true story....
Noviant Juan adalah seorang pria yang tertutup, dia seakan punya dunia sendiri tapi semua berubah karena kedatangan seorang gadis di hidupnya.
Meyda Shakira harus mu hidup bersama orang yang tak mengharapkan kehadirannya.
Naira putri Noviant adalah cahaya cinta keduanya.
akankah mereka bahagia?
atau Vian akan kembali pada cinta lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kesedihan Dewi..
hari ini Anis dan Ela begitu sibuk, sedang Aira sedang tenang menonton kartun di tv.
"mbak ini gak salah kita buat kue sebanyak ini?" tanya Ela.
"enggak dong Ela, oh ya kamu bagian hias saja ya, biar mbak yang buat kue nya," kata Anis.
"siap mbak," jawab Ela.
tak di duga Rizal datang untuk menjemput Aira sesuai perintah dari Vian, "assalamualaikum, Aira," panggil Rizal.
"waalaikum salam, om lizal," saut Aira yang keluar dari rumah.
"aduh masih panggil om lizal aja, belum bisa bilang R ya," goda Rizal.
"Aila bisa kok, L (r)," kata Aira.
Rizal makin gemas dengan gadis cantik itu, Ela pun keluar dan melihat siapa yang datang.
"wah bang Rizal, ada apa bang kok pagi-pagi udah ke sini?" tanya Ela.
"mau jemput gadis cantik om Rizal, karena mau jemput bunda," kata Rizal.
"Aila ikut ya om, piiss..." kata Aira dengan lucunya.
"kok pis sih Aira, kan harusnya please," kata Ela.
"iya itu ibu kecil, pisss ya om," kata Aira lagi.
"iya iya, sekarang Aira pamit sama ibu kecil, ambil tas dan susu baru kita jemput bunda," kata Rizal.
"iya om, ayo ibu kecil ambil susu Aila, telus baju aila juga ya," kata Aira dengan semangat menyeret Ela.
"tunggu Aira, kita ambil susu saja, kalau baju biar di sini, oke," kata Ela.
"oke oke, cepat ibu kecil," kata Aira.
Anis memeluk dan menciumi Aira gemas sebelum gadis kecil itu yang melambai ke arah keduanya.
"aduh kok merasa sepi a rumah ku," kata Anis sedikit sedih.
"gak usah sedih mbak, kita harus usaha terus biar cepet dapet momongan," kata Ela sambil mengepalkan tangan nya.
"huh, otak mu dek kotor, sana cuci pakai deterjen gih," kata Anis sambil tertawa.
"ya Alloh mbak, seandainya perempuan gila itu tak mencelakai mu, mungkin putra mu juga seusia dengan Aira," batin Ela saat melihat tawa Anis yang begitu tulus.
Rizal membawa Aira dengan motor yang baru dia beli kemarin, Aira begitu senang karena tak pernah naik motor viksion.
"om motolnya besal ya, gak kayak punya om Bimbim," kata Aira.
"iya dong, biar kuat buat bonceng Aira kalau udah besar, mau kan," kata Rizal.
"mau om, tapi izin bunda ya," jawab Aira.
Rizal hanya tertawa mendengar celotehan Aira di sepanjang jalan, pasalnya gadis kecil itu tak bisa diam persis Akira kecil.
bahkan setiap melihat hal yang menarik dia akan menunjuk dan bertanya-tanya pada Rizal.
dan Rizal yang kebingungan menjawab Krena Aira terus bertanya tanpa mu berhenti.
motor pun samoai di rumah sakit tempat Akira di rawat, Rizal pun mengendong Aira menuju ke kamar rawat Akira.
"assalamu'alaikum, permisi," kata Rizal membuka pintu.
"pelmisi, Aila datang bunda," kata Aira dengan senang.
"waalaikum salam, sini sayang," kata Akira.
Rizal pun mendekat dan menaruh Aira di ranjang Akira, dan Rizal mencari keberadaan Vian.
"mana juragan, kok gak kelihatan?" tanya Rizal.
"tadi sih katanya mau beli sarapan," jawab Akira.
tak lama dokter pun visit dan memeriksa kondisi Akira, dan dokter pun mengizinkan Akira untuk pulang.
saat jarum infus di cabut dari tandan Akira, Akira hanya meringis menahan sakit, sedang Aira Majah melihat suster itu.
"sustel jangan sakitin bunda Aila, nanti Aila cubit cubit gini ya," kata Aira dengan mencubit tangan suster perempuan itu.
"aduh mbak, anaknya lucu banget sih, galak macam ayahnya, tapi bikin gemes deh," kata si suster.
"Aila kayak bunda, ayah itu laki-laki, kayak om lizal," kata Aira dengan pipi yang menggembung.
"aduh kok makin lucu sih, suster jadi pingin gigit pipinya ini," kata suster itu mencubit pipi Aira gemas.
"bunda... sustelnya cubit Aila," adu Aira.
Akira hanya tersenyum, suster pun pamit meninggalkan ruangan Akira, "sekarang keponakan om yang cantik turun, bunda mau ganti baju dulu," kata Rizal mengambil Aira.
"oke oke," jawab Aira.
Akira pun mengganti baju di kamar mandi, dan Vian pun datang dengan kopi dan juga roti.
"loh anak cantik ayah sudah datang, sudah lama bang?" tanya Vian menaruh kopinya di meja.
"baru kok, oh ya Akira sudah boleh pulang," jawab Rizal.
"iya bang, seperti nya kita akan pulang ke sawi terlebih dahulu, dan mungkin besok baru pulang ke Tembelang," kata Vian.
"kebetulan, Dewi kan akan lamaran, dan kemarin dia bilang mau ketemu Akira sebelum acara katanya," kata Rizal.
"iya bang, oh ya ini minum kopi dulu, aura bawa susu dan baju gak?" tanya Vian.
"ya... Aila cuma bawa susu Aila, tadi kata ibu kecil bial baju di lumah om Fandi yah," kata Aira.
"kalau begitu nanti kita beli baju dulu buat acara om Hamka sekalian ya," kata Vian sambil memangku putrinya itu.
Akira keluar dengan baju ganti, Vian tersenyum sekilas melihat istrinya itu, Rizal pun pamit terlebih dahulu karena ada pekerjaan di pegilingan.
Vian pun akhirnya bisa pulang, Aira terus menggenggam tangan Akira, saat Vian mengambil mobil pun terlihat Aira terus lengket dengan Akira.
mereka pun memilih berhenti di sebuah toko baju dan membeli beberapa baju, setelah itu mereka pun pulang ke rumah orang tua Akira.
setidaknya butuh 30 menit dari kota Jombang ke desa Akira, dan saat sampai mereka sudah di tunggu oleh Mak Nur dan pak Yono.
"akhirnya yang di tunggu pun datang, ayo masuk, dan sarapan," ajak pak Yono.
Vian hanya mengangguk begitupun Akira yang juga tak bisa menolak orang tuanya, sedang Aira sudah di bawa oleh Mak Nur ke dapur.
Vian dan Akira kaget melihat makanan di meja yang begitu banyak, "sudah jangan diam saja, ayo sini makan dulu," kata pak Yono.
mereka pun makan bersama dengan sederhana tapi hangat, Vian pun merasa keluarga Akira begitu baik, apalagi mereka juga bisa menerima Aira putri kecilnya.
Akira pun di minta istirahat, sedang Vian melihat beberapa sawah bersama pak Yono.
sedang Aira sudah di bawa Mak Nur untuk ikut membantu di rumah Dewi, sedang Dewi pun memilih bertemu dengan Akira di rumah.
"assalamualaikum, Akira," panggil Dewi.
"waalaikum salam, iya sebentar," jawab Akira.
saat pintu di buka oleh Akira, Dewi langsung memeluk sahabat nya itu, pasalnya sekarang hanya Akira yang bisa membantunya.
"ayo masuk, kita bisa membicarakan nya di dalam," ajak Akira.
Akira mengajak Dewi duduk di ruang keluarga, Dewi hanya menagis pasalnya dia di takut-takuti oleh kakaknya.
"ada apa Dewi?" tanya Akira.
"aku tak ingin menikah Akira, aku takut, kata Mbak Menik, calon suamiku itu tua dan juga jelek, dan juga pendek," kata Dewi jujur.
Akira terkejut, pasalnya Vian mengatakan jika om Hamka yang akan menikah dengan Dewi, karena orang tua Dewi banyak dibantu oleh om Hamka.
"apa kamu yakin, takutnya Mbak Menik hanya menakut nakuti mu saja," kata Akira.
Kalau berkenan boleh mampir dan support karyaku yang berjudul Sungguh Mencintainya 🙏😉☺️
tegas mirip Romo Jalal
pernah suatu waktu anaknya nangis g mau diam.lsg dibawanya kerumah.alhamduliah begitu kami gendong si baby lsg tenang.
aku sarankan untuk mencari ustadz yg berpengalaman.krna anak ini ada yg jagain.jdi klo ada yg niat g baik dg mengirimi sesuatu, penjaganya marah. itu yg buat si anak rewel..
alhamdulillah..skrg si anak sdh balita.
semangat Thor..🤩🤩
cerita ini sesikit banyak mengingatkan tentang kampung halaman.
pohon rambutan kembar di depan pintu. dijaga macan loreng putih. begitu diceritakan banyak yg tak oercaya dan beranggapan hanya bualan.
giliran surup (menjelang magrib datang) ada balita yg membagikan jajanan beng-beng ke maung di dwpan beberapa ibu2 tetangga.
padahal mrka tak melitah apapun didepan balita itu.
begitu ditanya,si balita bilang..jajannya buat miong yg duduk baik.
nah loh.. kicep lsg para emak2 yg denger.auto bubar masuk rumah masing2..😁😁
apakabar akira selama ini vian..??
hempaskan susukk..😆😆😆
g ada yg nyangka klo jenasah blm mau pulang tanpa maaf dri orang tsb.
jagalahblisan dan perbuatan. krna kadang tanpa kita sadari kita menyakiti orang lain tanpq sengaja dan meninggalkan luka yg mendalam.