Semua orang bilang Laras sial.
Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.
Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…
*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Fitnah
Beberapa hari setelah malam hujan itu, Arya pergi ke peternakan sebelum matahari tinggi.
Raka dan Bayu pulang sekolah menjelang siang. Seusai makan, mereka mengerjakan tugas di ruang tamu, sedangkan Sasa tidur di kamar bawah agar mudah kuawasi. Aku sedang menjemur handuk di belakang ketika mendengar suara benda jatuh dari lantai dua.
Pagi itu sebenarnya tidak berbeda dari hari lain. Bang Gino sempat mengantar daftar pengiriman, Bu Sumi menitipkan sepiring pisang goreng, dan Pak RT mengirim pesan tentang rapat warga. Pintu depan terkunci setelah anak-anak masuk. Pintu belakang kututup sendiri sebelum mencuci piring.
Karena itu suara dari lantai atas tidak mungkin berasal dari angin.
Raka juga menoleh dari buku matematikanya. “Ada orang?”
“Kalian tetap di sini.”
Aku memeriksa dapur lebih dulu. Jendela tertutup, pintu gudang terkunci, dan Jagoan masih berbaring di bawah pohon mangga. Anjing itu tidak menggonggong, mungkin karena orang yang masuk membawa bau yang sudah dikenalnya bertahun-tahun.
Di dekat tangga, Sasa terbangun dan mulai merengek dari kamar. Bayu hendak bangkit.
“Temani Sasa,” kataku. “Jangan naik sebelum kupanggil.”
Bayu membawa adiknya ke ruang tamu, lalu menutup pagar pengaman tangga. Raka berdiri di depannya seperti pelindung kecil, meski wajahnya tegang.
“Raka?” panggilku.
“Aku di sini, Mbak Laras.”
Dia menjawab dari ruang tamu.
Aku menoleh ke tangga. Pintu kamarku seingatku sudah dikunci. Namun saat naik, daun pintunya terbuka selebar telapak tangan.
Lemari di sudut kamar juga terbuka.
Bik Inah berdiri membelakangiku. Di tangannya ada kotak perhiasan dari mahar. Beberapa gelang dan kalung sudah dibungkus kain lalu dimasukkan ke dalam tas besar di pinggangnya.
“Bik Inah.”
Dia tersentak dan menjatuhkan satu kotak kecil.
“Bagaimana kamu masuk?” tanyaku.
Wajahnya pucat sesaat, lalu berubah keras. “Saya datang mengambil milik saya.”
Di lantai dekat lemari terlihat bekas tanah merah dari sandalnya. Satu daun jendela terbuka, tetapi kisi besinya tidak rusak. Ketika mataku jatuh pada kunci kecil di atas meja, aku memahami jawabannya.
“Kamu membuat salinan kunci.”
“Kunci rumah ini dulu memang saya pegang.”
“Dan kamu wajib menyerahkan semuanya saat diberhentikan.”
“Saya berjasa di sini jauh sebelum kamu datang.”
“Jasa bukan izin masuk diam-diam dan membongkar lemari orang.”
“Tidak ada milikmu di lemari ini.”
Aku berdiri di antara dia dan pintu. Dari bawah terdengar langkah Raka mendekati tangga.
“Tetap di bawah!” seruku.
Bik Inah melihat ke belakangku, lalu tangannya bergerak cepat. Dia mengeluarkan sebuah gelang tipis dari tas dan menyelipkannya ke bawah buku latihan yang tergeletak di meja kecil lorong. Buku itu milik Raka.
Aku langsung mengambil gelang tersebut. “Jadi ini rencanamu?”
“Apa maksudmu?”
“Menaruh emas di antara barang Raka, lalu menuduh dia mencuri.”
Suara Bayu muncul dari bawah. “Kak Raka tidak pernah mencuri!”
“Masuk kamar bersama Sasa,” kata Raka kepadanya. “Kunci pintunya.”
Dia menaati ucapanku untuk tidak naik, tetapi tidak meninggalkan kaki tangga. Sikapnya membuatku sadar betapa cepat keadaan ini bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.
“Taruh semua barang di lantai,” kataku kepada Bik Inah. “Aku akan menelepon Pak RT dan polisi.”
“Polisi?” Dia tertawa dengan napas kasar. “Pak Arya saja tidak melaporkan saya. Kamu kira orang akan percaya perempuan yang baru masuk dibanding orang yang bertahun-tahun mengurus rumah ini?”
“Orang sudah melihat apa yang kamu lakukan.”
“Mereka cuma melihat apa yang kamu atur.”
Dia membuka resleting tas lebih lebar dan mencoba memasukkan kotak besar. Aku meraih pergelangan tangannya. Kami berebut. Tutup kotak terbuka dan satu kalung jatuh ke lantai.
“Lepaskan!” bentaknya.
“Kembalikan barangnya.”
Kukuku menggores punggung tangannya. Bik Inah memaki, lalu menarik rambutku. Aku menahan lengannya dan berusaha mendorong tas menjauh dari pintu.
“Mbak Laras!” Raka akhirnya berlari naik.
“Jangan mendekat!”
Bik Inah melihatnya dan mendadak menjerit ke arah jendela yang terbuka. “Tolong! Anak ini mencuri emas lalu menyerang saya!”
Beberapa orang di jalan pasti mendengar. Itulah yang diinginkannya: keributan, saksi yang hanya tiba setelah tuduhan diteriakkan, dan anak yatim yang mudah dijadikan tersangka.
“Emasnya ada di tasmu,” kataku.
“Kamu yang memasukkan!”
Dia menyikut perutku. Genggamanku terlepas. Bik Inah mendorongku dengan kedua tangan, lalu berlari ke tangga.
Punggungku menghantam kusen pintu. Bagian belakang kepalaku terbentur kayu keras. Cahaya putih meledak di depan mata dan lututku kehilangan tenaga.
Raka menangkap bahuku sebelum aku jatuh sepenuhnya. “Mbak Laras!”
“Aku tidak apa-apa.”
Namun suara yang keluar terdengar jauh. Saat menyentuh belakang kepala, jariku menemukan sedikit darah.
Bik Inah menuruni tangga sambil kembali berteriak. “Tangkap Raka! Dia pencuri! Emas itu disembunyikan di bukunya!”
Bayu keluar dari kamar bawah dan menghadang. “Pembohong!”
“Minggir!”
Bik Inah mengayunkan tas ke arahnya. Raka berlari turun dan menarik Bayu tepat waktu. Tas itu menghantam pagar tangga.
Di luar, Jagoan mulai menggonggong tanpa henti.
Aku berpegangan pada dinding dan memaksa turun. “Raka, telepon Ayah. Bayu, panggil Bu Sumi. Jangan dekati Bik Inah.”
Raka meraih ponsel rumah. Tangannya gemetar, tetapi dia menekan nomor Arya dengan benar. Bayu membuka pintu depan dan berteriak memanggil tetangga.
Bik Inah berlari ke teras.
Jagoan sudah berdiri dengan bulu tengkuk terangkat. Tali panjangnya terikat pada cincin besi di dekat pohon mangga. Bik Inah berhenti sesaat, lalu mengambil sapu untuk menghalau.
“Mundur!” teriaknya sambil mengayun.
Ujung sapu mengenai moncong Jagoan.
Anjing itu menggeram dan menerjang. Cincin besi berderit keras. Sekali, dua kali, lalu tali tua itu terlepas dari kaitnya.
Bik Inah menjerit dan berlari menuju pagar. Jagoan mengejar, bukan ke leher atau tangan, melainkan mencengkeram bagian bawah celananya. Kain itu robek. Bik Inah tersungkur di tanah sambil menendang-nendang.
Tas di pinggangnya terlepas.
Puluhan benda berkilau tumpah ke halaman: gelang, kalung, cincin, dan kotak emas yang baru diterima saat akad. Duplikat kunci rumah ikut meluncur dan berhenti tepat di kaki Bu Sumi yang baru masuk bersama beberapa tetangga.
“Astaga,” seru Bu Sumi. “Ini semua dari mana?”
“Punya saya!” teriak Bik Inah.
“Nama Laras masih tertulis di kotaknya,” kata Raka dari teras.
Pak RT datang berlari dari ujung jalan. Tetangga lain memenuhi pintu pagar. Tak ada lagi celah untuk menaruh gelang di buku Raka atau mengubah cerita sebelum saksi melihat barang-barang itu.
Dari telepon yang masih dipegang Raka, suara Arya terdengar keras. “Aku pulang sekarang.”
Bik Inah menunjuk Raka dan membuka mulut untuk meneriakkan kata pencuri sekali lagi.
Jagoan kembali menarik celananya. Tas yang robek itu terbalik sepenuhnya, dan sisa emas berhamburan di depan semua orang.