Zuy adalah gadis cantik Yang sederhana, dia pernah jadi pengasuh Seorang anak laki-laki yg bernama Rayyan. mereka terpisah karena Rayyan harus pindah ke Amerika.
Beberapa tahun kemudian..
Zuy bekerja menjadi OB di sebuah Perusahaan CV, suatu ketika di Perusahaan di mana tempat ia bekerja mengumumkan bahwa Pak Willy Ceo dari Perusahaan CV mengundurkan diri, dan di gantikan oleh keponakannya yang bernama Rayyan G Michael. Dari situlah mereka di pertemukan kembali.
Rayyan G Michael, sosok Pria tampan blasteran, berkharisma, dan sosok pemimpin yang bertanggung jawab, akan tetapi sifatnya sangat dingin dan emosional, terutama terhadap Wanita. Namun sifatnya tersebut tidak berlaku untuk Pengasuhnya yaitu Zuy.
Setelah pertemuannya dengan Zuy, perasaan Rayyan terhadap Zuy semakin besar, perasaan Cinta yang tumbuh di hati Ray sejak lama, bahkan saat ia berpisah dari Zuy dan tinggal di Amerika.
Lalu apakah kisah Cinta Tuan Muda akan terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ananda andin angraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Dia seorang
<<<<
"Iya Kimberly Fuca, ternyata dia baik lho Tan. Tante kan tau Zuy sangat mengidolakan mrs Maria, tadi Kimberly menyuruh Zuy untuk mengobrol dengan mrs Maria lewat Video Call.." jelas Aries.
"Apa kamu bilang?"
Bi Nana semakin terkejut, lalu...
Kraaak..
Saking terkejutnya Bi Nana, gelas yang di pegangnya sampai pecah oleh genggaman Bi Nana, Aries yang sedang minum pun terkejut dan langsung mendekati bi Nana.
"Tante kenapa? Gelasnya sampai pecah gitu, lalu apa tangan tante terluka?!!" cecar Aries dengan paniknya.
"Aah maaf Ries, saking terkejutnya malah gelasnya jadi gini. Tapi kamu jangan khawatirkan tangan tante soalnya ini gelas punya Nara nggak mungkin bisa melukai tangan tante." ujar Bi Nana.
"Tante, tapi ...," lirih Aries
"Ck, tante bilang nggak apa-apa Ries!" pekik Bi Nana membuat Aries tertunduk diam.
Bi Nana menghela nafasnya.
"Ries, apa benar yang kamu katakan tadi kalau Zuy bertatapan langsung dengannya?!!" tanya Bi Nana seraya membersihkan pecahan gelas.
"Dengannya? siapa Tan?!!" tanya Aries keheranan.
"Maksud tante si Maria itu, apa Zuy bertatapan dengannya?!!" Bi Nana kembali bertanya sembari menatap lekat Aries.
Aries menganggukkan kepalanya.
"I-iya Tan, tapi cuma lewat video call aja." jawab Aries gemetaran.
Bi Nana langsung terdiam, tubuhnya seketika terasa lemas matanya pun berkaca-kaca seakan ingin menangis.
"Tante, Tante beneran tidak apa-apa?!!" tanya Aries sambil mengambil pecahan gelas yang berserakan di meja.
Bi Nana hanya terdiam saja, melihat itu Aries bergegas ke dapur untuk membuang pecahan gelas itu, kemudian ia mengambil kotak P3k dan air minum untuk Bi Nana.
Lalu....
"Ini minum dulu Tan!!" kata Aries memberikan minuman kepada Bi Nana.
"Terimakasih Ries." ucap Bi Nana.
Kemudian Aries meraih tangan Bi Nana dan mengobati luka goresan kecil di tangan Tantenya itu. Setelah selesai, ia pun beranjak dari tempat duduknya, namun....
"Apa yang terjadi saat mereka bertatapan Ries?!!" tanya Bi Nana.
"Mrs Maria sepertinya terkejut ketika melihat wajah Zuy saat itu, terus mereka hanya bicara seperlunya saja," jawab Aries.
"Wajar kalau Maria terkejut melihat Zuy, wajah Zuy memang benar-benar hampir mirip dengannya. Aku harus bagaimana kalau Zuy sampai tahu yang sebenarnya? Kakak tolong bantu aku!" batin Bi Nana sambil menyebut Papahnya Zuy
Melihat bi Nana terdiam, Aries pun memegang pundak Bi Nana.
"Tante kenapa? Dari tadi diam terus." tanya Aries.
"Aries," lirih bi Nana.
"Iya Tante.." sahut Aries.
"Maaf, Tante harusnya nggak seperti ini, harusnya Tante senang kalau Zuy bisa melihat idolanya yaitu Maria, tapi kenapa Tante malah seperti ini, seakan tidak menerimanya." cicit Bi Nana.
"Tante, Tante boleh kok cerita sama Aries, kan Tante janji mau cerita tentang Zuy ke Aries." lontar Aries.
"Nanti Tante ceritakan, terimakasih banyak sudah ngobatin tangan Tante! Padahal tangan Tante kan nggak apa-apa," ucap bi Nana.
"Sama-sama Tante, kalau begitu Aries ke kamar dulu ya!"
Bi Nana hanya mengangguk saja, lalu Aries berjalan menuju ke kamarnya.
*****
^Beberapa saat sebelumnya...
Setelah dari rumah Zuy, Ray dan Kimberly menuju hotel tempat di mana Kimberly menginap.
Hotel.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di Hotel, lalu keduanya turun dari mobil.
"Ay, why can't I stay at your place?!!" tanya Kimberly memegang tangan Ray.
"Kim, kan kamu udah beberapa hari nginap di sini, lagian kan lebih baik tinggal di sini!" tutur Ray.
Sehingga Kimberly merasa kecewa.
"Tapi Ay ...," lirih Kimberly
"Kimberly!"
"Iya Ay," sahut Kimberly.
Ray pun memegang pundak Kimberly dan berkata, "Kim, untuk hari ini terimakasih banyak ya!"
"Terimakasih untuk apa?!!" tanya Kimberly
"Untuk semua yang kamu lakukan waktu di rumah Zuy." jawab Ray
"Iya sama-sama Ay."
"Aku suka kamu sama seperti aku menyukai Lesya, apalagi dengan sikapmu yang seperti ini." ungkap Ray.
"Ay, ucapan itu, membuat ku sangat bahagia." Kimberly memeluk Ray.
"Kim, jangan seperti ini!" Ray melepaskan pelukan Kimberly. "Aku pulang dulu!"
"Baiklah, hati-hati Ay, besok aku akan ke kantormu!" seru Kimberly.
Ray pergi begitu saja nampak senyum Kimberly mengembang saat mengingat perkataan Ray.
"Ay bilang suka padaku! Sudah lama aku tidak mendengar kata itu, apa jangan-jangan sekarang wajahku merah. Terserah ah, yang penting aku bahagia dan aku harus menelepon Mam.." kata Kimberly kegirangan.
Sesaat Kimberly pun melangkah masuk ke dalam Hotel.
Sementara itu.....
"Kim, sepertinya kamu salah paham! Maksudku aku menyukaimu sebagai adik, karena bagiku hanya dia seorang yang aku sukai sampai kapanpun dan akan aku jadikan pendamping hidupku di masa depan," ucap Ray,
Ia pun mengemudikan mobilnya sedikit kencang.
*****
Rumah Zuy
Airin akhirnya menginap di rumah Zuy karena perintah dari Ray, Zuy lalu keluar dari kamarnya membawa pakaian.
"Rin.."
Airin menoleh. "Iya Zuy."
"Ini pakai..!!" Zuy memberikan Piyama untuk Airin.
"Waah terimakasih Zuy," ucap Airin.
Zuy menarik kursinya lalu mendudukinya.
"Justru aku yang berterimakasih karena kamu mau menginap di sini."
"Ya aku senang kok bisa menginap di rumahmu lagi, soalnya rumahmu sangat nyaman di bandingkan dengan kosan ku," papar Airin.
"Kata siapa, rumah ku biasa aja Rin."
"Tapi beneran nyaman lho, pantesan kamu betah di sini di bandingkan ikut sama bi Nana," ujar Airin.
"Ya sebenarnya sih aku ingin tinggal di sini karena ini rumah yang di berikan oleh Mrs Candika ibunya Tuan Muda dan mana mungkin aku ninggalin rumah ini Rin. Terus aku juga nggak mau ngerepotin bi Nana, makanya aku pilih tinggal di sini sendirian." ungkap Zuy.
Airin manggut-manggut.
"Oh baru tahu aku, ternyata rumah ini dari ibunya pangeranmu, pantesan ya ehem...." Airin mulai menggoda Zuy.
"Airiiiin mulai deh, udah sana ganti bajumu..!!" titah Zuy.
"Baiklah Tuan Putri, hihihi.." balas Airin.
Airin melangkah ke kamar untuk ganti baju, Zuy lalu memangku dagunya tiba-tiba senyumannya pun mengembang karena ia membayangkan saat sedang mengobrol dengan Maria.
"Mrs Maria, aku masih nggak nyangka bisa bicara dengannya meskipun lewat video call, ternyata aslinya dia lebih cantik. Tapi kenapa ya saat aku mengobrol dengannya perasaanku sangat tenang dan damai walaupun hanya sebentar," lirih Zuy.
Tak lama, Airin keluar dari kamar setelah selesai mengganti baju, lalu ia melihat sahabatnya yang sedang tersenyum sendiri, ia pun langsung menghampiri Zuy.
"Hayo lagi mikirin apa sampai senyum-senyum gitu, hmmm!" Airin menoel pipi Zuy.
"Airin ngagetin aja!" pekik Zuy yang tersentak karena ulah Airin.
Airin duduk di kursi samping Zuy.
"Lagian senyum-senyum sendiri, hayo mikirin siapa? jangan-jangan mikirin pangerannya ya?" ledek Airin.
"Apa sih Rin, pangeran apa? Pangerang kodok." cicit Zuy
"Kok pangeran kodok sih? Itu lho Pangeran berwajah dingin pada semua orang tapi berwajah hangat hanya dengan satu orang yaitu sang Tuan putri atau sang permaisurinya," celetuk Airin.
Zuy mendengus. "Kamu kebanyakan baca dongeng pangeran ya Rin? Makanya ngomongnya pangeran-permaisuri terus."
"Walaupun buku dongeng tapi kisahnya romantis lho Zuy."
"Iya deh percaya, lalu Pangeranmu kenapa hari ini nggak masuk kerja?!!"
Airin mengernyit. "Pangeranku?!! siapa Zuy?!!"
"Ya pangeran mana lagi selain Babang Brian tampan hehehe" Zuy mencoba membalas Airin.
"Dia bukan pangeranku! Pangeranku mah gantengnya seperti pak Davin." Airin mulai sedikit ngambek.
"Pindah haluan nih? Eh tapi bener lho tadi Brian kenapa nggak masuk ya?!!" tanya Zuy
"Entahlah, katanya sih ada urusan keluarga jadi dia izin nggak masuk," jawab Airin.
Zuy tersenyum lebar kearah sahabatnya itu.
"Ciee Airin, sampai tau alasan Brian nggak masuk." Zuy kembali menggoda Airin.
"Zuy, mulai lagi deh.." Airin kembali merajuk.
Zuy pun menyemburkan tawanya kemudian Airin menghela nafasnya.
"Ya sebenarnya kemarin Brian ngajak aku pulang bareng, terus dia bilang ada yang ingin disampaikannya padaku, Zuy. Tapi malah keburu Salsa datang, otomatis dia nggak jadi ngomong deh," jelas Airin.
"Waah, jangan-jangan mau nyatain cinta tuh." Zuy semakin meledeki Airin.
"Zuuuuy....!!" seru Airin.
Membuat Zuy kembali tertawa, namun....
"Aduh-aduh kaki ku!" Zuy memegangi kakinya yang terluka.
"Tuh kan langsung kena karma, makanya jangan ngeledekin aku terus." celetuk Airin.
"Maaf-maaf!" ucap Zuy.
Lalu mereka pun tertawa bersama....
*****
Rumah Ray
Setelah beberapa saat kemudian, Ray sampai di rumah, ia pun langsung bergegas masuk ke dalam rumah.
"Aku pulang!" seru Ray "Hmmm, sepertinya Kak Davin sudah tidur."
Ray mengedarkan pandangannya kemudian ia bergegas ke kamarnya untuk bebersih, setelah selesai ia berjalan menuju ke dapur.
Setelah berada di dapur, ia pun mencari makanan di kulkas. Akan tetapi yang ada hanya Ramyun Cup, ia mengambil mie tersebut lalu membuatnya. Ketika hendak mengambil sumpit, pandangannya tertuju pada sendok sayur tergeletak di pinggir Kulkas, Seketika Ray langsung membayangkan waktu ketika Zuy memukulnya menggunakan sendok sayur sampai patah.
"Kak Zuy...." lirih Ray tersenyum sendiri sambil memegang sendok sayur itu.
Lalu....
"Tuan Ray, anda baru pulang?!!" tanya Davin dari belakang Ray.
"Kak Davin, aku pikir kakak sudah ti...," ujar Ray sembari menoleh ke belakang.
Akan tetapi....
"Aaaaaaarrgh...!!!" teriaknya seraya mengayunkan sendok sayur.
Bletaaaaak...
Beberapa saat kemudian..
"Aduuuuh Tuan Ray kira-kira dong! Sendok sayur sampai bengkok gitu, anda persis seperti Zuy." rintih Davin memegang kepala.
"Siapa suruh ngagetin aku! Lagian ngapain sih malam-malam mukanya pake masker gitu, siapa pun juga pasti kaget Kak! Mana mirip adonan moci lagi." gerutu Ray mengoles obat ke jidat Davin.
"Ya namanya juga perawatan wajah biar wajah ku tambah tampan dan semua gadis di sini mengejar ku!" ujar Davin dengan gaya imutnya.
Ray langsung menatap tajam serta mengusap keras jidat davin.
"Aduh-aduh sakit!" rintih Davin.
"Lagian sih! Ya tapi aku maaf deh karena sudah memukul kakak." ucap Ray
Mendengar itu, Davin langsung memicingkan matanya.
"Ada angin apa Tuan Ray bilang maaf?"
"Ck, sudah minta maaf masih saja bawel." pekik Ray.
Sehingga membuat Davin terkekeh geli.
"Oh ya, di mana Ms Kimberly?!!" tanya Davin.
Ray menjawab, "Dia di hotel."
"Kenapa nggak di bawa ke sini?!!" Davin bertanya kembali.
Ray menghela nafasnya. "Lebih baik dia menginap di hotel saja, sebab peraturan di daerah sini tidak boleh perempuan nginap di rumah laki-laki."
"Peraturan darimana itu? Dan lagi kemaren juga anda menyuruh Zuy untuk menginap di sini, iya kan?!" cecar Davin.
"Tentu saja peraturan ku dan lagi kalau untuk Zuy itu berbeda, bagiku Zuy itu sangat istimewa," ungkap Ray dengan tersenyum.
"Dasar bucinnya Zuy.."
Davin memutar bola matanya dengan malas.
°°°°°
`Keesokan harinya...
Airin dan Zuy terlihat sedang menikmati sarapannya, setelah selesai mereka pun siap-siap untuk berangkat kerja.
"Zuy apa kamu yakin mau kerja?!!" tanya Airin.
Zuy mengangguk. "Yakin dong."
"Tapi kakimu kan masih sakit, lebih baik istirahat dulu aja!" tutur Airin.
"Nggak apa-apa cuma sakit dikit doank dan aku masih kuat kok," ucap Zuy. "ayo kita berangkat..!!"
"Baiklah," Lirih Airin.
Lalu mereka pun pergi menuju Perusahaan CV tempat mereka bekerja.
*****
Perusahaan CV
Setelah beberapa saat kemudian, dua sahabat itu pun sampai di Perusahaan dan memarkirkan motornya.
Brian lalu menghampiri mereka.
"Zuy, Airin, kalian baru sampai?!!" tanya Brian.
Keduanya menolehkan kepalanya ke arah Brian.
"Brian, kamu masuk kerja?!!"
"Ya masuk dong, kenapa nanya gitu? Jangan-jangan kangen ya karena kemarin aku nggak masuk?!!" Brian pun menggoda Airin.
Pipi Airin nampak memerah karena Brian.
"Diih siapa yang kangen, ngarep amat!" pekik Airin sedikit malu. "ayo Zuy kita masuk..!!"
"Iya, ayo Bri bareng!!" ajak Zuy.
Brian mengangguk. "Ayo...."
Setelah berada di dalam mereka memulai aktivitasnya.
Zuy pun nampak berjalan masuk ke lift menuju ke lantai atas. Lalu setelah di lantai atas, ia bergegas ke Ruangan Ceo.
Setelah Ray yang memimpin, Ray meminta Zuy untuk membersihkan Ruangannya.
Saat di ruangan Ceo, Zuy mulai membersihkan dan merapihkan semuanya yang ada di ruangan tersebut, setelah menyelesaikan tugasnya Zuy kembali ke Pantry.
Beberapa saat kemudian, semua karyawan berdatangan dan mulai menjalankan tugasnya masing-masing, selang beberapa waktu Ray dan Davin datang, keduanya pun langsung menuju ke ruang kerjanya.
Sementara itu....
Zuy kala itu tengah membuatkan minuman, lalu Rere datang menghampirinya.
"Zuy..."
Zuy menoleh. "Iya bu Rere, ada apa?!!"
"Apa kaki kamu masih sakit?!!" tanya Rere.
"Udah mendingan kok Bu." balas Zuy.
"Syukurlah kalau gitu, kamu antar minuman ke atas ya!" suruh Rere.
"Baik Bu Rere.." Zuy mengangguk patuh.
Zuy pun mengantar minuman ke Ruangan Ceo, Sesampainya ia mengetuk pintunya terlebih dahulu.
"Iya masuk..!" suara Ray dari dalam ruangan.
Zuy lalu membuka pintunya dan berjalan masuk.
"Permisi Tuan, saya mengantar minuman anda!" ujar Zuy.
Ray tersenyum dan mengangguk.
Zuy meletakkan minuman yang ia bawa di atas meja, Ray bangkit dari duduknya dan menghampiri Zuy.
"Kenapa kamu masuk kerja, bukannya istirahat di rumah! Lalu bagaimana keadaan kakimu?!!" cecar Ray.
"Kaki saya sudah mendingan tuan, lagian saya suka bosan kalau di rumah." jawab Zuy.
"Oh begitu ya! Ya udahlah tapi jangan terlalu cape!"
Zuy mengangguk, lalu....
"Pagi Zuy!" sapa Davin.
"Pagi Pak Davin, lho dahi anda kenapa pak?!!" tanya Zuy yang melihat dahi Davin membiru.
Davin melirik ke arah dahinya sembari memegangnya.
"Oh ini gara-gara sendok sayur.." jawab Davin melirik Ray.
"Sendok sayur? Ini pasti Tuan Muda yang ngelakuin?" Zuy melirikkan matanya ke Ray.
"Ya habisnya dia mengagetkanku Zuy, jadi tanganku refleks memukulnya." ujar Ray.
"Ck, ada-ada aja kalian berdua ini!" lirih Zuy.
"Ya begitulah Zuy, kami memang seperti ini dari dulu juga." lontar Davin.
"Oh, yaudah saya ke pantry dulu ya, masih banyak kerjaan saya di sana." pamit Zuy.
"Oke, semangat kerjanya Kak!" ucap Ray.
Zuy berbalik dan saat hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba kakinya tergelincir dan tangannya refleks menarik baju Ray, sehingga mereka berdua sama-sama terjatuh dengan posisi Zuy di bawah dan Ray di atas. Davin yang melihatnya pun tercengang dan langsung menutup matanya.
Lalu....
"Kalian berdua sedang apa?!!"
***Bersambung....
Kisah Zuy & Ray benar2 luar biasa, selalu bikin meleleh.. 🥰
Konfliknya bikin greget, tapi endingnya benar2 memuaskan & membahagiakan 🤍
Semangat terus Kakak Author.. 😘
Ending yang sangat memuaskan, semua kisah tokoh2nya berakhir bahagia 🥰
Selain Ray & Zuy, Davin & Airin juga yang lain bahagia sama pasangannya masing2, aku juga seneng Maria & Kimberly berubah jd baik.. Akhirnya Zuy bisa ngerasain kasih sayang Ibu kandungnya..
Semoga selalu bahagia, sampai menua bersama & sampai maut memisahkan 🤍
Ray & Zuy juga Davin & Airin, bahagia terus ya, sampai maut memisahkan 🤍
Semoga semua baik2 aja ya..