NovelToon NovelToon
Aku Hidup Kembali

Aku Hidup Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian Yang Tak Pernah Terucap

Bab 26

Pagi itu, suasana kampus berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Di depan ruang kelas, Raka baru saja datang ketika melihat Nia sedang membaca catatan.

"Ni, tugas Pak Arman udah selesai?" tanyanya sambil menyandarkan tubuh di kusen pintu.

Nia menoleh sekilas.

"Udah."

"Pinjam lihat bentar."

Nia langsung menutup buku yang dipegangnya.

"Nggak."

Raka menghela napas panjang.

"Pelit banget."

"Bukan pelit. Kemarin siapa yang bilang tulisanku bikin pusing?"

Raka menggaruk tengkuk sambil tersenyum canggung.

"Kan cuma bercanda."

"Aku juga lagi bercanda."

"Nggak lucu."

"Memang."

Beberapa teman yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum kecil.

Raka menggeleng pelan.

"Ya udah. Nanti pas dosen datang jangan nyesel kalau aku nanya terus."

Nia mendengus, lalu beberapa detik kemudian tetap menyodorkan bukunya.

"Cuma lima menit."

Senyum Raka langsung mengembang.

"Aku tahu kamu baik."

"Jangan ge-er."

Raka tertawa kecil sambil menerima buku itu.

Di sisi lain, Karin yang melihat tingkah mereka hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Mereka nggak pernah akur."

Kai yang berdiri di sampingnya hanya melirik sekilas.

"Begitulah."

Jawabannya singkat seperti biasa.

Karin terkekeh pelan. Entah mengapa, ia mulai terbiasa dengan cara bicara Kai yang selalu seperlunya. Bahkan terkadang, satu atau dua kata darinya sudah cukup untuk menjawab sebuah pertanyaan.

Bel berbunyi. Mereka pun memasuki kelas.

-

-

-

Kuliah hari itu berlangsung cukup padat. Menjelang siang, dosen memberikan tugas kelompok yang harus dikumpulkan sebelum sore.

"Silakan kerjakan di mana saja. Yang penting selesai hari ini," ujar dosen sebelum meninggalkan ruangan.

Seperti biasanya, Kai, Karin, Raka, dan Nia memilih menuju perpustakaan.

Suasana perpustakaan jauh lebih tenang dibandingkan kantin. Mereka mengambil sebuah meja di sudut ruangan agar bisa berdiskusi tanpa mengganggu pengunjung lain.

Raka dan Nia sesekali masih berdebat soal isi tugas.

"Jawabannya bukan itu."

"Ya terus apa?"

"Coba baca lagi pertanyaannya."

"Aku udah baca."

"Berarti bacanya kurang teliti."

"Kamu yakin?"

"Yakin."

"Kalau salah?"

Nia tersenyum tipis.

"Ya kita salah bareng."

Raka terkekeh pelan.

"Baru itu masuk akal."

Sementara itu, Kai lebih banyak membuka buku referensi dan sesekali mengetik hasil diskusi di laptopnya. Ia hampir tidak ikut dalam perdebatan kecil Raka dan Nia.

Karin duduk di samping Kai sambil merangkum beberapa poin penting.

Beberapa saat kemudian, pulpennya terlepas dari tangan dan menggelinding ke bawah meja.

"Eh..."

Tanpa berpikir panjang, Karin membungkukkan badan untuk mengambilnya.

Di saat yang bersamaan, Kai yang berada tepat di sampingnya melihat sudut meja kayu berada sangat dekat dengan kepala Karin.

Refleks. Tangannya lebih dulu menahan sudut meja itu.

Tok.

Kepala Karin mengenai telapak tangan Kai. Karin mengambil pulpennya, lalu mendongak. Baru saat itulah ia menyadari posisi tangan Kai.

Kai segera menarik tangannya.

"Hati-hati."

Suaranya tetap tenang seperti biasa.

Karin sempat terdiam beberapa detik sebelum tersenyum tipis.

"Makasih."

Kai hanya mengangguk pelan, lalu kembali menatap layar laptopnya seolah tidak terjadi apa-apa. Baginya, tindakan itu adalah hal yang biasa.

Namun tanpa disadari, senyum Karin bertahan lebih lama dari biasanya. Belakangan ini, Kai memang sering melakukan hal-hal kecil yang membuatnya merasa diperhatikan.

Saat hujan turun, Kai diam-diam berdiri di sisi yang terkena percikan air agar Karin tetap kering.

Ketika mereka berjalan di trotoar, Kai tanpa sadar selalu memilih sisi yang menghadap jalan.

Jika Karin membawa buku terlalu banyak, entah sejak kapan sebagian buku itu sudah berpindah ke tangan Kai.

Semuanya dilakukan tanpa banyak bicara. Tanpa meminta balasan. Tanpa menjelaskan alasan.

Karin menganggap semua itu wajar. Mungkin... Kai hanya berusaha menjalankan kesepakatan mereka sebagai pasangan pura-pura.

Bukankah sejak awal ia memang meminta bantuan Kai untuk berpura-pura menjadi kekasihnya?

Karena itulah, Karin tidak pernah berpikir lebih jauh. Padahal, jauh di dalam hatinya, rasa nyaman itu perlahan mulai tumbuh. Ia mulai merasa hari-harinya sedikit berbeda setiap kali Kai berada di dekatnya.

-

-

-

Satu jam kemudian, tugas kelompok akhirnya selesai.

Raka meregangkan kedua tangannya sambil mengembuskan napas panjang.

"Akhirnya selesai juga. Kalau kelamaan di perpustakaan, aku bisa berubah jadi rak buku."

"Bagus," sahut Nia tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. "Lumayan, jadi nggak usah nyari kamu kalau mau pinjam buku."

Raka mendecak pelan.

"Mulutmu itu ya..."

Nia tersenyum puas.

"Makasih."

Karin yang duduk di seberang mereka terkekeh pelan. Candaan Raka dan Nia memang hampir tidak pernah berhenti. Meski sering berdebat, keduanya selalu kembali berbicara seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Berbeda dengan Kai.

Sejak tadi ia hanya menutup laptop, merapikan buku-buku referensi, lalu berdiri.

"Ayo."

Satu kata itu sudah cukup membuat mereka mengerti.

Keempatnya berjalan keluar dari perpustakaan.

Di depan gedung fakultas, Raka dan Nia memilih berjalan lebih dulu sambil kembali memperdebatkan tempat makan yang akan mereka datangi.

Kai dan Karin berjalan beberapa langkah di belakang.

Suasana di antara keduanya tetap tenang. Tidak canggung. Tidak juga ramai oleh percakapan.

Namun entah mengapa, keheningan itu terasa nyaman.

"Kamu nanti langsung kerja?" tanya Karin pelan.

"Iya."

"Pak Surya pasti lagi banyak pelanggan?"

Kai mengangguk singkat.

"Motor numpuk."

"Oh..."

Karin mengerti.

Ia tahu Kai selalu bekerja sepulang kuliah di bengkel milik Pak Surya. Bahkan beberapa kali ia melihat tangan Kai dipenuhi bekas oli ketika datang ke kampus keesokan harinya.

Meski begitu, Kai tidak pernah mengeluh. Baginya, bekerja sudah menjadi bagian dari tanggung jawab.

Mereka tiba di depan gerbang kampus. Raka dan Nia melambaikan tangan lebih dulu.

"Kami duluan ya!" seru Raka.

"Iya, hati-hati!" balas Karin.

Kini hanya Kai dan Karin yang tersisa.

Halte bus berada tidak jauh dari gerbang kampus. Seperti biasa, Karin berhenti di sana.

"Kamu berangkat dulu aja," ucap Karin.

Kai tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri beberapa langkah darinya sambil melihat ke arah jalan.

Karin ikut menoleh. Belum ada bus yang datang.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Barulah terdengar suara mesin bus dari kejauhan. Bus yang ditunggu akhirnya muncul.

Kai memandang bus itu hingga benar-benar berhenti di depan halte. Baru setelah pintunya terbuka, ia berkata singkat.

"Aku pergi dulu."

Karin mengangguk.

"Iya. Hati-hati di jalan."

"Hm."

Kai berbalik dan berjalan menuju area parkir.

Karin memperhatikannya sekilas sebelum naik ke dalam bus. Namun bus belum juga berangkat karena masih menunggu beberapa penumpang lain.

Dari balik jendela, tanpa sengaja pandangannya mengarah ke parkiran kampus.

Kai sedang menghampiri sepeda motor tua berwarna hitam. Motor milik Pak Surya.

Karin mengenali motor itu. Kalau Kai membawa motor tersebut, berarti pekerjaan di bengkel sedang banyak. Menggunakan motor akan jauh lebih cepat dibanding menunggu bus kota.

Karin tersenyum kecil.

"Semoga nggak terlalu capek hari ini..."

Di saat yang sama, Kai baru saja mengenakan helm dan menghidupkan mesin motornya.

Brum...

Belum sempat ia menarik gas, seseorang memanggil namanya.

"Kai!"

Kai menoleh.

Maureen berlari kecil menghampirinya.

Wajah gadis itu terlihat pucat.

Napasnya pun masih tersengal.

Kai mematikan kembali mesin motornya.

"Ada apa?"

"Nenekku... masuk rumah sakit." Suara Maureen terdengar cemas. "Papa sama Mama lagi di luar kota. Aku udah coba pesan taksi, tapi belum dapat juga." Ia menggenggam tali tasnya erat. "Bisa... antar aku ke rumah sakit?"

Kai terdiam sesaat. Matanya sempat melihat jam di tangan. Hari itu juga masih ada beberapa motor pelanggan yang harus segera diperbaiki. Jika terlambat, pekerjaan akan semakin menumpuk. Namun melihat kepanikan di wajah Maureen, Kai tidak sampai hati menolak.

"Ayo." Jawabannya singkat.

Raut wajah Maureen langsung berubah lega.

"Makasih, Kai."

Kai hanya mengambil helm cadangan yang tersangkut di setang motor lalu menyerahkannya.

"Tolong dipakai."

Maureen mengangguk cepat sebelum mengenakan helm tersebut.

Tak lama kemudian, motor itu melaju meninggalkan parkiran kampus.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Dari balik jendela bus, Karin menyaksikan motor itu keluar melalui gerbang kampus. Tatapannya mengikuti hingga kendaraan itu menghilang di tikungan. Ia tahu Kai memang sedang terburu-buru menuju bengkel. Ia juga tahu Kai bukan tipe orang yang akan menunda pekerjaannya tanpa alasan. Kalau sampai mengubah tujuan, berarti keadaan Maureen pasti benar-benar mendesak.

Karin menarik napas pelan. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri dengan pikiran itu.

Namun anehnya, saat melihat Maureen duduk di belakang Kai, ada sesuatu yang terasa mengganjal di dalam hatinya. Perasaan yang belum pernah muncul sebelumnya.

Bukan marah. Bukan juga curiga. Hanya... sedikit rasa sesak yang sulit dijelaskan.

Karin menatap ke luar jendela. Pemandangan di sepanjang jalan mulai bergerak ketika bus perlahan meninggalkan halte. Tanpa sadar, ia mengembuskan napas panjang.

"Aku kenapa, ya..."

Pertanyaan itu hanya bergema di dalam hati. Ia sendiri tidak mengetahui jawabannya. Yang ia tahu, sejak beberapa waktu terakhir, kehadiran Kai mulai menjadi bagian dari hari-harinya.

Dan untuk pertama kalinya, melihat Kai pergi bersama perempuan lain membuat hatinya terasa sedikit berbeda.

Sementara itu, Kai sama sekali tidak menyadari bahwa keputusan sederhananya untuk menolong seseorang telah meninggalkan riak kecil di hati Karin.

Riak yang pelan-pelan tumbuh menjadi sebuah perasaan... yang bahkan belum mampu diberi nama oleh Karin sendiri.

-

-

-

Bersambung....

1
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kali ini jalanmu tak kan mulus gi
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
mungkin jalanmu akan berubah mulai sekarang gi..
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
weehh gercep juga si gio ya, udah sampai ke bengkel
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kita liat
Author.N.
Untunglah ada saksi
Author.N.
pasti ini orang suruhan Gio
Author.N.
Dasar licik Gio 😏
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
semoga bisa merubah semua yg lalu
Author.N.
alhamdulillahnya tuh ayah ibunya menyambut baik
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
mau apa? bikin gentar kai?
Author.N.
lahhh dianya beneran 😅
Author.N.
pikirkan cara lagi buat menghancurkan Gio, Rin. Cari tau kehidupan dia
Author.N.
huwaaa misteri lagi. Gio dari awal licik sih ya,
Author.N.
cieee belum2 udah perhatian nih 😍
Author.N.
hati2 abang Kai ada yg lagi mengawasimu
Author.N.
Kasian 🤣
Author.N.
thoorr kasih visualnya cepetaaann 😍
Author.N.
mau es teh jumbo yang 4rebuan apa 5rebuan nih bang
Author.N.
ganteng tapi nyakitin 😌😌
Author.N.
eh mendadak ada teka teki
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!