WARNING : CERITA INI MENGURAS EMOSI SAMPAI TUTUP PANCI AKAN IKUT MELAYANG! BERMENTAL LEMAH HARAP JANGAN BACA. TAKUT DARAH TINGGI NAIK MENDADAK😈
Bercerai? Itulah satu permintaan Kaiden. Selama tiga tahun, mereka tidak bersinggungan. Tiba-tiba Kaiden suami kontraknya itu lontarkan. Devina Deborah, merasa tidak bisa melepaskan Kaiden Louis. Perempuan cantik itu memiliki perasan pada sang suami.
Ia memberikan persyaratan. Dalam kurun waktu 3 bulan. Jika Devina tidak mampu menggoyahkan hati Kaiden untuknya. Maka ia bersedia menandatangani surat cerai tanpa perlawanan. Mampukah Devina menaklukkan hati Kaiden. CEO angkuh yang malah jatuh cinta pada Dokter berdarah Rusia-Indonesia itu? atau malah harus terpaksa menandatangani surat perceraian. Dan pergi dengan mengibarkan bendera, pertanda menyerah.
Simak terus kisahnya di sini. Jangan lupa simpan di perpustakaan untuk mendapatkan update tiap harinya. Dan jangan follow akun Ig author di "Dhanvi Hrieya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. RAHASIA ARUMI
Arumi melirik tubuhnya di cermin besar itu. Sebelum berputar ke kirim dan ke kanan. Sempurna. Dengan gaun merah menyala. Dan belahan dada rendah, serta panjang gaun hanya sampai di atas lutut sedikit. Jika wanita ini duduk, sudah pasti akan mempertontonkan paha putih mulusnya.
"Oke, sempura!" seru Arumi bahagia.
Wanita ini merasakan bawah benar-benar terlihat cantik. Dengan balutan gaun merah menyala. Make up yang sedikit lebih dewasa. Memberikan kesan seksi pada dirinya.
"Wow! Apa ini?" seruan keras di belakang tubuhnya membuat Arumi langsung membalikkan tubuhnya.
"Hei! Kau kapan masuk ke kamarku?" hardik Arumi keras.
Pemuda itu terkekeh kecil. Lihatlah! Bagaimana pandangan nakal dari adik tirinya itu. Arumi sangat kesal kalau adik tirinya ini suka masuk tanpa ketuk pintu kamarnya.
Ia terkekeh kembali."Ayolah, Arumi! Kau dan aku jelas tahu. Hal seperti ini hal biasa diantara kita berdua. Jangan berlagak sok polos begitu jika hanya ada kau dan aku!" balas Niko.
Arumi berdecak sebal. Bahkan cara wanita cantik itu memandang adik tirinya itu terlihat menajam berkali-kali lipat.
"Jaga ucapanmu!" tegur Arumi.
"Tentang apa, huh?"
"Kau jelas tahu apa yang aku maksud. Jangan berlagak bodoh!"
"Hei! Bukankah aku ini memang bodoh?"
"Cih! Keluarlah!" usir Arumi kesal.
"Inikan rumahku!" sahut Niko dengan nada tenang.
"Rumah orang tuaku. Bukan rumahmu!" koreksi Arumi marah.
Niko melangkah mendekati ranjang king size itu dengan langkah lebar. Menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang Arumi. Aroma tubuh Arumi langsung menguasai indra penciuman Niko. Pemuda itu terkekeh kecil. Kepala miring. Menghadap Arumi.
"Tapikan Ayahku yang membelikan rumah ini untuk Ibumu, Mbak Arumi yang cantik!" sahut Niko tenang.
"Hah! Kau mau uang berapa? Katakan cepat. Aku mau keluar. Jangan mengacau rumah ini apa lagi sampai menganggu Ayah dan Ibu," tanya Arumi. Sembari memberikan peringatan pada sang adik tiri.
Ia kembali ke rumah orang tuanya. Mungkin lebih tepatnya rumah yang ditempati oleh ayah tiri dan ibu kandungnya. Ayahnya sudah lama meninggal. Hanya ia anak dari sang ibu. Saat bertemu dengan ayah Niko. Pria itu sudah memiliki dua orang anak. Satu orang putri yang sudah bekerja. Dan satu orang putra yang masih sekolah.
"Huh? Uang? Kau pikir Ayahku itu miskin? Ayahku itu orang kaya. Buktinya kau bisa sekolah kedokteran, bukankah itu Ayahku yang menyekolahkannya? Lalu kau. Malah berbicara seolah-olah. Kau itu lebih kaya dari pada Ayahku?" sarkas Niko.
Arumi merasa dadanya bergemuruh. Kepalanya mendadak berasap mendengar perkataan Niko. Menang benar jika semua yang ia dapatkan dari ayah pemuda berusia dua puluh enam tahun itu. Tapikan itu dikarenakan ibunya menikah dengan ayah Niko.
"Sudahlah! Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Lebih baik kau keluar saja!" tandas Arumi mengusir adik tirinya.
Niko menghela nafas kasar. Kesal sudah pemuda itu. Mau tak mau ia bangkit dari posisi tidurnya. Sebelum ia melangkah keluar dari kamar. Mata nakal itu terlihat melirik tubuh sang kakak tiri dengan pandangan yang sangat merendahkan.
"Sepertinya kau mendapatkan mangsa baru. Sampai-sampai terlihat begitu bersemangat. Apakah menikmati malam dengan dia lebih menantang dari pada denganku?" kata Niko dengan lugas,"padahal kau adalah orang pertama yang mengenalkan aku pada kenikmatan dunia, Mbak Arumi. Sebelum kau—"
BUG!
Perkataan Niko langsung terhenti saat wajahnya dihantam oleh kotak make up kecil milik sang kakak tiri. Bibirnya berdarah karena hantaman keras itu. Pandangan Niko terlihat menajam.
Ibu jari Niko bergerak mengusap darah yang ia dapatkan karena kemarahan Arumi. Sebelah bibir yang tidak berdarah itu ditarik ke atas. Mencetak sebuah senyuman menyeringai.
"Galak sekali dirimu, Mbak. Padahal waktu kamu remaja. Kamu adalah gadis paling liar. Tapi sekarang malah paling kejam!" goda Niko.
Muka Arumi memerah padam. Sampai menjalar ke daun telinga Arumi. Kedua tangannya bahkan terkepal kuat. Tajamnya pandangan mata Arumi layangkan membuat Niko mengangkat kedua belah tangan ke atas.
"Oke! Oke! Slow down, Baby!" ucap Niko.
Pemuda itu kembali terkikik kecil melangkah keluar dari kamar Arumi. Kedua mata Arumi memerah. Pintu ditutup perlahan. Namun suara kikik Niko masih terdengar dari dalam.
"Sialan!" maki Arumi marah.
Sebelum wanita itu membalikkan tubuhnya menghadap meja rias.
BRUK!
BRAK!
Semua yang ada di atas meja menjadi sasaran Arumi. Bibirnya bahkan bergetar hebat. Karena saking kesalnya. Amarah sedang menguasai tubuh Arumi. Sampai puncak ubun-ubun kepalanya berasap. Entah berapa banyak makian yang sili berganti keluar dari bibir merah seksi itu. Karena lahar amarah yang telah tumpah.
...***...
Benda pipih mahal itu disimpan kembali ke dalam jas mahal. Ekspresi wajah Kaiden terlihat cukup kecewa. Pasalnya Arumi membatalkan pertemuan mereka malam ini. Padahal makanan sudah terhidang di atas meja. Dua gelas red wine mahal juga ikut bertengger.
Arumi hanya memberikan alsan jika ada masalah keluarga mendadak yang membuat wanita cantik itu tidak jadi datang ke restoran mahal itu.
"Hah!" Kaiden menghela nafas berat.
Sudah cukup lama mereka belum bertemu kembali. Mulai saat Devina sakit sampai gadis itu sembuh. Ia dan Arumi tidak bisa bertemu. Sudah janjian malam ini untuk makan malam. Malah membatalkan secara sepihak. Itu cukup membuat Kaiden Louis kecewa berat. Ia rindu dengan sang pujaan hati.
Rombongan wanita sedang memasuki restoran bintang lima itu mendadak mengehentikan langkah kakinya. Saat salah satu dari mereka terlebih dahulu menghentikan langkah mereka.
"Dev! Itu bukannya suamimu?" bisik kecil terdengar.
Sontak saja tiga orang wanita itu ikut melirik bersamaan. Devina memicingkan matanya. Benar saja. Itu suaminya. Duduk di kursi pinggir dengan hidangan sudah tersedia. Dan dua gelas red wine yang tergelak di atas meja.
"Oh? Iya," sahut Devina pelan,"sepertinya dia sedang makan malam dengan klien," sambung Devina berdusta.
Nia di samping Devina melirik curiga sang sahabat. Makan malam dengan klien? Oh, ayolah. Mereka tidak bodoh. Makan malam apa yang terlihat begitu mewah. Apa lagi ada buket bunga mawar segala di atas meja. Klien apa kekasih yang ingin ditemui? Sudah pasti satu jawaban. Wanita. Kaiden Louis ingin bertemu dengan wanita.
"Ah, mungkin dia tahu kamu di sini kali. Mau bikin kejutan?" seru Nia dengan nada ceria.
Membuat dua orang perempuan lainnya menatap antara percaya dan tidak percaya. Devina melenguh mengucap syukur dengan pertolongan Nia.
"Ha? Astaga. Kayaknya aku yang nggak peka, deh. Pantesan tadi Kaiden nanyain aku mau makan malam sama kalian di mana!" timpal Devina dengan wajah dibuat-buat syok.
Sontak saja dua sahabatnya kembali tersenyum dengan wajah sumringah. Pemuda itu yang merasa di tatap dengan pandangan intens. Membawa atensi tajam itu ke arah empat orang wanita. Yang mana dua orang di sana sangat familiar di mata Kaiden.
"Aku ke sana dulu, ya!" ucap Devina ceria.
"Ya, pergi saja. Kami makan bertiga saja!" timpal Sari.
"Ya, pergi aja, Dev!" sahut Mika ikut-ikutan.
Devina langsung melangkah lebar mendekati Kaiden. Ekspresi wajah Devina terlihat sangat kecewa. Sedangkan Kaiden. Pemuda itu terlihat membeku di tempatnya.
Bersambung....
hebatkan? perempuan pilihan Maiden?🤭🤭🤭🤭
hehe ...