Hal terbodoh yang pernah aku lakukan adalah pernah menjalin hubungan asmara dengan pria yang masih terikat hubungan keluarga, sepupu kedua. Mengapa? karena pertemuan tidak bisa dihindari. Yang lebih menyakitkan karena belum sebulan kami putus, ia sudah memproklamirkan hubungannya dengan perempuan yang masih sepupuku juga. Celakanya lagi, aku tak bisa mengikis perasaanku padanya.
Lalu bagaimana akhir kisah cinta kami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Sayang Mas Adit
Adhitama melakukan panggilan video call pada Adinda saat perjalanan pulang dari kantor menuju Apartemennya. Kondisi jalan di Ibu Kota Jakarta yang macet membuat ia lebih leluasa untuk menelpon Adinda sambil mengemudikan kendaraanya. Terlebih lagi perbedaan waktu antara Jakarta dan Sydney yang mencapai 4 jam, dimana saat ini di Jakarta baru pukul 19.00, di Sydney sudah pukul 23.00, sudah waktunya untuk Adinda tidur bila ia tidak mengerjakan tugas.
Adhitama: Sudah tidur sayang.
Adinda : Belum Mas. Mas dimana?
Adhitama: Di jalan. Kenapa belum tidur?
Adinda: Di jalan kemana?
Adinda merasa was-was bila Adhitama akan menemui Ayudia.
Adhitama: Jalan pulang ke Apartemen. Tuh kan pasti curiga lagi sama Mas Adit.
Adinda: Nggak kok, siapa yang curiga. Emang gak boleh ya kalau Dinda bertanya?
Adinda: Maaaaasssss.....
Adhitama: Kenapa sayangku?
Adinda: Dinda kangen......
Adhitama: Baru ditinggal seminggu juga sudah kangen.
Adinda: Dua minggu lebih Mas. Hampir tiga minggu. Kapan Mas Adit datang lagi?
Adhitama: Mas Adit sedang ikut tender Pembangunan Jaringan Air Baku. Mas Adit tunggu dulu hasilnya baru kembali ke Australia sayang.
Adinda: Kalau nggak menang tender Mas Adit nggak datang?
Adhitama: Menang atau kalah Mas Adit tetap datang. Emang Dinda saja yang kangen Mas Adit. Kenapa belum tidur sayang?
Adinda: Masih kerja tugas Mas.
Adhitama: Gak usah buru-buru selesaikan kuliahnya Dind.
Adinda: Kok motivasinya jadi aneh begitu Mas? Mas takut ya kalau Dinda selesai trus minta nikah sama Mas Adit?
Adhitama: Kok jadi berpikir seperti itu? Mas Adit sudah bilang kan kemarin jangan sampai kamu sakit karena begadang kerja tugas terus. Kalau kamu sakit siapa yang mau rawat kamu Dinda? kamu kan sendiri di sana.
Adinda: Kalau Dinda sakit Mas Adit harus datang kesini merawat Dinda.
Adhitama: Ogah ah, Mas Adit takut.
Adinda: Takut kenapa? takut ketularan? ih Mas Adit kejam.
Adhitama: Bukan takut ketularan, takut Mas Adit menggunakan kesempatan dalam kesempitan.
Adinda: Tapi kemarin kan Mas Adit sudah teruji, gak melakukan itu lagi pada Dinda. Bahkan dicium pun cuman sekali, cuman di taman doang.
Adhitama: Mas Adit sudah berjanji pada Ibu.
Adinda: Mas Adit janji apa?
Adhitama: Tau nggak, sebelum kita berangkat ke Australia, Ibu datang khusus ke Kantor Mas Adit. Berkali-kali Ibu berpesan pada Mas Adit jangan sampai Mas Adit melakukan itu kembali padamu. Lagian kenapa juga kamu bilangin pada Ibu kalau Mas Adit pernah melakukan itu? Ibu tahu lagi kalau sampai tiga kali.
Adinda tertawa
Adinda: Masa sih? Siapa suruh Mas Adit nakal.
Adhitama: Dinda sayang, apa kamu sadar, dirimu adalah penggoda yang hebat. Bahkan saat diam dan murung pun kamu sangat menggairahkan.
Adinda: ih Mas Adit otaknya ngeres melulu.
Adhitama: Kamu yang membuat Mas Adit seperti itu.
Adinda: Kok nyalahin Dinda sih?
Adhitama: Kamu terlalu cantik Adinda.
Adinda: Ya disitulah ujian keimanan Mas Adit.
Adhitama: Dind, sudah jam berapa? matiin laptop kamu. Kerja tugasnya besok saja.
Adinda: Iya Mas.
Adhitama: Mana? Mas mau lihat?
Adinda memperlihatkan pada Adhitama saat ia mematikan laptopnya.
Adinda: Tuh, sudah kan.
Adhitama: Sekarang Adinda tidur ya.
Adinda: Nggak mau kalau Mas Adit belum sampai ke Apartemen. Perlihatkan Apartemen Mas Adit ke Dinda. Nanti Mas Adit bohong lagi sama Dinda.
Adhitama: Ini Mas sudah sampai sayang. Kamu tuh nggak percaya banget sama Mas Adit.
Adinda tertawa senang begitu melihat gedung apartemen Adhitama di handphonenya.
Adhitama: Sudah dulu ya, Dinda tidur sekarang. Mas Adit sayang Dinda.
Adinda: Dinda juga sayang Mas adit.
Kalimat terakhir Adhitama membuat Adinda melambung tinggi. Kalimat itu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Adinda, membuat ia tidur dengan bibir terurai senyum.
Hampir setiap hari Adhitama melakukan panggilan video call pada Adinda. Hampir setiap saat Adhitama mengecek kondisi Adinda melalui pesan. Perlakuan Adhitama itu membuat Adinda bersemangat menjalani kuliahnya di Sidney, dan berupaya menyelesaikan studi secepatnya agar bisa cepat kembali pulang ke Indonesia mendekatkan jarak dengan pria yang bertahta di hatinya.
*********
Setelah kuliahnya selesai, Adinda menelpon Ibunya untuk mengecek keadaan keluarganya.
Adinda: Bu, bagaimana kabar kalian di Jakarta?
Venny: Kami semua sehat-sehat Nak. Dinda bagaimana?
Adinda: Dinda sehat bu.
Venny: Kuliahnya bagaimana?
Adinda: Lancar Bu. Bagaimana proposal Ayah?
Venny: Kakek belum ACC proposal Ayah, Kakek minta konsep bisnis restoran Ayah diganti. Tapi Ayah nggak jadi jual mobil kamu.
Adinda: Kenapa bisa bu? trus utang di Bank bagaimana?
Venny: Ada teman Ayah yang membantu menutup utang Ayah di Bank jadi mobil kamu tidak perlu dijual.
Adinda: Trus Ayah mengembalikan utang pada temannya itu diangsur atau tunai Bu? berapa lama jangka waktu yang diberikan untuk melunasi utang? trus bunganya berapa persen? Dinda harap bila Dinda sudah kerja bisa membantu Ayah melunasi utangnya.
Venny: Kamu nggak usah pikirin bagaimana cara melunasi utang. Itu urusan Ayah kamu. Lagian teman Ayah sangat baik, Ia tak memberi Ayah jangka waktu melunasi utang, juga tidak meminta bunga.
Adinda: Emang ada orang sebaik itu Bu? Utang Ayah kan tidak sedikit. Emang teman Ayah orang kaya raya ya? Kakek saja memberi modal, dalam bentuk pinjaman dan harus jelas kapan waktu pengembaliannya.
Venny: Teman Ayah nggak kaya raya, cuman di orang yang baik saja. Suka membantu orang.
yg egois adit , kakaek dan nenem