•Typo bertebaran dimana-mana, beberapa part di private
•Cerita ini tidak direvisi, jadi tolong dimengerti jika ada yang aneh atau tidak nyambung
• My original work
******
Laura sebagai mahasiswi yang terkenal sangat nakal dikampusnya, dan Reyhan sebagai dosen yang kejam bagi Laura. Laura sengaja sering telat agar ia tidak perlu berlama-lama mendengar penjelasan materi yang dijelaskan Dosennya Reyhan. hingga kemudian temannya Laura bernama Indah tak tahan jika Reyhan terus mengajar dikelas Laura dan Indah dan akhirnya Indah menyukai dan jatuh cinta pada Reyhan, lalu Indah meminta Laura untuk membantunya agar Reyhan mau menerima pernyataan cinta Indah, namun usaha Laura dan Indah gagal...
bagaimana kelanjutannya?
yuk dibaca ya...
jangan lupa vote, rate 5, like, dan komen
bye~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otaku_Wibu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
(Buat yang bingung motornya darimana, itu dari si Ridwan ged, dikirimi sama asisten si Ridwan itu)
____________
*Sesampainya rumah kak Ridwan
Tok tok tok
"Kak Ridwan! kak!" teriak ku dari luar rumah
"Iya-iya bentar!"
Clek
"Kenapa?"
"Motornya Laura taroh sini dulu, dan jemput Laura jam 21.00 malam nanti"
"Lho? emang kamu mau kemana?"
"Ke Jakarta"
"Hm? alasannya?"
"Kepooo...."
"Dah kak Ridwan!"
Aku berlari dari rumah kak Ridwan menuju hotel, kebetulan hotelnya tak terlalu jauh dari rumah kak Ridwan
*******
*Di kamar hotel
"Halo Cin"
"Iya presdir? ada apa?"
"Tolong suruh salah satu orang jemput saya di hotel xxxx"
"Oh baik presdir"
Tutt tutt
Aku mengambil tas dan memasukkan beberapa buku juga buku pr. Aku keluar dari hotel, ternyata sudah ada yang menungguku. Aku masuk kedalam mobil sambil beristirahat sebentar
.
.
.
.
.
*Sesampainya di Jakarta
Aku menuju rumah mas Reyhan. Setelah sampai, ku ketuk pintunya
Tok tok tok
"Om Farrel, tan Viola.."
Clek
"Eh nak Laura" ujar tante Viola
"Hehe iya tan, hum.. mas Reyhan nya ada dirumah tan?"
"Ada tuh, dikamar. Tadi tante panggil suruh makan, nggak ada jawaban, terus pas tante cek.. pintunya dikunci, tapi.. tante sempet nyentuh badannya pas pulang, suhunya panas. Tante khawatir Rey kenapa-napa"
"Gitu ya tan.. Laura.. boleh masuk nggak tan? ke kamar mas Reyhan"
"Boleh, silahkan"
Aku masuk kedalam rumah itu, yang kurasakan hanya suasana sunyi.. hanya suara televisi yang menyala. Tante Viola duduk di sofa bawah bersama om Farrel, aku mengetuk pintu kamar mas Reyhan
Tok tok tok
"Mas... ini Laura, buka pintunya"
Clek
Pintu kamarnya terbuka, ku lihat tatapan matanya juga wajahnya itu. Dia langsung menyenderkan kepalanya lalu memelukku, ku nafasnya juga ku cek suhu tubuhnya, panas
Dia menarikku masuk, kemudian kembali menutup pintunya. Kini kami duduk dipinggir kasur, dia kembali menyandarkan kepalanya dipundakku
"...mas udah makan?"
"Belum"
"Mas kenapa enggak bilang ke tante Viola?"
"Males, lagian sekarang mereka enggak peduli lagi. Kalau mereka mau lihat mas, bilang aja enggak bisa dan kalau berusaha keras untuk ketemu sama mas, mas pergi dari mereka dan nggak akan balik selamanya"
"Tapi Laura boleh kan?" timpalku
"Tentu.. dengan senang hati"
Aku mengerti, aku menarik nafas panjang, aku menyuruhnya untuk tidur dikasur dahulu. Aku menuju dapur, ku cek sebuah panci
"Sop?" gumamku
"Tan.. ini Laura panasin ya"
"Iya"
"Oh iya, gimana keadaannya?"
"Cukup buruk, dia.. demam tan" ujarku sambil menghidupkan kompor
"A.. pantas badannya panas, tante cek ya Ra"
"Jangan tan"
"Lho kenapa?"
"Itu.. mas Reyhan bilang.. enggak mau ketemu sama siapapun kecuali Laura.. kalau tante atau om berusaha keras buat ketemu sama mas Reyhan, mas Reyhan bakal pergi dari kalian selamanya. Laura juga awalnya kaget tan"
"Ini semua karena kejadian itu, seandainya kejadian itu enggak ada atau enggak pernah terjadi, pasti Rey nggak gini"
"Sabar ya tan, Laura bakal berusaha bantu balikin keluarga ini seperti semula"
"Terimakasih ya nak, mungkin memang kamu bidadarinya Reyhan"
"Haha biasa aja tan"
"Tolong jaga dia ya nak"
"Siap tan"
Aku mematikan kompornya, aku mengambil sedikit sop juga nasi
"Laura permisi ke kamarnya tan"
Tante Viola mengangguk. Aku berjalan menuju kamar mas Reyhan
Clek
Aku menaruh nampan itu, kemudian aku mengambil kursi untukku duduk
"Mas"
Dia terbangun, lalu melihatku
"Duduk, Laura suapin" kataku sambil menyentuh tubuhnya, suhu tubuhnya mulai menurun
Dia masih melihatku
"Apa? cepat duduk, Laura masih ada tugas kampus yang belum selesai" ujarku sambil meniup sesendok makanan itu
Dia menurut, lalu aku menyuapinya
"Hati-hati masih panas"
Tiba-tiba dipikirin ku terlintas sebuah pertanyaan, kemana dia kemarin? bisa demam gini?
"Mas"
"Hm?"
"Mas kemana aja kemaren hah? bisa demam gini? cari penyakit emang"
"Urusan penting"
"Hoo..? urusan penting? sepenting apa urusan itu sampai enggak mentingin diri sendiri? jujur, kemaren kemana?"
"...Kemaren cuman keluar tengah malam, gara-gara mas harus ngurusin beberapa dokumen penting perusahaan Williams Company"
"Jam berapa? kan bisa besok ngurusinnya"
"Jam 23.40 sampai jam 02.10, dan enggak bisa, mas harus ngurusin dokumen itu, biar bisa istirahat"
"Mas--"
Tok tok tok
"Tante sama om boleh masuk?"
"Eng--"
"Boleh tan! masuk aja, kebetulan enggak dikunci kok"
Aku menaikkan alisku sambil tersenyum kearahnya
Clek
Penglihatan tante Viola langsung berfokus pada piring yang ku pegang, kemudian tersenyum kearahku. Om Farrel dan tante Viola duduk dipinggir kasur, tante Viola menyentuh tubuh untuk mengetahui suhu tubuh mas Reyhan
"Sudah mulai membaik.."
"Em... Laura ke kamar mandi dulu ya tan om, biar nggak ganggu"
Aku menuruh piring yang ku pegang dimeja sebelah kasur, aku keluar dari kamarnya
"Eh iya.. bukannya kamar mandi cuman ada dimasing-masing kamar? aduh kok aku tol**"
Aku masuk lagi ke kamar mas Reyhan
"Maaf balik lagi hehe, Laura lupa kamar mandinya kan cuman ada dimasing-masing kamar"
Aku melihat sebuah pintu, sepertinya itu kamar mandinya. Aku coba datangi, dan coba ku dorong pintunya, kok nggak bisa?
"Digeser Lauraaa..." celetuk mas Reyhan
"Hah?"
Ku coba geser pintunya, ternyata benar, pintunya terbuka
"Oh iya, bener.. hehehe" kataku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal
Mas Reyhan tersenyum dan tertawa kecil melihatku, aku langsung masuk kedalam kamar mandi
"Gilakk.. malu sampai keumbun-umbun"
.
.
.
.
.
"Lauraa.. mau sampai kapan didalam kamar mandi?"
Clek
Aku keluar dari kamar mandi, aku duduk di kursi yang tadi, tapi aku tak melihat kearahnya melainkan melihat kearah kananku
"Ra, jangan hadap kanan"
Aku tak menghadap ke arah kanan, tapi kearah depan lalu menunduk
"Maksud mas..."
Tangannya menyentuh daguku lalu mengangkatnya kearah wajahnya
"Gini sayang..."
Wajahku memerah seperti kepiting rebus, tiba-tiba dia menggigit pipiku
"Mas gemes sama Laura, pengen mas makan. Kenapa? karena Laura perempuan yang menurut mas paling istimewa dari awal"
"Mas enggak usah bikin Laura kayak kepiting rebus deh, jantung Laura rasanya kayak mau copot kalau sama mas"
"Besok Laura kesini lagi" ujarku mengalihkan topik pembicaraan
"Ngapain?"
"Datang mas lah"
"... Enggak usah sering-sering kesini, setahun sekali cukup kok. Lagian kan harus belajar yang rajin"
Aku terbengong sejenak, entah apa yang aku pikirkan
ceritanya cepet beberapa tahun kemudian
tapi kok Lauranya kuliahnya gk kelar"
ceritanya tidak nyambung
karya nya tidak bisa di terima kami pembaca mengkritik nya...
TIDAK BAGUS CERITANYA...
*Yang Membolak-balikan Hati