"Aku ingin menikah lagi, Diah!"
Ucapan Mas Ruli bagai petir yang menyambar Diah di siang bolong.
Berdalih bosan dan merasa kurang diperhatikan oleh Diah Apriani, Ruliansyah tiba-tiba minta izin untuk menikah lagi dengan seorang gadis yang lebih muda yang bernama Siska Maharani.
Hubungan pernikahan Diah dan Ruli yang sudah berjalan selama lima tahun serta kehadiran sepasang malaikat dalam pernikahan Diah dan Ruli, rupanya tetap tak menyurutkan niat Ruli untuk menikah lagi.
Bahtera rumah tangga Diah dan Ruli seakan terombang-ambing tak tentu arah setelah permintaan konyol Ruli tersebut.
"Aku janji akan berlaku adil," Janji Ruli pada Diah.
Apakah pada akhirnya Ruli benar-benar akan bersikap adil pada Diah dan Siska?
Lalu alasan apa yang menjadi pertimbangan Diah, hingga akhirnya ia rela membagi cinta Mas Ruli dan membiarkan sang suami menikah lagi dengan gadis pujaan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JENGKEL
"Siska!" Panggil Ruli dari dalam kamar.
"Ada apa, Mas?" Tanya Siska yang sudah buru-buru menghampiri Ruli yang sedang mengobrak-abrik isi lemari seolah sedang mencari sesuatu
"Lah, Mas! Ini kenapa baju di kemari Mas keluarin semua? Mas cari apa, sih?" Tanya Siska melayangkan protes.
"Seragam kerja aku mana? Yang aku tinggal disini kan ada tiga stel? Masa nggak ada sama sekali di lemari?" Tanya Ruli yang masih mengobrak-abrik isi lemari.
Dulu saja, saat Ruli dan Siska baru menikah, Siska rajin menyiapkan baju yang akan Ruli pakai kerja. Tapi beberapa bulan belakangan atau lebih tepatnya setelah perut Siska mulai membesar, istri muda Ruli ini jadi semakin malas saja. Boro-boro menyiapkan baju Ruli, menyapu rumah saja malas-malasan.
"Baju kerja yang warna biru?" Tanya Siska memastikan.
"Iya!"
Siska langsung keluar dari kamar dan mengacak baju-baju yang belum sempat di setrika. Ada dua keranjang laundry dan semuanya teronggok di ruang tengah entah sejak jaman kapan.
"Belum Siska gosok, Mas?" Ucap Siska seraya meringis.
"Tiga - tiganya?" Ruli menatap tak percaya ke arah Siska.
"Siska belum sempat nggosok, Mas! Biasanya kan juga masuk laundry, tapi kata Mas Ruli sekarang harus hemat-"
"Ya Allah, Sis!" Ruli berucap dengan geram.
Amat sangat geram malahan.
"Kapan kamu sempat nggosok kalau pekerjaan kamu setiap hari itu cuma ngusek-ngusek setan gepeng?" Sergah Ruli yang nada bicaranya sudah naik tujuh oktaf.
"Yaudah nggak usah emosi juga, Mas! Kan tinggal digosok saja apa susahnya!" Siska balik menggerutu pada Ruli. Lalu wanita hamil itu meraih setrika yang ada di rak dan menancapkannya ke sakelar, saat tiba-tiba listrik padam.
"Yah, mati lampu," gumam Siska yang tak jadi menyetrika seragam Ruli.
"Ck! Memang dasar kamu itu jadi istri nggak ada peka-pekanya!" Ruli yang sudah jengkel kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil satu kaus miliknya.
"Mbok jadi istri itu yang rajin kayak Diah itu! Suami mau kerja ya baju disiapkan, sarapan disediakan," cecar Ruli yang masih bersungut-sungut.
"Mbak Diah lagi! Kemarin masalah telur dadar juga mas bawa-bawa Mbak Diah! Lalu sekarang masalah seragam Mas bawa-bawa Mbak Diah juga! Kenapa Mas nggak pulang saja ke rumah Mbak Diah sana dan nggak usah ngrepotin Siska lagi?"
"Siska juga sudah capek punya suami nggak pengertian kayak Mas Ruli! Perhatian nggak ada, kalau libur sibuk mancing dan jarang ngajak jalan-jalan, ngasih duit belanja juga nggak seberapa, tapi tuntutannya macem-macem!"
"Minta diladeni setiap hari, minta disiapkan ini itu, minta disediakan ini itu anu! Siska ini sebenarnya istri atau babu Mas Ruli?" Cerocos Siska panjang lebar mengeluarkan semua uneg-uneg dalam hatinya.
"Dasarnya kamu aja itu yang nggak becus jadi istri! Nggak ikhlas melayani suami dan cuma mau duit belanja saja setiap bulan!" Sergah Mas Ruli menjawab cerocosan Siska dan malah balik menyalahkan istri mudanya tersebut.
"Dah! Aku mau pulang ke rumah Diah!" Lanjut mas Ruli seraya menggebrak pintu. Tak berselang lama, deru suara motor Mas Ruli sudah terdengar semakin menjauh meninggalkan rumah kontrakan Siska.
****
"Assalamualaikum!" Salam Ruli masih dengan emosi yang berkobar di dadanya.
"Yeaay! Ayah sudah pulang," sambut Naura yang terlihat girang sekali melihat Ruli datang. Ruli langsung membawa putrinya tersebut ke dalam gendongan.
"Bunda mana, Sayang?" Tanya Ruli yang sudah melangkah ke dapur masih sambil menggendong Naura.
"Masih bikin kue di dapur. Kata Bunda masih kurang banyak, jadi Naura nggak boleh gangguin," jawab Naura menjelaskan.
"Hmm, gitu, ya!"
"Bund!" Panggil Ruli yang sudah tiba di dapur dan melihat Diah yang masih menuang adonan bolu kukus ke dalam cetakan.
"Iya, Mas!" Jawab Diah yang langsung kaget melihat kedatangan Ruli.
"Libur, Mas? Kok pagi-pagi sudah kesini?" Tanya Diah lagi seraya meletakkan cetakan-cetakan bolu kukus yang sudah berisi adonan ke dalam dandang bentuk segiempat.
"Enggak! Mau ambil seragam saja sekalian numpang sarapan disini," jawab Ruli yang sudah menurunkan Naura dari gendongannya.
Putri Ruli dan Diah itu sudah berlari keluar dari dapur dan menghampiri Naufal yang sejak tadi main sendiri di teras.
"Loh, memang belum sarapan?" Tanya Diah sedikit kaku.
"Belum! Bosan aku tiap pagi sarapan nasi uduk, bubur ayam, nasi uduk, bubur ayam. Nggak ada gitu menu masakan lain di rumah Siska," curhat Mas Ruli yang sudah duduk di kursi plastik yang ada di dekat Diah.
"Yaudah, Mas Ruli sarapan dulu. Tapi Diah cuma masak bening bayam sama tempe garit. Nggak apa-apa?" Tanya Diah yang sudah mengambil piring dan membuka mejikom. Diah menyendokkan dua centong nasi sesuai porsi Mas Ruli.
"Nggak apa-apa! Sayur bening kamu rasanya enak, kok. Nggak kayak buatan Siska yang kebanyakan gula itu. Kadang aku itu bingung kalau si Siska masak sayur bening itu sebenarnya masak sayur atau bikin sirup," jawab Ruli yang malah menjelek-jelekkan Siska di depan Diah.
"Ya, Mas komplain, to! Bilang kalau sayur bayemnya kebanyakan gula. Kalau Mas nggak komplain, bagaimana Siska bisa tahu?" Ujar Diah menanggapi ghibahan sang suami dengan saran bijak.
Diah lanjut menyajikan segelas teh hangat ke hadapan Ruli yang sudah mulai menyantap sarapannya.
"Udah komplain. Tapi malah mencak-mencak dan bilang nggak usah makan kalau nggak doyan bla bla bla," ungkap Ruli di sela-sela ia mengunyah makanan.
Diah hanya tersenyum tipis dan enggan menanggapi lagi. Ibu dua anak itu memeriksa bolu kukusnya yang alhamdulillah ngakak semua dan nggak ada yang mingkem terkena kutukan bolu kukus.
"Seragam kerja aku yang disini masih ada, kan, Diah?" Tanya Ruli saat Diah hendak keluar dari dapur.
"Ada dua stel di lemari. Mau dipakai?" Jawab Diah sekaligus balik bertanya pada Ruli.
"Iya! Seragam yang di rumah Siska tiga stel belum digosok semua." Ruli menggigit tempe di tangannya penuh emosi.
"Nggak tahu si Siska itu dirumah seharian ngapain saja! Sampai nyeterika baju saja nggak kober dan malah minta duit buat bayar laundry," lanjut Ruli yang masih menggerutu sebal.
Diah hanya menghela nafas dan sekali lagi enggan menanggapi keluhan demi keluhan Ruli tentang sifat malas Siska yang semakin menjadi. Wanita itu memilih untuk segera menyiapkan seragam kerja Ruli saja.
.
.
.
Othor kalo masak bening bayem juga suka kemanisan lho, Mas Ruli!
Awakmu nyindir othor, kah?
Dasar!
Untung bojone othor ra tau komplain macam dirimu!
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
kasian Diah berakhir
tapi gk gitu mereka berdua gak akan sadar dengan kesalahan masing²
sudah cukup dia selama ini menderita dari sejak kecil sampai rumah tangganya kandas
mungkin dengan dia meninggal dia bisa tersenyum 🥺
kenapa Diah gk minta² uang dia punya penghasilan sampingan hanya andalkan kamu mana cukup
sedangkan Siska gk kerja mikir jadi laki emang gk ada akhlaknya
Diah saja beban saja lebih berat masih waras 🤭
kok betah e ta 😂
mama mu Gimana kabarnya katanya punya istri baru hidupnya terurus yang ada tamah mumett.... 😂😂😂
setia dengan satu wanita istri pertama .setelah istri meninggal pun disuruh menikahi felli jangan dibandingkan² gak cocok 🤣🤣🤣