Menceritakan kehidupan pernikahan Dokter cantik Rinjani Mahisa dan Mita pramesti yang di peristri oleh Om Ceo tampan.
Bagaiman kelanjutan rumah tangga mereka menghadapi tingkah laku manja dan possesif dari suami mereka.
Sedikit di bumbuhi
konflik rumah tangga yang ringan namun menguras emosi, saat sang mertua menghadirkan wanita untuk menghancurkan rumah tangga anak nya sensiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewiwitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jomblo berbahaya
“Jani kamu kenapa?” tanya Leon saat sudah samapai di hadapan istrinya.
“Mau itu…” Tunjuk Rinjani kearah abang-abang gulali.
Leon mengikuti arah telunjuk Rinjani dan betapa terkejutnya Leon saat tau apa penyebab istrinya menangis.
“Kamu menangisa karena mau membeli gulali?” tanya Leon.
“Iya…” Jawab Rinjani.
“Ya Tuhan, aku berlari kemari dan meninggalkan meeting penting ku hanya untuk membeli gulali. Sabar Leon ini ujian” Gumam Leon dalam hati.
“Ya sudah tunggu di sini jangan menangis lagi, aku akan membelikan kamu gulali.” Ucap Leon.
Leon menyeberang jalan dan membelikan gulali yang di inginkan oleh istrinya itu.
“Ini gulalinya sayang.” Leon memberikan gulali pada Rinjani.
“Terimakasih.” Ucap Rinjani.
Leon menggeleng dengan semua tingkah Ajaib dari istrinya itu, Leon senang saat Rinjnai minta di belikan sesuatu. Karena sebelumnya Rinjani tidak mau merepotkan Leon.
“Pulang sekarang?” Tanya Leon.
“Apa pekerjaan Om sudah selesai?” Tanya Rinjani.
“Belum, justru aku sedang sibuk-sibuknya tapi kamu malah membuat konsetrasi ku jadi buyar.’’ Gumam Leon dalam hati.
“Tidak, hanya sedikit saja biar Dean yang menyelesaikan nya.” Ucap Leon.
Leon mengajak Rinjani untuk pulang.
Di dalam mobil Rinjani bercerita bahwa Bella telah pindah ke Mansion nya.
“Om, Bella sudah pindah ke Masion kita.” Ucap Rinjani.
“Apa kamu yakin bisa tinggal satu atap dengan nya?” Tanya Leon.
“Jani yakin Bella sudah berubah.” Ucap Rinjani.
Leon hanya mengangguk saja dia tidak mau membahas soal Bella lagi karena jika Rinjani sudah bilang jika Bella baik maka dia akan baik di mata Rinjani.
Sesampainya di Mansion Rinjani terkejut dengan apa yang ada di meja makan nya, semua makanan yang dia suka semuanya ada di meja makan.
“Siapa yang masak sayang?” Tanya Leon.
“Rinjani juga tidak tau.” Ucap Rinjani.
Datanglah Bella dengan membawa semangkuk soup daging ke sukaan Rinjani.
“Jani, aku memasakan makanan untuk mu.” Ucap Bella.
Namun di luar dugaan, Rinjani merasa mual saat mencium bau soup daging. Dulu mungkin Rinjani akan suka karena itu adalah makanan kesukaannya namu semenjak dia hamil dia sangat membenci bau soup daging.
“Huekkk huekkk.” Rinjani berjalan menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi dalam perutnya.
“Jani kamu kenapa?” Tanya Bella.
“Rinjani mual saat mencium aroma soup daging, jadi sebaiknya kau jauhkan atau kau buang saja makanan itu.” Ucap Leon dengan ketus.
Leon berjalan menuju kamar mandi untuk membatu istrinya yang tengah mual.
“Sayang kamu tidak apa-apa?” Tanya Leon.
“Tidak apa-apa, hanya saja mual sekali rasanya Om.” Ucap Rinjani.
“Sebaiknya kita kekamar ya sayang.” Ucap Leon dengan menuntun Rinjani menuju Kamar mereka.
“Rinjani maafkan aku, aku benar-benar tidak tau.” Ucap Bella.
“Ahhh, tidak apa-apa, kamu tidak salah.” Ucap Rinjani dengan lemas.
“Sebaiknya kamu tidak usah memasak biar saja Rinjani memasak untuk ku dan dirinya, kamu cukup urus dirimu saja.” Ucap Leon dengan sinis.
“Ahh, iya maafkan saya sekali lagi Om Leon.” Ucap Bella.
Leon dan Rinjani berjalan melewati Bella untuk menuju kekamar mereka.
“Om jangan jutek sama Bella.” Ucap Rinjani.
“Biar saja, lagian Omkan hanya bisa manis sama kamu saja sayang.” Ucap Leon.
Rinjani hanya tersenyum menanggapi perkataan suaminya itu.
Sementara itu di rumah sakit Mita akhirnya di perbolehkan untuk pulang, karena keadaannya yang mulai membaik.
“Om Nion.” Panggil Mita.
“Papa panggilnya, kita kan mau punya Baby. Masa iya masih panggil Om.” Ucap Nion kesal.
“Yang panggil Papa itu anak kita, bukan Mita.” Ucap Mita tidak mau kalah.
“Terserah kamu saja.” Nion berusaha mengalah.
Mita mendekati suaminya yang tengah membereskan perlengkapannya selama di rumah sakit.
“Om, kerumah Jani ya.” Ucap Mita.
Nion memandang istrinya,” Memang mau apa kesana sayang, kamu harus istirahat jangan banyak main.” Ucap Nion.
“Sebenarnya aku mau.” Ucap Mita tergantung.
“Apa…? jangan aneh-aneh sayang.” Ucap Nion curuga.
Mita memberitahu kan apa yang di inginkan olenya kepada Nion dan tanpa pikir panajang Nion segara menuruti pemintaan Mita.
Sedangkan Dean kini tengah pusing akibat perbuatan Boss nya, siapa lagi jika bukan Leonardo.
“Tuhan bagaiman aku bisa punya kekasih jika Boss ku saja tingkahnya sangat menyabalkan seperti ini.” Gerutu Dean.
Bagaiman Dean tidak kesal jika sedari siang handphone nya tidak berhenti bergetar, akibat para pemegang saham marah karena Leon secara tiba-tiba meninggalkan ruang meeting tanpa alasan.
“Akkhhh, aku bis agila.” Ucap Dean.
“Maaf Bapak gila kenapa.” Ucap Kirana yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
“Ohh, astaga kau megagetkan ku Kirana.” Ucap Dean.
“Maaf Pak, saya hanya ingin memberi tahu jika makan malam Bapak sudah siap dan juga saya mau pamit pulag.” Ucap Kirana.
“Temani aku makan, nanti akan akau antar pulang.” Ucap Dean.
“Tidak usah Pak, saya bisa pulang sendiri.” Ucap Kirana.
Dean menatap tajam kearah Kirana,”kenapa kamu selalu menolak jika aku antar pulang?” tanya Dean penasaran.
“Emmm, itu Pak. Kata Pak Leon, Pak Dean itu berbahaya jadi saya tidak boleh berdekatan dengan Bapak.” Ucap Kirana.
“Ya Tuhan Leonardo sialan. Jika bukan atasan ku sudah kuhajar wajah sok tampan mu itu.” Ucap Dean dalam hati.
“Tidak dia hanya bercanda, tunggu di sini aku akan mengambil kunci mobil dan akan mengantar mu.” Ucap Dean.
“Tapi Bapak belum makan, sebaiknya Bapak makan dulu.” Ucap Kirana.
“Tapi kau juga ikut makan ya.” Ucap Dean.
Kiran mengangguk dan berjalan menuju meja makan, Kirana mengambilkan nasi beserta lauk untuk Dean.
“Ohh, seperti ini gambaran jika aku punya istri.” Gumam Dean dalam hati.
“Silahkan Pak dimakan.” Ucap Kirana.
“Kenapa makan mu sedikit?” tanya Dean.
“Emmm, saya memang tidak bisa makan banya jika sudah malam karena nanti perut saya akan sakit.” Ucap Kirana.
“Emmm bagitu.” Ucap Dean.
Kirana dan Dean menyelesaikan makan setelah itu Dean mengantar Kirana untuk pulang.
“Kamu tinggal sendirian?” Tanya Dean.
“Iya Pak.” Ucap Kirana.
“Kamu tidak takut?” tanya Dean.
“Takut si tapi bagamana Kirana kan Cuma sendiri.” Ucap
Dean memandang Kirana,”jika ada yang mengajak mu menikah, apa kamu mau menerima nya?” tanya Dean.
“Hahaha, bagaima bisa Kirana saja jomblo.” Ucap Kirana dengan tawa renya.
“Jodohkan tidak tau kapan datang nya, siapa tau jodoh kamu ada didepan mu.” Ucap Dean dengan tersenyum.
“Memang benar kata Pak Leon, Pak Dean memang laki-laki berbahaya.” Gumam Kirana dalam hati.
Tak berapa lama Dean dan Kirana tiba di depan apartemen Kirana.
“Terimaksih Pak,” ucap Kirana.
“Sama-sama, kalau begitu aku pamit dulu.” Ucap Dean.
“Hati-hati di jalan Pak.” Ucap Kirana.
Dean melajukan mobil nya menjauh dari apartemen Kirana.