menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Malam itu kantor mulai terasa jauh lebih sepi dibanding biasanya. Lampu di beberapa ruangan sudah dimatikan. Hanya tersisa cahaya putih dari ruang marketing yang masih menyala di ujung lorong. Suara ketikan keyboard dan dengungan pendingin ruangan terdengar samar memenuhi ruangan.
Shinta duduk di depan komputer dengan wajah lelah. Beberapa lembar revisi laporan terbuka di meja. Semakin diperiksa, semakin banyak kesalahan yang dia temukan sendiri. Kepalanya mulai pening melihat angka dan data penjualan yang berantakan.
Sementara itu Andika duduk santai di kursi sebelah sambil memutar pulpen di tangannya. Ekspresinya terlihat terlalu tenang untuk ukuran orang yang masih berada di kantor hampir jam sembilan malam.
“Jadi bagaimana?” tanya Andika santai. “Mau revisinya selesai malam ini atau mau dimarahi Bu Sari besok pagi?”
Shinta menatap layar monitor dengan kesal.
“Aku bisa kerjakan sendiri.”
Andika mengangguk pelan. “Bisa. Tapi mungkin selesainya subuh.”
Shinta mendecakkan lidah. Pria itu memang menyebalkan sejak dulu. Selalu bicara dengan nada santai seolah sedang mengejek orang lain tanpa dosa. Dan lebih menyebalkannya lagi, semua ucapan Andika sering benar.
Beberapa detik kemudian Shinta akhirnya menghela napas panjang.
“Baiklah. Tolong bantu aku.”
Andika tersenyum tipis seperti orang yang baru memenangkan taruhan kecil.
“Bisa saja.”
“Tapi?”
“Tapi aku tidak kerja gratis.”
Shinta langsung menoleh tajam. “Kamu serius?”
“Lembur itu butuh tenaga,” jawab Andika santai. “Aku minta minuman dan camilan.”
Shinta memijat pelipisnya pelan.
“Baik. Mau apa?”
Alih-alih menjawab, Andika malah menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil melipat tangan di dada.
“Tebak sendiri.”
Shinta mengernyit bingung. “Apa?”
“Kalau tebakanmu benar aku bantu revisi sampai selesai.”
“Kalau salah?”
Andika tersenyum tipis. Senyum yang justru membuat suasana makin tidak nyaman.
“Aku pulang.”
Shinta langsung menatapnya tidak percaya.
“Kamu serius mau tinggalin aku sendiri?”
“Bukan sendiri.” Andika melirik ke arah lorong kantor yang gelap. “Mungkin ada wanita berbaju putih yang nemenin.”
Seketika bulu kuduk Shinta meremang.
Beberapa menit sebelumnya Andika memang sengaja menceritakan soal rumor hantu wanita berbaju putih di lorong belakang kantor. Katanya dulu ada pegawai yang pernah pingsan karena melihat sosok perempuan berdiri dekat gudang arsip.
Entah cerita itu bohong atau tidak, tapi kantor yang sepi begini memang sukses membuat imajinasi manusia bekerja terlalu keras. Evolusi jutaan tahun menghasilkan otak canggih hanya untuk takut pada gantungan jas di lorong gelap. Sungguh pencapaian luar biasa spesies manusia.
Shinta langsung melirik lorong di luar ruangan.
“Jangan bahas itu lagi.”
Andika malah tertawa kecil.
“Takut?”
“Aku tidak takut.”
“Bagus. Berarti nanti kalau aku pulang kamu bisa revisi sendiri sampai tengah malam.”
Shinta langsung kesal.
“Kamu benar-benar menyebalkan.”
“Terima kasih.”
Shinta menghela napas panjang. Dia mencoba mengingat sesuatu. Dulu saat masih pacaran, Andika sering membeli minuman tertentu sepulang kuliah. Dan setiap mereka lembur mengerjakan tugas kampus, pria itu hampir selalu membawa camilan yang sama.
Shinta akhirnya berdiri sambil mengambil ponsel.
“Espresso dan martabak manis.”
Andika yang tadi santai langsung tersenyum kecil.
“Nah. Benar.”
Shinta memalingkan wajah dengan cepat. “Kebetulan saja.”
“Kalau begitu kenapa tepat?”
Shinta malas menjawab. Dia langsung memesan makanan lewat aplikasi.
Tak lama kemudian notifikasi pesanan datang. Driver sudah menunggu di depan lobby kantor.
Shinta menatap layar ponselnya beberapa detik. Lalu perlahan melirik lorong gelap di luar ruangan.
Andika yang melihat itu menahan senyum.
“Kenapa diam?”
“Ambilkan.”
“Aku kan yang ditraktir.”
Shinta mendecakkan lidah pelan. “Andika.”
“Hmm?”
“Temani aku.”
Andika tertawa kecil. “Katanya tidak takut.”
“Aku cuma malas jalan sendiri.”
“Tentu saja.”
Shinta akhirnya berdiri lalu tanpa sadar menarik tangan Andika.
“Cepat.”
Andika sedikit terdiam saat tangannya ditarik begitu saja. Namun dia tidak mengatakan apa-apa. Mereka berjalan keluar ruangan menuju lobby kantor yang mulai sepi.
Lampu lorong terlihat redup. Bayangan rak arsip memanjang di lantai. Shinta beberapa kali melirik kanan kiri dengan gelisah.
Andika sengaja memperlambat langkah.
“Kalau tiba-tiba ada yang manggil namamu jangan nengok.”
Shinta langsung memukul lengan Andika pelan.
“Diam.”
Andika tertawa puas melihat reaksinya.
Begitu sampai lobby, Shinta segera mengambil pesanan dengan cepat lalu kembali berjalan menuju ruangan marketing. Selama perjalanan pulang ke ruangan, tangannya masih menarik ujung lengan kemeja Andika tanpa sadar.
Dan Andika membiarkannya.
Setelah sampai di ruangan, suasana kembali tenang.
Aroma kopi mulai memenuhi ruangan. Andika membuka kotak martabak manis dengan santai sementara Shinta kembali duduk di depan monitor.
“Oke,” kata Andika sambil menarik kursi mendekat. “Sekarang lihat bagian laporanmu yang ini.”
Dia mulai membantu memperbaiki tabel penjualan dan data stok yang salah input. Sesekali Andika mengambil alih keyboard lalu menjelaskan kesalahan Shinta dengan cukup sabar.
“Kalau data gudang beda sama data marketing nanti Bu Sari ngamuk lagi.”
Shinta menghela napas panjang. “Aku tahu.”
“Nah ini juga salah.” Andika menunjuk layar monitor. “Kode produknya ketukar.”
Shinta mulai mengetik ulang.
Beberapa saat kemudian suasana berubah lebih tenang. Hanya terdengar suara keyboard dan sesekali bunyi sendok mengenai gelas kopi.
Andika memakan martabak sambil memperhatikan Shinta dari samping.
“Kamu masih ingat ternyata.”
Shinta tetap fokus menatap monitor.
“Ingat apa?”
“Kesukaanku.”
“Tadi cuma nebak.”
“Dan langsung benar.”
Shinta malas membahasnya. Baginya itu hanya kebiasaan lama yang belum sepenuhnya hilang. Tiga tahun pacaran bukan waktu sebentar untuk melupakan hal-hal kecil seperti minuman favorit atau topping martabak kesukaan seseorang.
Namun justru karena itulah dia tidak ingin membicarakannya.
Masa lalu hanya membuat semuanya terasa canggung.
Andika mengambil satu potong martabak lalu mengarahkannya ke Shinta.
“Mau?”
“Tidak.”
“Enak.”
“Aku tidak lapar.”
Andika mengangkat bahu lalu memakannya sendiri.
Beberapa menit kemudian Andika tiba-tiba bicara lagi.
“Ibumu bagaimana kabarnya?”
Tangan Shinta langsung berhenti mengetik.
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
Shinta perlahan menoleh menatap Andika.
“Kenapa tanya itu?”
“Tidak boleh?”
“Kamu terlalu banyak mengungkit masa lalu.”
Andika bersandar santai di kursinya.
“Aku cuma tanya kabar.”
Shinta kembali menatap layar monitor meski pikirannya mulai tidak fokus. Dulu Andika memang cukup dekat dengan ibunya. Bahkan ibunya sering memasakkan makanan saat Andika datang ke rumah.
Dan sekarang hubungan mereka sudah selesai.
Namun Andika masih berbicara seolah tidak ada yang berubah.
“Kamu aneh,” gumam Shinta pelan.
“Aneh bagaimana?”
“Kita sudah putus.”
Andika justru tersenyum kecil.
Beberapa detik kemudian dia kembali bicara.
“Jadi selama ini kamu belum move on?”
Shinta langsung menoleh tajam.
“Jangan mulai.”
“Kamu masih marah tiap bahas masa lalu.”
“Karena kamu suka mempermainkan semuanya.”
Andika memperhatikan wajah Shinta beberapa saat sebelum akhirnya bertanya pelan.
“Kalau sekarang aku ajak nikah, kamu mau?”
Kalimat itu membuat Shinta membeku beberapa detik.
Dia menatap Andika tidak percaya.
Wajah pria itu terlihat santai seperti orang yang sedang bertanya soal menu makan malam. Dan justru itu yang membuat Shinta semakin kesal.
Tangan Shinta langsung melayang menampar pipi Andika dengan keras.
Plak.
Suara tamparan terdengar cukup jelas di ruangan kosong itu.
Andika sedikit memalingkan wajah akibat tamparan tadi. Namun anehnya dia malah tersenyum tipis.
Shinta berdiri dengan napas tidak teratur.
“Aku tidak suka dipermainkan.”
Andika kembali menatapnya tenang.
“Aku serius bertanya.”
“Aku tidak peduli.”
“Masa?”
“Kita pacaran tiga tahun, Andika.” Suara Shinta mulai bergetar menahan emosi. “Tapi semuanya terasa seperti hubungan tanpa tujuan. Kamu selalu sibuk kerja, sibuk target, sibuk karier. Tidak pernah ada rencana jelas.”
Andika diam mendengarkan.
“Aku capek berharap sendiri,” lanjut Shinta. “Jadi jangan bercanda soal nikah sekarang.”
Beberapa detik suasana menjadi hening.
Lalu Andika menghela napas kecil.
“Bagus.”
Shinta mengernyit kesal. “Apa yang bagus?”
“Aku senang kalau ternyata kamu sudah tidak terjebak di masa lalu.”
Shinta menatapnya tajam.
Andika tersenyum tipis.
“Setidaknya sekarang kita bisa jadi rekan kerja normal.”
“Normal menurutmu seperti ini?”
“Lumayan.” Andika menyentuh pipinya sendiri. “Walau agak sakit.”
Shinta memalingkan wajah dengan kesal.
Andika kemudian kembali duduk santai.
“Jadi benar sudah move on?”
“Aku tidak peduli lagi.”
“Karena aku sudah punya Aqila?”
Shinta langsung mengetik lebih keras di keyboard.
“Itu urusanmu.”
Andika memperhatikan reaksi Shinta sambil tersenyum kecil.
“Kamu cemburu?”
“Tidak.”
“Cepat jawabnya.”
Shinta semakin kesal.
“Fokus kerja saja.”
Andika tertawa pelan sebelum kembali melihat layar monitor.
Beberapa menit kemudian dia kembali bertanya santai.
“Kalau kamu sendiri? Sudah punya pacar?”
Shinta tidak menjawab.
Dia tetap fokus mengetik sambil menahan kesal.
“Shinta?”
“Aku ingin cepat selesai dan pulang.”
Andika tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.
“Kamu memang tidak berubah.”
Shinta akhirnya menoleh.
“Dan kamu masih sama menyebalkannya.”
Andika tertawa kecil.
Di tengah suasana kantor yang mulai sunyi menjelang malam, keduanya kembali fokus pada laporan di depan mereka. Namun kali ini suasananya terasa berbeda.
Tidak lagi sekaku sebelumnya.
Meski dipenuhi sindiran, amarah, dan masa lalu yang belum benar-benar selesai, malam itu setidaknya mereka kembali berbicara seperti dulu.
Bedanya sekarang, tidak ada lagi status hubungan yang menggantung di antara mereka.
Hanya dua mantan kekasih yang sama-sama keras kepala, duduk berdampingan di bawah lampu kantor sambil menyelesaikan revisi laporan dan pura-pura tidak peduli satu sama lain. Manusia memang suka melakukan itu. Menyembunyikan perasaan sambil berharap lawan bicaranya cukup bodoh untuk tidak menyadarinya.