Lana, freshgraduated dari salah satu kampus kecil di pinggir kota akhirnya diterima kerja di sebuah perusahaan ternama di kota besar. Itulah awal mula Lana bertemu dengan Cleo, CEO muda pemilik perusahaan tersebut.
Sayangnya, keberuntungan berjalan berdampingan dengan nasib buruk.
Cloe yang selalu bersikap arogan dan dingin merasa tertarik pada Lana. Perlahan Lana mulai mengetahui rahasia besar yang bersembunyi dibalik sosok yang dingin itu. Begitu semuanya terungkap, Lana tak tahu lagi harus berlari ke mana. Karena pria itu selalu bisa menemukannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika SR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 22 : Bingung?
My Psychopaths CEO
Bagian 22 : Bingung?
By Ika SR
“Aku suka baumu,” ucap Cleo pada Lana.
Lana yang sedang memasang perban pada luka Cleo mendongak. “Benarkah?” tanyanya dengan hati berbunga-bunga.
Cleo mengangguk.
“Ya.”
Lana menunduk, mencoba menahan senyumnya yang mulai terkembang meksipun ia tahu, Cleo mengetahuinya.
“Saya membuatkan satu untuk Anda.”
“Apa?”
“Parfume. Saat di rumah sakit, Anda bilang Anda sudah mencoba membuatnya tapi tidak bisa, kan? Jadi, saya menyiapkan sebotol untuk Anda.”
“Benarkah?” tanya Cleo. Kali ini pria itulah yang merasa merasa berbunga-bunga. Sekarang, dengan parfume itu. Ia bisa tidur dengan nyenyak setiap malam karena ia bisa merasa dekat dengan Alm. Ibunya.
“Sudah selesai, Pak,” ucap Lana sembari membantu Cleo menurunkan kaosnya.
“Ehmm... mungkin kita bisa lanjut lagi,” kata Lana dengan malu-malu.
Cleo tidak bisa menahan senyumnya. Ia mengecup dahi gadis itu, dan membelai rambutnya. “Lain kali saja, ya. Ini sudah terlalu malam,” godanya sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 02:15.
Lana mendesah perlahan dan sejak kapan ia mulai menjadi gadis yang agresif seperti ini?
“Kau mau tidur sekarang?” tawar Cleo. Lana mengangguk. Mereka berdua berbaring dengan posisi Lana yang memeluk Cleo.
“Tunggu!”
Baru saja Cleo ingin memejamkan matanya. Tapi, ucapan Lana membangunkannya kembali.
“Kenapa?”
“Saya tidak bisa tidur dengan posisi seperti ini.”
Mereka melihat kembali posisi mereka berdua, dengan Lana yang hampir menindih Cleo.
“Kenapa tidak bisa?”
“Anda sedang terluka. Jika saya menindih Anda seperti ini, Anda akan merasa kesakitan.”
Cleo tersenyum, luluh dengan perhatian yang Lana berikan kepadanya.
“Lalu kamu mau bagaimana?”
Lana merangkul Cleo, tangannya memegang punggung Cleo dan dengan lembut menariknya mendekat hingga Cleo berguling dengan posisi Cleo berada di atas, menindihnya.
“Seperti ini.”
Cleo mengernyitkan dahinya. “Aku tidak suka diangkat seperti ini,” protesnya.
Lana tertawa. “Anda mungkin tinggi. Tapi, tubuh Anda sangat ringan. Jadi, mengangkat Anda bukanlah hal yang sulit.”
Cleo memasang wajah masam. “Ya, tapi jangan lakukan lagi.”
“Saya tidak janji.”
“Hentikan.”
Lana terkekeh.
Mereka berdua saling pandang. “Lalu bagaimana caranya aku bisa tertidur jika seperti ini,” protes Cleo.
Lana mengangkat kepalanya, menahan tawanya begitu melihat wajah Cleo terhalang oleh dadanya.
“Anda bisa menggunakannya sebagai bantal,” kata Lana sambil memberi isyarat dan melirik dadanya.
Cleo mencoba meletakkan kepalanya di dada Lana melakukan apa yang wanita itu perintahkan. “Tidak bisa. Terlalu tinggi. Leherku sakit.”
“Lalu bagaimana?”
“Perutku yang terluka malah tertindih jika seperti ini.”
“Ah, iya. Maaf, Pak.”
Cleo berguling ke samping, berbaring di sebelah Lana. Lalu tidur menyamping ke kiri menghadap Lana.
“Tunggu!”
“Kenapa lagi?”
“Luka Anda ada di sebelah kiri. Jangan tidur menyamping ke kiri.”
“Argh! Tadi, aku tidur menyamping ke kiri juga.”
“Iya, tapi saat itu saya belum menyadarinya.”
Cleo merasa matanya sudah berat, tak kuasa menahan kantuk. “Kita mau tidur jam berapa? Ini sudah pukul 03:00,” katanya sambil melirik jam dinding.
“Sebentar, begini saja. Anda menyamping ke kanan. Agar luka Anda tidak tertindih. Saya yang akan memeluk Anda dari belakang.”
Cleo menurut. “Tapi, aku tidak bisa melihat wajahmu.”
“Kalau begitu biar saya pindah ke depan Anda,” kata Lana sembari pindah tempat ke depan Cleo.
“Begini?” tanyanya kemudian.
“Iya, begitu.” Cleo mengangguk. Mereka tidur saling berpelukan.
“Hujan sudah reda,” kata Lana.
“Heem, tapi masih dingin.”
Lana tersenyum, ia menggeser tubuhnya lebih dekat.
***
Lana membuka matanya, ia masih meringkuk nyaman dalam balutan selimut dan hangatnya ranjang.
Ia mengusap matanya yang masih terasa buram dan terkejut begitu melihat jam dinding. Sudah pukul 09:10. Ia sudah terlambat satu jam lebih.
Lana ingin bangkit dari ranjangnya, tapi ia tak tega begitu melihat Cleo yang masih tertidur lelap dan memeluknya erat. Lana menggoyangkan tubuh Cleo perlahan. “Pak, ini sudah siang. Kita terlambat untuk bekerja.”
Cleo menggeliat, tapi enggan melepaskan pelukannya. “Berbaringlah.”
“Tapi, kita sudah terlambat.”
“Tenang saja, aku bosnya,” ucap Cleo lirih. Masih dengan mata terpejam.
“Tapi,”
“Sebagai CEO-nya aku telah menetapkan hari ini sebagai hari libur untuk kita berdua.”
Lana tersenyum sembari menggeleng. Yah, ini adalah salah satu hal positif memiliki “teman pria dekat” yang merupakan bos besar di tempatnya bekerja.
Lana kembali berbaring, tidur lagi.
***
13:00
Harum bau masakan yang sedang ditumis mengular di udara. Cleo yang masih terlelap dalam tidurnya mulai terbangun. Sudah tengah hari, ia mulai merasa lapar.
Ia bangkit dan berdiri. Baru kali ini, saat bersama Lana. Ia merasa seperti manusia biasa yang bisa merasakan semua perasaan normal seperti manusia lainnya dan Cleo tak ingin kehilangan hal itu.
Ia berjalan menuju dapur.
Memeluk Lana dari belakang sembari menyandarkan kepalanya pada tengkuk gadis yang tengah di peluknya. “Masak apa hari ini?”
“Saya sedang memasak tumis, Pak. Anda pasti suka,” ujar Lana dengan percaya diri.
Cleo mengangguk. “Panggil saja aku Cleo dan berbicaralah dengan santai saat kita tidak sedang berada di kantor.”
Lana menoleh pada Cleo dan Cleo langsung mencium Lana di bibir. Ciuman ringan itu disambut Lana dengan senang hati. Ia memang belum mengenal Cleo lama.
Tapi, Lana merasa sudah lama bersama Cleo dan saat saat seperti ini adalah saat yang paling menyenangkan dalam hidup Lana. Akhirnya, setelah belasan tahun. Ia punya seseorang yang bisa diandalkan selain Reno yang statusnya hanya “sahabat” atau sekedar “saudara”.
Sekarang Lana punya seseorang yang mau menggandeng tangannya dan berdiri di sampingnya.
Tak lama kemudian, masakan yang Lana buat sudah matang dan siap untuk disajikan.
“Oke, jadi Cleo. Kau mau makan sekarang?” tanya Lana dengan nada santai sesuai permintaan pria itu barusan.
Cleo yang sudah dengan sendok dan garpu di tangannya mengangguk dengan mantap. Lana membawa beberapa piring penuh makanan dan menatanya di meja.
Ada tumis kangkung, nasi putih, teh hangat, gorengan dan sambal.
Cleo tahu, jelas ini bukan makanan yang biasa ia makan sehari-hari. Tapi, ini adalah makanan penuh cinta yang Lana buat untuknya dan Cleo sangat menghargainya.
Ia tak mungkin, melukai hati seorang wanita yang menaruh perhatian tulus padanya.
Lana duduk di samping Cleo begitu ia selesai menata meja. “Cleo, maaf ya. Aku hanya punya ini.”
Cleo menggeleng dengan cepat. “Tak apa. Aku suka tumis sawi kok,” kata Cleo sambil memandang benda hijau yang berada di atas piring.
Lana mengerutkan dahinya. Begitu tahu, ia tertawa perlahan.
“Kenapa kau tertawa?” protes Cleo.
“Sayang, itu bukan sawi tapi kangkung.”
Cleo berusaha menahan rasa malunya. “Ya, sama saja kan?”
“Kau pernah makan tumis kangkung?”
Cleo memalingkan wajahnya. “Iya, aku sering memakannya.”
“Cleo?”
“Ya?” jawab Cleo yang masih berpaling.
“Kau bohong ya?”
Dengan cepat Cleo menoleh, memandang Lana. “Tidak kok.”
Lana mendesah pelan. “Aku tahu kalau kamu sedang berbohong. Jadi, berhentilah. Kau belum pernah memakan kangkung, kan?”
Cleo menggeleng. “Yah, mungkin pernah saat kangkung ini dicampur dengan makanan lainnya.”
Lana tertawa. “Kalau begitu cobalah. Kau pasti akan menyukainya.”
Lana mengambil piring dan menyiapkan makanan untuk Cleo. Awalnya Cleo merasa ragu. Namun, begitu suapan pertama masuk ke dalam mulutnya. Ia tidak bisa berhenti mengunyah.
Makanan ini lebih lezat dibandingkan makanan di restoran bintang lima yang selama ini selalu dikunjunginya.
“Enak?”
Cleo hanya mengangguk, mulutnya sibuk mengunyah.
“Kau menyukainya?”
Cleo mengangguk lagi.
“Kau mau tambah sambal?” tanya Lana. Cleo mengangguk lagi.
Lana menaruh satu sendok sambal di piring Cleo dan pria itu langsung menyendoknya.
Lana memerhatikan Cleo dengan saksama. Ia sendiri masih belum menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Memandang Cleo menyantap makanannya dengan lahap saja sudah membuatnya bahagia.
“Kenapa?” tanya Lana dengan heran begitu melihat Cleo menghentikan aktivitasnya.
“Hei, jangan menangis,” ucap Lana dengan lembut.
“Ah, apa ini?” tanya Cleo sambil menunjuk sambal yang masih tersisa di piringnya.
“Oh, itu sambal bawang. Pedas, kah?”
Cleo mengangguk, tangannya sibuk mengipasi mulutnya yang terasa panas.
“Ini minumlah,” ucap Lana sembari menyodorkan segelas minuman pada Cleo. Pria itu langsung meneguk habis minuman yang diberikan Lana.
“Argh! Kenapa kau menaruh sambal di piringku!” protes Cleo.
“Kan, tadi kau sendiri yang memintanya.”
Cleo mendengus kesal.
Reno kelihatan nya aja care tapi aku antang lihat cewek ditampar sama cowok apapun salahnya. kalo nanti Reno nikah sm lana dikit2 main tampar.. lbh ngeri dr Cleo
pdhl ini slh satu novel yg sering q tunggu² up nya ...
sayang sekali klw crta nya gk diteruskan ...
pdhl jln crta nya sangat bgs ...
apapun kesibukan author skrng,smga ntk bisa lagi y ....
seneng bgt pas dpt notif nya ..
berharap nya seh,smga novel nya msh diterusin crta nya ...
pengen tau endingnya gmn ...
gmn nasipnya cleo ..
semangat thor