Elysia Putri Abraham adalah seorang pelukis di Negara Italia. Lebih tepatnya berada di kota Milan, Italia.
Elysia adalah anak kedua dari pasangan Qenan dan Nadira (Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA). Memiliki kepribadian yang baik, lemah lembut, manja. Tetapi dibalik sifat itu, dirinya adalah gadis yang mandiri.
Sebenarnya, alasan utama memilih domisili di Milan karena ia suka mode dan romantisme.
Tetapi, siapa sangka bila kehadiran nya di Milan justru membawanya bertemu dengan seorang pria yang selama ini ia anggap pahlawan dalam hidupnya. Ia tak pantang menyerah untuk mendapatkan cinta pria tersebut.
Namun pada akhirnya, Elysia menyadari bila pria yang sering bersamanya adalah dua orang yang berbeda dengan wajah yang sama.
Siapa yang dipilih Elysia? Apakah Elysia tetap bersama pilihan nya setelah mengetahui sesuatu yang disembunyikan darinya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Windii Riya FinoLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. TLTR
Reymond melepas lilitan handuk sehingga memperlihatkan pusaka yang telah berdiri kokoh dan berurat.
Mata Elysia melotot melihat pusaka itunlalu menatap Reymond dengan gelengan di kepalanya. "Tolong jangan lakukan itu!"
Reymond menatap Elysia dengan tatapan sayu, gaiirah sudah membuncah menjadikan nya tidak memperdulikan permohonan pujaan hatinya.
Reymond mengarahkan pusaka ke inti tubuh Elysia. Masih mencoba menerobos perlahan, Elysia sudah memekik kesakitan.
Reymond kembali menatap Elysia yang sudah mengeluarkan butiran air mata.
"Dam*n it! dia masih gadis," gumam Reymond dalam hati. Rasa bangga menyelimuti hatinya.
Ia pun mengecup dahi Elysia kemudian mendorong pinggulnya secara perlahan kembali.
Tubuh Elysia melengkung dengan kepala menengadah merasakan sakit di intinya. Punggung Reymond penuh goresan luka atas cengkraman kuku-kuku nya.
"Sa-sakit," cicit Elysia yang masih terdengar di indera pendengaran Reymond.
"Maaf," untuk kali pertama Reymond meminta maaf kepada seseorang dan itu hanya kepada Elysia.
Ingin sekali Reymond segera menghentakkan pinggulnya untuk mencari kenikmatan yang lebih indah lagi. Tetapi, ia tahu bila ini adalah pengalaman pertama bagi Elysia membuatnya sabar demi inti tubuh sang pujaan beradaptasi dengan kehadiran pusaka nya di dalam sana.
Hanya berdiam begini saja begitu nikmat merasakan pijatan pijatan dari inti Elysia. "Apa kamu sudah siap, hm?" tanya Reymond tetapi Elysia memalingkan wajah tak ingin menatap ke arahnya.
Masih dalam penyatuan, Reymond menggerakkan secara perlahan seraya meraih dagu Elysia. "Tatap mataku, sayang. Dan nikmati setiap sentuhan ku!"
Seakan terhipnotis, Elysia menatap mata Reymond dan menikmati setiap gerakan serta sentuhan yang memabukkan.
Desaah dan racauan saling bersahutan dalam kamar pengantin mereka. Tanpa mereka sadari keduanya seperti tidak ada permasalahan selain mengungkapkan kata cinta dari setiap sentuhan dan respons dari tubuh Elysia.
Tidak hanya sekali.
Reymond seakan tidak ingin menyia-nyiakan waktu berharga ini untuk menyalurkan rasa cinta dan hasraat yang sudah lama tidak pernah disalurkan.
Hingga hampir pagi Reymond menyelesaikan penuntasan biirahi nya karena melihat Elysia sudah benar-benar terkulai lemas.
Reymond menutupi kedua tubuh mereka yang masih polos lalu menarik tubuh Elysia agar berada dalam dekapan nya.
Elysia menjauhkan tubuhnya karena tidak ingin berada di dekat Reymond.
Tetapi, Reymond tidak menyerah. Walau Elysia tidur memunggunginya, tetap saja ia mendekap erat dan memposisikan dagu nya di pundak sang istri.
Elysia mendengus kesal dan hanya bisa pasrah karena perlakuan Reymond yang pemaksa.
*
*
Sang Mentari sudah berada tepat di atas kepala. Disaat itu pula Elysia baru saja membuka mata dan melihat tidak ada lagi Reymond di sisi nya.
Ia duduk bersandar pada headboard dengan selimut menutupi hingga ke dada. Kemudian ia melihat bubur dan susu berada di atas nakas.
Pandangan nya teralih ketika suara pintu kamar mandi telah terbuka. Ia membuang muka saat melihat penampilan Reymond yang lagi-lagi hanya mengenakan handuk dengan rambut yang sedikit basah sehingga tetesan air dari rambut jatuh ke dada bidang pria itu.
Kejadian malam pertama mereka terngiang dalam ingatan Elysia. Mau bagaimana kecewanya terhadap Reymond, ia mengakui jika perlakuan pria itu malam tadi begitu lembut sehingga mudah sekali terbuai dengan sentuhannya.
"Sudah bangun, mau sarapan atau mandi dulu, hm?" tanya Reymond seraya duduk di tepi ranjang, tepat disisi Elysia duduk sekarang dengan posisi menghadap ke arah wanita itu.
"Oh, Tuhan!!!"
"Kyaaa... labu air??!!!"
semangat thoor