NovelToon NovelToon
MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Enemy to Lovers / Teen / Komedi
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJIAN HATI PALING SULIT

  Suasana kelas XI IPA 1 setelah jam istirahat tidak pernah benar-benar tenang, namun hari Senin ini level kebisingannya terasa berbeda. Ada semacam getaran energi yang aneh, campuran antara rasa penasaran, iri, dan sisa-sisa keterkejutan atas drama di kantin tadi. Salsa Kirana duduk di bangkunya dengan punggung tegak, berusaha keras mempertahankan citra siswi teladan yang tidak terganggu oleh apa pun. Namun, di balik sampul buku paket Matematika Peminatan yang ia pegang, jantungnya masih berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Ia masih bisa merasakan hangatnya genggaman tangan Arkan yang begitu protektif saat menariknya keluar dari kepungan mata-mata sinis di kantin.

  Dira, yang duduk tepat di sampingnya, tidak berhenti memutar-mutar pulpen dengan wajah yang sangat menyebalkan. Sahabatnya itu seolah memiliki radar yang bisa mendeteksi setiap inci kegelisahan Salsa. Dira berdeham pelan, memancing perhatian Salsa yang pura-pura fokus pada deretan angka logaritma.

  "Sa, lo tahu nggak kalau sekarang lo jadi trending topik nomor satu di grup WhatsApp angkatan?" bisik Dira tanpa mengalihkan pandangan dari depan, seolah sedang mendengarkan penjelasan guru yang sebenarnya belum masuk kelas.

  Salsa menghela napas panjang, akhirnya menyerah untuk berpura-pura. "Gue nggak peduli, Dir. Biarin aja mereka mau ngomong apa. Yang penting gue nggak ngerugiin siapa pun."

  Dira terkekeh, suara tawa yang tertahan itu terdengar seperti desis ular di telinga Salsa. "Iya, gue tahu lo nggak ngerugiin orang. Tapi lo udah mematahkan hati nasional para penggemar Arkananta Putra. Lo lihat tadi mukanya Bella? Dia kayak mau nelan lo hidup-hidup kalau aja Arkan nggak ada di sana. Gila ya, Arkan beneran keren banget pas bilang lo lebih menarik daripada cewek yang cuma modal dandan. Gue sampai merinding dengarnya."

  Salsa merasakan panas menjalar ke pipinya. Kalimat Arkan tadi memang sangat tidak terduga. Selama ini, ia selalu menganggap Arkan adalah cowok yang hanya peduli pada dirinya sendiri dan kesenangan pribadinya. Ternyata, di balik sikap tengil dan menyebalkannya, Arkan memiliki cara sendiri untuk menghargai seseorang. Dan orang itu adalah dirinya, rival yang biasanya ia ajak berdebat sampai urat leher keluar.

  "Udah ah, jangan dibahas lagi. Pak Gunawan bentar lagi masuk. Lo tahu kan dia paling nggak suka kalau ada yang nggak siap di mejanya," ucap Salsa mencoba mengalihkan pembicaraan.

  Tepat saat kalimat itu selesai, sosok Pak Gunawan yang legendaris dengan kacamata tebal dan penggaris kayu panjangnya masuk ke kelas. Seluruh siswa seketika bungkam. Pak Gunawan adalah tipe guru yang tidak butuh berteriak untuk membuat kelas hening; cukup dengan langkah kakinya yang berat dan tatapan matanya yang tajam di balik lensa kacamata.

  "Selamat siang semuanya. Buka halaman seratus dua puluh empat. Kita lanjutkan pembahasan turunan fungsi trigonometri," suara Pak Gunawan berat dan datar, menambah atmosfer tegang di dalam ruangan ber-AC tersebut.

  Salsa segera membuka bukunya. Namun, konsentrasinya terganggu saat ia merasakan sesuatu menyentuh bahunya dari belakang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pelakunya. Hanya ada satu orang yang duduk tepat di belakangnya dan memiliki keberanian untuk mengganggunya di jam pelajaran Pak Gunawan.

  Arkan menyodorkan sebuah kertas kecil yang dilipat rapi ke atas meja Salsa. Salsa ragu sejenak, melirik ke arah Pak Gunawan yang sedang menulis judul materi di papan tulis. Dengan gerakan secepat kilat, ia mengambil kertas itu dan membukanya di bawah kolong meja.

  "Jangan dengerin omongan Dira. Fokus aja ke papan tulis, tapi jangan lupa kalau ada gue di belakang lo. Kalau pusing, lirik ke belakang aja, siapa tahu ganteng gue bisa jadi vitamin buat otak lo."

  Salsa hampir saja mendengus keras jika tidak ingat sedang berada di kelas. Cowok ini benar-benar tidak ada habisnya. Di saat semua orang ketakutan dengan aura Pak Gunawan, Arkan masih sempat-sempatnya mengirim surat cinta yang isinya sangat narsis. Salsa mengambil pulpennya, menuliskan balasan singkat di balik kertas tersebut.

  "Vitamin apaan? Yang ada malah bikin gue kena vertigo. Fokus, Arkan! Nilai lo kemarin turun dua poin di kuis kimia."

  Setelah melipatnya kembali, Salsa menjatuhkan kertas itu ke belakang dengan gerakan tangan yang sangat natural seolah sedang membetulkan posisi duduknya. Ia bisa mendengar kekehan pelan dari arah belakang, yang kemudian diikuti oleh suara kursi yang bergeser.

  Pelajaran berlangsung dengan intens. Pak Gunawan mulai memberikan soal-soal latihan yang tingkat kerumitannya sanggup membuat dahi siapa pun berkerut dalam. Salsa mencoret-coret kertas buramnya dengan cepat, mencoba memecahkan rumus turunan yang melibatkan sinus dan kosinus pangkat tiga. Namun, ada satu bagian yang membuatnya sedikit tersendat. Ia membolak-balik halaman buku untuk mencari referensi, tapi tetap saja ada satu variabel yang seolah hilang dari logikanya.

  Tiba-tiba, sebuah jari telunjuk yang bersih menunjuk ke arah salah satu baris pengerjaan di buku Salsa. Arkan sudah sedikit memajukan badannya, kepalanya berada tepat di samping bahu Salsa sehingga gadis itu bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan aroma sabun yang segar.

  "Lo lupa nurunin fungsi bagian dalamnya dulu, Sa. Itu aturan rantai, jangan langsung pangkatnya aja," bisik Arkan sangat pelan, nyaris seperti embusan angin di telinga Salsa.

  Salsa tersentak, bukan karena ia salah mengerjakan soal, tapi karena jarak mereka yang sangat dekat. Ia bisa merasakan napas Arkan di lehernya. Wangi cowok itu benar-benar mengalihkan dunianya.

  "Gue tahu! Gue cuma... baru mau nulis itu," balas Salsa dengan suara tertahan, berusaha menutupi rasa gugupnya.

  Arkan kembali ke posisi duduknya semula, namun tangannya sempat mengacak rambut Salsa yang terikat rapi sebelum ia menjauh. "Iya deh, si paling tahu. Gue tunggu di depan ya, siapa tahu gue yang lebih dulu nemu jawabannya."

  Tantangan itu membuat jiwa kompetitif Salsa kembali berkobar. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Arkan, meskipun sekarang mereka sudah berpacaran. Baginya, hubungan ini tidak boleh melunturkan kecerdasannya. Justru, Arkan harus menjadi motivasi baginya untuk menjadi lebih baik lagi.

  Sepuluh menit berlalu, dan Pak Gunawan berbalik ke arah kelas. "Ada yang sudah bisa mengerjakan soal nomor empat di depan? Ini soal bonus untuk nilai harian."

  Salsa dan Arkan mengangkat tangan secara bersamaan. Kecepatan mereka nyaris identik, membuat seisi kelas menoleh ke arah mereka dengan tatapan beragam. Pak Gunawan menatap keduanya bergantian, lalu sebuah senyum tipis yang jarang terlihat muncul di bibir pria tua itu.

  "Wah, duo rival kita ini sepertinya sedang bersemangat. Oke, Salsa dan Arkan, silakan maju ke depan. Kerjakan di papan tulis secara berdampingan. Kita lihat siapa yang paling tepat dan paling cepat logikanya."

  Salsa berdiri dengan penuh percaya diri, meskipun hatinya sedang bergejolak. Ia berjalan menuju papan tulis, diikuti oleh Arkan yang berjalan dengan gaya santainya, satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Saat mereka berdiri berdampingan di depan kelas, suasana menjadi sangat hening. Teman-temannya seolah sedang menonton pertandingan final olimpiade.

  Pak Gunawan memberikan dua spidol. "Silakan dimulai."

  Bunyi gesekan spidol di papan tulis menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Salsa menulis dengan rapi dan sistematis, langkah demi langkah ia jabarkan dengan jelas. Di sampingnya, Arkan menulis dengan gaya yang sedikit lebih abstrak namun sangat efisien. Sesekali, mereka saling melirik satu sama lain, bukan untuk menyontek, melainkan untuk mengukur sejauh mana progres lawan bicaranya.

  Di tengah-tengah mengerjakan soal, Arkan sengaja menyenggol lengan Salsa dengan pelan. Salsa melotot ke arahnya, namun Arkan hanya membalas dengan kedipan mata yang membuat konsentrasi Salsa hampir buyar.

  "Main bersih, Arkananta," bisik Salsa tajam namun penuh canda.

  "Gue cuma mau mastiin pacar gue nggak salah tulis angka," balas Arkan dengan suara yang sangat rendah agar tidak terdengar Pak Gunawan.

  Salsa menyelesaikan langkah terakhirnya tepat satu detik setelah Arkan meletakkan spidolnya. Hasil akhir mereka sama. Pak Gunawan mendekat, memeriksa setiap baris pengerjaan dengan saksama.

  "Luar biasa. Langkah kalian berbeda di bagian tengah, tapi logikanya sama-sama kuat. Arkan menggunakan cara cepat yang lebih praktis, sementara Salsa menggunakan konsep dasar yang sangat kuat. Keduanya benar. Silakan kembali duduk," puji Pak Gunawan.

  Salsa merasa lega. Saat berjalan kembali ke bangku, Arkan sengaja berjalan sedikit di belakangnya. Saat melewati kursi Salsa, ia berbisik sangat pelan, "Hebat juga lo, Sa. Makin sayang gue."

  Wajah Salsa langsung memerah sempurna. Ia segera duduk dan menyembunyikan wajahnya di balik tangan. Dira yang melihat kejadian itu langsung menyikut lengan Salsa dengan semangat. "Cieee, yang dipuji di depan kelas. Gila ya, kalian berdua kalau lagi pinter bareng gitu kelihatan cocok banget. Kayak raja dan ratu sekolah yang nggak terkalahkan."

  "Dira, diem atau gue laporin Pak Gunawan kalau lo tadi nyontek jawaban nomor dua?" ancam Salsa, meskipun ia sendiri sedang tersenyum lebar di balik tangannya.

  Pelajaran berlanjut hingga bel pulang berbunyi. Saat semua siswa mulai merapikan barang-barang mereka, Arkan sudah berdiri di samping meja Salsa, menunggu gadis itu selesai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

  "Langsung pulang atau mau mampir ke toko buku dulu? Gue dengar ada seri novel baru yang lo cari," tanya Arkan sambil mengambil alih tas sekolah Salsa yang berat.

  Salsa menatap Arkan dengan heran. "Lo tahu dari mana gue lagi cari novel baru?"

  Arkan mengangkat bahu dengan gaya sok keren. "Gue punya intelijen yang kuat. Lagipula, apa sih yang gue nggak tahu tentang lo?"

  "Pasti dari Dira ya?" tebak Salsa sambil melirik sahabatnya yang sudah kabur lebih dulu menuju gerbang.

  "Nggak penting dari mana informasinya. Yang penting sekarang, Tuan Putri mau ikut atau nggak?" Arkan mengulurkan tangannya, sebuah ajakan yang kini tidak lagi terasa seperti jebakan.

  Salsa menyambut tangan itu dengan mantap. "Oke, tapi lo yang bayar parkirnya ya."

  "Siap, Bos. Jangankan bayar parkir, beli tokonya pun kalau gue punya duitnya bakal gue lakuin," canda Arkan yang membuat Salsa tertawa lepas.

  Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi. Namun, saat sampai di dekat parkiran, mereka berpapasan dengan gerombolan Bella lagi. Kali ini, Bella tidak sendiri, ia bersama beberapa teman gengnya yang tampak sedang membicarakan sesuatu dengan serius. Begitu melihat Arkan dan Salsa bergandengan tangan, pembicaraan mereka terhenti.

  Salsa sempat merasa ragu, ia ingin melepaskan genggaman tangannya karena tidak ingin memicu keributan lagi. Namun, Arkan justru semakin mempererat genggamannya. Ia menarik Salsa untuk berjalan lebih dekat dengannya.

  "Eh, Arkan. Mau pulang?" tanya salah satu teman Bella dengan nada yang dibuat-buat ramah.

  Arkan hanya mengangguk singkat tanpa menghentikan langkahnya. "Iya. Ada urusan penting."

  "Urusan penting atau cuma mau nemenin si kutu buku ini belanja?" sindir Bella dengan suara yang cukup keras untuk didengar.

  Arkan berhenti melangkah. Ia berbalik dan menatap Bella dengan tatapan yang sangat dingin, tipe tatapan yang bisa membuat siapa pun merasa kecil. "Bella, gue pikir tadi di kantin omongan gue udah cukup jelas. Salsa bukan cuma temen belajar gue. Dia pacar gue. Dan apa pun yang dia lakuin, itu jadi urusan penting buat gue. Kalau lo masih punya masalah sama fakta itu, mending lo simpen sendiri aja. Jangan sampai gue harus bicara lebih kasar lagi."

  Suasana mendadak canggung. Bella tampak terkejut dengan ketegasan Arkan. Ia tidak menyangka Arkan akan sefrontal itu membela Salsa di depan teman-temannya. Tanpa menunggu balasan dari Bella, Arkan mengajak Salsa melanjutkan perjalanan menuju motornya.

  Begitu sampai di samping motor sport hitam milik Arkan, Salsa menghela napas panjang. "Kan, lo nggak perlu sekeras itu sama Bella. Dia cuma... ya lo tahu sendiri lah."

  Arkan memakaikan helm ke kepala Salsa dengan sangat lembut, memastikan tali helmnya terpasang dengan benar. "Gue nggak suka ada orang yang ngeremehin lo, Sa. Lo itu pinter, lo itu hebat, dan lo punya harga diri. Gue nggak mau orang lain mikir mereka bisa seenaknya sama lo cuma karena lo orangnya pendiam."

  Salsa menatap mata Arkan dari balik kaca helm yang terbuka. Ada ketulusan yang luar biasa di sana. Ia menyadari bahwa Arkan bukan hanya sekadar cowok yang ingin memamerkan pacar barunya, tapi ia benar-benar peduli pada perasaan Salsa.

  "Makasih ya," bisik Salsa pelan.

  Arkan tersenyum, kali ini bukan senyum tengil, melainkan senyum hangat yang membuat hati Salsa meleleh. "Sama-sama. Sekarang naik, kita cari novel lo, terus makan es krim. Gue yang traktir, tapi dengan syarat."

  "Syarat apa lagi?" tanya Salsa waspada.

  "Syaratnya, lo harus pegangan yang erat. Gue mau ngebut dikit biar kita dapet sunset di jalan," ucap Arkan sambil menyalakan mesin motornya yang menderu gagah.

  Salsa naik ke boncengan, melingkarkan tangannya di pinggang Arkan tanpa ragu sedikit pun. Ia menyandarkan kepalanya di punggung lebar Arkan, merasakan getaran mesin motor dan detak jantung Arkan yang seolah menyatu dengan detak jantungnya sendiri.

  Perjalanan sore itu terasa sangat berbeda. Angin yang menerpa wajah mereka tidak lagi terasa dingin yang menusuk, melainkan sejuk yang menenangkan. Di sepanjang jalan, Salsa memperhatikan bagaimana Arkan sesekali mengusap tangan Salsa yang melingkar di pinggangnya, seolah ingin memastikan bahwa gadis itu masih ada di sana.

  Sesampainya di toko buku, mereka menghabiskan waktu hampir dua jam. Arkan dengan sabar menemani Salsa mencari buku di antara rak-rak tinggi, bahkan ia ikut membantu mencarikan judul yang dicari Salsa di komputer katalog. Tidak ada lagi Arkan yang mengeluh bosan atau Arkan yang ingin cepat-cepat pulang. Yang ada hanyalah Arkan yang antusias mendengarkan penjelasan Salsa tentang plot novel yang sedang ia cari.

  "Lo tahu nggak, Kan? Karakter utamanya itu pinter banget tapi dia kaku, terus ketemu sama cowok yang nakal tapi sebenernya baik," cerita Salsa dengan penuh semangat saat mereka sedang mengantre di kasir.

  Arkan menatap Salsa dengan senyum geli. "Kok kayaknya ceritanya familiar ya? Jangan-jangan itu biografi kita?"

  Salsa tertawa sambil memukul pelan lengan Arkan. "Pede banget lo! Karakter cowok di buku ini gantengnya maksimal, nggak tengil kayak lo."

  "Lho, gue kan gantengnya di atas maksimal, Sa. Makanya lo sampai jatuh hati begini," balas Arkan sambil mengedipkan mata.

  Setelah dari toko buku, mereka mampir ke sebuah kedai es krim pinggir jalan yang cukup populer. Mereka duduk di kursi kayu kecil di bawah pohon rindang sambil menikmati es krim cone mereka. Matahari mulai terbenam, menciptakan warna jingga kemerahan di langit Jakarta yang biasanya dipenuhi polusi.

  "Sa," panggil Arkan tiba-tiba.

  "Hmm?" Salsa menoleh, bibirnya sedikit belepotan es krim cokelat.

  Arkan tertawa kecil, lalu dengan ibu jarinya, ia mengusap sudut bibir Salsa dengan sangat perlahan. Gerakan itu membuat Salsa mematung, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

  "Es krimnya enak ya sampai belepotan gini," ucap Arkan dengan suara lembut. Ia tidak segera menarik tangannya, melainkan menatap wajah Salsa dengan dalam. "Gue seneng banget hari ini. Makasih ya udah mau jadi bagian dari hari Senin gue yang biasanya membosankan."

  Salsa tersenyum tulus. "Gue juga makasih, Kan. Gue nggak pernah nyangka kalau Senin gue bakal seindah ini."

  Di bawah langit senja yang mulai menggelap, di tengah kebisingan kota yang tidak pernah tidur, dua orang yang dulunya adalah musuh bebuyutan itu kini duduk berdampingan, berbagi tawa dan es krim yang mulai mencair. Mereka menyadari bahwa ujian yang paling sulit bukanlah soal matematika di papan tulis tadi, melainkan bagaimana menjaga perasaan ini tetap kuat di tengah segala perbedaan dan prasangka orang lain. Namun, melihat sorot mata satu sama lain, mereka tahu bahwa mereka siap menghadapi ujian apa pun yang akan datang di hari-hari berikutnya.

  Salsa menyandarkan kepalanya di bahu Arkan, melihat lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Hidupnya yang dulu hanya dipenuhi oleh angka, peringkat, dan ambisi, kini terasa jauh lebih berwarna dengan kehadiran cowok tengil di sampingnya. Dan bagi Salsa, itu adalah jawaban terbaik dari semua rumus yang pernah ia pelajari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!