Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Keesokan paginya, sinar matahari yang hangat mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar.
Gayuh terbangun dengan perasaan yang lebih segar.
Setelah menunaikan ibadah dan merapikan diri, ia segera bersiap-siap untuk berangkat ke rumah menulisnya.
Agenda hari ini cukup padat karena ia harus memeriksa kelanjutan draf dari para peserta baru.
Saat Gayuh baru saja menapakkan kakinya di anak tangga terakhir menuju ruang tengah, suara lembut Nenek menghentikan langkahnya.
"Gayuh," panggil Nenek yang sudah tampak rapi dan anggun dengan setelan kebaya modern bermotif elegan.
"Eh, Nenek. Sudah rapi sekali, mau ke mana, Nek?" tanya Gayuh menghampiri.
Nenek tersenyum miring sambil membenarkan posisi selendangnya.
"Nenek mau ke Bandung hari ini, Nak. Ada acara arisan sosialita tahunan bersama teman-teman lama Nenek. Mungkin Nenek akan menginap satu atau dua hari di sana."
Mendengar hal itu, Gayuh meraih tangan wanita tua tersebut dan menciumnya takzim.
"Oh, begitu ya, Nek. Gayuh minta Nenek untuk berhati-hati di jalan ya. Jangan terlalu kelelahan selama di Bandung."
Nenek mengelus rambut Gayuh dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Sayang, pasti. Kamu juga berhati-hati ya di rumah, dan jangan pulang larut malam dari rumah menulis. Ingat, Jati sedang tidak ada di rumah. Kalau ada apa-apa, atau kalau ada hal yang mencurigakan, langsung hubungi Nenek ya?"
Gayuh menganggukkan kepalanya dengan patuh. "Baik, Nenek. Gayuh akan selalu ingat pesan Nenek."
Setelah berpamitan dengan Nenek yang berangkat bersama sopir pribadi mansion, Gayuh segera bergegas menuju mobilnya.
Suasana rumah yang mendadak sepi membuatnya merindukan sang suami.
Sebelum memutar kunci kontak, ia memutuskan untuk menghubungi Jati melalui panggilan suara.
Telepon tersambung pada nada ketiga, dan suara berat Jati yang terdengar agak terburu-buru menyapa telinganya.
Rupanya, di seberang sana, Jati sedang bersiap untuk kembali masuk ke ruang meeting darurat.
"Selamat pagi, Mas. Hari ini aku berangkat menuju ke rumah menulis," ucap Gayuh dengan nada ceria, mencoba menyalurkan energi positif untuk suaminya yang tampak lelah.
Di seberang telepon, terdengar suara helaan napas Jati yang perlahan melembut mendengar suara istrinya.
"Iya, Sayang. Selamat pagi. Hati-hati di jalan ya, dan jangan lupa sarapan. Mas harus masuk ruang rapat sekarang, nanti kalau sudah senggang Mas telepon lagi, ya?"
"Iya, Mas. Semangat kerjanya," jawab Gayuh manis sebelum menutup sambungan telepon.
Dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan bersemangat, Gayuh mulai melajukan mobilnya membelah jalanan pagi menuju tempatnya berbagi ilmu, tanpa menyadari bahwa hari ini, Permana telah menyusun siasat baru untuk mendekatinya.
Sesampainya di sana, saat baru saja turun dari mobil dan bersiap untuk membuka pintu rumah menulis, Gayuh dikejutkan dengan kehadiran Permana yang ternyata sudah duduk manis di kursi halaman depan.
Pria itu tampak sangat santai dengan tas ranselnya yang diletakkan di lantai.
Gayuh mengernyitkan keningnya heran. Ini masih terlalu pagi untuk ukuran jadwal kelas menulis, bahkan pintu gerbang saja baru dibuka oleh penjaga.
"Permana? Kenapa kamu sudah ada di sini sepagi ini? Apa kamu tidak mengajar hari ini?" tanya Gayuh berondong, menatapnya dengan penuh selidik.
Sebagai seorang dosen, bukankah seharusnya pria ini memiliki jadwal padat di kampus.
Permana mendongak, lalu perlahan bangkit dari duduknya.
Ia menggelengkan kepalanya perlahan dengan senyuman tipis yang sulit diartikan, sambil membawa sebuah kotak bekal berukuran sedang di tangannya.
"Hari ini jadwal mengajar saya kosong, Mbak Gayuh. Jadi saya memutuskan untuk datang lebih awal," jawab Permana dengan suara yang sengaja dibuat selembut mungkin.
Ia menyodorkan kotak bekal itu ke hadapan Gayuh. "Dan, ini saya bawa sarapan untuk Mbak. Tadi saya buat sendiri nasi goreng sosis. Saya ingat kemarin Mbak kelihatan lelah, jadi saya pikir Mbak belum sempat sarapan pagi ini."
Gayuh menatap kotak bekal itu dengan perasaan yang semakin tidak nyaman.
Perhatian Permana yang bertubi-tubi sejak kemarin malam mulai terasa melewati batas profesionalitas antara mentor dan peserta didik.
"Ini tidak ada racunnya, Mbak. Aku janji," ucap Permana setengah terkekeh, mencoba mencairkan suasana seolah tahu bahwa Gayuh sedang ragu. Namun, tatapan matanya yang terlalu intens membuat ucapan itu justru terdengar aneh bagi Gayuh.
Enggan memperpanjang kecanggungan di halaman depan dan berniat menghargai usaha pria itu, Gayuh akhirnya mengulurkan tangan.
Ia mengambil kotak bekal itu dari tangan Permana.
"Terima kasih banyak, Permana. Tapi sebenarnya tidak perlu repot-repot seperti ini," ujar Gayuh formal, mencoba tetap menjaga jarak aman.
"Oh ya, tapi rumah menulis baru buka jam 10 nanti. Aku sengaja datang cepat karena mau bersih-bersih dulu sebelum anak-anak yang lain datang."
Mendengar hal itu, mata Permana langsung berbinar.
Ia seperti melihat peluang emas untuk menghabiskan waktu berdua lebih lama dengan wanita incarannya.
"Tidak apa-apa, Mbak. Biar aku saja yang bantu. Gratis, tidak usah membayar," ucap Permana dengan sigap, menirukan kembali kalimat yang diucapkan Gayuh kemarin dengan nada bercanda.
Ia bahkan langsung meraih sapu dan kain lap yang terletak di dekat sudut teras, tanpa menunggu persetujuan dari Gayuh.
Sikapnya yang terlampau rajin dan penuh inisiatif itu justru membuat bulu kuduk Gayuh merinding halus, merasakan ada sesuatu yang tidak beres di balik kebaikan sang dosen.
"Suami Mbak di mana? Kenapa tidak kelihatan?" tanya Permana sambil menyapu lantai teras dengan gerakan konstan, matanya melirik sekilas ke arah Gayuh.
Gayuh yang sedang menata beberapa buku di atas meja menjawab tanpa curiga, "Suamiku sedang bekerja di luar kota. Dan bagaimana dengan kamu, apakah kamu sudah menikah?" tanya Gayuh balik, sekadar berbasa-basi untuk mencairkan ketegangan.
Permana menghentikan sapunya sejenak, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. Tatapannya mendadak kosong namun dalam.
"Aku sedang menanti wanita yang aku cintai selama beberapa tahun ini," ucap Permana dengan nada suara yang terdengar begitu emosional.
Gayuh menaikkan alisnya, merasa kasihan sekaligus heran.
"Menanti? Kenapa tidak katakan saja kepada dia kalau kamu mencintainya?" ucap Gayuh memberikan saran sebagai sesama penulis yang terbiasa dengan alur romansa.
"Siapa tahu dia juga punya perasaan yang sama."
Permana baru saja akan menjawab dengan senyuman misterius, namun tiba-tiba telinganya menangkap suara gemertak yang aneh dari arah atas teras.
Pria itu mendongak ke atas dan matanya terbelalak melihat salah satu balok kayu usuk dan asbes penutup atap yang tampak rapuh mendadak retak dan runtuh tepat ke arah posisi Gayuh berdiri.
"Mbak Gayuh, awas!!" teriak Permana histeris.
Tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, Permana menjatuhkan sapunya dan melompat maju.
Ia mendorong tubuh Gayuh dengan kuat hingga wanita itu terjerembap ke atas sofa kayu yang aman di sudut teras.
Namun malang bagi Permana, karena gerakannya yang terburu-buru dan tumpuan kaki yang salah saat mendarat untuk menghindari runtuhan kayu, pergelangan kakinya langsung tertekuk dengan posisi yang salah.
"Aachh!!" rintih Permana kesakitan.
Ia langsung ambruk ke lantai sambil memegangi pergelangan kaki kanannya yang seketika membengkak, sementara puing-puing asbes hancur berantakan tepat di tempat Gayuh berdiri beberapa detik yang lalu.