Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Di rumah sakit itu sendiri, Alena hanya mampu duduk kaku dibawah cahaya terang ruangan putranya. Matanya seolah enggan berpaling walau sedetik pun. Ada rasa sesak. Kecewa. Perih. Bahkan gagal sekali pun menggerogoti perasaan Alena. Sebagai Ibu muda. Berdiri di kakinya sendiri tanpa sandaran. Dan yang paling sakit, di saat dirinya tengah membutuhkan bahu penopang dalam keselarasan mengAsihi bayinya, suami yang seharusnya menjadi sandaran, kini dengan tega mencekik hidupnya secara nyata.
Dewan tak mampu bersuara. Duduk termenung dalam penyesalan yang tiada ampun. Tarikan napasnya terdengar berat. Matanya sesekali berpaling pada sang Istri, namun wajah Alena justru tidak menunjukan hal timpal balik yang semestinya.
Wajah cantik itu tak berselera. Auranya sudah berhasil Dewan matikan beberapa hari yang lalu. Yang ada, kini Dewan hanya mampu menatap se'onggak raga yang jiwanya terbunuh.
"Sayang... Lebih baik kamu tidur saja, Delan biar saya yang jaga," akhirnya Dewan memberanikan diri untuk bersuara. Ia merasa kasihan melihat wajah lelah Alena. Apalagi dua kantung matanya yang tebal. Mungkin hari-hari tanpa dirinya temani, Istrinya itu begadang karena putranya.
Hening!
Senyap!
Alena bahkan tak berselera hanya untuk menarik napas. Apalagi menjawab. Fokusnya sejak tadi masih sama. Delan.
"Kamu nggak boleh bersikap seperti ini. Delan sangat membutuhkan kamu. Kalau kamu kurang tidur, Asimu juga akan berpengaruh, sayang...." suara Dewan terdengar medominan. Seakan dirinya sangat paham betul posisinya sebagai sang suami. Sebagai pelindung bagi keluarganya.
Tapi nyatanya, kalimat itu terasa menggelitik keku dalam telinga Alena. Hampir saja dirinya tertawa sengit. Setelah menatap Delan, Alena menyeret tatapanya secara malas kearah Dewan. Wajahnya datar, garis rahangnya tegak tak berselera.
"Delan memang membutuhkanku. Kamu lupa atau berlagak, jika memang Delan tidak memiliki Ayah. Saya lah yang setiap malam begadang memberinya Asi. Dan jangan pernah memberitahu saya apa pun tentang Delan, jika Mas Dewan hanya sebatas bayangan baginya!" Telak Alena.
Dewan tercekat. Tenggorokannya terasa lebih kering malam itu. Alena menatapnya tanpa guratan cinta. Kebencian jelas membara dibalik irish hitam matanya. Mulut Dewan sudah bergetar ingin menjawab. Ada rasa tak terima. Secara halus Istrinya itu sudah menganggap dirinya-- Mati.
"Kamu berdiam disini pun sampai kiamat, tetap saja yang di butuhkan Delan hanya lah Ibunya! Jadi daripada kamu diam tak beguna, lebih baik pulang dan temani gundikmu. Dia lebih menantang dari pada putraku," sambar Alena kembali.
"Alena... Sudah, stop! Saya hanya ingin menemani kalian. Saya ingin menebus rasa sesal saya dengan kembali ke kalian lagi. Saya ingin menjadi Ayah yang baik bagi Delan. Saya ingin memiliki keluarga cemara...." balas Dewan dengan tatapan meyakinkan.
Alena berdecih ke samping. Setelah pernikahan siri di gelar secara sakral. Setelah perlakuan menjijikan yang mereka lakukan secara nyata, rupanya masih begitu luwes suaminya itu berkata sebegitu yakinnya.
"Apa urat malumu sudah putus, Dewantara?! Setelah semua yang kamu lakukan terhadap saya, ringan sekali mulutmu menginginkan keluarga utuh? Heh...." Alena tersenyum miring. "Mungkin sebentar lagi gelar itu akan kamu dapatkan dari Gundikmu."
Dewantara terdiam sejenak. Guratan wajah di garis tegangnya itu seolah sudah lelah, bingung --harus bagaimana lagi menjelaskan semuanya kepada sang Istri.
Drttt!!!
Gawai Dewan bergetar lagi. Pria itu memejamkan mata lelah, napasnya mulai tertahan kuat, lalu segera menyingkir untuk mengotak atik ponselnya tadi.
Hanya beberapa detik itu, Dewan kembai duduk di samping box sang Putra. Ia menatap Alena sekilas yang sudah mulai lelah. Namun sebagai sang Ibu, Alena tidak ingin hanya sedetik saja meninggalkan ruangan itu.
Di tengah ketegangan yang tercipta dari pasangan suami Istri itu, tiba-tiba pintu ruangan Delan terbuka dari luar begitu saja. Alena reflek menoleh diikuti sudut mata Dewan.
"Pak Danu?"
Kalimat itu lolos dari mulut Alena sangat ringan. Alena bangkit. Menatap Juragan matang itu penuh kerutan tipis. Sementara Dewantara juga ikut bangkit sudah mengepalkan kedua tangan.
"Loh, ada Juragan Dewan juga to, disini?" ucap Danu sambil menunjuk Dewantara begitu tengilnya.
Dewantara maju beberapa langkah. Sorot matanya sangat kuat, rahang kerasnya semakin kaku saling mengatup. "Mau apa Juragan Danu datang ke sini?"
"Saya? Saya ya jenguk calon putra saya to, Juragan. Masak lupa?! Alena 'kan sebentar lagi akan menikah sama saya. Jadi... Delan juga putra saya dong!" goda Danu bersikap santai.
Dewantara merasa tertantang. Napasnya sudah saling beradu, bahkan dadanya ikut naik turun. Sambil maju, Dewantara mendorong Danu dengan kedua tanganya.
"Jangan harap! Saya masih suami sah, Alena! Saya yang lebih berhak di banding Anda!" tekan Dewan kembali.
Alena semakin di buat frustasi oleh dua pria dewasa itu. Ia melirik putranya, tidur Delan agak terganggu gara-gara berdebatan sengit itu.
"DIAMMMM!!!" tekan Alena menggeretakan rahangnya.
Dua pria tadi seketika menoleh. Dewantara melepaskan cengkraman jaket Danu, begitu Danu langsung mendorong Dewan begitu saja.
"Delan putra saya, jadi silahkan Juragan Danu keluar!" Dewan menunjuk ke arah pintu.
Tapi mengingat Danu adalah manusia paling kaku se Gunung Kidul, jadi pria itu lebih memilih menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Melihat itu, Dewan sudah akan menghampiri karena saking kesalnya.
Namun belum sampai, suara Alena lebih menekannya. "Jika kamu berbuat ribut, pergilah!"
Dewan hanya mampu menahan langkahnya. Menatap Danu sekilas, menunjukan raut wajah penuh kebencian.
Beberapa menit terlewat. Alena sampai hampir jatuh jika saja tangan kekar itu tak menahannya. Alena mendongakan wajah. Napasnya mulai teratur. Pria di hadapanya itu masih menahan tubuhnya dari box bayi sang Putra.
Ehem! "Maaf, saya hanya ngantuk...."
Wajah Alena sangat kiku, berdehem kecil membuang rasa panas dingin di tatap Perjaka tua itu sangat dekat.
Dewantara yang baru saja keluar dari kamar mandi jelas syok melihat pemandangan di depan matanya. Dengan cepat itu, Dewan menarik bahu Danu untuk ia hempaskan ke samping.
Alena juga syok. Apa-apan suaminya itu? Bagaimana bisa berbuat arogan seperti itu. Padahal Danu lah yang menolongnya. Mungkin saja jika tidak ada Danu, Alena akan jatuh terjungkal ke depan. Dan hal itu akan membuat box putranya bergeser, bahkan bisa menimbulkan masalah lebih serius.
"Jangan sentuh Istriku!" tekan Dewantara.
Danu kali ini sudah kehabisan sabar. Pria itu maju beberapa langkah. Lalu berhenti di depan wajah mantan rekan bisnisnya sambil bersedekap dada.
"Jangan pernah menyebut kata Istri pada Alena! Kamu bukan lagi suaminya!" sorot mata Danu sangat tajam.
Alena kali ini menengahi. Mendekat dan berhenti di antara dua pria tadi. Lalu memejamkan mata dalam-dalam. "Buat kalian berdua... Keluar! Keluar sekarang juga atau saja bilang sama satpam?!"
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔