Zico Revan Pradipta, pemuda berusia 21 tahun yang jatuh cinta pada sosok wanita yang usianya tiga tahun lebih tua darinya. Ia bernama Aluna, seorang piatu yang ditinggal pergi ibunya sejak balita sampai akhirnya ia hanya tinggal berdua dengan ayahnya yang begitu galak dan sangar. Rasa kesepian ayahnya itulah yang membuat Aluna begitu di jaga ketat sampai tak ada satupun pria yang berani mendekati Aluna.
Tapi tidak dengan Zico, ia begitu gigih memperjuang kan cintanya meski sang calon mertua begitu keras menentang. Hingga akhirnya Ayah Aluna mulai memberi syarat syarat konyol demi bisa mejadi menantunya.
Apa saja syaratnya?
Bisakah Zico menjalankan semua yang di inginkan ayah Aluna?
Hingga akhirnya ia harus memilih antara maju atau mundur?
Ini kisah comedi romantis..
InshaAllah konflik gak berat alias ngikut alur aja.
Siapkan cemilan di pojokan ya 😘😘
Yang mungkin baru mampir dan marathon jangan lupa like komen, poin Vote dan koin ya 🤣🤣🤣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus ikut!
🍂🍂🍂🍂🍂
Zico yang baru saja datang dengan mobil mewahnya ke Resto langsung turun dan masuk ke dalam ruangannya menaiki tangga yang berada di samping ruang karyawan. Matanya melirik sebentar ke dalam sana untuk mencari seseorang yang ia rindukan selama dua hari ini, tapi sayang netra indahnya tak mampu menemukan sosok sempurna itu.
Cek lek
Sebuah pintu kaca ia buka dengan cukup pelan,
Bokongnya pun langsung menduduki kursi kebesaran yang ada di dalam ruangan. Setelah membuka satu kancing kemejanya, Zico pun mulai menyalakan laptop yang ada di atas meja kerja.
Perasaan tak karuan pun ia rasakan mungkin karena ia tak melihat Aluna sama sekali. Padahal ini adalah jam dimana semua karyawan pasti berkumpul sebelum pulang dan mulai berkerja, ia sengaja datang di waktu seperti ini karna memang tak tahu jadwal kerja Aluna.
Tok.. tok.. tok
Suara ketukan pintu sedikit mengalihkan fokus Zico yang sedang memikirkan gadis incarannya, dengan nada malas ia pun mempersilahkan orang yang berada di balik pintu kaca untuk masuk.
Cek lek
"Selamat siang, Tuan. Ini laporan keuangan nya" ucap sang manager Resto sambil menyodorkan berkas yang di dalamnya terdapat kertas laporan Resto selama satu bulan ini.
"Terimakasih. Saya tak melihat Aluna, kemana dia?" tanya Zico langsung tanpa basi lagi dengan mata fokus pada lembaran kertas di tangannya.
"Aluna hari ini sampai lusa libur, Tuan" jawab sang manager.
"Libur?!" pekik Zico yang hanya di jawab anggukan kepala.
Zico dengan cepat menandatangani semua berkas yang ada di tangannya dan setelah itu ia pergi dari Resto menuju rumah Aluna.
Sampai di rumah bangunan dua lantai yang nampak sepi, Zico seperti biasa mengendor pagar besinya dengan gembok yang tergantung disana. Bunyi nyaring nya langsung membuat gadis incarannya dengan cepat keluar.
"Tunggu, sebenatar"
Senyum seringai langsung tersungging di ujung bibir pria keturunan Pradipta itu saat mendengar suara yang ia rindukan.
"Tuan?" sapa Aluna dengan nada kaget karna saat ia membuka pagar ternyata Zico lah yang kini sedang berdiri di depannya.
"Kenapa gak kerja?" tanya Zico langsung.
"Hem... Anu pak!" Aluna yang bingung saat menjawab sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa anu-anu? Anu ku kenapa?" goda Zico dengan senyum di kulum tapi Aluna malah menunjukan mata besar bulatnya.
"Eh... kok gitu?"
Baru saja keduanya ingin berdebat seperti biasa, Bapak datang sudah dengan pakaian rapihnya, langkah pria itu terlihat santai tapi tidak dengan raut wajahnya.
"Selamat siang, bapak calon mertua" sapa Zico masih dengan nada tengilnya.
"Ada apa lagi ini?" tanya bapak.
"Gak ada apa-apa, Pak. Ini bos Aluna datang cuma mau tanya kenapa Aluna gak kerja" jawabnya cepat.
"Iya, Pak. Gak ada calon istri di Resto hidup saya bagai mobil tanpa ban" Ucapnya seraya melirik kearah Aluna.
"Kenapa?"
"Gak bisa jalanlah, Pak" sahur Zico sambil terkekeh.
Bapak dan Aluna hanya bisa saling pandang, meladeni Zico hanya akan menaikan darah tinggi mereka.
"Maaf ya, Tuan. Saya sudah menjelaskan tadi
jika saya sudah di beri libur selama tiga hari, Tuan bisa mengkonfirmasinya lagi pada pak manager di Resto. Jadi saya mohon Tuan untuk pulang sekarang karna saya dan Bapak saya mau pergi" jelas Aluna sambil mengusir bosnya.
"Pergi? kamu mau pergi kemana?" tanya Zico.
"Pulang kampung" selak Bapak.
"Hah? gak bisa gitu, Al. Udah libur tiga hari masa aku di tinggal sih, aku gak mau!" protes Zico sedikit merajuk.
"Mau tak mau tapi itu bukan urusan saya, Tuan! " tegas Aluna dengan memutar bola mata jengah.
"Aku ikut, karna sebagai calon suami kamu, aku akan selalu ada di dekat kamu, Al. Iya, kan Pak?" ucapnya sambil memohon pembelaan pada Bapak.
"Ish, masih saja kamu ini percaya diri mengaku sebagai calon suami anak saya!" pekik Bapak sedikit kesal.
"Ini sebuah doa, mungkin saja ada malaikat baik yang kebetulan lewat saat saya berucap dan langsung di kabulkan" ujar Zico.
"Terserah kamulah, bisa kejang-kejang saya dengerin ocehan kamu!" balas Bapak yang lalu masuk kembali kedalam rumah.
Aluna menatap sendu pria tampan yang kini masih berdiri di hadapannya tepatnya masih di depan pagar rumah yang jarang tersentuh orang lain.
"Yuk," ajak Zico tiba-tiba.
"Kemana?"
"Mudik, kamu mau pulang kampung kan? biar aku yang antar"
"Gak, usah. Aku udah pesen travel buat kesana" tolak Aluna, ia langsung menghampiri Bapak yang kembali keluar membawa dua tas di tangan kanan dan kirinya.
"Kalian harus ikut denganku, aku tak ingin ada penolakan lagi."
"Tapi, Tuan.."
Bapak menarik tangan Aluna untuk tidak mengejar Zico yang sudah membawa barang mereka ke mobil miliknya.
"Biarkan saja, Bapak ingin tahu sebesar apa cintanya padamu dan se berjuang apa dia ingin mendapatkanmu" ucap Bapak
"Tapi, Pak!"
.
.
"Bapak akan menguji kegigihannya saat di kampung nanti"
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Si aleman mau di apain pak?
Jangan di gantung ya 🤣🤣🤣🤣