Naima jatuh cinta kepada Vino, mereka tidak mengetahui bahwa mereka memiliki ayah yang sama. Naima lahir karna kekhilafan seorang tuan besar 19 tahun silam. sejak lahir Naima hanya tau bahwa ayahnya sudah meninggal.
Naima memiliki 2 sahabat bernama Ana dan Alan, namun sayangnya Ana harus pindah ke belanda mengikuti orang tuanya yang di pindah tugaskan. Alan menjadi satu-satunya sahabat yang selalu ada buat Naima.
peristiwa 19 tahun itu terungkap ketika Vino dan Naima mempertemukan kedua orang tua mereka.
Untuk memisahkan Vino dengan Naima, Lastri menikahkan Naima dengan Alan. Akankah Alan mampu mempertahankan pernikahannya yang tercipta tanpa cinta?
bagaimana kisahnya?
let's chek it out..! jangan lupa tinggalkan like and vote untuk karya pertamaku.. kritik dan saran dari kalian sangat penting untuk selalu memperbaiki karya ini.
selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yati ayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Luluhkan Hatinya
Seharian penuh Alan menemani Naima layaknya seorang baby sitter. Tapi bagi Alan ini sangat menyenangkan karna bisa menghabiskan waktu dengan Naima. Sehingga Alan lupa tujuan awalnya datang ke rumah Lastri. Sampai tiba waktunya Naima tidur, Alan terus menemaninya. Naima tidur dengan memegangi tangan Alan. Naima menggangap Alan adalah satu-satunya orang yang bisa mengerti perasaannya.
Setelah di rasa sudah cukup terlelap, Alan melepas pegangan tangan Naima. Alan menyelimuti Naima kemudian keluaf dari kamarnya. Alan mendekati bu Lastri yang belum tidur.
"Ibu belum tidur?" Alan merebahkan tubuhnya di sofa
"Belum Lan. Kamu capek ya? maafin ibu ya sudah merepotkan"
"Enggak kok bu, saya senang bisa membantu Naima" Alan terlihat bahagia menjawab pertanyaan Lastri.
"Alan.."
"iya bu?"
"Apa.. apa kamu cinta sama Naima anak ibu? tiba-tiba Lastri penasaran akan perasaan Alan terhadap anaknya.
"kenapa ibu tanya seperti itu?" Alan menegakkan posisi duduknya
"Ibu ingin kamu bisa menjaga Naima selama nya Alan! kamu lelaki yang baik, tulus, perhatian dan sangat mengrti Naima. Apa kamu cinta sama Naima?" Lastri mengulang pertanyaannya.
"Saya.. saya memang cinta sama Naima bu. Tapi saya tidak pernah berharap memiliki Naima seutuhnya. saat Naima mengatakan akan menikah dengan Vino, saya mengubur dalam-dalam perasaan saya. Bagi saya kebahagiaan Naima adalah segalanya. Ya mungkin Naima bukan jodoh saya" Alan menjawab sebenarnya tentang perasaannya terhadap Naima. Lastri tersenyum dan memeluk Alan.
"Kamu orangnya Lan..! Kamulah yang terbaik untuk Naima" Alan mendorong pelukannya
"Maksud ibu apa? saya tidak mengerti bu!" Alan terlihat bingung
"Luluhkan Hatinya Lan! ibu ingin kau menjaga Naima seutuhnya. menjaga jiwa dan raganya! menikahlah dengan Naima Lan!"
Alan terkejut mendengar ucapan bu Lastri, dia tidak mengerti mengapa bu Lastri memintanya menikahi Naima sedangkan beliau menolak lamaran Vino dengan alasan bahwa Naima harus fokus dulu untuk kuliahnya.
"Ini apa maksudnya bu, bukankah ibu menolak lamaran Vino karna.." Perkataan Alan terpotong oleh bu Lastri
"Nanti ibu ceritakan Lan.." belum sempat Lastri meneruskan perkataannya, mereka di kejutkan oleh suara pecahan kaca
"Naima..!" Alan dam Lastri berlari ke kamar Naima
"Naima kamu enggak apa-apa?" Lastri membersihkan pecahan beling yang berserakan di lantai dan Alan duduk di dekat Naima. untuk sementara Lastri tidak ingin mengngganggu ketenangan Naima.
"Kamu kenapa? heemm" Alan khawatir, ia terus merangkul Naima
"Aku enggak apa-apa Lan, tadi aku mau minum malah gelasnya tersenggol terus jatuh" Naima tertawa melihat kekhawatiran Alan yang berlebihan
"Tolong jangan bikin aku khawatir Nai"
"Alan please jangan berlebihan!" Naima tersenyum
"Yaudah kamu tidur lagi ya" Alan merebahkan tubuh Naima dan menyelimutinya.
"Kamu enggak pulang Lan?" Naima menatap ke wajah Alan yang duduk di tepi ranjangnya.
"Enggak, aku mau nginep aja disini, nemenin kamu" Alan mengelus-elus kening Naima hingga Naima memejamkan matanya.
Alan akhirnya keluar, ia merebahkan tubuhnya lagi di sofa. Bu Lastri menyuruh Alan tidur dengan Dito, tapi Alan menolak.
Pikiran Alan menerawang, dia masih belum mengerti atas permintaan bu Lastri. Apakah Naima mau di nikahkan dengan dirinya. berbagai macam pertanyaan berkecamuk di hatinya. Hingga malam telah larut Alan mulai memejamkan matanya hingga tertidur pulas.
***
Pagi itu Lastri sedang memasak sarapan, dengan semangat Lastri memasaka makanan kesukaan putrinya. Tanpa ia duga Naima berdiri di belakangnya menatap punggung Lastri yang tanpa lelah mencurahkan segala kasih sayang untuk dirinya dan Dito. Saat Lastri menoleh dia kaget
"Naima! ada apa nak? kamu perlu apa biar ibu siapkan" Tiba-tiba Naima memeluk ibunya, dia menyesal telah berbuat kasar pada ibunya sendiri
"Naafin Naima bu, Naima udah bikin ibu sedih" Naima menangis di pelukan Lastri. Begitupun Lastri yang menangis bahagia karna putrinya yang dulu sudah kembali
"Nggak apa-apa sayang, hem? ibu juga minta maaf ya" Laatri menciumi wajah Naima bertubu-tubi. Dia rindu. Rindu dengan Naima yang suka bermanja-manja saat di dekatnya. Dan sekarang Naima sudah kembali seperti dulu.
Kedua nya larut dalam keharuan hingga aroma sangit tercium dari arah penggorengan
"Oh ya ampun, gosong Nai" mereka tertawa melihat masakannya gosong
Setelah beberapa lama makanan lezat akhirnya tersaji di meja makan. Naima membantu ibu nya dengan semangat.
"kita sarapa sama-sama yuk. Tapi kamu bangunkan Alan yah, dia tidur di ruang tamu" Lastri menunjuk ruang tamu dengan Alan yang tertidur.
Naima bermaksud menjahili Alan, dia membawa segelas air kemudian memercikkan sedikit ke wajah alan yang di tutupi oleh lengannya
"Aah ini apaan sih" Alan menggerutu tapi tak membuka matanya
"Huh dasar kebo! tidur sampe segitunya" Naima kembali memercikkan air ke wajah Alan.
"Aduuh siapa sih mengganggu saja" Alan membuka matanya dan kaget melihat Naima yang tertawa puas mengejeknya.
"Naima..! Aah kamu ini mengganggu saja, aku masih ngantuk" Alan mengucek-ngucek matanya
"Hey udah jam berapa ini, ayo bangun! lihat tuh ibu sama Dito nungguin kamu buat sarapan bareng. Ayo cepat mandi" Naima menarik tangan Alan membawanya ke kamar mandi. Lastri dan Dito hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah jahil Naima
***
Di meja makan semuanya sarapan dengan lahap, Lastri memang pandai memasak. Tak Lama Dito pamit berangkat sekolah.
"Bu, Naima mau kuliah hari ini, bos Naima juga pasti nyariin"
"Apa kamu yakin sudah baik-baik saja" ibu memegang tangan Naima
"Naima baik kok bu, ibu tenang aja"
"Baiklah kalau begitu.. Alan! ibu titip Naima jaga dia baik-baik"
"Iya bu" jawab Alan
"Ibu apaan sih, emangnya Naima anak kecil pakek di titipin segala" Naima menggerutu
"Iya sayang, ibu cuma hawatir aja" Lastri dan Alan pun tertawa melihat Naima merengek.
Naima dan Alan pamit. Naima akan melnjutkan hidupnya kembali, soal hubungannya dengan Vino itu urusan Nanti. Yang penting bagi dirinya kini kerjaan dan kuliahnya akan berlanjut,. semua berkat Alan yang selalu menyemangati. Alan berhasil meyakinkan Naima, bahwa dia gadis yang kuat dan mandiri. mereka berangkat menggunakan mobil Alan, Alan seperti mendapat amanah besar dari bu Lastri untuk menjaga Naima.
"Terimakasih Lan"
"Untuk apa" Alan fokus ke setir mobil yang di kemudikannya
"Segalanya" Naima menyandarkan kepalanya di bahu Alan
"Sama-sama Nai" sementara hati Alan berkecamuk
"Apakah kau akan bisa menerimaku Nai, ibumu memberiku amanah yang sangat besar, aku ragu apakah aku bisa menjalankannya, aku bingung Nai, sebenarnya apa yang ibumu rencanakan"
Alan kembali fokus mengemudi hingga sampai pada tujuan yakni kampus. Seharian ini Alan fokus menjelaskan materi kuliah yang tertinggal oleh Naima. Tapi dengan telaten Naima menyimak penjelasan Alan.
Setelah jam kuliah selesai, Naima bermaksud ke tempat kerjanya. Alan mengantarnya hingga menghadap atasannya.
"Kamu ini kamana aja sih Nai, kok enggak ngasih kabar" kata atasannya
"Iya pak maaf, sayaa" kata-kata Naima terpotong
"Naima sakit pak, dan hari ini dia memaksakan menghadap bapak walaupun keadaannya belum pulih total" Alan berbohong agar bosnya tidak menghujani Naima dengan berbagai macam pertanyaan.
"Baiklah, silahkan kau kembali bekerja"
"Terimakasih pak.. Alan terimakasih, aku kerja dulu ya" Naima berlari ke tempat ganti baju seragam meninggalkan Alan. Alan tersenyum melihat Naima yang kembali bersemangat melakukan aktivitas nya.