NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Rumor di Sekolah

Dua minggu kemudian, mobil Om Bram berhenti di depan gerbang SMA Tunas Bangsa.

Aku melihat bayanganku pada kaca jendela. Seragam putih abu-abuku masih kaku, sepatu hitamku tidak retak, dan rambutku diikat rapi oleh Mbok Nah. Aku tampak seperti murid yang hidupnya tidak pernah berantakan.

“Saya jemput pukul tiga, Non,” kata petugas yang mengantarku.

Aku mengangguk, lalu turun.

Beberapa murid di dekat gerbang menoleh ke arah mobil. Bisik-bisik mengikuti langkahku sampai koridor. Aku berusaha menatap lurus, seperti yang diajarkan Om Bram ketika kami datang mendaftar.

Kelas baruku berada di lantai dua. Seorang siswi bernama Mira menggeser kursi agar aku bisa lewat.

“Kamu murid pindahan, ya?”

“Iya. Aku Sekar.”

“Mobil tadi punya orang tuamu?”

Aku belum sempat menjawab ketika suara tawa terdengar dari pintu.

Reno berdiri di sana.

Dia tampak lebih tinggi daripada terakhir kali kulihat, tetapi senyum mengejeknya tidak berubah. Matanya menyapu seragam dan tasku, lalu berhenti pada sepatu baru.

“Wah, hidup lo berubah cepat juga.”

Jari-jariku mencengkeram tali tas. “Aku mau belajar, Reno.”

“Gue cuma mau menyambut sepupu sendiri.” Dia menoleh kepada teman-temannya. “Dulu dia nggak punya uang buat beli nasi. Sekarang datang pakai mobil ratusan juta. Hebat, kan?”

Bel masuk menyelamatkanku dari jawaban.

Pelajaran pertama adalah matematika. Banyak bagian di papan tulis terasa asing setelah bertahun-tahun belajar dari buku bekas sendirian. Aku mencatat semua yang kutahu dan memberi tanda tanya pada bagian yang tidak kupahami.

Ketika guru meminta seorang murid menyelesaikan soal dasar, tidak ada yang mengangkat tangan. Aku tahu jawabannya. Tanganku terangkat pelan.

“Silakan, Sekar.”

Kakiku kaku saat berjalan ke depan, tetapi angka-angka tidak menatap pakaianku atau bertanya siapa yang membelikan sepatu. Aku menyelesaikan soal itu sampai guru mengangguk.

“Bagus. Dasarmu masih kuat.”

Untuk beberapa menit, ketakutanku menghilang. Mira bahkan meminjam penghapus dan mengajakku membeli minum saat istirahat. Aku mulai berpikir sekolah mungkin benar-benar bisa menjadi tempat baru.

Namun saat istirahat pertama, ponsel-ponsel mulai bergetar. Mira yang duduk di sampingku membaca sesuatu, lalu menggeser kursinya menjauh. Dua anak di belakang menutup mulut sambil tertawa.

Aku membuka grup WhatsApp angkatan yang baru dimasukkan wali kelas pagi tadi.

Sebuah foto diriku saat turun dari mobil memenuhi layar. Di bawahnya, Reno menulis:

`Sepupu gue balik sekolah setelah dipelihara om-om kaya. Pantes sekarang barangnya baru semua.`

Pesan berikutnya lebih buruk.

`Katanya tinggal serumah. Kalian ngerti sendiri, lah.`

Dadaku seperti disiram air es.

Aku mengetik bahwa Om Bram adalah calon ayah angkatku. Sebelum pesan terkirim, seseorang sudah mengambil tangkapan layar dan mengunggahnya ke IG Story dengan tulisan `simpanan baru`.

“Itu bohong,” kataku kepada Mira.

Dia menghindari mataku. “Aku nggak bilang apa-apa.”

“Tapi kamu percaya?”

Mira pura-pura sibuk dengan buku.

Sepanjang hari, kata itu menempel di punggungku. Simpanan. Anak laki-laki di koridor bersiul ketika aku lewat. Dua siswi berhenti bicara saat aku masuk toilet. Di kantin, kursi di sampingku dibiarkan kosong.

Hari kedua tidak lebih baik. Hari ketiga, sebuah kertas bertuliskan `berapa tarifnya?` ditempel di laci mejaku.

Aku meremas kertas itu sampai kukuku melukai telapak.

Jangan menangis. Kalau menangis, Reno menang.

Aku membuangnya dan tetap mengikuti pelajaran.

Sepulang sekolah, aku sempat menghampiri Reno di dekat lapangan.

“Hapus pesannya.”

Dia tertawa sambil terus memainkan ponsel. “Kenapa? Takut om lo baca?”

“Kamu tahu yang sebenarnya.”

“Yang gue tahu, nyokap gue nggak bisa pulang gara-gara lo.”

“Bu Win sendiri yang melakukan itu.”

“Jangan bawa-bawa nama nyokap gue.”

Dua temannya berdiri di belakangnya. Salah seorang mengarahkan kamera ponsel kepadaku. Aku melihat layar menyala dan tahu apa pun yang kukatakan akan dipotong menjadi bahan ejekan baru.

“Matikan kameranya.”

“Santai saja,” kata Reno. “Kalau hidup lo bersih, kenapa takut direkam?”

Aku pergi sebelum air mataku jatuh. Malam itu aku mengetik pesan kepada Om Bram tiga kali, lalu menghapusnya tiga kali. Aku masih percaya masalah akan mengecil kalau aku menahannya sendirian.

Pada hari kelima, Bu Ratna masuk sebelum jam terakhir selesai.

“Sekar, ikut Ibu ke ruang BK.”

Semua mata mengikuti saat aku berdiri.

Di ruang BK, Bu Ratna meletakkan ponselnya di meja. Unggahan tentangku masih terbuka di layar.

“Kamu tahu ini sudah merusak nama sekolah?”

“Itu bukan aku yang membuat, Bu.”

“Tapi kamu yang jadi bahan pembicaraan.”

“Karena Reno bohong.”

Bu Ratna menyilangkan tangan. “Reno bilang kamu tinggal dengan pria dewasa yang bukan keluarga kandung.”

“Om Bram sedang mengurus aku sebagai anak angkat. Ada Fikri yang mengurus dokumennya. Polisi dan dinas sosial juga tahu.”

“Surat penetapan pengadilannya mana?”

Aku terdiam. Proses itu belum selesai.

Bu Ratna bersandar, seolah diamku adalah pengakuan. “Alasan seperti itu sudah biasa dari anak-anak seperti kamu.”

“Anak seperti aku itu apa, Bu?”

Wajahnya mengeras. “Jaga bicaramu.”

“Ibu bahkan belum bertanya kepada Om Bram.”

“Sekolah tidak punya kewajiban mencampuri urusan pribadimu. Kewajiban kami menjaga nama baik sekolah.” Dia menarik satu formulir. “Mulai besok kamu diskors tiga hari. Selama itu, bereskan masalahmu dan jangan membawa pengaruh buruk ke sini.”

“Tapi aku tidak melakukan apa-apa.”

“Keputusan sudah dibuat.”

Tanganku gemetar ketika menerima surat itu. Tinta tanda tangan Bu Ratna masih basah.

Di luar ruang BK, Reno bersandar di dinding.

“Tiga hari?” Dia melihat surat di tanganku. “Harusnya langsung dikeluarkan.”

“Kenapa kamu melakukan ini?”

“Karena nyokap gue jadi buronan gara-gara lo.”

“Bu Win menjual aku.”

“Dia membesarkan lo!” Reno maju selangkah. “Sekarang lo sok suci karena punya om kaya. Tunggu saja sampai dia bosan.”

Aku ingin membalas, tetapi tenggorokanku terkunci.

Petugas penjemput menungguku di gerbang meski belum pukul tiga. Mungkin sekolah sudah menelepon. Aku duduk di kursi belakang dan menahan air mata sampai gerbang hilang dari pandangan.

Di Puri Cendana, aku menyembunyikan surat skors di dalam tas. Aku hampir naik ke kamar ketika Om Bram keluar dari ruang kerjanya.

“Kenapa pulang cepat?”

“Kelasnya selesai.”

Tatapannya turun ke tanganku. Kertas skors yang kuselipkan tidak cukup dalam dan ujungnya terlihat.

“Sekar.”

Hanya namaku, tetapi kebohonganku runtuh.

Aku menyerahkan surat itu. Kemudian semuanya keluar. Pesan WhatsApp, IG Story, meja yang dicoret, Bu Ratna yang tidak mau mendengar, dan Reno yang menyebutku simpanan.

“Aku nggak tinggal sama Om karena hal buruk,” kataku sambil menangis. “Aku sudah jelaskan, tapi mereka nggak percaya.”

Om Bram membaca surat itu sampai selesai. Wajahnya tenang, terlalu tenang.

“Kenapa baru bilang sekarang?”

“Aku takut merepotkan Om.”

Dia melipat surat itu sekali. “Meminta pertolongan bukan merepotkan.”

Aku mengusap pipi. “Om percaya aku?”

“Saya percaya.”

Jawabannya datang tanpa jeda.

Om Bram duduk di depanku. “Besok, biar Om yang urus. Tapi sebelum itu, kamu perlu...”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!