NovelToon NovelToon
Istri Sambung

Istri Sambung

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Duda / Tamat
Popularitas:536.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Anissah

Jika pengganti tidak diinginkan, maka jalan keluarnya mencari penyambung sosok yang hilang.

Tidak salah, jika timbul rasa cemburu dalam suatu ikatan. Namun, rasa cemburu yang Kinasya miliki pada suaminya. Menghadirkan ketidaknyamanan dan membatasi semua gerak langkah suaminya.

Hingga akhirnya, Kinasya divonis mengidap sindrom Othello. Dia tidak bisa membedakan mana kenyataan dan imajinasi, sehingga ia meyakini dan bersikap sesuai dengan hal yang ia percaya. Padahal sangat bertentangan dengan keadaan sebenarnya.

Bukannya tidak mungkin, kecenderungan terbakar cemburu buta akibat sindrom Othello ini, membuahkan tindak kekerasan atau tindak bunuh diri maupun pembunuhan. Sayangnya, hal ini berakhir tragis untuk dirinya sendiri.

Seribu kali sayang. Disfungsi seksual yang pernah Ghifar alami, kini kambuh kembali dalam dirinya, lepas sepeninggalan istrinya. Ia tidak kuasa menahan rasa traumanya, hingga gairah hidupnya padam begitu saja.

Pekan berganti bulan, bulan berganti tahun. Ghifar tetap enggan untuk menikah kembali, meski wanita silih berganti dipilihkan oleh orang tuanya.

Hidup terus berlanjut, hingga Ghifar tersadar bahwa anak-anaknya membutuhkan peran ibu. Ia tidak mungkin terus melamuni istri yang pergi dan tak akan pernah kembali lagi itu. Mau tidak mau, ia membuka hati dan pikirannya, mencoba membangkitkan gairah dan rasa minatnya pada keindahan wanita kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IS22. Membujuk Novi

"Far! Kau ngerti tak sih?! Jual aja perusahaan kau! Kok capek aku kerja sama kau!"

Ghifar membuang nafasnya, "Anak aku kelaparan, Nov! Lagian aku tadi pergi cuma satu jam kok." Ghifar bersandar kembali dengan nyaman di kursi kerjanya.

Braghhhhh…..

"Satu jam! Satu jam! Kerjaan kau numpuk, Bodoh!" Novi menggebrak meja kerja Ghifar.

Dewi tersentak, jantungnya tidak siap setiap hari mendengar keributan dari mereka. Dewi berpikir, besok ia akan mempersiapkan pemindahan meja kerjanya. Ia akan bekerja di sebelah pintu ruangan Ghifar saja pikirnya. Meski akan terlihat lalu lalang orang dan membuatnya menjadi kurang fokus. Setidaknya, jantungnya sehat meski setiap hari menikmati rokok elektrik.

Tidak serangan jantung karena resiko merokok. Tetapi, malah serangan jantung karena setiap hari mendengar gebrakan meja.

"Awas aja ya kau, Nov! Kutandai ya kau!" Ghifar bangkit dari duduknya.

Pilihan Dewi saat ini adalah lari. Dewi tidak mau menjadi saksi, bilamana salah satu dari mereka ada yang melapor ke polisi.

Kleb…..

Ghifar langsung menoleh ke arah daun pintu, lalu ia melirik meja Dewi. Kesempatan, pikir Ghifar. Karena Dewi melarikan diri.

"Apa kau? Aku bikin bonyok juga pipi kau!" Novi barbar, ia berani mendorong dada Ghifar yang berdiri tegak di hadapannya.

Ghifar malah tertawa lepas, amarahnya luntur melihat Novi yang naik pitam sok jagoan seperti itu.

Ghifar menunjuk leher Novi yang tertutup hijab segitiga berwarna cream itu, "Aku buat tanda di sini nih." ujarnya dengan kekehan.

Novi paham itu, ia langsung mundur beberapa langkah. Dengan memegangi lehernya sendiri.

"Jangan macam-macam ya kau, Far!" Novi menunjuk wajah Ghifar.

Entah kenapa, Ghifar merasa geli melihat Novi yang sewot bercampur takut itu.

"Sini-sini dipeluk!" Ghifar merentangkan kedua tangannya, "Udah capek aku ribut terus sama kau. Kita ngomong baik-baik, ada yang perlu aku sampaikan juga." lanjutnya kemudian.

Novi menggeleng, "Tak mau, nanti dic*pok lagi." bibir Novi langsung manyun.

Ghifar malah tertawa renyah, tiba-tiba ia langsung merengkuh tubuh Novi. Ia membawa Novi dalam rangkulan tangannya, menuju ke satu set sofa di salah satu sudut ruangan.

Novi kebingungan, ia sesekali menoleh ke arah wajah Ghifar dengan raut herannya.

"Apa sih, Far?" tanya Novi kemudian.

Ghifar menghela nafasnya, kemudian ia menyandarkan punggungnya dengan merentangkan kedua tangannya. Senyumnya terukir manis, lalu ia menoleh ke arah Novi.

Novi mengerutkan keningnya, sedari tadi ia memperhatikan gerak-gerik Ghifar yang mencurigakan.

"Kalau kau cukur rambut, pasti kau lebih manis." celetuk Novi polos.

Ghifar tertawa lepas seketika, "Yuk temani aku?" Ghifar mengulurkan tangan kanannya pada Novi.

Novi memalingkan wajahnya, dengan bibir mengerucut.

"Apaan sih?! Basi tau tak?!" suara Novi cenderung seperti menggerutu.

"Sederhana aja, Nov." ujar Ghifar dengan helaan nafasnya.

Novi menyadari bahwa ada sesuatu pada laki-laki ini. Ia melirik Ghifar, memperhatikan Ghifar yang tengah melihat televisi yang tidak menyala itu

"Apa sih kau, Far?! Bikin aku darah tinggi aja! Tak paham betul, kalau aku gampang marahnya." Novi bersedekap tangan, dengan mendengus sebal.

Ghifar tidak kenal dekat dengan Novi. Ghifar baru tahu hari ini, jika Novi memiliki sifat seperti itu. Karena, setiap kali bertemu dengan Novi, ia selalu mendapat tegur sapa yang baik dari wanita itu. Hanya akhir-akhir ini, Novi menjadi tukang ngamuk menurut Ghifar.

"Katanya aku lebih manis, kalau aku cukur. Ya ayo, temani aku?" Ghifar mencolek lengan Novi.

Novi melirik sinis, kemudian mengusap lengannya yang tadi mendapat sedikit perlakuan dari Ghifar.

"Pulangnya, kau mau belanja ya belanja silahkan. Aku bayarin, barang satu atau dua stel sih." Ghifar berkata begitu enteng, dengan membenahi posisi duduknya.

Novi menyadari sesuatu, ada yang laki-laki ini inginkan.

"Terus? Aku tak mau tidur sama kau!" celetuk Novi, membuat Ghifar langsung menoleh ke arah wanita itu.

"Ngapain ngajak kau tidur? Tidur sama dua anak aja udah ngap betul. ditambah nyempil kau dia antara anak-anak aku, sorry ya!"

Novi melongo mendengar penuturan Ghifar. Ia dibuat malu dengan prasangkanya sendiri di sini.

"Terus apa?!" Novi mencoba meredam rasa malunya.

Senyum Ghifar begitu memikat. Ditambah wajah khas dan keunikan rahangnya, memberikan kharisma tersendiri.

"Bantu aku urus kerjaan aku. Mudah aja kan?" Ghifar merentangkan kedua tangannya, dengan bersandar pada sofa kembali.

Novi menggeleng samar. Pekerjaannya saja sudah memiliki tanggung jawab yang besar, ia merasa tidak mampu untuk menghandle kerjaan pemilik perusahaan tersebut.

"Nanti aku tambah gaji kau, tapi di luar transferan dari perusahaan. Nanti aku transfer, dari rekening pribadi aku setiap bulannya." tambah Ghifar menjelaskan.

Novi masih memperhatikan wajah Ghifar, alisnya menyatu, ia terlihat begitu serius sekarang.

"Dengan bujukan satu dua stel pakaian, kau kira aku bakal tertarik buat handle kerjaan kau?" Novi malah melemparkan pertanyaan logis pada Ghifar.

Ghifar mengedikan bahunya, ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.

"Tak mau, tak apa. Aku tak maksa. Aku tinggal bilang ke papah, kalau kau masih berhubungan sama Nando. Bahkan, tadi pagi kau diantarnya." ancam Ghifar enteng.

Novi tertawa sumbang, "Sok tau! Kau kira, aku bakal langsung takut begitu?!" sahutnya dengan bersandar pada sofa.

Tanpa menyahuti apapun, Ghifar menyodorkan layar ponselnya pada Novi. Terlihat jelas, wajah kalap Novi melihat beberapa foto yang Ghifar tampilkan.

Reaksi spontan, Novi langsung memukul lengan berotot Ghifar. Helaan nafasnya begitu berat, dengan amarah yang tertahan.

"Licik juga ya kau?!" Novi menoyor pipi Ghifarz dengan telunjuk tangannya.

Ghifar langsung merangkul pundak Novi, kemudian ia mendaratkan kecupan singkat di pipi Novi.

Kontan saja, Novi langsung memberontak dan menutupi pipinya kembali. Sayangnya, Ghifar mengunci pergerakan lehernya.

"Ya? Mau ya? Tiga stel deh, ok ya? Tapi tolong maklumi aku, kalau satu dua jam aku keluar buat ngurus anak-anak aku dulu. Kau juga, harus bantuin sepupu duda kau ini. Kau tak prihatin kah liat aku jadi bapack-bapack rumah tangga, sekaligus jadi pencari nafkah?" ungkap Ghifar stabil, dengan berontakan Novi yang tiada hentinya itu.

"Sebenarnya tak mau juga, tak apa. Aku bisa langsung bilang ke papah. Karena orang tua ngelarang itu pasti ada sebabnya, Nov. Kau harus paham itu. Kalau aku jadi kau pun, aku sih bakal nurut aja ke orang tua." ucapan Ghifar seolah paling bijak.

Akhirnya Novi menyerah, mencoba melepaskan diri dari lengan Ghifar yang mengapit lehernya adalah hal yang percuma.

"Ya udah, ya udah." Novi akhirnya memberi keputusan.

Lagi dan lagi, Ghifar mencium kembali pipi Novi bagaikan mereka masih anak-anak.

"Makasih, Sayang. Free lunch juga kok. Ayo kita jalan-jalan sebentar." ujar Ghifar begitu entengnya.

Ia bangkit, lalu berdiri di hadapan Novi.

Novi bersyukur, ia masih bisa bernafas. Ia merenggangkan otot lehernya, dengan menghela nafasnya beberapa kali. Sayangnya, pemandangan di depan wajahnya sungguh tak mengenakan.

Novi langsung mer*mas resleting yang menonjol tersebut. Kontan saja, Ghifar mengaduh dengan suara lepas.

Ghifar berjongkok reflek, dengan memegangi tengah-tengah tubuhnya yang dir*mas oleh Novi tersebut. Novi segera bangkit dan tertawa begitu lepas bagaikan nenek sihir.

"Sialan kau, Nov!" geram Ghifar dengan masih berjongkok.

Novi memperhatikan Ghifar sejenak, ia masih bahagia melihat Ghifar kesakitan seperti itu.

"Aku tunggu di parkiran ya?" ujarnya diiringi dengan bunyi hak sepatu yang beradu dengan lantai.

Ghifar masih mengusap-usap barang antiknya, "Macem-macem dia sama Black Mamba. Belum aja kau, Nov!" gerutunya sebelum melangkah dari tempatnya.

Hingga beberapa saat kemudian, penampilan Ghifar sudah jauh lebih rapi. Dengan rambut yang dipangkas, sesuai gaya yang Novi tunjuk.

Penampilan Ghifar, sudah kembali seperti rupanya saat masih ada istrinya. Ghifar pun, sedikit merasa bahwa rohnya kembali ke jiwanya seiring gaya rambut baru tersebut.

Konyol memang. Bahkan, ia sampai tersenyum sendiri saat bercermin di tempat barber shop tersebut.

"Kita ke butik aja, Far. Jangan ke swalayan lagi." pinta Novi, setelah mereka keluar dari tempat cukur rambut modern tersebut.

Ghifar mengangguk, ia berusaha menepati janjinya. Karena, itu adalah salah satu cara untuknya tadi dalam rangka membujuk Novi.

Sepuluh menit perjalanan, untuk sampai di butik yang Novi tunjukkan. Akhirnya, mereka segera masuk dan memilih beberapa stel pakaian yang menarik perhatian.

Di ujung sudut, seseorang baru keluar dari kamar pas untuk mencoba pakaian yang ia pilih. Alisnya menyatu, melihat dua orang yang dikenalnya. Namun, ia sedikit merasa pangling dengan penampilan laki-laki di samping Novi tersebut.

...****************...

Nando bukan 😨

1
ahyuun.e
Kurang lama merenungnya, langsung otw nyusul aja Istri msuk kubur biar anak" jdi yatim piatu. Makanya kalau hidup itu punya pegangan dan sandaran itu satu pondasi aja yaitu Tuhan, jdi gak goyah kemana" sedih boleh berlarut ampe 6 bulan itu alangkah, belum lg klo ngak disadarkan hanyut deh ntah sampe kapan itu
falea sezi
kinasya meninggal jadinya
Lismardiana
benci benci benci aku sm givar
Lismardiana
terkadang aku benci jugak sm gifar
sering kali membandingkan istri nya orang lain.. mata nya jelalatan ngk suka aku
Lismardiana
kadang2 aku benci sm gifar udah enak lihat givan
Yunia Spm
mbak nisa nggak jelas...
Yunia Spm
ish mulutnya pkdhe
Yunia Spm
🤣
Yunia Spm
mbak nisa curhat ta...
Yunia Spm
mentang² ibu tiri ghifar mau langsung action....

aq aja yg emak kandung kalo anakku ngga tertib langsung teriak²
Yunia Spm
masih sempat curhat aja mbak nisa 😁
Yunia Spm
Tante Bena hamil novi kan hamil duluan baru akad
Rani Ummi
asli gesrek ini🤣🤣🤣
Rani Ummi
banyak ragam perselingkuhan....
Rani Ummi
lucuuuu
Red Velvet
mau simbiosis mutualisme, parasitisme atau simbiosis apalah itu yg penting kak Nisa udh mau bikinin karya baru lagi. thanks banget loh kak🤭
Febrians
gift dpt bekas givan mulu
Mafa
yayah ipan , love u pull
Edelweiss🍀
semangat terus buat kak Nisa, selalu ku tunggu karya2 mu🥰🥰🥰
Red Velvet
gimanakah keseruan cerita ttg bang Chandra, ku yakin bakalan sangat menarik😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!