Jangan lupa tekan jempol dan tulis apa pun di kolom komentar. Itu semua sangat membantu penulis untuk terus update dengan semangat. Terimakasih sudah membaca. Lanjutan dari novel Abang Penjual Sate, Imamku.
********
Ayra, balita berusia lima tahun yang kehilangan ibunya saat baru beberapa Minggu dilahirkan. Mengenal sosok ibu dari cerita semua orang di keluarganya.
Suatu hari, ia meminta pada ayahnya untuk tidak pernah menggantikan ibunya yang pergi. Karena menurutnya, Aisyah tidak akan pernah bisa tergantikan.
Namun, berbeda cerita saat ia bertemu dengan seorang wanita sederhana dari masa lalu sang ayah. Beberapa Minggu bersamanya, Ayra sadar bahwa ia sangat membutuhkan sosok ibu.
Dia meminta pada ayahnya untuk menjadikan wanita itu sebagai ibunya.
Ikuti kisahnya di sini!
Cover: PicsArt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Selesai
Seisi rumah Razka dihebohkan dengan pemberitaan yang tiada henti tentang seorang artis cantik yang selalu booming itu. Karena tak ada satu pun dari mereka yang mengetahui bahwa artis itu telah membuat keributan di restauran Razka.
Karena pemberitaan itu, semua awak media mengincar kediaman Pamela. Tapi, sayang. Bagai hilang ditelan bumi, Pamela dan keluarganya menghilang. Rumah besar dan megah itu kosong tak berpenghuni.
Rendy bahkan, sudah bisa menebak ini akan terjadi. Dia sudah memberi perintah pada orang-orang yang bekerja di bawah naungannya untuk menjaga kediaman Razka dan restaurannya.
Karena mereka tidak akan mencarinya ke gedung Pratama Grup, maka Rendy memperketat penjagaan di restauran Razka.
Seperti biasa, Ayra diantar Razka sekolah. Hari ini adalah hari olah raga untuk Ayra di sekolah. Ia mengenakan seragam olah raganya juga guru dan teman-temannya.
Mereka hanya akan melakukan senam ringan, setelah itu akan bermain dengan berbagai macam permainan yang disediakan sekolah untuk mengasah keterampilan mereka.
Di sinilah, ia menampilkan bakatnya. Jika membaca dan menulis harus ia sembunyikan dari semua orang, maka bermain dengan cat dia tampilkan dengan sempurna. Setiap coretan cat yang ia torehkan di atas kanvas, selalu berakhir dengan menakjubkan.
Ya, guru membimbing Ayra yang berbakat dalam hal seni lukis. Awalnya mereka membiarkan Ayra menorehkan beberapa warna krayon di atas buku gambar. Dari semua murid yang ada, hanya gambar Ayra yang membentuk.
Untuk itu, guru terus membimbingnya untuk mengembangkan bakat lukisnya. Hingga ia sekarang sudah lihai menorehkan cat di atas kanvas tanpa ragu dan takut akan berakhir buruk.
Sementara Ayra sedang bermain dengan cat warna, Razka yang langsung melaju menuju gedung restaurannya, dikejutkan oleh sebuah perkumpulan manusia di halaman gedung restauran.
Mereka adalah para pemburu berita, yang selalu haus akan berita-berita terbaru dan terpopuler di masyarakat. Beberapa karyawan telah mereka interogasi. Kini, mereka hanya sedang menunggu kedatangan Razka untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang akan mereka ajukan.
Razka dapat melihat beberapa orang berseragam rapi, telah berbaris menjaga keamanan restaurannya. Rendy bergerak cepat. Ia tahu ini pasti akan terjadi.
Razka memacu motor bututnya mengambil jalan memutar. Ia akan masuk lewat pintu rahasia yang hanya diketahui olehnya dan Rendy saja.
Karena Razka menggunakan motor bututnya, maka tidak ada yang menyadari bahwa yang melintas dengan mengendarai motor butut itu adalah orang yang mereka tunggu.
Razka melenggang masuk ke dalam restauran dengan santai.
"Tuan Besar!" Tiga orang berpakaian sama seperti orang-orang di depan, membungkuk saat melihat Razka. Ternyata, di dalam pun sama saja.
"Di mana Rendy?" tanyanya pada mereka. "Tuan Ren sedang membereskan semua pemburu berita itu, Tuan Besar," jawab salah satu dari mereka.
Razka hanya mengangguk, ia meneruskan langkahnya menuju ruangannya di lantai dua. Entah bagaimana caranya, Rendy menyelesaikan semua. Para pemburu berita itu membubarkan diri mereka dengan tertib.
Rendy memang penuh misteri. Razka yang baru saja sampai di ruangannya, segera menduduki kursi yang kini diletakkannya di dekat jendela. Berhadapan langsung dengan pemandangan stand penjualan, sedikit mengobati kerinduan hatinya pada Aisyah.
Pintu berderit, terbuka lebar diikuti bunyi derap langkah kaki yang memasuki ruangannya. Rendy ikut mendaratkan bokongnya di kursi yang berseberangan dengan kursi Razka.
"Bagaimana caramu membereskannya?" tanya Razka seraya memutar kursinya menghadap Rendy.
"Yah, seperti biasa. Cukup memberikan satu jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan mereka, maka dengan sendirinya mereka akan membubarkan diri," jawabnya dengan senyuman seperti biasa.
"Baguslah! Itu artinya semua sudah beres. Ah, apa kita sudah bisa beraktivitas seperti biasa?" tanyanya. Rendy menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, terdengar helaan napas darinya.
"Yah, tentu saja. Bukankah Jumat sore adalah yang ditunggu para kurcaci itu," tukasnya menimpali.
"Kau benar, mereka selalu menunggu datangnya hari ini," katanya dengan senyum terulas di bibirnya.
"Bagaimana keadaan kantor, Ren? Apakah Paman Ferdi berbuat ulah?" tanyanya dengan nada serius. Ia memajukan tubuhnya hingga menempel pada meja pembatas antara dirinya dan Rendy.
Meletakkan kedua tangan di atas meja dengan jemari yang saling bertaut. Rendy beranjak, ia memposisikan dirinya sama seperti posisi Razka. Berbicara serius masalah perusahaan.
Beberapa detik lamanya, mereka hanya saling menatap tanpa berbicara. Mimik wajah keduanya pun, begitu serius.
"Tidak ada masalah," jawabnya singkat sambil menjauhkan kembali tubuhnya dari meja. Terdengar kekehan dari mulutnya. Razka murka.
Ia sudah begitu serius untuk mendengarkan tentang apa saja yang terjadi di perusahaan. Tapi ternyata, Rendy hanya menjahilinya.
Brak
Razka melampiaskan kekesalannya pada meja yang tak bersalah. Benda mati yang tak tahu apa-apa itu, harus mendapatkan sebuah pukulan keras dari pemiliknya.
"Kau!" geramnya dengan rahang yang mengetat. Rendy justru terkekeh.
"Tidak seharusnya kau serius seperti tadi, jika pun ada masalah, aku akan segera memberi tahumu," tukasnya bersedekap dada santai.
Ha~ Razka menghela napas, "Kau benar. Aku akan tahu saat masalah datang," katanya lagi setuju dengan perkataan Rendy.
"Tentu saja, karena bagaimana pun kau adalah pemiliknya," katanya lagi. Razka hanya mengangguk.
"Kenapa kau masih di sini?" tanya Razka tidak suka.
"Kenapa? Kau tidak suka aku di sini? Ku pikir kau merindukanku," katanya merajuk. Razka melemparnya dengan pulpen gemas.
"Tugasmu bukan di sini, pergi sana. Urusi kantorku, aku tidak ingin sampai ada masalah," ucapnya menendang kecil kaki Rendy di bawah meja.
"Aw," rintihnya sembari mengusap-usap kakinya yang terkena tendangan Razka.
"Cepat pergi!" ucap Razka semakin gemas.
"Baiklah, baiklah. Hah," tukasnya seraya beranjak berdiri dari duduknya, "hamba permisi Tuan Muda. Semoga hari Anda menyenangkan," sambungnya lagi dengan tubuh yang membungkuk. Tangan kanan diletakan di perut dan tangan kiri di belakang tubuhnya.
Ia terkekeh, kemudian berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan Razka. Laki-laki itu pun ikut terkekeh. Ia merasa sedikit terhibur dengan kehadiran Rendy. Tak dapat dipungkiri, ia merindukan bekerja bersama Rendy.
Razka beranjak setelah suasana hatinya cukup membaik, ia turun dari lantai dua dan berjalan menuju dapur.
Razka memeriksa tempat penyimpanan bahan masakan. Mencoba menerka apa saja yang sedang dibutuhkan. Di belakangnya Roy mengikuti. Ia bertugas untuk mencatat setiap Razka menyebutkan bahan yang sudah menipis.
Ia juga memeriksa tempat penyimpanan bumbu, kembali melihat bumbu apa saja yang stoknya sudah mulai menipis. Roy mencatatnya dengan cepat. Ia akan menyerahkannya pada bagian yang bertugas menyediakan bahan-bahan masakan kebutuhan restauran.
Razka mengibaskan tangannya pada Roy, memintanya untuk tidak mengikutinya lagi. Ia meneruskan langkahnya menuju bagian belakang restauran di mana empat orang karyawan laki-laki sedang membuat sate.
Ada yang bertugas memisahkan daging dari tulangnya. Ada yang bertugas memotong-motongnya menjadi kecil-kecil. Dan dua orang bertugas menusuk-nusuk potongan daging ayam dan kambing menjadi sate.
"Bagaimana? Sudah hampir selesai?" tanya Razka, mereka berempat menoleh bersamaan.
"Sedikit lagi, Tuan Besar," tukas salah satu dari mereka.
"Baiklah, semangat terus ya! Jangan loyo!" katanya memberikan senyuman terbaiknya pada karyawan yang sedang membuat sate.
Ia kembali keluar dari dapur menuju gazebo samping restauran. Hanya untuk duduk menunggu panggilan di hari Jumat datang.
Dan ia menunggu waktu sore datang.
bayi dong