Sebuah kisah tentang seorang anak yang sejak lahir sudah merenggut banyak nyawa. Kisah tersebut dijulukki dengan sebutan Malam Berdarah kota Ling.
Bagaimanakah cara anak tersebut mencari teman yang akan selalu menemaninya sehidup srmati?
Penasaran dengan kisah ceritanya?, Mari ikuti dengan membaca bersama!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerry Napukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Pemberian Hadiah
Setelah pertarungan Ling Ro Bai dengan Wang dan lainnya. Acara pun ditutup dengan meriah. Semua sangat gembira bisa menonton pertarungan yang menarik. Apalagi tidak ada kendala seperti tahun lalu.
Para kaisar telah pulang setelah jamuan sebentar diadakan. Mereka kembali karena sudah merasa terlalu lama meninggalkan tahtanya masing-masing.
Di bangunan asosiasi sendiri sedang ramai akan pengunjung serta pembeli. Pengusaha-pengusaha datang untuk melakukan kerja sama, namun sayang mereka tak berhasil melakukannya.
Sebuah ruang tamu dengan privasi sangat lengkap telah diisi oleh beberapa orang dan salah satunya adalah Ling Mei beserta adik-adiknya.
Ling Mei duduk dengan anggun menatap lawan bicaranya. Adik-adiknya hanya berdiri di belakangnya, untuk menjaga keamanan jika ada kejadian yang tak diinginkan.
Di depannya terdapat para juara dan juga pembimbingnya masing-masing. Hanya Chenlah yang datang sendiri. Ada 8 kursi yang tersedia namun karena Chen sendiri jadi hanya 7 kursi yang terisi.
Nona Fu bersama Patriark Sekte Bunga Lotus, Tuan Muda Li bersama tetua pertama dimana selaku gurunya juga. Sedangkan Tuan Muda Wang ditemani oleh gurunya sendiri Tetua pertama dari Sekte Palu Besi.
"Baiklah, aku akan mulai memberi hadiah kepada kalian. Ling Nue, berikan dari peringkat terakhir", perintah Ling Mei. Hanya para peserta yang tegang ketika mendengar pemberian hadiah. Untuk pembimbing mereka sendiri memasang ekspresi biasa saja.
Satu persatu dari peserta mendapat hadiah yang semestinya. Ketika mereka membuka isinya, betapa terkejutnya diri mereka saat melihat hadiah yang diterima.
100 koin emas kecil, beberapa pil khusus kultivasi dan penguatan tubuh. Ditambah dengan senjata tingkat elite mid-tier.
Walaupun senjata tersebut tidak selangka senjata spiritual, namun tetap saja hanya beberapa dari merekalah yang dapat memilikinya.
"Itu sudah termasuk dengan hadiah pertandingan antara kalian dengan tuan muda. Berterimakasihlah pada beliau, walaupun kalian kalah tetap mendapatkan hadiah darinya", ujar Ling Mei.
"Te-terima kasih Nyonya Ling", ucap keempatnya terbata-bata.
"Dan untuk Patriark Sekte Bunga Lotus, mohon masalah sebelumnya engkau sudahi saja disini. Mau bagaimanapun, kondisi murid anda sudah baik-baik saja buka?", nasehat Ling Mei.
"Haih, baiklah. Aku tak akan memperpanjang masalah ini. Karena urusan kami sudah selesai, saya dan murid saya mohon undur diri", Patriark Hoyu membungkuk untuk memberikan hormat. Lalu disusul nona Fu dan lainnya.
"Semoga selamat sampai tujuan", kata Ling Mei.
Setelah beberapa saat hening, Ling Mei menatap kearah Ling Yei dan berkata.
"Tuan Muda memintamu untuk mengawasi si bocah Chen, jangan sampai dia terluka. Sekalian cari asal usulnya. Jika dari kalangan miskin atau sederhana, berikanlah surat ini kepadanya", Ling Mei memberikan sebuah surat berwarna hijau dengan stempel naga putih di tengahnya.
"Sesuai perintah kak Mei", Ling Yei tiba-tiba menghilang, meninggalkan keheningan dalam ruangan tersebut.
*****
Ling Ro Bai saat ini sedang asyik membaca buku. Ia sudah memiliki tujuan mengenai apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Ling Ro Bai akan belajar sebanyak mungkin selama 2 tahun mendatang. Ia ingin menambah wawasan guna mempermudah dalam hal sosial.
Ling Ro Bai juga sudah mendapat token khusus dari kaisar Hong agar dapat masuk membaca di perpustakaan khusus.
Begitu banyak buku yang dipinjam di perpustakaan umum. Penjaga bilang bahwa ia tak dapat meminjamnya. Lalu Ling Ro Bai menunjukkan token dari kaisar, barulah ia mendapat ijin dari penjaga perpustakaan.
Hari-hari terus berlalu, Ling Ro Bai hanya melakukan kegiatan membaca, makan, tidur. Hanya begitu-begitu saja kesehariannya. Jika ia sedang benar-benar bosan akan berjalan-jalan ke pasar atau berkunjung ke pelelangan.
Tak ada yang spesial tiap harinya. Setiap penduduk yang melihatnya lewat pasti akan menunduk hormat. Padahal ia sudah bilang untuk tidak melakukan hal tersebut.
Ling Ro Bai juga sering berkunjung kekaisaran untuk bermain dengan putra putri kaisar Hong, dari bermain bola dan lainnya.
*****
Satu tahun tak terasa telah berlalu dengan cepat. Umur Ling Ro Bai sudah menginjak 11 tahun lebih beberapa bulan. Saat hari bahagia tersebut tova, Ling Mei dan adik-adiknya mengadakan pesta. Namun hanya kalangan keluarga serta anggota kekaisaran saja.
Kaisar Hong sudah menganggap Ling Ro Bai salah satu dari anaknya. Putra putrinya pun juga setuju dengan hal itu.
Ling Ro Bai saat ini sedang ikut dalam perjalan menuju cabang asosiasi di kota Wengsa. Itu masih di wilayah kekaisaran Hong juga. Mereka melakukan perjalanan tersebut karena mendapat laporan bahwa ada sedikit masalah dalam hal keamanan.
Maka dari itu, Ling Ro Bai yang dalam masa pembelajaran ikut berpartisipasi. Di dalam kereta sendiri hanya ada 3 orang saja.
Ling Ro Bai sendiri, lalu sekretaris yang nanti akan mengajarinya dalam berbisnis. Lalu ada Chen yang telah menerima tawaran dari pihak asosiasi.
Setelah penyelidikan selama sebulan penuh, Ling Yei mendapati bahwa Chen dari kalangan bawah. Ia berasal dari sebuah panti asuhan yang sangat jauh dari ibukota kekaisaran Hong.
Mendengar hal tersebut, dengan sigap Ling Ro Bai menuju ke panti asuhan tersebut. Walaupun pada awalnya mereka ditolak, dengan pendekatan halus ala Ling Ro Bai akhirnya berhasil. Saat ini panti asuhan tersebut berada di bawah naungan asosiasi.
"Berapa lama lagi kita akan sampai ke kota Wengsang kak Lu?", tanya Ling Ro Bai kepada Lu si sekertaris.
"Nanti menjelang malam kita akan tiba jika terus mempertahankan kecepatan saat ini Tuan Muda", jawabnya.
"Membosankan, ya sudah aku ingin tidur. Jika tidak ada hal penting jangan bangunkan aku", ujar Ling Ro Bai yang saat ini sudah merebahkan diri.
Chen dans ekertaris Lu hanya menggelengkan krepala mereka. Semua pekerja asosiasi juga sudah paham akan sifat Tuan Muda mereka yang satu ini. Jika merasa bosan, sudah bisa dipastikan akan merebahkan diri dan berkata akan tidur. Padahal Ling Ro Bai sendiri hanya memejamkan mata. Dan tetap memasang sikap waspada dengan mengedarkan aura spiritualnya dalam jarak 1 kilometer.
Perjalanan berjalan lancar selama ini hingga pada saat mereka melewati kaki gunung. Terdapat beberapa orang yang sedang mengawasi pergerakan kereta asosiasi.
"Apa kau yakin bahwa 5 petinggi tak ada di dalam?", tanya ketua bandit.
"Benar bos, kami sudah memastikannya dengan yakin. Di dalam kereta tersebut hanya ada dua anak yang sudah dikonfirmasi salah satunya adalah Tuan Muda Ling", jawab anak buahnya.
"Bagus kalau begitu, dengan begini kita bisa memeras asosiasi beserta membalaskan dendam dari saudara-saudara kita yang dibantai oleh mereka", tatapan penuh dendam terpancar di mata ketua bandit tersebut. Melihat arah belakang, para anak buahnya juga menatap benci ke arah kereta kuda asosiasi.
"Hmm, beberapa tikus mendekat", gumam Ling Ro Bai pelan.
keren... bener keren