Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
Kriiiiinggg!....
Suara bel panjang tanda berakhirnya jam istirahat bergema nyaring, bahkan sampai memecah keheningan tempat rahasia di balik kantin itu.
Reyhan menghembuskan napas berat, wajahnya mendadak ditekuk. "Duh, elah... baru juga sebentar," gerutunya terang-terangan, tampak jelas belum puas berbincang dan mencari perhatian Diantha.
Mendengar bel tersebut, Althaf langsung berdiri tanpa menunda waktu. Teman-temannya yang lain pun mulai membereskan barang-barang mereka, bersiap menyelinap kembali ke kelas sebelum guru jam berikutnya masuk.
Althaf melangkah mendekat ke arah Diantha dan Sari, berusaha mengabaikan keberadaan Reyhan. "Yuk, balik ke kelas. Nanti dicariin Pak Gunawan" ajaknya dengan nada suara yang sebisa mungkin dibuat santai.
Diantha dan Sari mengangguk, lalu berdiri dari bangku kayu. Namun, baru saja Diantha hendak mengambil langkah pertama, sebuah genggaman tangan mendadak menahan pergelangan tangannya.
"Diantha, kapan-kapan kita ngobrol lagi ya?" ujar Reyhan dengan senyum manis yang dipaksakan, menatap Diantha penuh harap.
Diantha terkejut. Tanpa membuang waktu, ia langsung menarik tangannya dengan gerakan tegas hingga cengkraman Reyhan terlepas. Diantha sama sekali tidak menjawab, hanya memberikan tatapan dingin sebelum melangkah mundur mendekat ke samping Sari.
Melihat respons Diantha yang begitu cuek, Reyhan menelan ludah, tapi pantang menyerah. Saat Althaf berjalan melewatinya untuk memimpin jalan keluar di depan Diantha, Reyhan dengan cepat mencegat langkah Althaf. Ia menepuk dan memegang bahu Althaf cukup erat, lalu mencondongkan tubuhnya untuk berbisik tepat di telinga adik kelasnya itu.
"Bantuin gue ya, Thaf... Gue beneran suka sama Diantha," bisik Reyhan penuh penekanan, merasa Althaf bisa menjadi 'kunci' untuk meluluhkan hati Diantha.
Dada Althaf seketika bergemuruh hebat. Ada rasa panas yang mendadak membakar dadanya mendengar permintaan itu keluar langsung dari mulut Reyhan. Rahangnya makin mengeras, menahan kekesalan yang hampir saja meledak saat itu juga.
Namun, demi menjaga situasi tetap aman dan tidak memancing keributan, Althaf terpaksa berpura-pura tenang. Tanpa mengumbar kata-kata, ia hanya mengedipkan sebelah matanya pelan, lalu mengangkat jempol dan jari telunjuknya membentuk tanda 'OK' secara singkat.
"Sip," gumam Althaf bohong.
Tanpa menunggu balasan Reyhan, Althaf langsung berbalik badan dan berjalan cepat menuntun Diantha serta Sari keluar dari celah semak-semak. Di balik wajahnya yang mendadak datar dan dingin sepanjang koridor sekolah, hati Althaf rasanya benar-benar panas membara.
Suasana di koridor menuju gedung kelas terasa luar biasa canggung. Diantha dan Sari hanya berjalan diam mengintip dari belakang. Sari beberapa kali menyikut arm Diantha sambil memberikan kode mata—mereka berdua sama-sama bisa merasakan aura dingin yang menguar makin pekat dari punggung Althaf, hingga tak ada satu pun dari mereka yang berani membuka suara.
Di depan mereka, Rian dengan santai mendaratkan satu lengannya di bahu Althaf, merangkul sahabatnya itu erat-erat. Sebagai orang yang paham betul situasinya, Rian berusaha meredakan ketegangan yang tertahan di tubuh Althaf.
"Udah lah, Thaf, santai aja..." berbisik Rian pelan agar suaranya tak terjangkau oleh Diantha dan Sari di belakang. "Ikutin aja dulu maunya si Reyhan. Nanti kan kelihatan, kalau Diantha ternyata juga suka sama Reyhan, ya berarti lo yang harus tahu diri dan mundur. Tapi kalau do'i nggak merespons atau emang nggak suka sama Reyhan... nah, di situ baru lo punya alasan buat maju."
Althaf tidak langsung menjawab. Ia hanya menghembuskan napas panjang dan berat melalui hidungnya. Dada Althaf terasa begitu sesak oleh dilema yang meradang.
Di satu sisi, membayangkan Reyhan gencar mendekati dan mengambil hati Diantha rasanya benar-benar membuat hatinya panas terakar. Tapi di sisi lain, Reyhan bukan sekadar kakak kelas biasa baginya—mereka adalah tetangga sekaligus teman bermain sejak kecil. Menolak permintaan Reyhan mentah-mentah atau bersaing secara terbuka terang-terangan hanya akan merusak hubungan persahabatan dan tetangga yang sudah terjalin bertahun-tahun.
"Nggak semudah itu, Ian," gumam Althaf lirih, hampir tak terdengar.
Althaf mengacak rambut belakangnya frustrasi. Ia berada di posisi yang sangat menyebalkan.. terjepit di antara perasaan sukanya yang baru tumbuh pada Diantha, dan loyalitas pertemanannya dengan Reyhan..