NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Mengakhiri Sihir Hitam Selamanya

Palung Hitam bukanlah tempat yang bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Ia lebih dari sekadar jurang di dasar laut. Ia seperti luka di samudra — tempat di mana kegelapan bocor keluar dari dalam bumi, meracuni air, meracuni jiwa, meracuni apa pun yang berani mendekat.

Nana merasakannya di sekujur tubuhnya. Jantung Aequoria berdenyut tidak nyaman — seperti sedang berada di dekat musuh alami.

"Kau merasakannya?" bisik Jeno di sampingnya.

"Ya. Seperti... ada yang menatapku dari dalam gelap."

"Itu bukan perasaanmu saja. Aku juga merasakannya."

Mereka berdua berhenti di tepi jurang. Di bawah mereka — jauh di bawah — ada cahaya. Bukan cahaya biru seperti Jantung Aequoria. Tapi cahaya merah — redup, berdenyut, seperti jantung raksasa yang sekarat.

"Apa itu?" tanya Jeno.

"Aku tidak tahu. Tapi Jantung Aequoria tidak suka padanya."

Nana menutup matanya. Ia mencoba merasakan — seperti yang Dewi Laut ajarkan. Bukan dengan telinga. Bukan dengan mata. Tapi dengan hati.

Jantung Aequoria berdenyut.

Dug-dug-dug.

Setiap denyut membawa gambaran ke pikirannya.

Sihir hitam.

Bukan sihir hitam biasa. Tapi sihir hitam asli — yang pertama, yang tertua, yang diciptakan oleh Siren jahat ribuan tahun lalu untuk menghancurkan tujuh samudra.

Sihir itu terkubur di Palung Hitam. Dikubur oleh Dewi Laut sendiri. Tapi Aramis — tanpa sadar — membangunkannya sedikit demi sedikit saat ia menggunakan sihir hitam untuk menguasai Aequoria.

Sekarang, sihir itu hampir bangun.

Dan jika ia bangun, tidak ada yang bisa menghentikannya.

 

Nana membuka matanya.

"Kita harus menghancurkannya," katanya.

Jeno menatapnya. "Menghancurkan apa?"

"Sihir hitam di dasar palung. Sihir tertua. Sihir yang Aramis gunakan tanpa sadar. Kalau dibiarkan, dia akan bangun. Dan menghancurkan semuanya."

"Bagaimana cara menghancurkannya?"

"Aku tidak tahu. Tapi Jantung Aequoria tahu."

Nana meletakkan tangannya di dadanya — tepat di tempat Jantung Aequoria berdenyut.

"Tunjukkan aku," bisiknya. "Tunjukkan apa yang harus aku lakukan."

Jantung Aequoria berdenyut lebih kencang.

Cahaya biru dari dadanya menyebar — ke lengannya, ke tangannya, ke ujung jarinya. Lalu keluar — membentuk garis cahaya yang menunjuk ke dasar palung, ke arah cahaya merah yang berdenyut.

"Kita harus ke sana," kata Nana.

Jeno menarik napas. "Baik. Aku ikut."

Mereka menyelam ke dalam jurang.

 

Semakin dalam mereka menyelam, semakin berat air di sekeliling mereka.

Bukan berat secara fisik — tapi berat secara emosional. Seperti ada tangan-tangan tak terlihat yang mencoba menarik mereka ke bawah, ke dalam kegelapan, ke dalam keputusasaan.

Nana merasakan kenangan buruknya muncul satu per satu.

Mira menangis di dapur.

Jeno berlumuran darah di bahunya.

Aramis tertawa di atas singgasana.

Ayahlah yang terperangkap di dimensi gelap.

"Jangan menyerah," bisik Jeno dari sampingnya. Suaranya terdengar jauh, seperti dari ujung terowongan. "Itu hanya ilusi. Sihir hitam mencoba menghentikan kita."

"Aku tahu," jawab Nana. Suaranya gemetar — tapi ia tidak berhenti menyelam.

Cahaya merah di bawah mereka semakin besar. Semakin terang. Semakin berdenyut.

Dug-dug-dug.

Seperti detak jantung raksasa yang marah.

 

Ketika mereka akhirnya mencapai dasar palung, Nana melihat sumber sihir hitam itu.

Sebuah batu.

Batu hitam pekat, sebesar kepalan tangan, dengan urat-urat merah menyala di permukaannya. Batu itu melayang di tengah ruang kosong, berdenyut — dug-dug-dug — seperti sedang menunggu.

"Jantung Hitam," bisik Nana. Nama itu muncul di pikirannya tanpa ia sadari. "Dewa Laut menyebutnya Jantung Hitam. Lawan dari Jantung Aequoria."

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Jeno.

"Hancurkan."

"Dengan apa?"

Nana menatap Jantung Hitam. Batu itu berdenyut — dan setiap denyutnya memancarkan gelombang kegelapan yang membuat air di sekitarnya bergetar.

"Dengan Jantung Aequoria," jawab Nana.

Ia meletakkan tangannya di dadanya lagi.

"Aku tidak tahu caranya. Tapi aku akan coba."

 

Nana membuka mulutnya dan bernyanyi.

Lagu kerajaan Aequoria — lagu yang sama yang dulu ia gunakan untuk mengalahkan Aramis, untuk menyembuhkan Jeno, untuk membangunkan ingatan ayahnya — keluar dari mulutnya dengan kekuatan penuh.

Tapi kali ini, lagu itu tidak keluar sendirian.

Cahaya biru dari Jantung Aequoria menyatu dengan lagu itu — membentuk gelombang yang bergerak menuju Jantung Hitam.

Jantung Hitam berdenyut lebih kencang — dug-dug-dug-dug — seperti ketakutan.

Gelombang biru itu menyentuhnya.

Dan Jantung Hitam berteriak.

Bukan suara. Tapi getaran. Getaran yang memecahkan karang di sekitarnya, yang membuat air laut mendidih, yang membuat Jeno terpental ke belakang.

Nana tidak berhenti.

Ia terus bernyanyi.

Lebih keras. Lebih jernih. Lebih terang.

Jantung Hitam mulai retak.

Garis-garis merah di permukaannya berubah menjadi hitam — lalu putih — lalu lenyap. Retakan itu melebar, semakin banyak, semakin dalam.

Dan kemudian —

Pecah.

Jantung Hitam hancur berkeping-keping. Serpihan-serpihan hitamnya mengambang di air, lalu berubah menjadi debu, lalu lenyap — ditelan oleh kegelapan yang menjadi asalnya.

Palung Hitam menjadi sunyi.

Cahaya merah lenyap. Yang tersisa hanya kegelapan — dan dua titik cahaya biru dari Nana dan Jeno.

 

Nana berhenti bernyanyi.

Ia terhuyung — kelelahan. Lagu kerajaan dengan kekuatan penuh menghabiskan energinya. Matanya terasa berat. Tubuhnya lemas.

Tapi Jeno menangkapnya.

"Aku di sini," bisik Jeno. "Aku selalu di sini."

"Berhasil?" bisik Nana.

"Berhasil. Kau berhasil."

Nana tersenyum — senyum kecil di tengah kelelahan yang luar biasa.

"Bagus," bisiknya. Lalu matanya terpejam.

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!