Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Hati Kecil Kai Retak
Alena langsung berlari menghampiri sang anak, ia tahu bagaimana hancurnya hati Kai, yang selama delapan tahun ini berusaha diam, untuk tidak bertanya dimana keberadaan ayahnya.
Bahkan ia belum sempat jujur tentang ayah kandung Kai, tapi Tuhan mempunyai cerita lain, dan cerita itu kenapa harus menyakitkan untuk anak sekecil itu. Kenapa Kai harus mendengar kenyataan pahit itu.
Alena langsung memeluk tubuh sang anak dari samping. Air matanya tidak bisa dibendung lagi.
"Kai maafkan Mama... Maaf," ucap Alena suaranya tercekat hampir tidak terdengar.
Kai sedikit terkejut ia melihat tangan ibunya yang melingkar di lehernya, tapi anak itu tidak memberikan reaksi apapun, hanya tatapan nanar seperti sakit tapi ia tak tahu harus mengekspresikannya seperti apa.
Lalu tidak lama kemudian Senna dan Anne ikut menghampiri kedua wanita itu ikut berjongkok dihadapan Kai, seolah memastikan keadaan anaknya baik-baik saja. Namun dari sorot mata kecil itu keduanya bisa merasakan tanpa harus dijelaskan.
"Kai Sayang, jangan sedih ya? Kita ada," ucap Senna suaranya tercekat di tenggorokan.
Kai tidak menjawab. Ia hanya mengangkat wajahnya sebentar, menatap ketiga wanita yang selama ini selalu ada untuknya. Dan entah kenapa, diamnya anak itu terasa seperti luka yang tak mampu diobati dengan kata-kata apa pun.
"Kai, bicaralah. Ibu Senna gak mau lihat jagoan Ibu hanya diam seperti patung, kamu anak Ibu kamu harus bawel gak boleh diam seperti ini Kai," ucap Senna kembali. Kali ini wanita itu sedikit menggoyangkan pundak anaknya.
Sementara Anne yang ada disampingnya hanya bisa menguatkan Kai, meskipun tanpa suara, dekapan hangat wanita itu seolah mampu menenangkan meskipun Kai tidak sepenuhnya sembuh.
Sedangkam Alena tidak bisa berbuat apa-apa tangisnya pecah. Melihat kedua sahabatnya yang selalu ada untuk anaknya, akan tetapi tatapannya kembali tajam saat melihat Kael yang masih berdiri di ujung sana.
Perlahan langkah Alena mendekat ke arah Kael, dengan keberanian yang kuat wanita itu mulai berbicara.
"Pergi saja Tuan," ucapnya dengan nada dingin. "Bahkan anakmu sendiri tidak mau berbicara setelah tahu semuanya!" usir Alena.
Kael menggeleng cepat, tatapannya justru dari tadi tidak berpindah. Pria itu masih menatap Kai yang hanya terdiam.
"Aku tahu aku gagal menjadi ayahnya. Tapi itu tidak menghapus kenyataan bahwa aku tetap bagian dari hidupnya."
Alena benar-benar tidak menyangka jika Kael akan sekeras ini. "Aku mohon jangan pernah ganggu dia lagi, dia sudah cukup bahagia hidup tanpa kehadiranmu Tuan!" desis Alena.
"Sudah cukup Alena!" sentak Kael. Bahkan Kai yang duduk di bibir pantai pun ikut terkejut mendengar bentakan itu. "Setiap petunjuk yang mengarah kepadamu selalu kuikuti. Dan setiap kali gagal, aku harus mengulang semuanya dari awal."
"Aku memang ayah yang buruk bahkan sangat buruk, tapi tanpa seorang pun tahu, setelah kepergianmu malam itu aku benar-benar terpuruk," imbuh Kael.
Alena tertawa pahit.
"Terlambat."
Satu kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. "Terlambat untuk semua penyesalanmu."
Kael mengepalkan kedua tangannya. "Delapan tahun, Alena."
"Delapan tahun aku mencari kalian." suara itu terdengar dingin. "Dan delapan tahun juga kamu menyembunyikan anakku."
"Anakmu?" ulang Alena dengan mata memerah. "Baru sekarang kau mengingat dia sebagai anakmu?"
Suasana kembali memanas. Ombak yang menghantam bibir pantai seolah kalah bising dibanding pertengkaran mereka.
"Kau bahkan tidak tahu bagaimana aku bertahan saat mengandung Kai!" bentak Alena. "Kau tidak tahu bagaimana aku menangis sendirian!"
"Kau tidak tahu bagaimana aku bekerja saat perutku semakin besar!"
"Kau tidak tahu bagaimana aku hampir kehilangan dia saat demam tinggi waktu kecil!"
"Di mana kau saat itu?!"
Kael membeku sesaat, tangannya mengepal perlahan, bukan karena membenci wanita yang terus mengorek kesalahannya itu. Akan tetapi ia membenci dirinya sendiri yang tidak bisa menemukan mereka selama ini. Namun kali ini pria itu tidak akan mundur lagi.
"Tidak ada." Jawabannya membuat Alena terdiam.
"Aku memang tidak ada."
"Aku tidak ada saat dia lahir."
"Aku tidak ada saat dia sakit."
"Aku tidak ada saat dia tumbuh."
"Tapi mulai hari ini aku ada."
Deg!
Alena langsung menatapnya tajam, seolah tidak terima dengan kalimat terakhir dadi mulut pria itu.
"Apa maksudmu?"
Kael menatap lurus ke arah wanita itu. Tatapannya seperti seorang pria yang sudah mengambil keputusan.
"Aku tidak akan pergi."
Jantung Alena seolah berhenti berdetak mendengar keputusan yang sepihak dan begitu egois
"Karena Kai adalah anakku."
"Aku sudah kehilangan delapan tahun."
"Aku tidak akan kehilangan tahun-tahun berikutnya."
Alena menggeleng kuat. "Kau tidak berhak menentukan itu!"
"Aku ayah biologisnya!" Bentakan Kael membuat suasana mendadak sunyi.
Bahkan Senna dan Anne ikut terdiam. Bahkan untuk kali ini Kael tidak lagi terdengar memohon. Pria itu terdengar seperti seseorang yang siap berperang.
"Kau boleh membenciku."
"Kau boleh menghina aku."
"Kau boleh mengingat seluruh kesalahanku."
"Tapi jangan pernah memintaku menjauh dari anakku."
Rahang Kael mengeras. "Karena aku tidak akan melakukannya."
Tubuh Alena langsung menegang seolah tidak mampu mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut pria itu. Bahkan ia mengenal tatapan itu. Tatapan yang sama seperti delapan tahun lalu.
Tatapan seseorang yang sudah membuat keputusan dan tidak akan mundur meski dunia menentangnya. Tapi sebelum Alena sempat membalas.
Suara kecil terdengar dari belakang.
"Cukup..."
Semua orang langsung menoleh.
Kai.
Anak itu perlahan berdiri dari tempatnya. Pasir masih menempel di kedua telapak tangannya. Mata kecil itu terlihat sembab meski tidak menangis.
Untuk beberapa detik Kai menatap Alena.
Lalu Senna.
Kemudian Anne.
Tatapannya melembut. Karena hanya mereka yang selalu ada hanya mereka yang selama ini mengisi ruang kosong dalam hidupnya.
Namun saat pandangan Kai berpindah kepada Kael. Sesuatu berubah tatapan itu menjadi asing justru itu yang membuat dada Kael semakin sesak.
"Om..." Panggilan itu terdengar begitu jauh.
"Aku capek." Kai menunduk sebentar. "Dari kemarin semua orang ngomong tentang Kai."
"Tapi gak ada yang tanya Kai mau apa."
Suasana langsung sunyi. "Sekarang Kai mau pulang."
Lalu anak itu berjalan melewati Kael begitu saja.
Dan pemandangan sederhana itu sudah cukup menjadi jawaban atas semuanya.
Delapan tahun bukan waktu yang bisa ditebus hanya dengan penyesalan.
Bersambung ....
Selamat sore semoga suka ya ....