Terkadang Tuhan mematahkan hatimu untuk menjauhkanmu dari jodoh yang salah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quemeela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Dia
Aku dan Nina baru selesai joging sore, sekarang joging sore adalah kegiatan rutin bagiku dan Nina, Nina ingin menurunkan berat badannya sementara aku memang senang joging, karena selain ingin menerapkan pola hidup sehat, aku juga ingin refresing dan melupakan masalah yang sedang ku hadapi, dulu aku juga sering joging bersama Arsan.
Pulang dari joging kami ke rumah Nina, disana sudah ada Arsan dan Putri, aku hanya diam dan tidak menyapa mereka, aku duduk di kursi dan ponselku berbunyi, aku sangat senang karena yang menelpon adalah ibu Arsan, ini adalah keberuntunganku, harus kumanfaatkan
“iya hallo ma” semua orang terdiam setelah mengetahui aku sedang menerima panggilan telpon, wajah Arsan cemas karena mengetahui yang menghubungiku adalah mamanya, “Ra lagi apa?” tanya ibu Arsan, “lagi main sama Nina di rumah ma, ada Putri juga disini” aku sengaja memberitahukan bahwa Putri sedang bersama Arsan, ekpresi Arsan langsung berubah menjadi marah padaku saat aku mengatakan putri ada dirumahnya kepada ibunya
Ibu Arsan sangat tidak suka dengan Putri, dia sudah meminta Arsan untuk menjauhinya, bahkan dia sudah meminta keluarga Putri untuk menyuruh putri menjauhi Arsan, namun Arsan memang anak yang keras kepala, dia berbohong pada ibunya mengatakan bahwa dia sudah menjauhi putri tapi kenyataannya hubungan mereka semakin dekat
Dia lagi-lagi marah padaku demi wanita itu, kemarin dia marah padaku dan menuduhku meretas akun sosmednya, baiklah akan kulakan dengan benar sekarang, kalau kemarin aku hanya menghapus foto gadis itu di Instagramnya, sekarang aku tidak hanya akan menghapus foto gadis itu, tapi akan aku unggah fotoku juga di akun Instagramnya
Aku menceritakan hal ini pada teman sekelasku, mereka berpendapat aku terlalu jahat, aku merasa sedikit bersalah, tapi sudahlah ini sudah terlanjur pikirku, walaupun aku sudah mengunggah fotoku dengannya di instagramnya tapi Arsan tidak pernah datang menemuiku lagi, aku pun tidak berani untuk datang ke rumahnya untuk menemui Nina, hanya Nina yang terkadang main ke tempatku
**
Sudah lebih satu bulan sejak aku putus dengan Arsan, tapi aku benar-benar putus komunikasi dengannya dua minggu terakhir ini
Aku baru ingat hari ini adalah ulang tahun ibu Arsan, untunglah ini masih sangat pagi, mungkin ibunya belum ke
kantor, aku tidak ingin mengganggu pekerjaannya jika dia sudah pergi bekerja, aku segera menghubunginya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. “hallo Ra” terdengar suara ibu Arsan, “hallo ma, mama lagi apa?” balasku lembut, “mama lagi masak, Latira lagi apa?” balas ibunya Arsan, “lagi masak juga ma, oh iya selamat ulang tahun mama” ujarku dengan nada antusias, “oh mama lupa, mama ulang tahun hari ini, terima kasih ya Ra” mamanya terdengar senang, akupun ikut senang mendengarnya
Aku duduk di pelataran dekat taman kampus, disini memang disediakan fasilitas bagi mahasiswa yang ingin menikmati wifi gratis dengan kecepatan tinggi, dulu aku sering kesini bersama Arsan, entah itu untuk mengerjakan tugas ataupun sekedar live streaming bersama. Sekarang hanya ada aku disini tanpa Arsan, aku menatap ke arah taman di depanku, tidak tau apa yang kupikirkan, aku terhanyut dalam lamunanku, aku kaget tiba-tiba ada tangan yang menyodorkan es krim ke depan wajahku dari belakang, aku tersadar dan menelusuri pemilik tangan itu, ternyata Arsan, aku tidak percaya dia ada di depanku, dia memang seenaknya, datang dan pergi sesuka hati, dan yang lebih menyedihkan lagi aku tidak bisa menolak kedatangannya apa lagi mencegah kepergiannya.
Aku ingat dulu dia sering memberiku es krim ketika aku sedang marah padanya, dan seketika aku lupa dengan
kesalahannya dan memaafkannya, suasana hatiku memang membaik kalau ada es krim
Namun sekarang entah kenapa es krim ini pun tidak dapat merubah suasana hatiku, aku hanya menatap es krim yang dibawa Arsan, dia meletakkan es krim itu di tanganku, kemudian duduk disebelahku, dia tersenyum, “semangat” ujar Arsan, dia kemudian pergi meninggalkan aku, aku menatap kepergiannya, perlahan dia menghilang dari pandanganku
Dia menyemangatiku dengan memberiku es krim, namun dia sendiri yang membuatku tidak bersemangat dengan
memberiku luka, dia yang telah membuatku patah hati, patah hati terhebat yang aku pun tak tau kapan akan berakhir, dia membuat mimpiku hanya akan tetap menjadi mimpi
Aku adalah gadis yang selalu ingin bersamanya, sanggup berkorban apa pun demi dirinya, aku mengabaikan kuliahku untuk membantunya agar selesai dan wisuda tepat waktu, bagaimana bisa setelah dia wisuda dia mengkhianatiku, siapa yang akan membantuku mengerjakan tugas akhir nantinya, siapa yang akan mendampingiku di hari wisuda