NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Status: tamat
Genre:Single Mom / Mafia / Anak Genius / Tamat
Popularitas:41.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.

Delapan tahun berlalu.

Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Hati Kecil Kai Retak

Alena langsung berlari menghampiri sang anak, ia tahu bagaimana hancurnya hati Kai, yang selama delapan tahun ini berusaha diam, untuk tidak bertanya dimana keberadaan ayahnya.

  Bahkan ia belum sempat jujur tentang ayah kandung Kai, tapi Tuhan mempunyai cerita lain, dan cerita itu kenapa harus menyakitkan untuk anak sekecil itu. Kenapa Kai harus mendengar kenyataan pahit itu.

  Alena langsung memeluk tubuh sang anak dari samping. Air matanya tidak bisa dibendung lagi.

  "Kai maafkan Mama... Maaf," ucap Alena suaranya tercekat hampir tidak terdengar.

  Kai sedikit terkejut ia melihat tangan ibunya yang melingkar di lehernya, tapi anak itu tidak memberikan reaksi apapun, hanya tatapan nanar seperti sakit tapi ia tak tahu harus mengekspresikannya seperti apa.

  Lalu tidak lama kemudian Senna dan Anne ikut menghampiri kedua wanita itu ikut berjongkok dihadapan Kai, seolah memastikan keadaan anaknya baik-baik saja. Namun dari sorot mata kecil itu keduanya bisa merasakan tanpa harus dijelaskan.

 "Kai Sayang, jangan sedih ya? Kita ada," ucap Senna suaranya tercekat di tenggorokan.

Kai tidak menjawab. Ia hanya mengangkat wajahnya sebentar, menatap ketiga wanita yang selama ini selalu ada untuknya. Dan entah kenapa, diamnya anak itu terasa seperti luka yang tak mampu diobati dengan kata-kata apa pun.

  "Kai, bicaralah. Ibu Senna gak mau lihat jagoan Ibu hanya diam seperti patung, kamu anak Ibu kamu harus bawel gak boleh diam seperti ini Kai," ucap Senna kembali. Kali ini wanita itu sedikit menggoyangkan pundak anaknya.

  Sementara Anne yang ada disampingnya hanya bisa menguatkan Kai, meskipun tanpa suara, dekapan hangat wanita itu seolah mampu menenangkan meskipun Kai tidak sepenuhnya sembuh.

  Sedangkam Alena tidak bisa berbuat apa-apa tangisnya pecah. Melihat kedua sahabatnya yang selalu ada untuk anaknya, akan tetapi tatapannya kembali tajam saat melihat Kael yang masih berdiri di ujung sana.

Perlahan langkah Alena mendekat ke arah Kael, dengan keberanian yang kuat wanita itu mulai berbicara.

  "Pergi saja Tuan," ucapnya dengan nada dingin. "Bahkan anakmu sendiri tidak mau berbicara setelah tahu semuanya!" usir Alena.

  Kael menggeleng cepat, tatapannya justru dari tadi tidak berpindah. Pria itu masih menatap Kai yang hanya terdiam.

"Aku tahu aku gagal menjadi ayahnya. Tapi itu tidak menghapus kenyataan bahwa aku tetap bagian dari hidupnya."

  Alena benar-benar tidak menyangka jika Kael akan sekeras ini. "Aku mohon jangan pernah ganggu dia lagi, dia sudah cukup bahagia hidup tanpa kehadiranmu Tuan!" desis Alena.

  "Sudah cukup Alena!" sentak Kael. Bahkan Kai yang duduk di bibir pantai pun ikut terkejut mendengar bentakan itu. "Setiap petunjuk yang mengarah kepadamu selalu kuikuti. Dan setiap kali gagal, aku harus mengulang semuanya dari awal."

 "Aku memang ayah yang buruk bahkan sangat buruk, tapi tanpa seorang pun tahu, setelah kepergianmu malam itu aku benar-benar terpuruk," imbuh Kael.

Alena tertawa pahit.

"Terlambat."

Satu kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. "Terlambat untuk semua penyesalanmu."

Kael mengepalkan kedua tangannya. "Delapan tahun, Alena."

"Delapan tahun aku mencari kalian." suara itu terdengar dingin. "Dan delapan tahun juga kamu menyembunyikan anakku."

"Anakmu?" ulang Alena dengan mata memerah. "Baru sekarang kau mengingat dia sebagai anakmu?"

Suasana kembali memanas. Ombak yang menghantam bibir pantai seolah kalah bising dibanding pertengkaran mereka.

"Kau bahkan tidak tahu bagaimana aku bertahan saat mengandung Kai!" bentak Alena. "Kau tidak tahu bagaimana aku menangis sendirian!"

"Kau tidak tahu bagaimana aku bekerja saat perutku semakin besar!"

"Kau tidak tahu bagaimana aku hampir kehilangan dia saat demam tinggi waktu kecil!"

"Di mana kau saat itu?!"

Kael membeku sesaat, tangannya mengepal perlahan, bukan karena membenci wanita yang terus mengorek kesalahannya itu. Akan tetapi ia membenci dirinya sendiri yang tidak bisa menemukan mereka selama ini. Namun kali ini pria itu tidak akan mundur lagi.

"Tidak ada." Jawabannya membuat Alena terdiam.

"Aku memang tidak ada."

"Aku tidak ada saat dia lahir."

"Aku tidak ada saat dia sakit."

"Aku tidak ada saat dia tumbuh."

"Tapi mulai hari ini aku ada."

Deg!

Alena langsung menatapnya tajam, seolah tidak terima dengan kalimat terakhir dadi mulut pria itu.

"Apa maksudmu?"

Kael menatap lurus ke arah wanita itu. Tatapannya seperti seorang pria yang sudah mengambil keputusan.

"Aku tidak akan pergi."

Jantung Alena seolah berhenti berdetak mendengar keputusan yang sepihak dan begitu egois

"Karena Kai adalah anakku."

"Aku sudah kehilangan delapan tahun."

"Aku tidak akan kehilangan tahun-tahun berikutnya."

Alena menggeleng kuat. "Kau tidak berhak menentukan itu!"

"Aku ayah biologisnya!" Bentakan Kael membuat suasana mendadak sunyi.

Bahkan Senna dan Anne ikut terdiam. Bahkan untuk kali ini Kael tidak lagi terdengar memohon. Pria itu terdengar seperti seseorang yang siap berperang.

"Kau boleh membenciku."

"Kau boleh menghina aku."

"Kau boleh mengingat seluruh kesalahanku."

"Tapi jangan pernah memintaku menjauh dari anakku."

Rahang Kael mengeras. "Karena aku tidak akan melakukannya."

Tubuh Alena langsung menegang seolah tidak mampu mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut pria itu. Bahkan ia mengenal tatapan itu. Tatapan yang sama seperti delapan tahun lalu.

Tatapan seseorang yang sudah membuat keputusan dan tidak akan mundur meski dunia menentangnya. Tapi sebelum Alena sempat membalas.

Suara kecil terdengar dari belakang.

"Cukup..."

Semua orang langsung menoleh.

Kai.

Anak itu perlahan berdiri dari tempatnya. Pasir masih menempel di kedua telapak tangannya. Mata kecil itu terlihat sembab meski tidak menangis.

Untuk beberapa detik Kai menatap Alena.

Lalu Senna.

Kemudian Anne.

Tatapannya melembut. Karena hanya mereka yang selalu ada hanya mereka yang selama ini mengisi ruang kosong dalam hidupnya.

Namun saat pandangan Kai berpindah kepada Kael. Sesuatu berubah tatapan itu menjadi asing justru itu yang membuat dada Kael semakin sesak.

"Om..." Panggilan itu terdengar begitu jauh.

"Aku capek." Kai menunduk sebentar. "Dari kemarin semua orang ngomong tentang Kai."

"Tapi gak ada yang tanya Kai mau apa."

Suasana langsung sunyi. "Sekarang Kai mau pulang."

Lalu anak itu berjalan melewati Kael begitu saja.

Dan pemandangan sederhana itu sudah cukup menjadi jawaban atas semuanya.

Delapan tahun bukan waktu yang bisa ditebus hanya dengan penyesalan.

Bersambung ....

Selamat sore semoga suka ya ....

1
Sugiharti Rusli
semoga karya" mu berikutnya bisa terus menghibur yah dan ada sesuatu yang didapat saat kita membacanya, meski dari hal sederhana,,,
Ayumarhumah: Aamiiin.... makasih ya kak ...
total 1 replies
Sugiharti Rusli
dan yah sekali lagi Kai berhasil membuat mereka semua bisa menyatu tanpa dendam dan saling bersapa layaknya saudara, dan Bianca juga sudah bagian dari mereka,,,
Sugiharti Rusli
semoga saja suatu saat su Rafael menyadari kesalahannya dan tidak memelihara dendamnya,,,
Sugiharti Rusli
dia pasti masih memikirkan Bianca kalo sampai menghabisi saudara satu" nya itu, meski sekarang mereka tidak sejalan
Sugiharti Rusli
bagus deh kalo pada akhirnya Kael membuat keputusan bijak dengan tidak membunuh si Rafael meski ada kesempatannya yah,,,
tia
waduh cepat skli tamat
Ayumarhumah: iya Kak ...

pengin suasana baru...
total 1 replies
Sugiharti Rusli
padahal si Rafael tahu batas kekuatannya di mana, tapi karena egonya yang tinggi maka dia sudah ambil semua resikonya termasuk kalo dia harus hancur
Sugiharti Rusli
entah akan seperti apa pertumpahan yanh akan mereka alami nanti dan siapa yang akhirnya harus kalah,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya hal itu sangat dihayati betul oleh si Rafael saat ini, dia ingin kekuasaan berada di bawah telapak kakinya sendiri
Sugiharti Rusli
kalo dalam dunia mafia siapa kuat dia yang bisa menguasai dunia yah,,,
Sugiharti Rusli
semoga Kael tidak lengah yah, apalagi dia tahu akan mendekati jalur distribusi milik Rafael,,,
Sugiharti Rusli
dan alasan agar adiknya tidak jadi korban karena sikap Kael, hanya jadi alasan saja sih sebenarnya dan sekarang dapat validasi buat konfrontasi sama kelompok Kael,,,
Sugiharti Rusli
dalam egonya si Rafael dia selalu berada di bawah bayang" Kael baik dari segi kekuasaan maupun cinta dari orang" yang mereka sayangi,,,
Sugiharti Rusli
sejak awal tujuan si Rafael memang mengalahkan Kael apapun caranya,,,
Sugiharti Rusli
dan si Rafael sudah jadi pembunuh berdaraj dingin dan baru puas kalo yang dianggap musuh musnah di tangannya,,,
Sugiharti Rusli
tapi sepertinya pemikiran si Rafael hanya penuh dendam semata dan sepertinya adiknya sendiri akan dijadikan musuh
Sugiharti Rusli
apalagi menjadikan seorang sebagai target buat menghantam temannya sendiri yah
Sugiharti Rusli
padshal kan maksud Bianca bukan seperti itu, dia ingin abangnya menghentikan pertumpahan darah yang tidak perlu,,,
Sugiharti Rusli
kalo sudah dasarnya hatinya gelap, apapun yang si Rafael lihat selalu dianggap melukai hatinya,,,
Sugiharti Rusli
kira" di mana tempat persembunyian si Rafael yah, apa si Bianca memiliki petunjuk mungkin karena dia adiknya🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!