NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Makin Dipancing Makin Jadi

Selena menunggu di tikungan koridor lantai dua puluh tiga.

"Maya."

Amaya tidak menghentikan langkah sampai sang kakak berdiri tepat di depannya.

"Bagaimana? Papa marah besar?"

Nada Selena penuh kekhawatiran, tetapi matanya terlalu cerah untuk seseorang yang sedang bersimpati.

"Lumayan."

"Aku sudah bilang akan membantu menjelaskan. Proyek sebesar ini memang terlalu berat kalau langsung diberikan kepada orang yang belum berpengalaman."

"Ci Selena mau mengambil alih?"

"Bukan begitu. Aku cuma ingin membantu membereskan yang tertinggal. Kalau kamu merasa nggak sanggup, bilang saja. Nggak perlu memaksakan diri sampai semua orang kecewa."

Amaya mendekat satu langkah. "Ci sebenarnya sedang menunggu aku menangis, lalu bilang aku nggak bisa, ya?"

Selena terlihat terluka. "Kenapa kamu selalu berpikir buruk tentangku?"

"Karena wajah Ci terlihat kecewa waktu aku belum menangis."

"Aku justru kasihan. Satu bulan di bagian klinis bukan hal mudah. Kamu nggak terbiasa bangun pagi, nggak suka bau rumah sakit, dan Dokter Sebastian terkenal paling nggak sabar menghadapi orang manja."

Amaya mengangguk seolah menerima nasihat.

"Sayangnya aku punya kebiasaan buruk."

"Apa?"

"Makin dipancing, makin jadi."

Senyumnya melebar. "Kalau Ci terus bilang aku nggak mampu, aku malah ingin menyelesaikannya lebih cepat supaya Ci susah tidur."

Selena menahan rahang. "Semoga percaya dirimu cukup untuk memperbaiki data."

"Amin. Doa saudara biasanya lebih mudah dikabulkan."

Amaya melewatinya tanpa menoleh lagi.

Selena menatap punggungnya. Biarkan perempuan itu bersikap berani hari ini. Tiga hari di rumah sakit, satu teguran Sebastian, dan satu malam tanpa tidur akan cukup membuatnya pulang menangis kepada Karina.

Kali ini Selena hanya perlu menunggu.

***

Mandy sudah duduk rapi di depan meja Amaya ketika ia kembali ke kantor Amerta.

Sebuah amplop putih terletak di atas pahanya.

"Saya mau menjelaskan soal tadi pagi, Mbak."

"Silakan."

"Notifikasinya masuk di luar jam kerja. Saya sedang ada urusan keluarga dan benar-benar lupa. Saya tahu ini kesalahan besar."

"Lalu?"

Mandy meletakkan amplop di meja. "Saya rasa saya nggak cocok bekerja di tim ini. Ini surat pengunduran diri saya."

Persis seperti dugaan Amaya.

Begitu Mandy keluar, semua kelalaian akan berhenti pada seorang mantan asisten. Jika diperiksa, ia cukup mengaku ceroboh. Tidak ada pesan dari Selena, tidak ada transfer mencurigakan, dan tidak ada alasan hukum untuk menahannya.

Mengejar satu bidak akan menghabiskan waktu yang kini dihitung per hari.

Amaya membuka amplop, membaca tanggal, lalu menandatanganinya sebagai pihak yang menerima.

"Baik. Serahkan akun kerja dan daftar dokumen kepada HR sebelum jam tiga."

Mandy berkedip. "Mbak nggak mau memberi sanksi?"

"Kamu berharap aku marah?"

"Nggak. Saya cuma pikir Mbak akan meminta penyelidikan."

"Kalau diselidiki, kamu akan bilang apa? Bahwa kamu lupa karena urusan keluarga?"

Wajah Mandy kehilangan warna.

Amaya menyandarkan tubuh ke kursi. "Aku bisa menahanmu berjam-jam, meminta HR memeriksa setiap pesan, lalu menulis laporan panjang. Pada akhirnya kamu tetap pergi dan aku kehilangan satu hari untuk orang yang sudah nggak berguna bagi proyek."

"Saya nggak mengerti maksud Mbak."

"Nggak perlu. Pastikan semua akses diserahkan dengan benar. Kalau setelah ini ada satu file hilang, barulah kita bertemu lagi dalam suasana yang nggak menyenangkan."

"Kamu sudah memilih pergi."

"Saya sungguh minta maaf."

"Hati-hati di jalan."

Tidak ada kemarahan. Tidak ada ancaman. Mandy justru tampak lebih gelisah ketika keluar daripada saat masuk.

Amaya segera meminta akses seluruh surel proyek dialihkan, mengganti izin folder, dan memeriksa riwayat unduhan. Tidak ada bukti yang mengarah lebih jauh.

Ia menyimpan salinan log untuk berjaga-jaga, lalu berhenti membuang perhatian pada orang yang memang disiapkan untuk ditinggalkan.

***

Siang bergeser menjadi sore di antara laporan laboratorium.

Amaya membuat tiga warna penanda. Hijau untuk data yang cocok dengan catatan sumber. Kuning untuk catatan yang hilang atau terpisah. Merah untuk hasil yang harus dilacak kembali melalui unit klinis dan kemungkinan diuji ulang.

Nomor sampel, waktu pengambilan, suhu penyimpanan, petugas penerima, dan putaran pengujian dimasukkan ke satu tabel induk. Pekerjaan itu lambat, tetapi kekacauan mulai memiliki bentuk.

Ia menemukan tujuh sampel hijau dalam satu jam pertama. Lima lainnya berubah merah karena waktu serah terima tidak tercatat. Di sebuah lembar kerja, kolom suhu hanya berisi tanda centang tanpa angka. Di lembar lain, nama petugas ditulis dengan inisial yang tidak terdaftar dalam daftar tim.

Amaya tidak menebak. Ia membuat kolom pertanyaan dan menandai unit yang harus memberi jawaban.

Teleponnya bergetar berkali-kali karena pesan makan siang dan rapat lain. Ia mematikannya, memesan nasi lewat aplikasi, lalu baru menyadari makanan itu dingin dua jam kemudian.

Pukul empat, tabel induk sudah memiliki seratus delapan puluh enam baris. Belum sampai sepersepuluh keseluruhan, tetapi pola kesalahannya mulai terlihat.

Data bukan benda mati yang muncul di laporan. Setiap angka lahir dari seseorang yang mengambil bahan, orang lain yang membawanya, alat yang membacanya, dan petugas yang mencatat. Satu mata rantai tanpa identitas bisa membuat hasil paling bagus kehilangan nilai.

Menjelang pukul enam, ia sudah tahu dua hal.

Sebagian perbedaan berasal dari pengulangan uji yang tidak diberi keterangan. Sisanya tidak bisa diselesaikan dari meja. Ia membutuhkan akses ke buku penerimaan, rantai penyimpanan, jadwal tenaga laboratorium, dan persetujuan untuk mereplikasi beberapa pemeriksaan.

Semua jalan menuju orang yang sama.

Sebastian.

Amaya menutup laptop, mengambil tas, lalu menuju lantai tiga puluh tiga.

Koridor kantor eksekutif sudah sepi. Ivan memberi tahu bahwa Sebastian baru kembali dari RS Amerta dan sedang menyelesaikan laporan di dalam.

"Ada janji?" tanyanya.

"Nggak. Tapi dia akan menerima aku."

Keyakinan itu membuat Ivan menatapnya sesaat sebelum pamit ke ruang rapat lain.

Amaya berdiri di depan pintu kantor Sebastian. Ia mengeluarkan kotak kecil wasabi dari kantong samping tas.

Menangis sungguhan untuk masalah kerja terlalu melelahkan. Air mata pinjaman jauh lebih efisien.

Ia mengambil wasabi sebesar kacang kedelai dengan ujung sendok kecil, memasukkannya ke mulut, lalu menunggu rasa pedas naik ke hidung.

Matanya langsung panas.

"Sial," bisiknya sambil mengedip cepat.

Satu tetes air jatuh. Amaya mengoleskan sedikit sisa di ujung jarinya ke kelopak bawah, memastikan warna merahnya terlihat meyakinkan.

Dari balik pintu terdengar langkah mendekat.

Kalau perhitungannya benar, wajah seperti ini akan menghapus setengah kemarahan Sebastian sebelum ia sempat mengatakan satu kalimat pun. Sisanya bisa ia urus sambil duduk manis di depan meja kerjanya yang sangat besar itu.

Amaya mengembalikan wasabi ke tas, menarik napas gemetar yang sudah dilatih, lalu mengangkat tangan ke gagang pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!