Sequel Mantan Tercinta, biar gak bingung, boleh baca Mantan Tercinta.
Season satu (Sudah tamat di bab 50)
Suci khaidar mengejar cinta laki-laki dewasa yaitu Fery Irawan yang pernah menjadi calon suami sepupunya Anggun.
Awalnya Fery irawan menerima cinta Suci hanya untuk menghilangkan rasa traumanya, namun karena kebersamaan yang mereka jalani, benar-benar membuat Fery mencintai Suci.
Namun sayang disaat keduanya sudah sama-sama saling mencintai, takdir memisahkan dan mempermainkan CINTA SUCI FERY.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Masih bisakah CINTA SUCI FERY bersatu?
Peringatan!! Banyak bersabar ya!
Season dua
Pertemuan di malam pertama dengan orang asing di malam itu, membuat Dinda kehilangan kesuciannya, laki-laki yang sudah punya istri itu merenggut kehormatannya dengan paksa.
Kenyataan pahit itu mengubah hidupnya, ternyata benih itu tumbuh di dalam rahimnya. Apa yang terjadi selanjutnya? Mungkinkah Dinda rela menjadi istri kedua Lucas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSF 21
Tangan Fery gemetar saat memegang benda berwarna putih yang ukurannya kecil ini, sudut matanya berair saat melihat garis merah yang masih begitu jelas, benarkah ini anaknya? Benarkah Tasya mengandung darah dagingnya? sesaat Fery memejamkan mata, kejadian malam itu terlintas lagi diingatannya, Fery benar-benar menyesali kejadian itu.
"Apa keputusanmu? Apa kau masih akan tetap menikahi Suci?" Tanya Tasya yang sengaja meraba perutnya yang sudah terlihat sedikit menonjol.
"Apa kau yakin ini anakku?" Fery meletakkan taspack itu di atas meja, "aku tahu kalau aku bukan orang pertama yang menyentuhmu, bisa saja anak ini bukan anakku!"
"Aku datang kesini bukan untuk berdebat, tapi aku datang ke sini untuk minta tanggung jawabmu, aku mengandung benihmu atas kejadian malam itu, dan aku pastikan kalau ini anakmu."
Tasya terus meyakinkan Fery, usahanya sudah sejauh ini dan ia tidak mau gagal lagi, "atau kau mau menyuruhku untuk menggugurkana anak ini?" Tanya Tasya.
Fery terdiam dengan rahang yang mengeras, ia tidak menginginkan anak dari rahim wanita lain, tapi tidak mungkin dia membunuh mahkluk ciptaan Tuhan itu, Fery dilema, dari jauh ia melihat Suci sudah berjalan kearah mereka, dan Fery mengambil tespack itu dan memasukkannya ke dalam kantong kemejanya.
"Tunggu sampai aku menghubungimu."
Tasya kembali merubah raut wajahnya menjadi setenang mungkin, sementara Fery duduk dengan menyandarkan punggungnya di kursi, ia berusaha menetralkan perasaannya dan berharap Suci tidak tahu kalai ia sedang gugup.
"Nunggunya lama ya, Kak?" Tanya Suci.
Fery menggeleng dan tersenyum, "kita pergi!" Ajaknya dan menggandeng tangan Suci.
"Mbak, Tasya gak ikut juga? Biar sekalian jalan," ajak Suci sembari mencangklong tasnya.
Tasya melihat Fery, dari wajahnya terliat jelas kalau Fery tidak seteju dengan ide Suci.
"Aku masih ada urusan lain, mungkin lain kali aku ajak kamu main ya!" Tasya masih bisa melemparkan senyumnya, kemudian Fery dan Suci pergi meninggalkannya.
"Aku sudah merasakan sakitnya hidup dengan ayah tiri, dan aku tidak mau anakku punya ayah yang tidak pernah menginginkannya, aku membutuhkanmu untuk anak ini Fery."
Tasya terus memandang pada Suci dan Fery yang terus bergandengan tangan sampai mereka hilang dari pandangannya.
*****
"Lagi mikirin apa sih? Kok ngelamun gitu?" Suci menggerakkan tangannya di wajah Fery yang belum juga menghidupkan mesin mobilnya.
Fery tersenyum dan menatap wajah cantik Suci, calon istri yang cantik dan usianya terpaut jauh darinya. "Lagi mikirin kamu, apa jadinya hidupku tanpamu?" Fery takut membayangkan kemungkinan yang akan terjadi.
"Memangnya aku mau kemana? Kita akan selalu bersama, Kak." Suci membelai pipi Fery dan tangan itu langsung digenggam Fery dengan erat.
"Berjanjilah, kamu tidak akan pernah pergi dari hidupku." Fery kembali memelas.
"Janji..." gadis ini tersenyum tanpa tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi diantara Tasya dan Fery, meskipun ia tahu kalau mereka pernah menjalin hubungan, tapi Suci mencoba tidak mengungkit masa lalu.
****
Tasya berada di apartmennya, ia memikirkan nasip anak yang ada di dalam kandungannya, kesalahan terbesarnya membawa dampak yang sangat buruk untuk hidupnya, tiga hari lalu Fery datang menemuinya, laki-laki itu memberinya uang dan berjanji untuk menanggung semua kebutuhan anak yang ada di dalam kandungannya, tetapi Fery tetap tidak mau menikahinya, sementara perutnya semakin membesar.
"Haruskah aku menggugurkannya? Kalau tahu seperti ini, lebih baik dari awal aku gugurkan saja anak ini."
Tasya meraba perutnya, ia mengubah posisinya yang saat itu berbaring di sofa saat mendengar suara bel dari pintunya, Tasya beranjak dan membuka pintu, ternyata Suci yang datang mengunjunginya.
"Suci...?" Tasya terkejut dan berusaha menutup perutnya, untung saja saat ini ia memakai kaos yang sedikit lebih longgar.
"Kok kaget gitu sih, Mbak? Aku boleh masuk kan?" Tanya Suci yang saat itu kebetulan lewat apartmen Tasya.
Tasya menggeser tubuhnya, "masuk lah!" ucapnya, Suci masuk dan duduk di sofa kecil yang ada di ruangan itu, sedangkan Tasya menuju dapur. "Kenapa gak bilang kalau mau ke sini?" Tasya meletakkan nampan berisikan segelas orange jus dan beberapa camilan untuk Suci, lalu ia ikut duduk di depan Suci.
"Memang kebetulan lewat aja, Mbak. Oh iya Mbak Tasya tinggal sendirian di sini? Kelihatannya sepi," Suci tampak mengekori setiap sudut ruangan, di mana tidak ada siapa pun di sana.
"Orang tuaku sudah lama meninggal, dan aku juga anak tunggal, jadi aku sudah terbiasa hidup menyendiri seperti ini," jawab Tasya . "Di minum Ci..." Tasya menawarkan minum kepada Suci.
"Tau aja kalau aku lagi haus," Suci menenggak minuman itu yang terasa dingin dan melegakan tenggorokannya.
"Kamu beruntung ya, banyak yang sayang sama kamu, Hani sudah banyak cerita tentang kamu," ucap Tasya dengan sendu, tidak seperti kehidupannya yang berbanding jauh dengan kehidupan Suci.
"Gitu lah, Mbak. Memang sejauh ini orang-orang disekitarku terlalu sayang, sampai-sampai aku harus mengikuti kemauan mereka, menjadi sekretaris, menjadi model, dan kadang menjadi perancang busana hahahah," Suci tertawa lepas, sampai ia menutup mulut dengan telapak tangannya.
Tasya tampak semakin iri, malang sekali nasipnya, mengandung di luar pernikahan, sementara ayah dari janinnya tidak mau bertanggung jawab, di luar itu Suci hidup bahagia dan sebentar lagi akan menikah dengan Fery laki-laki yang sudah ia jebak untuk tidur dan menyentuhnya.
Tasya mengambil keputusan, menurut Maya Fery tidak bisa dipaksa, tapi kalau ia tidak bisa meyakinkan Fery, maka ia bisa meyakinkan Suci agar berpihak kepadanya. Hanya sedikit saja, hanya satu orang saja, Tasya akan merebut orang itu dari Suci hari ini juga, dan itu tidak akan mengurangi kebahagiaan Suci.
"Suci..." ucap Tasya lirih, ia terlihat ragu mengatakan keinginannya kepada gadis yang masih muda ini, tapi Tasya tidak bisa lagi mengulur waktu, karena sebentar lagi perutnya akan semakin membuncit.
"Kenapa, Mbak?" Tanya Suci penasaran melihat sikap Tasya yang mendadak diam, ia bangkit dan duduk di samping Tasya, "kok diem, Mbak? Mau ngomong apa?" Suci memegang tangan Tasya dengan tulus.
"Ak-aku mau ke Klinik. Kamu mau kan, temenin aku ke sana," ucap Tasya.
"Klinik? Mbak sakit?" Suci meletakkan telapak tangannya di kening Tasya, memeriksa suhu tubuhnya, "Mbak gak sakit kok, suhu badannya normal," ucap Suci.
"Aku mau menggugurkan kandunganku...."
"Kandungan...?" Suci mengeraskan suaranya karena terkejut, bukankah Tasya belum menikah? "Mbak hamil? Bercanda ya? Mbak kan belum menikah?" Tanya Suci.
"Anak ini ada karena sebuah kesalahan, Ci. Karena aku tidak bisa menjaga diri, dan laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab Ci, aku ingin menggugurkan anak ini. Aku tidak mau dia lahir tanpa seorang ayah. Aku gak mau dia merasakan sakitnya hidup seorang diri seperti aku Ci. Aku ingin menggugurkan anak ini huhuhu."
Tasya sudah mulai menangis, dia akan merebut satu orang saja dari sekian banyak orang yang menyayangi Suci, saat ini Fery tidak mencintainya, tapi suatu saat nanti jika Fery sudah menjadi suaminya, Fery pasti akan mencintainya.
******
Alur tidak bisa diubah, dari awal saya tidak mengubah alur cerita ini. Soal cover dan judul memang diganti karena yang sebelumnya hampir sama dengan milik tetangga.
Banyak novel online dengan tema yang berbeda-beda, pilihan untuk membaca ada ditangan masing-masing, jadi semua bebas memilih ya gaessss!✌Jangan baca novel kalau bikin pening, karena harga sembako mahal, jadi jangan menambah pikiran kita✌Saya juga begitu bebas menentukan alur, karena saya yang nulis🙏
Q : Thor, gak takut pembacanya pergi? terus ceritanya gak ada yang baca?
A : Begini sayangku, cintaku, pujaan hatiku, aku masih belajar nulis, jadi aku akan menulis sesuai dengan kemampuanku yang gak seberapa ini, karena itu juga novel ini gak aku ajukan kontrak jadi, terima kasih mentemen yang masih setia membaca😍😍😍😍
Jadi sebenarnya aku dapat tawaran untuk memindahkan kisah cinta Suci dan Fery ke tempat lain, tapi aku belum mengambil keputusan😌 Aku tuh sayang sama Reader di sini, tapi aku gak tega juga, karena konflik😣 Gimana dong? Aku dilema gaessss
Bukan ngambek gaesss tapi aku sudah siapkan naskah sampai tamat, kan sayang kalau dianggurin🤗🤗
Suci sama fery ntar bikin anak sendiri aja 😝
Ngeselin ah