NovelToon NovelToon
AKU Bukan Lagi PUTRI

AKU Bukan Lagi PUTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:534.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: pipik sukirno

Kisah seorang gadis yang demi menyelamatkan orang lain harus rela kehilangan ingatannya termasuk identitas dirinya namun justru membuatnya mendapatkan identitas baru yang kemudian merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipik sukirno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode. 21

Dua anak manusia berjalan menyusuri hutan belantara yang lebat nan gelap. Tiada ketakutan dihati mereka, hanya berharap segera keluar dari labirin hutan yang luas.

Seorang gadis yang terus menempeli tubuh seorang pria yang menjanjikannya sebuah kebebasan. Banyak cerita didalamnya, canda tawa dan pertengkaran. Hingga seberkas cahaya menerpa wajah keduanya.

" Oh, kami terselamatkan.. "

Begitulah pemikiran dari keduanya. Namun perjalanan masih panjang. Menuruni bukit nan terjal, menyebrangi arus deras sungai, sampai harus ekstra berhati-hati melewati padang rumput berduri. Rimbunan pepohonan seakan belum habis. Istirhat, dan bergerak kembali. Hari-hari yang melelahkan. Semua usaha dan rasa lelah akhirnya terhapuskan ketika harum wewangian menggelitik indra penciuman keduanya. Mereka benar-benar telah keluar dan bebas.

Hamparan bunga membentang luas dihadapan kedua anak manusia itu. Berwarna-warni dengan kupu-kupu yang beterbangan diatasnya. Keindahan sejauh mata memandang

" Waaaaah akhirnya berhasil keluar juga.. " Sorak si gadis kegirangan.

Sang pria hanya tersenyum kecil melihat tingkah gadis itu yang berlarian diantara bunga-bunga yang bermekaran. Sebenarnya bukan dia tersesat didalam hutan, tapi dia memang sedang menjelajahi hutan itu.

" Hari sudah hampir malam, sebaiknya kita segera pulang. " Ajak pria itu sambil berjalan melewati si gadis yang masih bermain dengan bunga-bunga.

" Pulang ? Pulang kemana ?" Tanya gadis itu kebingungan.

Tak mau ditinggalkan lagi, gadis itu segera menyusul pria tadi dan mengikutinya.

" Kita pulang kemana ?" Tanyanya lagi.

" Rumah. " Jawab pria itu santai.

" Haa ? Tapi aku tidak pernah melihat ada rumah disekitar sini. " Jawabnya tak percaya.

Pria itu tidak menjawab pertanyaan gadis itu dan terus saja berjalan kedepan. Sampai akhirnya dia menghentikan langkah kakinya karena dihadang oleh si gadis.

" Kau benar-benar sedang menipuku kan ?" Katanya kemudian.

" Tidak. " Jawab pria itu santai.

Kemudian pria itu melangkahkan kakinya melewati gadis itu yang masih merentangkan tangannya.

" Hei.. Tunggu !" Teriak gadis itu yang langsung berbalik dan mengejar pria tadi. " Kau bilang kita akan pulang ?" Tanyanya kemudian.

" Ya. "

" Kemana ?"

" Rumah. "

" Tidak ada rumah disini. Kau hanya membodohiku. "

" Disana. Dibalik bukit kecil itu. " Jawab pria itu sembari menunjuk kearah bukit kecil yang dimaksudnya.

" Jangan coba-coba menipuku ya. " Ancam gadis itu.

Tak takut dengan ancaman gadis itu, si pria hanya mengangkat bahu lalu melanjutkan langkah kakinya yang terhenti. Sekitar 15 menit kemudian setelah mereka sampai di atas bukit kecil itu lagi-lagi si gadis menghentikan langkah si peria.

" Mana ? Mana rumahnya ?" Tanyanya tidak sabaran.

" Disana. " Jawab si pria sembari menunjuk kearah pepohonan pinus di bawah mereka.

Gadis itu pun mengedarkan pndangannya mengikuti arah yang ditunjukkan pria itu. Dan benar saja, tak jauh dibawah bukit kecil itu terdapat satu pondok kayu yang dimaksud oleh pria itu.

" Sekarang sudah percaya ?" Tanya pria itu

" Ya. " Jawab gadis itu sumringah.

Setelah menuruni bukit kecil itu smpilah mereka dipondok kayu tersebut. Pondok itu tidak terlalu besar, namun tidak kecil juga. Halamannya sangat bersih seakan selalu dibersihkan setiap hari. Disisi kiri terdapat kayu-kayu yang sudah dibelah siap untuk digunakan sebagai kayu bakar. Sementara di sisi kanan agak belakang terdapat bilik bambu yang digunakan sebagai kamar mandi.

Didalam pondok sederhana itu juga cukup rapi. Tidak banyak ruangan didalamnya mengingat hanyalah sebuah pondok kayu yang sederhana, jadi hanya ada dua ruangan saja. Satu ruangan kecil sebagai kamar tidur, sedangkan satunya lagi adalah satu ruangan besar yang mencakup ruang tamu, ruang makan dan dapur.

" Tidak ada teh, kopi atau semacamnya disini. Hanya ada air hangat. " Ujar pria itu sembari memanaskan air didapurnya.

" Sudah lama sekali rasanya tidak minum air. Air hangat sepertinya pilihan yang sempurna. " Jawab gadis itu.

" Sebenarnya saya punya beberapa daun herbal, dia sangat wangi dan segar jika dijadikan minuman. Apa kau mau mencobanya ?" Tanyanya lagi.

" Selama itu bukan racun, aku tidak masalah. "

" Tenang saja. Saya sudah mengonsumsi ini dalam jangka waktu yang sangat lama. Dan saya masih belum mati. " Jawab pria itu.

Beberapa saat kemudian pria itu menghampiri si gadis yang masih duduk dikursi kayu diruang tamu, lalu memberikan gelas bambu yang mengeluarkan uap panas dari dalamnya.

" Minumlah. " Ujarnya.

" Terima kasih. " Jawab gadis itu.

Untuk beberapa saat suasananya menjadi canggung dan hening. Hanya ada suara tiupan kemudian disusul dengan suara sruputan dari gelas bambu yang digenggam Gadis.

" Sejak kapan kau tinggal disini ?" Tanyanya kemudian untuk mencairkan kecanggungan yang terjadi.

" Emm.. Entahlah. Tidak ingat lagi. " Jawabnya.

" Selama itu kah ?"

" Sepertinya. "

" Apa.. Tidak pernah mencoba membuat tanda seperti garis atau semacamnya untuk menandakan kalau satu hari sudah terlewati gitu ?" Tanya Gadis.

" Pernah. "

Pria pun bangun dari duduknya lalu berjalan kearah salah satu dinding. Kemudian dia memegangi dagunya seperti tengah mengamati sesuatu. Karena penasaran Gadis pun menghampirinya untuk melihat apa yang sedang dilihat oleh Pria.

" Terkadang saya pergi untuk menjelajahi tempat ini. Terkadang lupa sudah berapa lama saya pergi. Atau ada hari-hari yang terlewatkan tanpa memberi tanda, jadi saya memutuskan untuk tidak melakukannya lagi. " Jawabnya sambil menatap dinding itu.

Dimata Gadis, dinding itu adalah sebuah saksi bisu betapa kesepiannya Pria berada ditempat yang entah ada dimana. Garis-garis kecil yang hampir memenuhi dinding itu adalah bukti nyata berapa usia kehadiran Pria ditempat itu.

Dari kejauhan dinding itu hanya terlihat gambar kotak-kotak yang tidak jelas apa fungsi dan kegunaannya. Namun ternyata setiap kotak yang ada mewakilkan bulan-bulan yang telah dilaluinya. Kemudian beberapa kotak kecil itu dia gabungkan lagi didalam kotak besar yang mewakilkan tahun. Dan gambar kotak besar itu tidak hanya ada dua atau tiga, namun puluhan.

" Sudah sebanyak ini kah hari-hari yang telah kau lalui seorang diri ?" Tanya Gadis lirih.

Pria hanya tersenyum kecil sembari mengusap kepala Gadis dengan lembut lalu kembali kekursi.

" Hei, jadi pondok ini kau yang membangunnya ?" Tanya Gadis mengikuti Pria kembali kekursi.

" Saat saya tiba disini, pondok ini sudah ada. Mungkin pernah ada yang menempatinya sebelumnya. " Jawab Pria yang mengedarkan matanya keseluruh ruangan dipondok itu.

" Waw.. Berarti ada orang lain disini. Kau.. Apa sudah pernah bertemu dengannya ?"

" Mungkin. Tapi selama saya disini dan menjelajahi tempat ini, tidak pernah bertemu dengan siapapun. " Jawab Pria seakan ada penyesalan didalam hatinya.

" Tapi kemana mereka pergi ? Ataukah tersesat disuatu tempat ?"

" Mungkin saja. Tapi dulu saat baru pertama kali saya terbangun ditempat ini, sama sepertimu tersesat didalam hutan. Selalu saya memikirkan ingin membuat pondok kayu sederhana diluar hutan itu. Dan saat saya berhasil keluar saya menemukan pondok ini tanpa penghuni. Awalnya saya tidak berani masuk karean saya fikir pemiliknya akan segera pulang. Namun sampai berhari-hari bahkan berminggu-minggu tidak juga ada yang datang, saya memutuskan untuk masuk dan tinggal. Anehnya lagi, pondok ini sangat bersih dan rapi seperti dibersihkan setiap hari meskipun tidak ada orang yang membersihkannya. " Ceritanya.

" Waw ! Bagaimana hal itu bisa terjadi ?" Tanya Gadis takjub.

" Entahlah. "

Malam itu mereka berdua merehatkan tubuh mereka yang lelah setelah perjalanan mereka yg melelahkan selama beberapa hari lalu. Karena Gadis menggunakan satu-satunya kamar yang ada, akhirnya Pria memilih kursi kayu diruang tamu sebagai alas untuknya tidur.

C..u Next eps sobs.. Ku tunggu 👣👣 mu..

1
🌲🌲🌲 🍎🍎🍎 🌲🌲🌲
Wkwkwk 😂😂😂😂😂😂😂😂😂
🌲🌲🌲 🍎🍎🍎 🌲🌲🌲
Gkgkgk 😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂
🌲🌲🌲 🍎🍎🍎 🌲🌲🌲
Hahaha 😂😂😂😂😂😂😂😂😂
🌲🌲🌲 🍎🍎🍎 🌲🌲🌲
😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂
hiro😼
Bikin aku kesel deh ama si lin tuh huh greget aku bacanya pengen gw getok kepalanya huh
hiro😼
Kapan ya nunggu episode shasha cuekin fengying?
hiro😼
Lin fengying ini bagaimana sih? Bilang aja dia malaikat kecil tapi haishhhhh dhlh bikin kesel
hiro😼
Aku semua aja soalnya kaya masuk akal
hiro😼
D dan E
hiro😼
Pasti kaget dan ga nyangka sih thor
hiro😼
Manisss sekaliii andai saja aku bisa seperti mereka😭
hiro😼
Aaminnn thor
hiro😼
Iseng sekali dia, aku aja hampir tidak bisa menahan ketawa🤣
hiro😼
Kok sama😭
hiro😼
Aku dikit dikit paham tapi yah kalau ga paham aku skip aja, semangat thor
hiro😼
Kapan sih sadarnya☹️😭
hiro😼
Ini apalagi, jubaidah?
Erina Munir
waduuh thoor...jangan gitu dòong...masa mentang2 amnesia trud makannya apa aja boleh...itukan haram...
Erina Munir
akuuuuuh....😊
Arlyn
mampir kka, ceritanya sangat menarik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!