NovelToon NovelToon
Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:21.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."

Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Hidup di Ruang Sempit

Plokk! Plokk!

​Suara kayuhan sapu lidi yang menghantam permukaan aspal terdengar ritmis memecah keheningan dini hari yang dingin. Rendra Wijaya menghentikan gerakannya sejenak. Ia menyeka keringat dingin yang mengucur deras di keningnya menggunakan punggung tangan yang kini terasa kasar, pecah-pecah, dan dipenuhi kapalan. Kemeja flanel mewah seharga jutaan rupiah pemberian Tyas sebulan lalu kini sudah tidak tahu lagi di mana rimbanya—mungkin sudah membusuk di tempat sampah setelah dilempari telur busuk oleh warga kompleks waktu itu. Kini, pakaian terbaik Rendra hanyalah sebuah kaos oblong murah berwarna abu-abu pudar yang sudah menipis dan berlubang besar di bagian bahu kanannya.

​Setiap pukul tiga pagi, saat sebagian besar penduduk kota Jakarta masih terbuai dalam mimpi nyaman di bawah selimut tebal dan embusan pendingin ruangan, Rendra harus sudah terjaga dipaksa oleh realitas hidup yang mencekik. Ia tidak lagi memiliki kemewahan untuk bangun kesiangan. Selama sebulan terakhir ini, hidupnya berubah total menjadi pekerja serabutan demi bisa menyambung nyawa.

​Tengah malam hingga menjelang subuh, Rendra akan berada di pasar induk, menjadi kuli panggul karung-karung bawang dan sayuran seberat lima puluh kilogram yang bener-bener menguras sisa-sisa tenaga di tubuh kurusnya. Bau busuk sampah sayuran yang menyengat, lantai pasar yang becek bercampur air limbah, serta bentakan dari para pedagang pasar kini menjadi makanan sehari-harinya. Setelah tugas di pasar selesai, ia melanjutkan pagi buta nya dengan menyapu jalanan kompleks perumahan kelas menengah atau menjadi kuli bangunan jika ada mandor proyek harian yang mau menerimanya. Tubuhnya yang dulu berisi, tegap, dan selalu wangi parfum mahal saat masih menjabat sebagai CEO Wijaya Corp, kini tampak semakin kurus kering, legam terbakar matahari, dan menyebarkan aroma peluh yang pekat.

​Namun, Rendra tidak memedulikan lagi semua rasa lelah dan hancurnya penampilan fisik itu. Rasa gengsinya yang dulu setinggi langit kini telah terkikis habis, rata dengan tanah. Di dalam kepala dan hatinya saat ini, hanya ada satu tujuan tunggal yang tersisa: mengumpulkan lembaran uang sepuluh ribu dan dua puluh ribu rupiah yang lecek demi bisa menyambung hidup bersama ibunya yang sakit-sakitan.

​Setelah menyelesaikan pekerjaan menyapunya pagi itu, Rendra menerima selembar uang lima puluh ribu rupiah yang agak kumal dari pengawas kebersihan jalan. Ia menggenggam uang itu erat-erat dengan perasaan lega yang teramat sangat, seolah-olah baru saja memenangkan proyek bernilai miliaran rupiah. Dengan langkah kaki yang terasa berat dan pergelangan kaki yang berdenyut nyeri akibat berjalan jauh, ia melangkah cepat menuju sebuah gang sempit yang sangat pengap di pinggiran rel kereta api kawasan Pasar Rumput.

​Di ujung gang buntu itulah berdiri sebuah rumah kontrakan petak berukuran tiga kali empat meter dengan dinding tripleks yang sebagian besar sudah mulai lapuk dan berjamur. Tempat itu bener-bener jauh dari kata layak jika dibandingkan dengan rumah mewah keluarga Wijaya di masa lalu, atau bahkan kosan elit yang sempat disewa oleh Tyas. Di dalam ruangan sempit itu, kamar mandi, area memasak, dan tempat tidur menyatu tanpa sekat apa pun. Jika hujan deras mengguyur Jakarta, atap seng yang bocor akan mengalirkan air ke dalam ruangan, menyebarkan aroma tanah dan kayu lembap yang sangat pekat menyesakkan dada.

​Rendra mendorong pintu kayu rapuh yang langsung berderit nyaring menembus kesunyian ruko. Di atas kasur lantai tipis yang sudah mengempis, Ibu Ratna sedang duduk bersandarkan dinding tripleks sembari melipat beberapa potong pakaian bekas pemberian dari tetangga sekitar yang merasa iba.

​Kondisi fisik Ibu Ratna memang sudah jauh membaik sebulan ini berkat obat-obatan generik murah yang Rendra tebus dari puskesmas kecamatan. Ia tidak lagi pingsan mendadak seperti saat kejadian di restoran mal mewah waktu itu. Namun, kondisi mental wanita tua itu justru berbanding terbalik. Wajah Ibu Ratna tampak sangat kuyu, guratan keriput di wajahnya terlihat semakin mendalam, matanya sembab membengkak, dan lingkaran hitam tebal menghiasi bawah matanya akibat insomnia akut yang menyerangnya setiap malam.

​"Rendra... kamu sudah pulang, Nak?" suara Ibu Ratna terdengar sangat lirih, parau oleh sisa tangis yang tampaknya baru saja ia tumpahkan sebelum Rendra membuka pintu.

​"Sudah, Bu. Ini Rendra bawa nasi uduk dua bungkus untuk sarapan kita. Mumpung masih hangat, Bu," ucap Rendra sembari meletakkan bungkusan kertas koran itu di atas lantai semen dingin tanpa alas tikar.

​Ibu Ratna menatap dua bungkus makanan itu dengan pandangan yang kosong dan redup. Alih-alih meraih makanan tersebut untuk mengisi perutnya yang kosong sejak semalam, wanita tua itu justru kembali meneteskan air mata. Air matanya mengalir perlahan melewati pipinya yang kempot, ia memeluk kedua lututnya sendiri sembari memandang ke sudut ruangan yang sepi.

​"Rendra... bagaimana nasib adikmu di dalam sana...?" ratap Ibu Ratna, suaranya mulai bergetar hebat menahan sesak yang teramat sangat di dalam dadanya. "Ini sudah satu bulan, Rendra... Sudah satu bulan penuh putri satu-satunya Ibu mendekam di sel besi yang kotor dan pengap itu. Tyas itu anak perempuan, dia biasa hidup enak sejak kecil. Dia makan makanan mewah, tidur di kamar ber-AC, dan selalu menggunakan barang-barang bermerek... Bagaimana bisa dia bertahan di tempat mengerikan seperti penjara, Rendra? Ibu merindukan Tyas... Ibu benar-benar tidak kuat kalau harus kehilangan dia..."

​Rendra menghentikan gerakannya yang hendak membuka karet pengikat bungkus nasi uduk. Dadanya terasa seperti dihantam oleh gada besi yang sangat besar mendengarkan ratapan memilukan ibunya. Rasa penyesalan yang mendalam dan berdarah-darah kembali merayap masuk, mencabik-cabik ulu hatinya tanpa ampun hingga membuatnya kesulitan untuk sekadar menarik napas.

​Setiap kali melihat ibunya menangis meraung-raung meratapi nasib Tyas, pikiran dan ingatan Rendra seolah ditarik paksa oleh rantai tak kasat mata menuju masa lalunya yang kelam. Dulu, ia adalah pria kejam yang menutup mata dan telinganya rapat-rapat saat Rani memohon biaya pengobatan untuk anak kandung mereka, Abid. Dulu, ia membiarkan darah dagingnya sendiri bertaruh nyawa antara hidup dan mati di ruang ICU tanpa memedulikannya sedikit pun, hanya karena hasutan ibunya dan ego Tyas yang tinggi. Dan sekarang, Tuhan sedang memberikan balasan karma yang bener-bener instan dan sangat adil: ia dipaksa hidup bebas di luar penjara hanya untuk menyaksikan ibunya sendiri menangis darah setiap hari karena merindukan Tyas yang membusuk di dalam sel, sementara Rendra sama sekali tidak memiliki kekuatan hukum, kekuasaan, ataupun uang untuk mengeluarkannya.

​Rendra menggeser tubuhnya mendekati sang ibu di atas lantai semen yang dingin. Ia menggenggam erat telapak tangan Ibu Ratna yang kini terasa dingin, gemetar, dan mulai dipenuhi keriput penuaan akibat stres berat.

​"Bu... Ibu jangan menangis terus seperti ini. Nanti penyakit jantung dan darah tinggi Ibu bisa kambuh lagi," hibur Rendra, meskipun matanya sendiri sudah berkaca-kaca menahan luapan emosi yang menyesakkan tenggorokannya. "Rendra tahu Ibu sangat merindukan Tyas. Rendra juga sama, Bu. Setiap malam Rendra tidak bisa tidur memikirkan bagaimana keadaan Tyas di dalam sel. Selama sebulan ini kita tidak bisa menjenguknya bukan karena kita tidak mau, tapi karena kita benar-benar tidak punya ongkos untuk ke lapas, dan kita tidak mungkin datang menemui Tyas dengan tangan kosong tanpa membawa makanan kesukaannya."

​Rendra menghela napas panjang, kemudian mengambil sebuah celengan plastik berbentuk ayam berwarna merah yang permukaannya sudah agak kotor. Ia meletakkan celengan itu di depan ibunya, lalu menggoyang-goyangkannya hingga terdengar bunyi gemerincing uang koin dan beberapa lembaran uang kertas yang bergesekan di dalam sana.

​"Lihat ini, Bu," Rendra memaksakan sebuah senyuman tipis di wajahnya yang tampak sangat lelah dan kusam. "Uang tabungan dari hasil kerja serabutan Rendra mengangkut sayur selama sebulan terakhir ini sudah mulai terkumpul cukup banyak. Ditambah dengan uang harian dari hasil menyapu jalanan pagi ini, besok kita sudah punya cukup uang untuk ongkos naik angkot pulang-pergi ke lembaga pemasyarakatan. Sisa uangnya juga sudah lebih dari cukup untuk membeli paket nasi ayam goreng cepat saji dan beberapa camilan manis kesukaan Tyas. Besok... besok pagi-pagi sekali, kita pergi menjenguk Tyas, Bu. Kita temui adik."

​Mendengar kata "menjenguk Tyas", sepasang mata Ibu Ratna yang tadinya redup dan kosong seketika berbinar cerah. Seperti mendapat suntikan energi baru, wanita tua itu langsung mencengkeram lengan kaos Rendra dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih.

​"Benar, Rendra?! Besok kita benar-benar bisa melihat Tyas?! Kamu tidak sedang membohongi Ibu yang sudah tua ini, kan?!" tanya Ibu Ratna dengan suara yang mendadak melengking penuh harap.

​"Benar, Bu. Rendra tidak bohong. Besok kita berangkat pagi-pagi sekali agar mendapat antrean nomor pertama di ruang kunjungan," jawab Rendra mantap, mencoba meyakinkan ibunya, meskipun di dalam lubuk hati kecilnya ada rasa takut dan kecemasan yang luar biasa besar membayangkan bagaimana kondisi psikologis dan fisik adiknya setelah sebulan penuh berada di dalam sel tahanan bersama para pelaku kriminal lainnya.

​Ibu Ratna langsung menghapus sisa air mata di pipinya dengan terburu-buru menggunakan ujung daster bekasnya. Ia kemudian meraih bungkusan nasi uduk di depan mereka dengan tangan yang masih gemetar karena luapan rasa bahagia yang tak terbendung. "Kalau begitu kita harus makan sekarang, Rendra. Kamu harus makan yang banyak agar besok punya tenaga untuk mengantar Ibu. Ibu juga harus sehat besok"

​Rendra hanya bisa mengangguk pelan sembari membuka bungkus nasinya sendiri. Ia mulai menyuapkan sesendok nasi uduk ke dalam mulutnya, rapi rasa makanan itu terasa benar-benar hambar di lidahnya, tersangkut di tenggorokan karena rasa bersalah yang terus menghantuinya. Di bawah atap kontrakan yang sempit dan pengap itu, di dekat deru suara kereta api yang melintas memecah keheningan, Rendra hanya bisa berdoa di dalam hati, bersiap menghadapi hari esok yang akan membuka babak baru dari panggung penyesalan yang telah disiapkan oleh Rania untuk keluarga mereka.

1
Himna Mohamad
kereeeen 👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Anonim
Yah begitu..... BUAT MEREKA MENDERITA
aku
kan bener lagi kata tetanggaku, tidak ada yg lebih mengerikan selain tidak ada uang adalah wanita yg bls dendam krn skt hati 😌😌
aku
lagian lu udh dikasih kesempatan bukannya lnjut hdp lbh baik malah cari mati. hedehh gk pinter 😁
Dwi Setyaningrum
wah wah penyesalannya hanya Krn terpuruk wkt itu setelah ekonominya mulai membaik berbuat ulah lagi..hadehhh..
Dwi Setyaningrum: minta dirujak thor..🤭😂
total 2 replies
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
tanpa rania kamu bukan apa" rendra🤭
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
ternyata gisela itu anak buah perusahaan lain
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
iya tinggalin aja wes Rendra
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
suami jahat Rendra
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
hukuman rania belum sbrpa ini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
korupsi demi apa ini baskoro
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
wah nyonya datang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
tiket exclusive😄😄😄😄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ini sih cari mati dia🤣🤣🤣
pst dapat cap pelakor😄🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
badainya terlalu dasyat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
seorang ibu bisa ngomong kasar begini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kena jebakan balik kah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
menghamliri kalian past
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
enam bulan ga bisa bikin kamu tobat tyas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!