Tajuk Hendrawan adalah seorang CEO muda yang terkenal akan keuletannya, tapi saat dia jatuh cinta kembali dengan seseorang yang tiga tahun lalu pernah hadir dalam hidupnya, membuat semuanya berubah, bahkan Tajuk yang belum merelakan cinta lamanya memilih untuk mengejarnya kembali, apa lagi perpisahannya dahulu karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab, membuat Tajuk tidak bisa menerima kenyataan perpisahan mereka.
sedangkan Rindu adalah seorang wanita biasa, sebagai karyawan biasa tidak ada hal yang menonjol darinya. sampai saat kisah cintanya yang rumit terulang kembali. Kini cinta segitiga yang di alaminya begitu membuat Rindu serba salah.
Alfian orang yang paling peduli akan Rindu, mencintai Rindu dengan setulus hati. Bahkan Alfian dengan sabar menanti kesiapan Rindu menerima cintanya.
Lantas bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Bagaimana kisah asmara mereka???
Silahkan di baca ya!!
PERINGATAN!!!
BANYAK TYPO DIMANA MANA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahayu Avilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melampiaskan kerinduan
Setengah jam sudah berlalu, namun Tajuk belum juga membicarakan masalah kenapa kini Rindu menjadi sekretaris pribadinya? Tajuk masih asyik dengan pekerjaannya, bahkan dari tadi pandangannya tidak lepas dari laptop di depannya.
Rindu sudah mulai kesal dengan sikap Tajuk yang sudah mengabaikannya, bahkan seakan tidak menganggap dia ada, di liriknya Tajuk yang kini sedang melakukan panggilan Video, dan dari suaranya Adalah seorang perempuan.
'Cih, dia mengabaikanku demi perempuan di ponselnya, sebaiknya aku keluar saja, dari pada mendengarkan dia bicara dengan wanita lain.' Batin Rindu.
Rindu pun beranjak dari duduknya, dan meletakkan kembali buku yang telah di bacanya ke rak di samping meja. Lalu dia bergerak mendekati pintu keluar.
"Sweety!! Mau kemana?"
'Apa-apaan mas Tajuk, dia memanggilku seperti itu di kantor, bahkan di saat sedang melakukan panggilan video lewat laptopnya.' Batin Rindu.
Bukannya menjawab Rindu mangabaikan panggilan Tajuk, ketika ia akan menarik gagang pintu, ia terkejut ketika pintu itu terkunci.
'Kenapa terkunci? Bukankah tadi pintu ini tidak terkunci, bahkan tadi Nia masuk dan keluar juga tidak terkunci.' Batin Rindu kebingungan sendiri karena mendapatkan fakta bahwa pintu itu terkunci.
Dari kejauhan Tajuk menyeringai senyum penuh arti, tatapannya tajam ke arah Rindu yang sedang kebingungan.
"Sebentar Sera." Kata Tajuk menjeda pembicaraannya di video call tersebut. Lalu ia berjalan mendekati Rindu yang masih berusaha membuka pintu tersebut.
"Sudahlah Sweety, usahamu tidak akan berhasil, yuk ikut denganku." Kata Tajuk yang tiba-tiba sudah berada di belakang Rindu.
Rindu yang masih kesal itu pun hanya mengikuti Tajuk, bukannya mengajaknya duduk di sofa untuk bicara, namun malah membawanya ke kursi kebesarannya.
Rindu bingung kenapa justru Tajuk membawanya untuk menuju kursi kebesarannya, Tajuk duduk kembali ke kursi kerjanya, ia memberi kode pada Rindu untuk duduk di pangkuannya.
"Hah!!" Rindu seakan tidak mengerti dengan maksud Tajuk kali ini.
"Duduklah." Kata Tajuk akhirnya.
Rindu pun menuruti permintaan Tajuk, untuk duduk di pangkuannya, ketika Rindu menghadap laptop yang ada di depannya, Rindu sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya saat ini.
'Jadi dari tadi itu mas Tajuk sedang rapat melalui vidio, dengan beberapa orang di luar negeri.' Batin Rindu yang kini bisa di pastikan mukanya merah semerah tomat karena malu.
"Dia istriku, kita bisa melanjutkan lagi, sampai di mana tadi? Sera coba ulangi lagi persentasimu." Kata Tajuk seakan secara tidak langsung sudah mengumumkan posisi Rindu saat ini.
Deg..deg..deg..
Jantung Rindu berdetak lebih kencang dari sebelumnya, bagaimana mungkin Tajuk tanpa beban memperkenalkannya pada orang yang ada di vidio tersebut, bahkan kini tangannya memeluk Rindu.
'Mas Tajuk benar-benar tidak tahu malu, kenapa dia malah memeluk seperti ini di hadapan anak buahnya.' Batin Rindu. Sambil berusaha melepaskan tangan Tajuk dari perutnya.
Namun bukannya mengendor, Tajuk malah menautkan jari jemarinya sehingga membuat pelukan Tajuk semakin erat. Di layar laptop tampak beberapa orang yang dengan serius melakukan rapat itu, bahkan mereka seakan tidak terganggu dengan ulah Tajuk saat ini.
Sera salah satu orang kepercayaannya, yang ia tugaskan di luar negeri, ia sedang persentasi mengenai kemajuan perusahaan. Bahkan ada juga beberapa orang yang bergantian melaporkan pekerjaan mereka melalui rapat tersebut.
Dengan pasrah akhirnya Rindu mengikuti jalannya rapat tersebut, ia tidak lagi berusaha memberontak, bahkan kini Rindu mulai mengerti sedikit demi sedikit isi dari rapat tersebut.
"Ok, untuk rapat kali ini kita sudahi sampai di sini dulu, aku tunggu laporan kalian minggu depan."
"Baik Boss." Jawab mereka kompak.
Lalu Tajuk mematikan panggilan vidio tersebut, dan menutup laptopnya, kini perhatiannya tertuju pada Rindu yang masih berada di pangkuannya.
"Kenapa kamu cemberut begitu, hem?" Tanya Tajuk sambil menarik dagu Rindu supaya menghadap ke arahnya.
"Ck, sekarang katakan, kenapa dengan seenak hati pak boss satu ini memindahkanku menjadi sekretaris pribadinya?" Kesal Rindu.
"Hahaha, ternyata gara-gara itu kamu kesal." Kata Tajuk seakan tak merasa bersalah.
"Tentu saja, bukankah mas sudah sepakat untuk tidak mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi." Kata Rindu benar-benar kesal dengan sikap Tajuk yang seenaknya sendiri itu, ia pun berdiri dari pangkuan Tajuk.
"Siapa yang mencampurkan masalah pribadi ke dalam pekerjaan, Sweety?" Kata Tajuk, menggenggam tangan Rindu.
"Lalu apa namanya? Mas dengan sengaja memindahkanku menjadi sekretaris mas, kalau bukan mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan."
"Aku hanya ingin bisa melihat istriku terus selama aku bekerja, kalau kamu menjadi sekretaris pribadiku, tidak akan ada lagi yang berani menatapmu, bahkan mendekatimu, lagian dengan begini kan pekerjaan beres, masalah kita juga beres, sweety." Kata Tajuk menarik tangan Rindu supaya mendekat.
"Ck, baiklah kali ini mas menang, jadi sekarang katakan apa yang harus aku lakukan di saat aku sudah menjadi sekretaris pribadimu, Mr. Tajuk Hendrawan?" Tanya Rindu seakan dengan nada menggoda.
Tajuk memencet sebuah remot, entah remot apa karena Rindu sendiri tidak tahu akan fungsi dari remot yang ada di salah satu tangan Tajuk saat ini.
"Untuk saat ini kamu tidak perlu melakukan apa-apa, cukup duduk diam di sampingku saja, Sweetyku." Kata Tajuk dengan menghentakkan tangannya sehingga Rindu yang reflek itu terjatuh di pangkuan Tajuk.
Deg..deg..deg..
Jantung Rindu berdetak kencang, seperti saat tiga tahun yang lalu. Saat dimana dia selalu menghabiskan waktu bersama dengan Tajuk.
Tajuk pun meraih tengkuk Rindu dan dia mendekatkan wajahnya tepat di depan Rindu lalu bibirnya mulai mencium bibir merah Rindu. Mata Rindu terbuka lebar, bagaimana bisa suaminya ini tanpa aba-aba langsung menciumnya begitu saja.
Ciuman Tajuk begitu lembut, dan terasa hangat, sehingga kini Rindu justru malah menikmatinya, dan membalas ciuman tersebut, posisi Rindu yang duduk di pangkuan Tajuk dengan kedua tangannya melingkar di leher Tajuk membuat mereka semakin merasakan gairah yang sudah lama terpendam.
Ya tentu saja tiga tahun mereka terpisah, dan saat ini lah Rindu baru menerimanya kembali, kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Tajuk yang sudah lama merindukan istrinya tersebut, Tajuk melumat bibir Rindu tanpa ampun.
Bahkan Tajuk sengaja menggigit bibir bawah Rindu supaya dia bisa mengabsen seluruh isi di dalam mulut sang istri, ciuaman yang tadinya hanya untuk melepas kerinduan, kini sudah beralih menjadi ciuman yang hot, bahkan seakan keduanya larut dalam ciuman panas tersebut.
Tangan Tajuk perlahan memasuki baju kemeja Rindu, sesaat Rindu menghentikan aktifitas tangan nakal Tajuk yang seakan ingin terus menelusuri lekuk tubuh Rindu.
"Mas!!" Kata Rindu dengan nafas terengah-engah menahan gejolak di dalam tubuhnya yang terasa semakin tidak bisa dia kendalikan.
"Aku menginginkannya Sweety." Bisik Tajuk tepat di depan bibir Rindu.
"Tapi ini di kantor." Kata Rindu seakan mengingatkan di mana mereka saat ini berada.
"Akulah Bossnya, siapa yang akan berani macam-macam denganku." Kata Tajuk seakan itu ancaman bagi siapa pun yang mengganggu kesenangannya saat ini. Tajuk pun kembali mencium bibir Rindu dengan lembut, melumatnya, bahkan dia seakan melampiaskan semua kerinduannya selama tiga tahun ini.
Tangan Tajuk kembali menelusuri tubuh polos Rindu dari balik bajunya, bahkan tanpa ragu tangan Tajuk memasuki area di balik Bra Rindu saat ini, desahan lirih terdengar dari mulut Rindu, dan itu sukses membuat Tajuk semakin bergairah.
Tanpa mereka sadari, Nia yang tadi sudah mengetuk pintu namun tidak ada jawaban itu pun membuka pintu ruangan tersebut, dia terkejut melihat pemandangan di depannya, sehingga berkas yang di bawanya jatuh ke lantai.
Rindu langsung melepaskan ciuman panas mereka, dia segera berdiri dan membenahi penampilannya, wajah Rindu kini merah karena malu, dia tidak menyangka pintu yang tadinya terkunci kenapa bisa kini di buka dengan mudah oleh Nia sekretaris Tajuk.
"Ma-maaf pak Boss sa-saya tidak tahu kalau anda sedang sibuk, kalau begitu saya permisi." Kata Nia gugup.
"Nia!! Tunggu, bawa berkas itu kemari." Perintah Tajuk seakan ini bukan masalah besar.
Dengan gemetar Nia melangkah masuk ke dalam, dia melirik sekilas pada Rindu, terlihat Rindu masih tampak merah mukanya karena malu, lalu dia memberikan berkas-berkas itu pada Tajuk.
Seakan mengerti dengan sorot mata Nia yang menilai buruk tentang Rindu, membuat Tajuk menarik pinggang Rindu dan kini Rindu pun kembali duduk di pangkuan Tajuk.
☆☆Bersambung☆☆
semangat 💪💪
jgn main potong" ajha 😏😏😏
rindu bilangnya ke Alfian tajuk yg meninggalkan
aku baru terjumpa dgn novel mu
keren sungguh jalan ceritanya.
ada sambungannya tak?