Gadis Bellova yang terjebak di rumah mewah milik pria yang baru dikenalnya, Elan Ferdiand Bocelli. Tempat di mana membawanya terjerumus ke dalam masalah besar hingga akhirnya Gadis Bellova menjadi tahanan oleh pria tersebut. Namun tidak disangka ada sesuatu yang tersembunyi diantara mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehamilan Terjadi
Tiga bulan sudah berlalu, Gadis terbaring di ranjangnya. Tatapan matanya kosong penuh arti dan bertanya-tanya dalam hatinya juga pikirannya, ke mana kah suami yang sudah berbulan-bulan tanpa kabar berita? Akankah Gadis kehilangan seseorang lagi dalam hidupnya? Sungguh malang nasib Gadis. Dan beruntungnya Gadis masih mempunyai Devan yang selalu peduli dan menjaganya dengan penuh kasih sayang serta perhatian. Devan tidak pernah sedikit pun tenang melihat Gadis menderita. Devan selalu memperhatikan Gadis kesehariannya. Devan takut akan terjadi sesuatu pada Gadis.
"Gadis, sudah seminggu kamu terbaring sakit di kamar ini, mending kita ke Rumah Sakit. Kakak khawatir sama kamu, mau ya?" bujuk Devan cemas.
"Kak, apa belum ada kabar dari Elan?" tanya Gadis balik dengan suara lemahnya.
"Belum ada, John bilang Elan masih sibuk di Italia. Ada beberapa masalah yang dihadapinya di sana. Tapi John tidak bilang permasalahannya itu apa," jelas Devan.
"Tapi kenapa Elan tidak pernah mengabariku?"
"Kakak tidak mengerti, Gadis. John melarang Kakak jangan sering-sering ke Ferdiand Group. John berpesan kalau Kakak harus menjaga kamu baik-baik. Kakak bingung, pasti ada sesuatu yang disembunyikan dari mereka," Devan menatap Gadis sembari membelai kepala Gadis yang tertutup dengan hijabnya.
Gadis yang sebagai istri Elan saja tidak mengerti maksud ucapan dari John, apalagi Devan. Yang dipikirkan Gadis saat ini adalah mungkin Elan sedang banyak masalah, mungkin juga dia membunuh banyak orang seperti yang pernah dilihat Gadis waktu memasuki ruang rahasia bawah tanah di kediaman Elan dan bisa jadi Elan sedang bersenang-senang bersama teman-temannya atau wanita-wanita Italy yang jauh lebih cantik dan seksi dari pada Gadis.
Gadis sudah menyerahkan semua jalan takdirnya pada sang Maha Pencipta. Gadis terbiasa sejak kecil sudah ditinggal pergi oleh orang-orang tercinta. Gadis sudah mengikhlaskan semua kisah hidupnya. Gadis sangat tahu bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang berarti dalam hidupnya. Jadi Gadis harus kuat dan sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan.
Dan bila sekarang, jika memang suaminya pergi meninggalkannya, mungkin karena kesalahan yang sudah dibuat oleh Gadis karena pada kejadian pembunuhan yang dilakukan Elan dengan lancang Gadis melihatnya. Mungkin Elan membalaskan dendam pada Gadis dengan melukai hatinya dan merenggut kehormatannya pada satu malam. Itu lah yang ada dipikiran Gadis.
"Ayo, kamu siap-siap sekarang lalu kita berangkat ke Rumah Sakit. Kakak tunggu kamu di bawah," ucap Devan yang diangguki oleh Gadis dengan pelan, Devan pun melangkah keluar kamar Gadis.
Gadis telah siap dan mereka pun langsung menuju Rumah sakit dengan menggunakan mobil. Gadis terlelap di dalam mobil, wajahnya cukup pucat dan lemah. Devan tidak tega membangunkan Gadis saat mobil yang dikendarainya telah sampai di Rumah Sakit.
Devan memandangi wajah Gadis sembari membelai wajah Gadis dengan tangannya lembut. Devan mencuri kesempatan saat wanita pujaan hatinya terlelap. Jika Gadis tahu maka Devan akan dipukulnya. Tak lama kemudian Gadis pun bangun saat ada sentuhan-sentuhan kecil yang menari-nari di pipinya.
"Kak Devan, Kakak menyentuhku?" tanya Gadis menatap Devan yang tangannya langsung ditarik kembali oleh Devan cepat.
"Emm ... biar kamu bangun, Gadis!" Devan tersenyum simpul.
"Ih, Gadis sudah katakan jangan pernah lagi menyentuhku!" penegasan dari Gadis.
"Ok, maaf Tuan Putri, ayo turun!" ledek Devan bercanda.
Mereka duduk sembari menunggu panggilan dari perawat. Tak lama kemudian mereka berdua masuk ke dalam ruang dokter kemudian Gadis berbaring di ranjang dan mulai diperiksa oleh dokter.
"Kamu itu kelelahan dan sepertinya kamu banyak pikiran, makanya darah kamu rendah. Saya sarankan jangan terlalu memikirkan sesuatu yang membuat kamu drop. Kasihan kandungan kamu, dan sangat berpengaruh pada janin kamu yang masih muda," kata dokter secara detil dan membuat Gadis serta Devan terdiam sejenak mencerna ucapan dokter.
"Kandungan? Janin? Apa maksudnya, Dok?" tanya Devan panik.
"Istri anda hamil, Pak. Apa kalian belum tahu? Coba deh, habis dari sini kalian periska ke dokter kandungan," saran dokter menyampaikan pada Devan yang disangka suaminya Gadis oleh dokter itu.
"I-iya dokter, terima kasih," jawab Devan gugup dan beralih menatap Gadis yang terdiam tanpa arti dengan raut muka datar.
"Gadis, kamu baik-baik saja?" tanya Devan lembut pada Gadis yang masih terbaring.
Gadis mengangguk pelan dan menatap Devan yang sepertinya banyak pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Devan pada Gadis.
Devan membawa Gadis ke ruang dokter kandungan untuk memastikan apakah Gadis benar-benar hamil seperti yang dikatakan dokter sebelumnya yang memeriksakan Gadis. Saat pemeriksaan ke dokter kandungan selesai, hasilnya begitu membuat Gadis sedikit kaget sedangkan Devan merasa tidak suka dengan kabar tersebut.
Kandungan Gadis berusia 12 minggu dari hasil pemeriksaan dokter. Gadis sangat terpukul hingga dia tidak mengucapkan kata apapun saat mendengar bahwa dia sedang mengandung anak Elan. Elan yang membuat dirinya terluka dan menahan beban sendirian jika anak yang dikandung Gadis sampai dilahirkan.
Gadis langsung memasuki rumahnya setelah mobil terparkir di halaman rumahnya. Devan mengikuti Gadis di belakangnya hingga masuk ke kamar Gadis. Gadis duduk di ranjang dan menyandarkan tubuhnya di sana.
"Gadis, Kakak tahu perasaan kamu sekarang. Kakak mohon jangan menyakiti diri kamu sendiri, lupakanlah dulu tentang Elan. Pikirkan janin yang ada di perut kamu. Kakak akan selalu berada di sisi kamu, kapanpun itu!" ucap Devan menghibur Gadis.
"Terima kasih ya, Kak. Tanpa Kakak, Gadis nggak bisa sekuat ini. Gadis sayang sama Kakak, tolong jangan pergi tingkalkan Gadis!" Gadis menangis dan beralih menyandarkan kepalanya ke bahu Devan.
"Kakak tidak akan tinggalkan kamu, Kakak juga sayang sama kamu, hanya kamu yang Kakak punya sekarang. Tanpa kamu Kakak kesepian. Kakak bersedia jika anak kamu nanti menganggap aku sebagai ayahnya," ujar Devan penuh harap.
*******
Kediaman Elan di Italia
"Gadis, tunggulah sebentar lagi. Aku pasti akan datang menjemput kamu. Jaga diri kamu baik-baik selama aku tidak di samping kamu, mengerti?" memegang kedua tangan Gadis dengan erat.
"Kamu bohong, sudah keberapa kalinya kamu berjanji, tapi mana buktinya. Kamu tidak pernah menepati janji kamu padaku. Kamu pembohong!" Gadis melepaskan tangannya dari genggaman Elan, menangis dengan lirih.
"Kali ini aku janji, bakal jemput kamu. Lihat saja nanti, sayang!" Elan meyakinkan Gadis penuh harap.
"Aku sendirian, aku sakit, aku terluka, aku kedinginan, aku butuh sandaran kamu, aku membutuhkan kamu, Elan!"
"Aku membutuhkan kamu."
"Kami membutuhkan kamu."
"Kami membutuhkan kamuuu!!!"
"Aaaa!" Elan teriak begitu kuat dan terbangun dari alam mimpinya.
Elan memegangi kepalanya dan mencoba mengingat mimpi yang baru saja dialaminya. Elan mengingat Gadis berada dalam mimpinya. Tidak salah lagi, itu adalah Gadis yang sedang meneriaki 'kata aku dan kami'.
"Kami? Kenapa Gadis berkata kami? Apa maksudnya? Pasti Gadis sangat membenciku. Maafkan aku Gadis, Aku terlalu pengecut, pengecut, pengecut!" Elan memukul-mukul kepalanya dengan penyesalan.
"Arghhh...!" Elan melempar batal disekitar dirinya ke sembarang arah.
lanjutkan cerita cinta king dan jelita
suka deh Ama king