Kami dikandung di rahim yang sama dan dalam waktu yang sama. Namun, kenapa aku tak seberuntung Kak Keyla?
Please beri dukungan yang banyak sama author biar semangat lanjutkan karyanya. 🙏🙏🙏🙏
Beri vote, like, dan komentar ya!!!
😊😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dosa Yang Sama
"Em, tapi, bagaimana dengan Mas David?" tanya Kayra ragu. Walaupun dia tak pernah bahagia hidup bersama David. Namun, dia sama sekali tidak pernah berkhianat sedikitpun.
"Soal David mah gampang, Ra. Nanti, Mbak yang akan pintar-pintar mensiasatinya. Jadi, dia tak akan menyentuh Mbak secuilpun. Kamu kan tahu kalau kakakmu ini seorang kancil yang cerdik," jelas Kayla tersenyum santai. Dia sangat percaya diri dengan kemampuannya.
Kayra terdiam sejenak memikirkannya matang-matang. Ide saudarinya ini memiliki dampak yang sangat besar jika sampai ketahuan. Bukan hanya harga diri yang mereka pertaruhkan. Akan tetapi, hubungan mereka dengan suami masing-masing akan tercerai berai.
"Mau ya, Ra? Soal uang itu, kamu tak usah membayarnya. Hitung-hitung itu bentuk balas budi Mbak sama kamu karena sudah mau berkorban demi masa depan Mbak," jelas Kayla meyakinkan adiknya agar setuju.
"Tapi, apa Mbak nggak merasa cemburu jika Mas David melakukannya sama aku. Jujur ini sulit sekali kulakukan," balas Kayra dengan tatapan hampa.
"Cemburu?" Kayla menatap ke atas langit-langit ruangan.
"Iya, cemburu. Setahuku tidak ada satupun wanita yang sudi membiarkan suaminya menggauli wanita lain. Makanya, Mbak sendiri tak ingin dipoligami," jelas Kayra sebelum semuanya terlambat.
"Itu hal yang beda, Ra. Kalau sama kamu kan karena Mbak membutuhkan seorang anak sebagai perekat hubungan kami. Itupun hanya sementara saja. Sedangkan, kalau poligami itu selamanya. Bahkan, posisi Mbak juga akan terancam. Jadi, kamu tak perlu mengkhawatirkan soal Mbak cemburu atau tidak," jelas Kayla tersenyum.
Kayra terdiam lagi. Semua ketakutannya mulai berkurang mendengar penjelasan dari saudarinya.
"Em, sekarangkan sudah tidak ada lagi kekhawatiran di antara kita berdua. Jadi, dealkan?" Kayla mengulurkan tangannya ingin mengajak Kayra berjabat tangan.
Kayra tak segera menjabat tangan saudarinya. Hatinya belum terlalu yakin kalau rencana mereka akan berhasil.
"Tapi, bagaimana kalau nanti aku juga tak bisa memberikan anak sama kalian dari hasil hubungan gelap itu" tanya Kayra lagi soal kegagalan rencana mereka.
"Huh, kalau menurutku sih 95% kamu akan cepat hamil. Kamu kan subur. Buktinya, sekali buat langsung jadi pas malam pertama." Kayla mengedipkan matanya genit.
"Ih, apaan sih, Mbak!" Wajah Kayra langsung merah.
"Ye, pakai acara malu segala." Kayla tersenyum genit.
Kayra tidak menanggapinya. Dia semakin tersipu malu.
"Oh ya, nanti Mbak juga bakalan membelikan vitamin buat kamu agar lebih subur. Kamu pasti melakukan KB-kan agar tidak segera hamil lagi?" tanya Kayra tersenyum kikuk.
Kayra terdiam. Dia langsung merasa sedih. Bukannya dia tak segera hamil lagi karena program KB, melainkan David tak pernah menggaulinya lagi semenjak dia habis melahirkan Kaysa.
"Kok, malah bengong lagi? Ini deal-kan sekarang?" Kayla kembali mengulurkan tangannya.
Kayra masih melamun.
"Hemmm, ini anak suka banget bengong!" Kayla menepuk bahu Kayra pelan.
"Eh, iya, Mbak." Kayra tergagap.
"Sekarang deal-kan?" tanya Kayla lagi-lagi mengulurkan tangannya.
"Baiklah, deal!" Kayra membalas jabatan tangan Kayla.
Di saat yang bersamaan ada seseorang membuka pintu ruangan Kaysa.
"Ehem! Deal, apaan tuh? Kok, sepertinya seru banget?" tanya David tersenyum sambil melangkah masuk.
Kayra dan Kayla langsung gugup. Mereka segera melepaskan jabatan tangannya.
"Em, ini kok malah pada memasang wajah tegang? Aku kok jadi curiga ini?" tanya David mendaratkan bokongnya di samping istrinya.
"Aduh, bagaimana ini kalau Mas David sampai curiga," batin Kayra panik.
Sementara Kayla segera mencari alasan agar tidak menimbulkan kecurigaan pada David.
"Oh, ini tadi kami sedang rembukan mau pinjam uang ke salah satu teman arisan mbak. Dia kan bekerja di salah satu Bank swasta yang ada di daerah kita ini. Jadi, nanti kalian bisa membayar perbulannya. Terserah kalian mau ambil yang berapa tahun. Kalau pinjam ke teman mbak kan selain aman, bunganya juga kecil. Jadi, kalian tidak akan terlalu terbebani," jelas Kayla penuh kebohongan. Otak cerdiknya kembali bekerja.
"Oh, baguslah kalau begitu. Berarti, aku urungkan saja meminjam sama rentenir tadi," ceplos David tidak sengaja.
"
Kayra langsung melebarkan matanya terkejut.
"Apa Mas, rentenir? Jadi, tadi Mas berencana mau pinjam ke rentenir?" selidik Kayra.
"Ups, ini lidah memang tidak bertulang. Asal main ceplos saja," batin David menutup mulutnya dengan tangan.
"Mas, jawab!" ulangi Kayra.
"Iya benar. Habis Mas bingung sekali mau cari pinjaman ke mana. Untung saja, sudah ada jalan lain. Kalau tidak kemungkinan kita akan tertekan dengan bunga yang sangat besar," jelas David kecewa.
"Tuh kan untung saja belum terlanjur," sahut Kayla tersenyum senang. Menurutnya dengan begitu Kayra pasti semakin yakin dengan idenya tadi.
"Iya Mbak. Terima kasih atas sarannya," sahut David tersenyum.
Kayla mengangguk.
"Ya sudah. Sekarangkan David sudah datang. Sebaiknya, Mbak segera ke perusahaannya Mas Damar. Semakin cepatkan, semakin baik," pamit Kayla tersenyum. Rasanya dia sudah tidak sabar lagi ingin menjalankan misinya.
"Iya, Mbak. Sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih," jelas David tersenyum senang.
"Sama-sama!" Kayla tersenyum.
David dan Kayra ikut tersenyum.
Setelah kepergian Kayla, Kayra langsung melamun kembali. Ternyata, semua yang terjadi padanya hari ini merupakan sebuah jalan dari Allah swt.
"Andai saja tadi Mbak Kayla tidak memiliki ide dosa itu. Pasti aku juga tetap akan terjatuh ke lubang dosa lain yang lebih memberatkan aku dan Mas David. Semoga saja Engkau selalu melindungiku, Ya Tuhan," gumam Kayra dalam hati.
David terus memandangi istrinya yang terus melamun. Hatinya langsung dipenuhi rasa penyesalan. Hampir saja dia menyetujui syarat bodoh yang diajukan sang rentenir tadi karena tak kunjung menemui pinjaman.
"Terima kasih, Tuhan!" seru David dalam hati.
"Hampir saja hamba-Mu ini khilaf! Kalau saja saudari istriku tidak segera memberi jalan pada kami. Mungkin, aku sudah menggadaikan surat rumah kedua orangtuaku. Dan hal yang sang mengerikan juga akan terjadi jika aku tak mampu membayarnya. Bukan hanya rumah dan tanah itu yang lenyap. Akan tetapi, istriku juga harus menjadi jaminannya," sambung David dalam hati.
Dia segera memeluk istrinya seerat mungkin dari samping. Kayra langsung membeku dan sedikit terkejut. Sudah lama sekali dia tidak merasakan hangatnya berada di dalam pelukan suami.
Sejenak Kayra memejamkan matanya. Setitik demi setitik air mulai menetes dari pelupuk matanya. Akhirnya, sedikit demi sedikit doanya dulu terijabahi oleh Sang Pencipta.
"Ra, kumohon maafkan suamimu yang bodoh dan tidak berguna ini. Sepanjang perjalanan rumah tangga kita, aku selalu menyakiti dan membuat hidupmu semakin sulit." David mencium pucuk kepala Kayra cukup lama.
Kayra tetap terdiam. Lidahnya kelu ingin menyahuti perkataan suaminya. Hanya deraian air mata saja mewakili ungkapan perasaannya saat ini.