NovelToon NovelToon
Mentari Istriku

Mentari Istriku

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:403.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: febyanti

Menikah dengan orang yang kita cintai tentu menjadi impian semua orang, tapi tidak dengan Alga dan Mentari. Mereka menikah karena terpaksa, hingga lambat laun perasaan itu berubah menjadi cinta.

Tapi sayang, ketika cinta itu datang disaat mulai mengilang. Mentari menyerah karena cinta itu tak dapat ia gapai.

Rumah tangga seperti yang mereka jalani? Apa lagi tanpa cinta.

Yuk simak ceritanya hanya di novel berjudul MENTARI ISTRIKU

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

"Su-sudah selesai," ujar Tari setelah selesai mengamcingkan semua baju kemejanya, sedikit terbata dengan ucapannya. Gadis itu merasa jantungnya hampir copot ketika Alga hampir saja menciumnya.

Meski Tari belum pernah pacaran apa lagi berciuman, dengan gerakkan Alga yang seperti tadi, tentu ia tahu apa maksud suaminya.

Alga menjadi salah tingkat, tak disangka bahwa istrinya menolaknya dengan cara mengalihkan dengan pakaiannya yang sudah rapi. Tari memposisikan tubuhnya. Ia melihat lurus ke depan, padahal hatinya sudah tidak karuan.

"Ayok, Omsu. Nanti ke buru sore," kata Tari.

Alga kembali melajukan mobilnya. Entah kenapa hatinya menjadi deg-degan, ia hanya bisa memfokus matanya pada pandangannya yang lurus ke depan. Lain dengan hatinya yang berkelana entah kemana.

Perjalanan itu begitu terasa lama bagi Tari, ia terus kepikiran akan sikap suaminya yang tak mudah ia tebak. Terkadang, pria itu hangat. Kadang juga menyebalkan, apa lagi ditambah adanya wanita lain di hati suaminya.

Tari jadi pusing sendiri, apa mungkin suaminya itu memiliki perasaan padanya walau hanya secuil?

Setengah jam kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit. Tari dan Alga berjalan beriringan. Rasa canggung, sepertinya masih melanda pada diri mereka.

Tibalah mereka di ruang rawat ayahnya Mentari. Tak disangka, mereka akan bertemu Ajeng di sana.

"Mama, Mama kok ada di sini?" tanya Alga setibanya di ruangan itu.

Mentari mencium punggung tangan mertuanya, lalu berganti pada sang Ayah.

"Mama ke sini dua hari sekali," jawab Ajeng.

"Terimakasih ya, Ma. Mama sudah membantu menjaga Ayah," ujar Tari.

"Itu tak seberapa dengan pengorbanan Ayahmu, Tari. Beliau sangat berjasa. Dan untukmu, Alga. Jagalah Tari, sayangi dia," kata Ajeng.

"Tari," lirih Surya.

"Iya, Yah. Apa Ayah butuh sesuatu?" tanya Tari.

"Sinilah, nak." Tari pun mendekat mengusap lembut wajah sang ayah. Tari merasa sangat sedih, ia melihat wajah itu semakin tirus.

"Jika kelak Ayah tidak ada, hidup rukun bersama suamimu ya?" pinta Surya pada anaknya. "Dan untukmu, Alga. Ayah sangat berharap kamu menjaga Tari. Ayah sudah tidak bisa lagi menjaga putri Ayah," pesannya pada Alga.

"Ayah tenang saja, aku pasti menjaga istriku dengan baik. Aku akan menjadikannya wanita paling bahagia di dunia ini." Alga memberikan janji itu pada istrinya, kelak ia akan membahagiankannya meski ia belum tahu kapan waktunya itu tiba. Ia juga harus memikirkan perasaan wanita lain, yaitu Citra. Bagaimana pun wanita itu sudah menemani hidupnya selama empat tahun.

Tidak semudah membalikkan telapak tangan, ia berjanji akan melepasnya, dan itu butuh waktu. Wanita mana pun akan merasa sakit jika ditinggal oleh pasangannya, apa lagi ditinggal kawin. Alga bukanlah laki-laki yang suka mengobral cintanya. Ia sendiri pun tidak tahu akan berjodoh dengan gadis yang masih belia.

"Kapan kamu lulus, Tari? Apa sudah ujian?" tanya Surya.

"Sebentar lagi, ini sekarang lagi ujian, Yah. Sebentar lagi Tari akan lulus," jawab Tari.

"Cepatlah berikan Ayah cucu, Ayah menunggu kehadirannya sebelum Ayah pergi."

"Ayah ... Ayah harus semangat, Tari yakin Ayah pasti akan sembuh. Sembuhlah kalau Ayah mau melihat cucu Ayah nanti."

Perasaan Tari campur aduk. Ayahnya memintanya secepatnya meberikan cucu. Cucu dari mana? Melakukannya pun belum pernah, pikir Tari. Tapi sebisa mungkin ia memberikan semangat untuk kesembuhan ayahnya itu. Meski ia harus membohongi semua orang dengan pernikahannya yang hanya penuh kepalsuan.

Tari dan Alga saling lempar pandang. Alga pun jadi bingung sendiri dengan permintaan ayah mertuanya yang baginya itu mustahil. Belum tentu Tari mau disentuh olehnya, pikir Alga.

* * *

Tari dan Alga pulang dari rumah sakit, Ajeng pun ikut. Ia ingin melihat rumah yang di tempati oleh anak dan menantunya. Tentu Tari senang dengan hal itu.

Lain dengan Alga, ia malah kepikiran akan kamar yang ia tempati di sana. Mereka tidur secara terpisah, kalau mamanya tahu, tentu itu akan menjadi bumerang untuknya sendiri.

Alga, Tari, dan Ajeng sampai di rumah. Ajeng melihat-lihat rumah itu, rumah yang cukup bagus. Cocok untuk tinggal berdua. Ia pun masuk ke dalam setelah Alga membuka pintu. Sebelum Tari masuk ke dalam, Alga langsung menarik tangan Tari.

"Ada apa?" tanya Tari.

"Kamar kita, kalau Mama tahu bisa gawat," jawab Alga. "Bagaimana ini?" Alga benar-benar takut karena ini semua usul darinya.

"Kalau Mama tanya tentang kamar kita, bilang kalau kita menempati kamar keduanya, beres 'kan? Gitu aja repot, siapa suruh pindah rumah?" Tari pun jadi sewot sendiri.

Tahu kedua anak dan menantunya tidak ada di dalam rumah, Ajeng kembali keluar. Ia melihat mereka sedang mengobrol dan nampak serius.

"Kalian ngapain masih di luar?" Ajeng sedikit curiga, jangan-jangan ada yang mereka sembunyikan darinya. "Ayok masuk, Mama haus nih, Tari."

"Ah iya, Ma." Tari pun masuk ke dalam. "Mama duduk saja dulu di sini, aku buatkan minum."

Selagi Tari membuatkan minum, Alga pergi munuju kamarnya. Ia berniat merapihkan tempat itu agar terlihat kosong tanpa dihuni.

"Ma, aku ke atas dulu sebentar," pamit Alga.

"Hmm." Hanya itu yang dijawab Ajeng.

Ajeng mulai memindai isi rumah itu, terlihat sangat rapi dan bersih. "Tari pintar mengurus rumah," batin Ajeng.

Tap tap tap ...

Langkah Tari terdengar dari arah dapur, gadis itu membawa nampan serta minuman, meletakkannya di atas meja.

"Diminum, Ma. Selagi hangat," ujar Tari mempersilahkan kepada ibu mertuanya.

Ajeng kembali duduk di sofa.

"Ma, aku permisi dulu sebentar ya, mau mandi. Gerah banget," pamit Tari.

"Iya," jawab Ajeng.

Melihat Tari pergi ke arah yang berbeda, kecurigaannya semakin menjadi. Bener-bener ada yang tidak beres di sini, pikirnya. Tak lama kemudian, Alga kembali dari lantai atas dan ikut duduk bersama mamanya di sofa.

"Kamu habis ngapain? Kok keringatan gitu?" tanya Ajeng pada Alga.

"Mmm ... Itu, Ma. Habis-." Habis apa? Pikiran Alga jadi buntu seketika. Ia tak bisa berbohong pada ibunya.

"Habis apa?" Ajeng tahu betul akan sikap mamanya. "Kalian menyembunyikan sesuatu dari Mama?"

"Ti-tidak, Ma. Tidak ada yang aku sembunyikan."

Percakapan mereka terhenti kala Tari keluar dari kamarnya, gadis itu nampak segar, rambutnya masih menyisakan basah. Ia pun duduk di sebelah suaminya.

"Mas, sebaiknya kamu mandi," ujar Tari.

Kedatangan Tari menyelamatkannya dari sang mama, Alga pun bergegas ke kamar yang di tempati Tari.

"Sebentar ya, Ma," ujar Tari pada ibu mertuanya. Lalu ia menyusul suaminya yang masuk ke dalam kamarnya.

"Omsu ngapain ke kamarku?" tanya Tari dengan polosnya.

Alga menepuk jidat sambil geleng-geleng kepala, kenapa istri kecilnya itu begitu polos?

Alga menangkup kedua pipi Tari, ingin rasanya ia membungkam mulutnya itu dengan bibirnya.

"Ih ... Apaan sih!" gerutu Tari yang tak merasa nyaman dengan sikap suaminya.

Tapi Alga begitu kekeh sampai ia tak melepaskan tangkupan itu. Dalam posisi mereka yang seperti itu membuat siapa saja merasa gemas sendiri. Begitu pun dengan Ajeng yang melihat tingkah mereka.

"Ya kalau mau mesra-mesraan ditutup dulu toh kamarnya," ujar Ajeng. Lalu ibu paruh baya itu pun pergi karena tak ingin mengganggu mereka.

"Iiihh ... Jadi salah paham 'kan," kata Tari.

1
Naufal hanifah
/Good//Good//Good/
antha mom
happy ending
Heryta Herman
si tari masih labil...pikiran anak remaja..tapi sdh jadi istri tengah mengandung pula....yaa gitu deh...emosi jadi naik turun...kayak roller coaster.../Chuckle//Chuckle/
vi
aq suka..... aq suka...
vi
Jadi kasihan sama sinta
vi
ceritanya seru banget
tuti sriyono
Luar biasa
Shifa Burhan
masalah paling utama wanita dalam membuat novel adalah sikap egois yang terkesan munafik sehingga dia buta dari keadilan

contoh simple
*intraksi pemeran utama pria (alga) dengan wanita lain dilaknat, dipandang menjijikan, kesalahan fatal, tidak mudah diterima dan dimaafkan
tapi apa ini
intraksi pemeran utama wanita (tari) dengan lelaki lain dibela dan dibenarkan, pelukan berkali dibela dengan alasan pertemanan lah, pertolongan (alasan munafik wanita),

*istri cemburu suami salah karena tidak bisa jaga perasaan istri
apa ini
suami cemburu tetap suami salah karena cemburu buta

*pelakot dilaknat dan hinakan
tapi apa ini
pebinir dipuja dan diperlakukan sangat lembut, dibuat menang banyak berkali bisa merasakan tubuh pemeran utama wanita

ini contoh kecil kemunafikan wanita dalam berkarya
Suherni 123
pasti lemah nih si alga
Suherni 123
siip tari kasih pelajaran dulu tuh si omsu
Ivana Monica
cerita nya baguss tanpa da pelakor...
Inaqn Sofie
kenpa g alga aja dulu ya yg jatuhnya
Adi Raffi Prasetya
wahhhh.....bigin penasaran ceritanya.
Qaisaa Nazarudin
Gak usah aneh gitu,terima aja tanpa protes,,😁
Qaisaa Nazarudin
Apa benar akan seperti apa yg Alha pikir kan?? Tapi aku gak percaya dgn Citra,,,
Qaisaa Nazarudin
Dihh kamu udah mulai sombong ya,,Ingat hubungan suami kamu sama Citra blom selesai,jangan sampe kamu nyesel nanti,,
Qaisaa Nazarudin
😱😱😱Gila,,segitu banyaknya,,Pasti boong tuh,ada agenda tuh,Atau jgn2 uang itu utk selingkuhan nya,,🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Qaisaa Nazarudin
Kangan sampai dgn melihat kejadian ini,Alga gak jadi mutusin Citra,,,
Qaisaa Nazarudin
Apa benar Chiko udah bertunangan??🤔🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Selagi hubungan mereka belum berakhir,Kamu gak usah baper Tari,teruskan saja bersikap dgn menjaga jarak seperti sebelum ini,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!