NovelToon NovelToon
Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dokter / Ibu Tiri
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.

Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.

Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.

Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.

Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Rani terus memutar otak, berusaha menemukan jawaban atas semua kejanggalan yang terjadi. Namun, sebelum pikirannya berhasil merangkai sebuah kesimpulan, suara ketukan tongkat terdengar dari arah pintu. Seorang wanita tua dengan rambut yang telah dipenuhi uban melangkah masuk. Di belakangnya, seorang pelayan mengikuti sambil membawa sekotak kue tar.

"Apa keributan ini?" tanyanya tegas. Tongkat jati mengilap di tangannya beberapa kali mengetuk lantai, seolah menegaskan wibawa yang dimilikinya.

Rani menatap wanita itu lekat-lekat, berusaha mengingat siapa dirinya. Kepalanya kembali berdenyut hingga terasa panas, tetapi tak ada satu pun ingatan yang muncul. Karena tak ingin menimbulkan kecurigaan, ia memilih diam dan menunggu seseorang menyapa wanita itu.

"Ibu datang?" sapa Roy sambil berdiri.

Saat itulah Rani akhirnya mengerti. Wanita tua itu adalah ibu mertuanya.

"Ibu Hani datang tepat waktu," ujar Sintia dengan senyum tipis. "Ibu, jangan salahkan Kak Rani. Dia yang membuat cucu Ibu masuk penjara."

"Apa? Cucuku masuk penjara?" Wajah Hani langsung mengeras. Tatapannya beralih tajam kepada Rani. "Rani, kamu memang tidak pernah berhenti membuat kekacauan!"

Roy mengembuskan napas pelan, berusaha meredakan suasana. "Ibu tidak perlu marah. Sebentar lagi Rani akan membebaskan mereka."

Ia lalu menoleh kepada Rani dengan tatapan penuh tekanan. "Iya, kan, Ran?"

Rani mengedarkan pandangan ke wajah mereka satu per satu. Kebingungan masih tergambar jelas di matanya, tetapi ia tahu tidak mungkin begitu saja mengiyakan permintaan itu.

"Mereka melakukan kesalahan," ucapnya tenang. "Kalau memang bersalah, mereka harus dihukum. Jangan terus memanjakan anak."

"Mereka hanya bermain-main. Tidak perlu kamu anggap serius. Lagi pula, kamu juga baik-baik saja," balas Roy, berusaha mengecilkan persoalan.

Hani yang sejak tadi berdiri akhirnya melangkah menuju sofa dan duduk dengan anggun. Ia menarik napas panjang, seolah sedang menimbang seluruh keadaan, lalu kembali menatap Rani dengan sorot mata penuh wibawa.

"Apa yang dikatakan Roy benar," ujarnya mantap. "Bebaskan mereka."

"Kak Rani," timpal Sintia lembut, "Ibu Hani sudah bicara. Kakak harus menuruti keinginannya. Bebaskan Aksan, Arlan, dan Arjun."

Ketika Rani tetap terdiam, Hani menggeleng pelan dengan raut penuh kekecewaan.

"Kamu ini sekarang ibu mereka," katanya. "Kenapa justru bersikap sekejam ini kepada anak-anakmu sendiri? Seandainya saja kamu memiliki setengah kelembutan yang dimiliki Sintia, mungkin mereka akan menyayangimu dan selalu membelamu."

Rani hanya mendengus pelan. Baru saja wanita itu datang, tetapi tanpa mencari tahu duduk persoalannya, ia sudah lebih dulu membela cucu-cucunya dan menjadikan Rani sebagai pihak yang bersalah.

Rani baru saja hendak membuka suara ketika Sintia kembali menyela.

"Kak, jangan keras kepala," ucapnya lembut, seolah sedang memberi nasihat. "Ibu Hani tidak suka perempuan yang membangkang. Kakak masih ingin dianggap menantu keluarga ini, kan?"

Kalimat itu membuat kepala Rani kembali berdenyut. Sekilas bayangan masa lalu melintas begitu saja di benaknya.

Saat itu ia baru saja menikah dengan Roy. Sebagai seorang yatim piatu, satu-satunya keluarga yang ia miliki hanyalah keluarga suaminya. Ia begitu ingin diterima dan dianggap sebagai bagian dari mereka.

Di saat itulah Sintia pernah mendekatinya sambil tersenyum manis.

"Kak, Ibu Hani paling suka menantu yang penurut. Semakin Kakak menuruti semua keinginannya, semakin besar rasa sayangnya."

Sintia bahkan menambahkan dengan nada penuh keyakinan, "Beliau juga tidak suka perempuan yang hidup bermewah-mewahan. Semakin Kakak merendah, semakin Kakak mendapat tempat di hatinya. Ingat, Kak... merendah untuk meroket."

Selama sepuluh tahun, Rani benar-benar mempercayai ucapan itu. Ia mengabdikan dirinya untuk melayani Hani tanpa pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri. Ia menuruti hampir semua keinginan wanita itu, sama seperti ia mengorbankan dirinya demi Roy dan ketiga anaknya.

Kini, setelah ingatan itu kembali, Rani justru merasa semua pengorbanannya begitu ironis.

Ia menatap Hani tanpa sedikit pun rasa gentar.

"Bu Hani," ucapnya tenang, "aku memang tidak akan pernah menjadi seperti Sintia. Apalagi memiliki setengah sifat penjilat yang dia miliki."

"Rani!" bentak Roy dengan suara menggelegar.

Wajah Sintia seketika memerah karena menahan malu dan amarah. Namun, ketika melihat Roy kembali memihaknya dan membentak Rani, ia memilih menelan emosinya. Kesempatan seperti ini terlalu berharga untuk disia-siakan.

Ia menundukkan kepala, lalu memasang raut wajah sendu.

"Mas Roy, jangan membentak Kak Rani," ucapnya lirih. "Aku tidak apa-apa kalau terus dihina seperti itu. Aku sudah terbiasa."

"Sudah. Tidak usah saling membela atau saling menyalahkan," sela Rani dengan nada datar. Tatapannya bergantian menyapu wajah mereka. "Yang jelas, aku tidak akan mundur. Aksan, Arlan, dan Arjun tetap akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Biar mereka belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi."

Ucapan itu membuat Hani yang semula masih duduk kembali bangkit berdiri.

"Sekali lagi, Rani," katanya tegas, "lepaskan mereka. Belajar bertanggung jawab tidak harus dengan masuk penjara."

Rani mengangkat sebelah alisnya. "Oh, begitu? Lalu menurut Bu Hani, sebaiknya bagaimana?"

"Biarkan mereka keluar," jawab Hani tanpa ragu. "Setelah itu Sintia yang akan mendidik mereka."

Usai berkata demikian, Hani memberi isyarat kepada pelayan yang sejak tadi berdiri sambil membawa kue.

"Berikan kue itu kepada Sintia," perintahnya. "Anggap saja ini hadiah dariku karena dia sudah pulang dari rumah sakit, sekaligus sebagai tanda bahwa aku mempercayakan pendidikan anak-anak Roy kepadanya."

Mata Sintia langsung membulat. Ia tersenyum malu-malu sambil menyelipkan anak rambut ke balik telinganya.

"Aduh, Bu... Sintia rasanya tidak pantas mendidik mereka," ucapnya merendah.

"Kamu pantas," sahut Hani mantap. "Kamu perempuan yang baik, tahu sopan santun, dan aku tahu kualitasmu. Karena itu, kamulah yang paling cocok membimbing anak-anak Roy. Tidak seperti seseorang yang tidak punya kualitas sama sekali."

Pelayan itu baru saja melangkah ketika Rani lebih dulu bergerak. Tanpa sepatah kata, ia berjalan mendekati pelayan yang membawa kue tersebut. Semua mata mengikuti setiap langkahnya, mengira Rani akhirnya akan menerima keputusan Hani.

Namun, dugaan mereka meleset. Rani berhenti tepat di depan pelayan, lalu mengulurkan tangan. Pelayan itu sempat tersenyum dan hendak menyerahkan kotak kue tersebut, tetapi dalam sekejap Rani justru mendorongnya keras hingga kue itu terlepas dari genggaman.

Bruk!

Kotak kue jatuh menghantam lantai marmer. Tutupnya terbuka, membuat kue tart di dalamnya terlempar dan hancur berantakan. Krim, buah, dan potongan bolu berserakan ke segala arah.

Ruangan mendadak sunyi. Tak seorang pun menyangka Rani akan melakukan hal seberani itu.

"Kak Rani!" pekik Sintia dengan mata membelalak. "Itu hadiah dari Bu Hani!"

Rani menatap kue yang telah berubah menjadi tumpukan krim di lantai. Wajahnya tetap datar, tanpa sedikit pun penyesalan.

"Lalu?" tanyanya dingin. "Bukankah ada yang bilang aku tidak punya kualitas? Kalau begitu anggap saja itu benar."

"Keterlaluan kamu!" bentak Hani sambil menghentakkan tongkatnya ke lantai. Wajahnya memerah karena amarah. "Sekarang juga aku ingin kamu pergi dari sini dan cerai!"

Rani mengalihkan pandangannya kepada wanita itu dengan senyum penuh arti, ia ingin segera mengiyakan permintaan itu. Sayangnya belum ia bicara Roy berkata, "Bu, hentikan semua ini."

"Roy, kamu tidak setuju? Apa alasannya?" tanya Rani seketika membuat Roy terdiam dengan pikiran penuh.

1
this that PINK VENOM
.
this that PINK VENOM
😍
Lee Mba Young
Lemah tu Rani. ya sdh nikmati saja wanita lemah.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: authornya liyer ngurus pendaftaran sekolah anak 🤭
total 1 replies
partini
aihhh bikin esmosi dah ,,Rani masih PA ternyata ga guna
partini
Ko bisa Rani ga tau ehhhh ayo Yo macam mana pula kau ran 10 ran 10 ran aihhhh ga guna 🤦
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: reinkarnasi kak, bukan ini dia amnesia, yakin amnesia bukan reinkarnasi🙏
total 3 replies
partini
OMG ku kira tidak ternyata iya
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
partini: betul itu fakta di lapangan ortu nya membela kelakuan buruk anaknya si anak makin nglunjak Thor
ada di tempat ku Kya gitu tapi ujungya ortunya juga yg kelimpungan
total 2 replies
Atik@07
cetitanya seru banget, gak sabar up nya thor
partini: bisa bela diri kejutan apa lagi yg bisa
total 1 replies
partini
gila jahat bnggt,jadi ibu tiri yg super kejam dong selangkah di depan dari mereka percuma dong flashback kalau masih OON
partini
good
partini
OMG dua bab still the same penasaran ini Thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ditunggu kelanjutannya kak
total 1 replies
partini
ku kira like boom ternyata masih omong" doang 🤦 ayo lah ran
nunggu dua hari lagi
partini
Rani gebrakan kurang jos Thor ,,
partini
Yo di servis yg bagus plus desahan yg manjahhjhh biar tu Kunti bogel meradang dengarnyan,ran ayo lah be smart bertahun tahun loh
partini
amnesia?
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
Wawan
Salam kenal untuk Rani ✍️
partini
gas lah lebih smart dong
partini
ulah si Kunti kayanya deh,,ayo ran be smart don't be stupid dong aihhhh gumussss dah
partini
lanjut Thor ,,keren biar pun sudah methong balik tapi pengang kendali
suami bego
srijati umijati
lho🥺
lanjutkan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!