasi.
"Kamu jaga toko ya, aku mau ke toko X." Elena membawa tasnya dan melajukan mobilnya menuju toko X. Jarak tokonya dengan toko X lumayan jauh, mungkin sekitar dua jam jika ditempuh menggunakan sebuah mobil.
Sepanjang perjalanan Elena hanya fokus dijalan yang akan dia lalui. Ia benar-benar ingin segera sampai di toko X, ia ingin mendengar penjelasan logis mengenai barang rongsokan yang mereka kirim ke tokonya.
Dua jam kemudian, mobil Elena telah sampai di toko X. Elena terkejut saat melihat beberapa polisi yang berada didepan toko, ada garis polisi juga yang mengelilingi toko X.
Elena langsung turun dari mobilnya, ia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada salah satu polisi. "Pak, ini ada apa ya?" tanya Elena.
"Toko ini melakukan banyak penipuan terhadap banyak pelanggannya. Apakah Anda termasuk pelanggan toko X ini?" tanya polisi itu.
"Iya, Pak, toko ini kemarin sore mengirim barang ke toko saya, dan barang baru dibuka pagi ini, dan ternyata barang yang mereka kirim adalah barang rongsokan," jawab Elena.
"Apakah Anda bersedia bersaksi sebagai korban? Ada juga beberapa pelanggan dari toko X yang datang kesini," ucap polisi itu.
"Baik, Pak, saya bersedia," respon Elena.
Elena dan beberapa pelanggan toko X yang tertipu ikut polisi ke kantor polisi, mereka diberi beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan penipuan itu.
Elena memberikan bukti foto barang rongsokan yang ia terima, Elena juga memberikan informasi nomor toko X yang biasanya ia hubungi.
Setengah jam kemudian, proses pencarian beberapa barang bukti itu pun selesai. Kini, Elena keluar dari kantor polisi dan masuk ke mobilnya. Ia merasa lelah, ia melajukan mobilnya pelan.
Mobil Elena melewati alun-alun kota ditempat itu, ia pun menepikan mobilnya ke pinggir alun-alun tersebut. Elena memesan minuman dingin disalah satu stan di alun-alun kota tersebut.
"Apa pemilik toko X bisa ditemukan? Apakah aku akan menerima ganti rugi? Hmm, kalau tidak mendapat ganti rugi, terpaksa aku memakai uang tabunganku untuk melanjutkan usahaku ini," gumam Elena.
Elena meminum sedikit demi sedikit minuman yang berada didepannya itu. Mata Elena teralihkan melihat sepasang suami istri bersama kedua anak kembar mereka." Mereka sangat bahagia sepertinya, andai kedua anakku bisa merasakan hal seperti itu, mereka pasti sangat bahagia," gumam Elena sambil tersenyum.
Elena, stop! Stop memikirkan hal yang membuat kamu sedih! Kamu pasti bisa membuat kedua anak kamu bahagia tanpa papa mereka! Elena berselisih dengan pikirannya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Elena memutuskan untuk pulang, tak lupa ia membayar terlebih dahulu minuman yang ia pesan. "Mbak, ini uangnya kelebihan," ucap pemilik stan.
"Nggak apa-apa, Buk, buat ibu saja. Saya permisi ya, Bu." Elena pergi meninggalkan stan tersebut.
Perempuan yang baik dan sopan, tadi sepertinya aku melihat dia sedang ada masalah. Wajahnya nampak frustrasi, ya Allah semoga mbak yang tadi diberikan kesabaran dalam menghadapi permasalahannya. Semoga dimudahkan rezekinya, panjang umur, dan sehat selalu, aammiin, batin pemilik stan.
Elena kini mulai melajukan mobilnya, pikiran Elena menjadi sedikit lebih tenang setelah duduk di stan tadi. "Bismillah, aku pasti bisa meneruskan usahaku," ucap Elena yakin.
Dua jam kemudian, mobil Elena kini telah sampai didepan rumahnya. Di halaman rumah sudah ada mobil milik Gilang. "Mobil Kak Gilang ya itu? Apa dia sudah tahu kalau aku kena tipu?" gumam Elena.
Setelah memparkirkan mobilnya, Elena keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu utama. Elena membawa dua kotak makanan yang berisi martabak manis dan martabak telur. "Assalamu'alaikum," ucap Elena sambil membuka pintu.
"Wa'alaikum salam," jawab semua orang yang berada di ruang tamu itu.
"Eh, ada Kak Gilang," ucap Elena pura-pura terkejut.
"Iya, aku kesini karena ...." Ucapan Gilang terhenti ketika Elena menarik lengan baju Gilang.
"Ikut aku sebentar." Elena menarik Gilang ke dapur.
"Ada apa? Kok ngajak aku ke dapur?" tanya Gilang tak mengerti dengan maksud Elena.
"Kakak ke sini pasti karena khawatir kan? Kakak sudah tahu kalau aku kena tipu?" tanya Elena.
"Iya, aku tahu dari Lea. Lea khawatir kamu pergi ke toko X sendirian, jadi dia memberi tahu aku. Tadi pas aku kirim pesan ke kamu, kamu balas kalau kamu sedang perjalanan pulang ke rumah, jadi aku tunggu kamu di rumah saja," jawab Gilang.
"Jangan bicara masalah aku kena tipu didepan anak-anak, aku nggak mau mereka sedih karena mama mereka sedang kena musibah. Aku akan berusaha jadi mama yang hebat untuk mereka berdua," ucap Elena lesu.
"Elena, aku tahu kamu hebat. Tapi, setiap orang boleh merasa sedih, capek, kecewa. Kamu jangan memaksakan diri menjadi sempurna, dihadapan anak-anak kamu. Ya sudah, kita ke ruang tamu lagi, aku nggak akan cerita masalah kamu kena tipu." Gilang berjalan menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, Cantika langsung melontarkan pertanyaan yang mengusik pikirannya. "Mama sama Om Gilang ngapain di dapur?" tanya Cantika kepo.
"Itu, kami mengambil piring. Mama tadi beli martabak manis dan martabak telur lo," jawab Elena.
"Benarkah? Wah, Cantika pengen," ucap Cantika antusias.
Semua orang yang berada di ruang tamu itu, memakan martabak manis dan martabak telur bersama-sama. Sesekali terdengar gelak tawa disela-sela makan mereka, mereka berbincang tentang banyak hal yang membuat mereka tak bisa menahan tawa mereka.
☠️⃝🖌️M⃤
Perjuangan Ucup mampir
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
sabar ya elena 😬 semoga Joe segera sadar
coba diselipin kejadian apa di bbrapa moment biar lebih kelihatan nyata ceritanya
kok bisa rukyah nya gagal?
☠️⃝🖌️M⃤