Ayunindya, gadis yang hanya bekerja sebagai pembantu di keluarga Wiliam. Kecantikannya mampu membuat anak dari majikannya itu jatuh hati padanya. Tapi sayang, keluarga Wiliam yang menjunjung tinggi nama baiknya membuat Affandra Wiliam mengubur rasa cintanya.
Hingga akhirnya, Affandra dijodohkan dan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Namun, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dipernikahannya. Affandra kecewa dengan sang istri.
Aileen, istri dari Affandra telah menanam kebencian untuk suaminya. Dirinya yang tak lagi suci membuat Affandra kecewa, tepat di malam pengantinnya.
Malam pengantin yang harusnya berakhir bahagia pada Affandra tapi nyatanya tidak, hingga ia mabuk berniat melupakan semuanya. Karena pengaruh alkohol ia malah melakukan keselahan, di mana ia malah menghabiskan malam pertamanya dengan Nindya, pembantu yang ia cintai sejak dulu.
Lalu, bagaimana dengan kisah rumah tangganya?
Akankah Affandra tanggung jawab pada Ayunindya gadis yang ia rampas mahkotanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Di bawah guyuran air, Andra melepas penatnya. Untung selagi ia masuk ke kamar, istrinya tengah berada di balkon, jadi wanita itu tak tahu akan keberadaannya di sana.
Aileen yang berada di balkon pun akhirnya masuk kembali, hawa dingin menerpa tubuhnya. Cuaca mendadak mendung dan sepertinya akan turun hujan lebat.
"Apa ada orang di sana?" tanya Aileen sendiri ketika ia mendengar gemircik air di dalam kamar mandi. Curiga akan siapa yang ada di sana, ia pun mengintip.
Bodohnya Andra, ia tak mengunci pintu kamar mandi tersebut. Setelah Aileen berhasil membuka pintunya, ia menelan salivanya. Tubuh gagah nan sempurna itu terpangpang jelas dipenglihatannya. Apa lagi ketika ia melihat kepemilikkan suaminya, jiwa hasratnya bergejelok. Ia tak bisa membiarkan momen ini.
Tanpa aba-aba, Aileen masuk dan menghampiri suaminya yang tengah bertelanjang tanpa busana. Andra memekik karena terkejut, apa lagi istrinya itu langsung merampas kepemelikannya dengan tangannya. Memberikan sentuhan lembut sampai kepemilikan Andra menegang.
Pria normal akan reflek disaat mendapatkan sentuhan itu.
"Sayang, milikmu besar sekali. Aku menginginkannya, biarkan aku memainkannya."
Andra diam mati kutu, Aileen keburu menyerang kepemilikannya menggunakan mulutnya.
"Ah, sial," rutuk Andra. Otak dan tubuhnya tidak sinkron, ingin menolak tapi sentuhan itu membuat jiwanya meronta. Bagaimana ini? Ini sudah terlanjur nikmat.
Aileen terus memperlancar aksinya, ia menyukai bagaimana ekspresi suaminya ketika mendapatkan sentuhan darinya. Tidak ada yang bisa menolak jika seorang Aileen sudah beraksi.
"Hentikan, Aileen." Kata itu lolos tapi ia menikmatinya.
"Aku istrimu bukan, aku berhak mendapatkannya." Aileen berpindah posisi, ia merampas bibir suaminya dengan brutal. Wanita itu sangat lihai membuat suaminya menikmatinya. Bibir terus bermain, bahkan tangannya pun ikut bermain di bawah sana.
Tanpa sadar, kini mereka sudah berada di atas ranjang. Wanita itu membuka bajunya sendiri, Aileen benar-benar terbakar api asmara. Dengan sekejap ia bisa membuat Andra menjadi pria yang tak berdaya. Pergelutan itu semakin panas, Aileen sudah berada di atas tubuh Andra. Hampir saja ia berhasil membenamkan kepemilikan suaminya padanya.
Tapi sayang, itu semua sia-sia. Wiliam datang dan melihat kejadian itu.
"Maafkan, Daddy. Daddy datang disaat waktu yang tidak tepat." Pria paruh baya itu kembali menutup pintu.
Seketika, Andra tersadar. Ia langsung meraih selimut dan melilitkannya di tubuhnya.
"Andra, mau kemana? Permainan kita belum selesai." Aileen nampak kecewa karena Andra tak menggubrisnya. Pria itu langsung kembali masuk ke dalam kamar mandi.
"Uh ... Hampir saja." Ia tak bisa meremehkan seorang Aileen. Cepat-cepat Andra meredam gejeloknya dengan mengguyur kembali tubuhnya dengan air dingin.
Sementara Aileen, wanita itu uring-uringan tidak jelas. Bagaimana hasratnya bisa tersalurkan? Sedangkan ia sudah berada di puncak kenikmatan yang berakhir gagal total karena ulah mertuanya sendiri.
* * *
"Bersihkan tubuhmu, setidaknya pakai kembali pakaianmu. Jangan berharap lebih dariku, Ai. Aku tak bisa memberikan kepuasan untukmu." Kata Andra yang sudah memakai pakainnya.
"Kenapa? Bahkan kamu tadi sangat menikmatinya."
"Aku khilaf, maafkan aku."
Setelah mengatakan itu Andra benar-benar keluar dari kamar meninggalkan istrinya yang masih bertelanjang di atas kasur.
* * *
Karena hari sudah larut, Andra pergi menuju resto bersama Roy. Bahkan ia sudah membuat janji dengan Wiliam. Wajah Andra terlihat masam, bisa-bisanya ia kehilangan kesadarannya oleh istrinya itu. Untung ia tak masuk perangkapnya, kalau sampai itu terjadi sama saja ia mengkhianati cinta Nindya.
"Tuan kenapa? Kenapa ditekuk itu muka?" Karena sudah lama bekerja dengan tuannya itu membuat Roy tak segan meledeknya. "Apa ini ada hubungannya dengan Nona Aileen?"
"Tidak bisa dianggap remeh wanita itu, hampir saja aku melakukan itu dengannya. Dia jago di atas ranjang, Roy."
"Wah, wah ... Padahal ini pernikahannya yang pertamakan? Apa Nona Aileen sudah berpengalaman di atas ranjang?"
"Sepertinya begitu."
Tak lama, obrolan mereka terhenti karena Wiliam datang. Sebenarnya pria itu sedikit malu bertemu dengan putranya karena sudah memperegokinya yang sedang bercinta. Tentu ia berpikir bahwa ini bukan yang pertama kali bagi putranya melakukan itu dengan menantunya.
Apa lagi dengan Andra, ia lebih malu karena ketahuan. Pasti pria itu berpikir yang tidak-tidak terhadapnya. Tapi mau bagaimana lagi, mengelak pun percuma.
Wiliam mendudukkan diri di samping putranya.
"Mana istrimu? Apa dia tak ikut makan malam bersama kita?" tanya Wiliam.
"Dia di kamar," jawab Andra.
Wiliam mengerti akan hal itu, pasti menantunya lelah karena sudah bercinta dengan putranya. Pikir Wiliam.
Roy hanya melirik sekilas pada tuannya itu, ia merasa kasian pada majikannya yang harus hidup bersama wanita bar-bar seperti Aileen.
Makan malam pun telah usai, kini hanya menyisakan Andra dan Roy di sana. Wiliam lebih dulu undur diri karena ia harus menyiapkan energinya untuk besok di perusahaan yang sedang mengalami masalah.
"Apa Tuan tidak berniat untuk menemui Nona Nindya?"
"Maunya sih begitu, tapi aku takut Daddy tahu. Aku belum siap, Roy. Aku cari aman saja."
"Tapi bagaimana dengan nasibnya?" Tunjuk Roy dengan wajah tepat pada kepemilikan sang majikan. "Apa kuat menahannya?" sambungnya lagi.
Andra jadi malu karena ia teringat dengan Aileen sewaktu tadi.
"Kalau mau, saya bisa mengantar Tuan untuk menemuinya," tawar Roy.
Apa kata Roy ada benarnya, kalau ia pergi bersamanya tentu Wiliam tidak akan berpikir yang macam-macam padanya.
"Mau tidak, mumpung saya tidak ada kerjaan."
"Apa kamu tidak berniat mencari kekasih? Usiamu sudah matang untuk menikah, Roy." Andra mengalihkan pembicaraan.
"Enak begini, Tuan. Melihat Tuan saja saya pusing dengan dua istri."
"Istriku cuma satu, tidak lama lagi aku akan menceraikan Aileen."
"Apa semudah itu menceraikannya?" Roy tidak yakin kalau tuannya bisa dengan mudah melepaskan wanita itu. "Jadi tidak menemuinya?" tanya Roy lagi.
"Sudah malam, kasian juga sama Nindya. Dia harus banyak istirahat, kakinya masih belum pulih."
Mendengar perkataan itu, Roy jadi teringat pada Lee pria yang sudah kurang ajar pada Nindya.
"Apa Tuan tidak curiga pada Lee, kenapa dia bisa kurang ajar pada istri Anda?"
"Nah, itu tugas untukmu. Cari tahu kebusukannya."
Hingga larut, Roy dan Andra menghabiskan waktunya di resto. Dari pada harus satu kamar dengan Aileen Andra lebih memilih bersama Roy di sana. Percakapan mereka sampai ngelantur kemana-mana. Memiliki anak buah sepertinya memang selalu bisa diandalkan, Roy tempat keluh kesahnya selama ini.
"Tuan, ini sudah malam. Apa Tuan tidak mengantuk? Pergilah ke kamar, Nona Aileen juga pasti sudah tidur. Ini sudah jam 2 pagi."
Andra melirik jam yang menempel di tangannya, ia memang mengantuk. Apa kata Roy benar bahwa wanita itu sudah tidur. Tapi ia akan memastikannya lebih dulu sebelum ia tidur di sana. Dan akhirnya, Andra dan Roy berpisah.
Andra menuju kamar yang ditempati Aileen, dan sepertinya wanita itu sudah tidur. Andra pun akhirnya tidur di sana, tapi ia memilih sofa sebagai tempat istirahatnya.
...----------------...
Mampir di karya teman othor juga yuk.
tapi kadang juga merupakan firasat
Ketika papanya Dewi akan berangkat kerja...
Dia mengatakan " Titip Dewi...jaga baik-baik karena akan pergi jauh"....
itulah perkataan terakhir yang ternyata merupakan suatu firasat....
Nandya punya sikap dan pribadi yang baik...dia dapat menahan perasaannya ketika bertemu dengan Doni ,ayahnya Dewi....
Padahal Nandya sejak Hanum masih hidup dia greget bangeet dengan Doni suaminya Hanum
Tapi karena ada ibunya Doni yang sudah tua...jadi Nandya menahan perasaan itu agar tidak marah kepada Doni....
Nandya menghormati keberadaan ibunya Doni , neneknya Dewi
jadi ketika Akhsa bertanya kepada Dewi ,Apakah dia ( Nathan)sudah mengungkapkan perasaannya kepadamu?"
Jawaban Dewi terhadap pertanyaan Akhsa membuktikan bahwa Nathan tidak berkhianat kepada Akhsa...
Memang kalo sudah jodoh tak kan kemana.
di dunia nyata dan dunia narasi....
pasti hatinya sedih ...
sbb tak ada seorang ibupun yg mau berpisah dg anak yg tlh dilahirkan...
Sabar ya Aileen....masa itu akan datang
Masa dimana kau akan bertemu dengan anak yg tlh kau lahirkan
Morano kalo imitasi gimana bisa pake lebel mas murni.
rongsokan ya berkumpul dengan bardol atuh kang morano. jangan marah dibilang murahan kalo memang di obral.
barang orie mana di obral, di segel kali.
sayang aku telat baca nya ya thoor