NOTE: SEDANG DALAM TAHAP REVISI!
Lala Kamila, seorang gadis berusai 17 tahun yang dinikahkan dengan Ilham Wijaya Saputra, pria tampan dewasa, berusai 32 Tahun, tepat setelah dirinya lulus sekolah SMA. Keduanya menjalani perjodohan. Menikah di usia muda, perlahan membuat Lala mau tak mau harus menjadi dewasa dalam bersikap, maupun memutuskan sesuatu di dalam menjalani pernikahannya. Terlebih, ketika begitu banyak hal tersembunyi dari Ilham yang akhirnya diketahui oleh Lala. Akankah Lala bertahan di tengah rumitnya masalah yang menimpa pernikahannya bersama Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahdania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Waktu menunjukkan pukul enam pagi. lalapun terbangun dan tak menemukan ilham dikamarnya.
"mas belum pulang juga ya" gumam lala.
lalapun beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar turun menuju dapur.
didapur lala meihat bibi yang sedang menyiapkan sarapan.
"ibu butuh sesuatu?" tanya bibi.
"saya mau ambil minum bi, oya bibi liat bapak ga?" tanya lala.
"maaf bu , bibi ga liat bapak" ucap bibi.
"ohh yaudah" ucap lala.
lala masih sibuk dengan fikirannya memikirkan ilham. tak biasanya ilham meninggalkannya tanpa memberikan kabar.
"mas kemana sih?" batin lala.
lala tersadar dari lamunannya saat terdengar ada sesuatu yang sepertinya terjatuh.
lalapun berjalan menuju arah suara itu.
dan. ..
Deg
deg
Jantung lala terasa berhenti, tubuhnya langsung lemas, dadanya sesak saat melihat sesuatu tergeletak diatas lantai dibawah tangga.
"ADEEEEE...!!!!!!"
iapun berteriak histeris saat melihat nabila simalaikat kecilnya itu tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang keluar dari hidung dan juga telinganya.
lala berlari panik diikuti bibi.
lala memeluk bila erat dan terus memanggil nya namun bila tetap diam.
lala semakin lemas saat melihat darah yang terus keluar.
"Bibi panggil taksi dulu bu" ucap bibi dan diangguki oleh lala.
lala tak henti-hentinya memanggil bila, memeluknya, dan menciumnya.
tubuhnya sungguh lemas, dadanya sesak, keringat dingin membasahi tubuhnya saat ini.
lala sungguh ketakutan.
"Ade bangun sayang, ini bunda" ucap lala terisak.
lala begitu panik sampai tak sabar menunggu taksi datang.
"CEPETAN DONG BI, LAMA BANGET SIH!" lala membentak bibi, bibipun semakin panik.
lala semakin panik saat merasakan tangan bila yang terasa dingin.
5 menit kemudian taksipun datang dan langsung membawa bila kerumah sakit.
20 menit kemudian sampailah disalah satu RS swasta. bila langsung dibawa keruang ICU dan ditangani dokter.
lala terduduk dilantai, tubuhnya sungguh lemas tak sanggup menahan sesak dadanya.
pertama kalinya dalam hidupnya ia merasakan sakit dan takut seperti ini.
bibipun cemas melihat lala dan memapahnya untuk duduk dikursi.
lala terus menangis sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Ade, jangan tinggalin bunda sayang" ucap lala lirih dalam tangisnya.
bibipun sedih melihatnya, ia tak pernah melihat lala serapuh ini.
"Bu kita harus beritahu bapak" ucap bibi
lala menggeleng.
"saya gatau bapak dimana bi" ucap lala masih dalam tangisnya.
"biar bibi telfon bu" ucap bibi.
lalapun menggeleng lagi.
"bapak ga bawa hape bi" ucap lala.
bibi pun semakin bingung.
"apa mereka sedang bertengkar?" batin bibi.
"Bi tolong ambil hape saya dirumah, saya mau kasih tau mama sama papa" ucap lala.
"baik bu" ucap bibi lalu pergi.
lala masih menangis tak bersuara, sungguh sakit melihat malaikat kecilnya seperti itu.
******
sementara ditempat lain ilham dan chia tengah duduk dimeja makan saling berhadapan.
suasana terasa canggung dan hening, tak ada yang bersuara.
sampai berberapa menit berlalu akhirnya chia membuka suara.
"makasih yaa kamu udah jemput aku semalam" ucap chia.
"ya, aku gamau kamu ketempat kaya gitu lagi, itu ga bagus chia" ucap ilham.
chiapun tersenyum senang karena ilham masih peduli dengannya, chia yakin ilham masih mencintainya.
chia mencoba menggengam tangan ilham namun ilham segera menghindar.
chiapun menghembuskan nafasnya perlahan.
"apa kita bisa seperti dulu lagi?" tanya chia.
ilhampun menghentikan kegiatan makannya dan menatap chia sejenak.
"entahlah, banyak yang sudah berubah chia" ucap ilham.
chiapun menunduk sendu, dia sungguh menyesal karena dulu tak memilih tinggal disisi ilham.
"Aku tau, tapi aku mohon kasih aku kesempatan untuk menjadi isteri yang baik untuk kamu, aku gabisa kehilangan kamu ham" ucap chia terisak.
inilah yang ilham tak suka, dia selalu tak tega saat melihat wanita menangis.
ilhampun menghembuskan nafas perlahan dan menatap chia.
"baiklah" ucap ilham singkat.
chiapun tersenyum senang.
"oh ya aku ada jadwal pemotretan hari ini, kamu temenin aku ya, please.." mohon chia.
ilham malas sebenernya tapi akhirnya ilhampun mengiyakan.
20 menit kemudian mereka bergegas pergi kelokasi pemotretan chia, diperjalanan chia terus memeluk lengan ilham yang sedang menyetir, membuat ilham risih.
begitu mobil berhenti dilampu merah ada mata yang menangkap mereka, mata yang menatapnya tak suka dan bertanya-tanya.